SUAMIKU ADALAH SEORANG SENIOR ENGINEER DI SEBUAH PERUSAHAAN PELABUHAN BESAR DI MANILA. GAJINYA HAMPIR TIGA RATUS RIBU PESO SETIAP BULAN.
TAPI SELAMA EMPAT TAHUN PERNIKAHAN KAMI, TAK SELEMBAR PESO PUN DIBERIKANNYA UNTUK AKU DAN ANAK KAMI.
Semua gajinya dikirim ke keluarganya di Quezon City.
Sementara aku… sendirian membayar condo di Pasig, uang sekolah anak kami, bahkan biaya rumah sakit ayahku.
Beberapa hari lalu, aku pingsan di ruang meeting karena terlalu banyak lembur.
Dan satu-satunya pesan darinya adalah:
“Bertahanlah dulu. Keluargaku sedang kesulitan.”
Aku diam dan bertahan selama empat tahun.
Sampai malam itu…
Ketika adik perempuannya mengirim pesan:
“Kak, kirim lagi 500.000 peso dong. Aku mau DP Mustang.”
Aku malah tertawa tepat di meja makan.
Tawa dingin yang bahkan asing di telingaku sendiri.
01
Hujan deras menyelimuti condo high-rise dekat Sungai Pasig.
Perlahan aku menurunkan ponsel dan menatap pria di depanku.
— Adikmu mau beli mobil sport?
Miguel tetap makan dengan tenang.
— Iya. Dia mau.
— Lima ratus ribu peso?
— Memangnya kenapa?
Aku menatapnya lama.
Di tangannya ada Rolex mahal.
iPhone terbaru.
SUV mewah dengan cicilan bulanan lebih mahal dari gaji kebanyakan orang.
Tapi setiap kali anak kami demam dan harus dibawa ke rumah sakit…
dia selalu berkata:
— Gajiku belum masuk.
Aku menggenggam sumpit erat-erat.
— Miguel, kamu dapat bonus besar bulan lalu, kan?
— Jadi?
— Ke mana uangnya?
Dia malah terlihat seperti menganggap pertanyaanku lucu.
— Aku kirim ke Mama.
— Semuanya?
— Mama mau renovasi rumah di Quezon City. Sofia juga butuh modal usaha.
Aku tersenyum pahit.
“Modal usaha.”
Kata favorit keluarga Reyes.
Mertuaku yang setiap hari live selling tapi selalu rugi.
Adik perempuannya yang hobinya cuma liburan dan belanja tapi menyebut dirinya “businesswoman.”
Selama empat tahun, Miguel menanggung seluruh keluarganya.
Tidak.
Lebih tepatnya…
akulah yang menanggung mereka.
Karena tak pernah sekalipun Miguel menggunakan gajinya untuk keluarga kecil kami.
Aku yang membayar rumah.
Aku yang membayar uang sekolah.
Makanan, listrik, air, iuran apartemen… semuanya aku.
Bahkan ketika ayahnya dirawat di Makati Medical Center jam tiga pagi…
aku juga yang berdiri di kasir.
Dan tak pernah sekali pun dia merasa ada yang salah dengan itu.
Baginya, semua itu normal.
Aku menarik napas panjang.
— Miguel, kita ini keluarga.
— Terus?
— Apa tidak bisa kamu menyisihkan sedikit saja untuk kita?
Suasana langsung sunyi.
Petir menyambar di luar jendela.
Dia membanting gelas dengan keras.
— Aku kerja keras untuk uang itu.
— Hakku mau kupakai untuk apa saja.
Dia mendekat sedikit.
— Kamu tidak berhak ikut campur.
Dadaku terasa membeku.
Walau aku tahu hari ini akan datang…
tetap saja sakit mendengarnya langsung dari mulutnya.
— Aku tidak berhak?
Dia menyeringai.
— Jangan lupa condo ini atas nama siapa.
Aku menatap lurus padanya.
— Atas nama siapa memangnya?
Dia langsung terdiam.
Karena kami sama-sama tahu kenyataannya.
Condo itu…
atas namaku.
Sejak menikah, tak sepeser pun dia membayar rumah ini.
DP berasal dari tabunganku sebelum menikah.
Aku yang mengambil kredit bank.
Dan aku juga yang membayar cicilannya setiap bulan.
Seolah baru saat itu dia mengingat semuanya.
Tapi karena harga dirinya terluka, dia malah makin marah.
— Kalau bukan karena aku, kamu pikir bisa hidup di Manila?!
Aku berdiri perlahan.
— Aku sudah kenyang.
— Tunggu.
Dia berdiri dengan wajah kesal.
— Besok tarik 300.000 peso.
— Sofia butuh segera.
Aku menatapnya lama.
Pria yang kucintai selama tujuh tahun…
tiba-tiba terasa seperti orang asing.
— Aku tidak punya uang.
— Apa?!
— Serius.
Dia tertawa dingin.
— Perusahaanmu baru kasih bonus proyek Singapura, kan?
— Jangan bohongi aku.
Aku tidak menjawab.
Aku hanya masuk ke ruang kerja.
Lalu menutup pintu.
Dari luar, aku masih bisa mendengar omelannya.
Aku membuka laptop.
Email dari kantor pusat di Paris masih ada di layar.
【Confirmation of Employee Transfer to Europe Branch – 8 Months】
Aku menatapnya lama.
Minggu lalu, bosku bertanya apakah aku mau menerima assignment itu.
Gajinya tiga kali lipat.
Disediakan apartemen pribadi di Prancis.
Semua biaya ditanggung perusahaan.
Tapi aku harus meninggalkan Filipina selama delapan bulan.
Dulu aku ragu.
Karena aku pikir aku punya keluarga.
Tapi sekarang…
aku tersenyum kecil.
Keluarga?
Aku mengambil ponsel.
— Halo, Bu Elena. Angela di sini.
Suara di seberang langsung terdengar gembira.
— Angela? Jadi kamu terima?
Aku memandang hujan gelap di luar jendela.
Lalu menjawab tenang.
— Ya.
— Saya menerima assignment ke Paris.
02
Keesokan paginya, Miguel masih belum tahu apa pun.
Begitu bangun, kalimat pertamanya langsung:
— Jangan lupa transfer uang ke Sofia.
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menarik koper hitam besar keluar.
Dia mengernyit.
— Mau ke mana?
— Business trip.
— Berapa hari?
Aku menutup resleting koper.
— Tidak tahu.
Dia menyeringai.
— Drama lagi?
— Angela, aku tidak punya waktu buat membujukmu.
Aku menatap condo kami untuk terakhir kali.
Sofa yang kubeli sendiri.
Rak buku yang kurakit sendiri.
Lukisan yang kupilih tiga jam di BGC.
Semua yang ada di sana…
adalah jejak lelah dan cintaku.
Tapi tak satu pun ternyata benar-benar bagian dari pernikahan ini.
Tiba-tiba Miguel menarik lenganku.
— Sudahlah.
— Kasih dulu uangnya.
Perlahan aku melepaskan tangannya.
— Miguel…
— Mulai sekarang, hidupi sendiri keluargamu.
Dia membeku.
Mungkin itu pertama kalinya dia mendengarku berbicara sedingin itu.
Dia tertawa sombong.
— Kamu pikir aku bakal mati kalau kamu pergi?
Aku mengangguk.
— Baiklah.
— Kita lihat saja nanti.
Aku menarik koper keluar pintu.
Tiba-tiba dia berteriak dari belakang.
— ANGELA!
Aku berhenti.
— Kalau kamu keluar dari pintu itu…
— Jangan pernah kembali!
Aku tidak menoleh.
Aku hanya berkata pelan:
— Oke.
Lalu menutup pintu.
Suara kunci menggema di lorong yang sunyi.
Tiga jam kemudian…
aku sudah berada di Ninoy Aquino International Airport.
Aku mematikan SIM card Filipinaku sebelum naik pesawat ke Paris.
Ponselku langsung bergetar tanpa henti.
78 panggilan tak terjawab.
96 pesan.
Semuanya dari Miguel.
Pesan terakhirnya:
“Angela… kamu di mana?”
Aku menatapnya diam-diam.
Lalu tersenyum tipis.
Dan membalas dengan empat kata saja.
“Kita akan bercerai.”
Detik pesan itu terkirim…
Miguel langsung menelepon lagi.
Dan bersamaan dengan itu…
email baru masuk ke inbox-ku.

Dari:
“Sofia Reyes.”
Dengan subject:
“Kak… dengarkan rekaman ini dulu sebelum menceraikan kakakku.”
03
Jantungku berdegup kencang di tengah bisingnya ruang tunggu terminal keberangkatan NAIA. Dengan tangan sedikit gemetar, aku membuka lampiran audio dari email Sofia.
Suara kresek-kresek terdengar selama beberapa detik sebelum suara Miguel yang sangat kukenali terdengar jelas. Tampaknya rekaman itu diambil secara diam-diam di ruang tamu rumah mereka di Quezon City beberapa minggu lalu.
“Miguel, kamu yakin istrimu tidak akan curiga?” Itu suara ibu mertuaku, Lourdes. “Gajimu yang tiga ratus ribu peso itu selalu kamu oper ke sini. Bagaimana kalau dia menuntut cerai dan meminta harta gono-gini?”
“Ma, tenang saja,” jawab Miguel dengan nada meremehkan yang membuat dadaku serasa dihantam godam. “Angela itu bodoh kalau sudah urusan cinta. Dia yang bayar condo di Pasig atas namanya sendiri, dia juga yang bayar semua cicilan dan biaya hidup. Aku sengaja tidak menaruh namaku di properti itu agar secara hukum, semua utang dan beban finansial ada di pundaknya.”
Miguel tertawa kecil, suara yang biasanya terdengar hangat kini terdengar seperti iblis. “Uang gajiku aman di rekening Mama. Begitu Sofia dapat Mustang dan rumah Quezon City selesai direnovasi, aku tinggal cari alasan untuk menceraikannya. Condo itu biar dia yang terus mencicil sampai stres, sementara seluruh aset berharga sudah bersih atas nama kita. Dia tidak akan bisa menyentuh sepeser pun uangku.”
Rekaman itu berakhir. Aku terpaku di kursi bandara, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah juga. Bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang membakar seluruh akal sehatku.
Ternyata, selama empat tahun ini, aku bukan hanya dijadikan sapi perah, tapi aku sedang dijebak dalam skenario pemiskinan yang terencana oleh pria yang mempertaruhkan cincin di jariku.
Ponselku kembali bergetar. Telepon dari Miguel. Kali ini aku mengangkatnya.
“Angela! Kamu di mana?! Apa-apaan surat cerai itu?!” teriak Miguel panik dari seberang telepon. “Dan apa maksudmu mematikan semua fasilitas kartu kredit tambahan atas namaku?! Aku sedang di diler mobil bersama Sofia, dan kartunya ditolak!”
Aku menyeka air mataku, lalu tertawa. Tawa yang sama cold-nya dengan malam itu di meja makan.
“Kamu sudah dengar rekaman yang dikirim adikmu, Miguel?” tanyaku tenang.
Hening sejenak di seberang sana. Miguel tampaknya terkejut. “A-Angela, itu… itu cuma bercanda! Sofia hanya asal merekam—”
“Sofia mengirimkannya karena dia pikir dia bisa mengancamku dengan menunjukkan betapa berkuasanya keluarga kalian atas hidupku,” potongku tegas. “Tapi adikmu yang bodoh itu tidak sadar, dia baru saja menyerahkan bukti persidangan paling valid yang kubutuhkan.”
“Angela, dengar dulu—”
“Tidak, Miguel. Kamu yang dengar,” desisku, membuat suaranya terhenti. “Kamu pikir kamu cerdas karena menyembunyikan gajimu dan membiarkan aku menanggung semua utang condo? Kamu lupa satu hal. Aku bekerja sebagai senior financial analyst di perusahaan multinasional. Aku tahu hukum perbankan dan pernikahan di negara ini lebih baik daripada diler mobil tempat adikmu mengemis DP.”
Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan kekuatan baru mengalir dalam nadiku.
“Detik ini juga, aku sudah menginstruksikan pengacaraku untuk membekukan condo di Pasig dan mengajukan tuntutan pemalsuan serta penggelapan dana keluarga. Semua bukti transfer dariku untuk biaya rumah sakit ayahmu, sekolah anak kita, bahkan renovasi rumah ibumu yang menggunakan rekening pribadiku, sudah dicatat sebagai utang piutang keluarga Reyes kepadaku.”
“Kamu tidak bisa melakukan itu! Itu uang bersama!” pekik Miguel, suaranya mulai naik satu oktav karena panik.
“Uang bersama? Bukankah kamu sendiri yang bilang, ‘Aku kerja keras untuk uang itu, hakku mau kupakai untuk apa saja’?” aku membalikkan kalimatnya dengan sinis. “Mari kita lihat apa kata hakim nanti saat melihat seorang suami berpenghasilan 300.000 peso tapi membiarkan istrinya pingsan karena kelaparan dan lembur untuk membayar atap di atas kepala anaknya.”
“Angela, tolong… kita bisa bicarakan ini baik-baik. Pikirkan anak kita!” Miguel mulai memohon, suaranya bergetar egois.
“Aku justru sedang memikirkan anakku. Aku tidak ingin dia tumbuh besar melihat ibunya diinjak-injak oleh keluarga parasit seperti kalian,” kataku dingin. “Selamat tinggal, Miguel. Nikmati diler mobil itu, karena setelah ini, jangankan Mustang… untuk membayar pengacara pun kamu harus menjual Rolex di tanganmu.”
Aku langsung mematikan sambungan telepon. Mengeluarkan kartu SIM Filipinaku, mematahkkannya menjadi dua, dan membuangnya ke tempat sampah terdekat.
04
Delapan Bulan Kemudian…
Udara musim dingin Paris menyambutku saat aku keluar dari kantor pusat di kawasan La Défense. Mantel wol tebal membungkus tubuhku, dan di sampingku, anak laki-lakiku yang kini tampak lebih sehat dan ceria menggandeng tanganku erat.
Kehidupan di Prancis benar-benar mengubah kami. Tanpa beban finansial dari keluarga Reyes, gajiku yang naik tiga kali lipat membuat kami bisa hidup sangat mewah dan tenang di sebuah apartemen dengan pemandangan Menara Eiffel.
Ponsel baruku berdenting. Sebuah email dari pengacaraku di Manila masuk.
Subject: Update Putusan Pengadilan & Eksekusi Aset Reyes
Dear Ibu Angela,
Pengadilan telah mengabulkan gugatan cerai mutlak. Berdasarkan bukti rekaman dan aliran dana, hakim memutuskan bahwa mantan suami Anda, Miguel Reyes, terbukti melakukan penipuan finansial dalam pernikahan.
Pengadilan menyita rumah di Quezon City yang baru selesai direnovasi sebagai jaminan ganti rugi atas seluruh biaya yang telah Anda keluarkan selama empat tahun. Miguel juga diwajibkan membayar tunjangan anak sebesar 40% dari gajinya setiap bulan.
Catatan tambahan: Miguel baru saja dicopot dari posisinya sebagai Senior Engineer di pelabuhan karena reputasinya yang hancur setelah kasus ini viral di kalangan profesional Manila.
Aku menutup email itu dengan senyum puas.
Aku melihat foto lampiran yang dikirim pengacaraku. Di sana terlihat Miguel, ibunya, dan Sofia berdiri di depan rumah mereka yang kini ditempeli papan penyitaan oleh pengadilan. Wajah mereka tampak kuyu, frustrasi, dan kehilangan seluruh keangkuhan yang dulu selalu mereka pamerkan. Sofia tidak jadi mendapatkan Mustang-nya; jangankan mobil sport, mereka kini harus mencari kontrakan murah di pinggiran kota.
“Mama, kita mau makan malam di mana?” tanya anakku sambil mendongak, matanya berbinar jenaka.
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu menggandeng tangannya menuju restoran kecil di sudut jalan Paris yang hangat.
“Di mana saja yang kamu mau, Sayang,” jawabku lembut. “Sekarang, tidak akan ada lagi yang bisa melarang kita untuk bahagia.”