SUAMIKU BILANG PERGI KE CEBU UNTUK PERJALANAN BISNIS PENTING SAAT HARI TODOS LOS SANTOS…
TAPI BEBERAPA JAM KEMUDIAN, AKU MELIHATNYA DI FOTO KELUARGA SEKRETARIS WANITANYA DI BACOLOD
Sudah tujuh tahun kami menikah.
Suamiku, Adrian Villanueva, adalah pria yang selalu “terlalu sibuk sampai tak punya waktu untuk bernapas.”
Dia CEO sebuah perusahaan logistik besar di Makati.
Panggilan tengah malam sudah menjadi hal biasa baginya.
Bahkan saat Malam Natal, dia masih rapat online.
Di ulang tahunku, aku hanya menerima satu kue dan pesan singkat:
“Maaf, klien ini penting.”
Dulu aku berpikir…
Kalau menikah dengan pria sukses, kita harus tahan menghadapi semuanya.
Sampai akhirnya Todos Los Santos tahun ini tiba.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memohon padanya.
—Bisakah kita pulang ke Iloilo tahun ini? Sudah tiga tahun kamu tidak mengunjungi makam Mama.
Adrian sedang merapikan dasinya di depan cermin.
Dia berhenti selama dua detik.
—Aku ada perjalanan bisnis ke Cebu.
—Di hari libur seperti ini?
—Kliennya cuma tersedia sekarang.
Jawabannya terlalu cepat.
Seolah dia sudah menyiapkannya sejak lama.
Aku hanya menatapnya diam-diam.
Beberapa detik kemudian, dia mendekat dan mencium keningku.
—Aku akan menebusnya tahun depan.
Kalimat yang sama lagi.
“Tahun depan.”
Aku tidak berkata apa-apa lagi.
Keesokan paginya, dia pergi lebih awal dari penthouse kami di BGC sambil membawa koper.
Sebelum masuk ke mobil, dia masih sempat menoleh.
—Jangan begadang nonton serial terus. Tidak baik untuk jantungmu.
Aku berdiri di dekat jendela besar sambil melihat mobilnya menjauh.
Yang kurasakan hanyalah kelelahan yang sangat dalam.
Menjelang sore.
Saat aku berada di sebuah café dekat Ortigas sambil menunggu teman, aku menggulir media sosial tanpa semangat.
Lalu…
Tiba-tiba tanganku terasa dingin.
Yang mengunggah postingan itu adalah sekretaris pribadinya.
Nicole Ramos.
Baru dua tahun bekerja di perusahaan.
Usianya dua puluh enam tahun.
Cantik.
Murah senyum.
Dan selalu berbicara lembut pada Adrian.
Foto pertama menunjukkan meja makan panjang di Bacolod yang penuh hidangan seafood.
Foto kedua…
Adrian.
Dia sedang menunduk membersihkan makam.
Di sampingnya berdiri Nicole memakai gaun putih sambil tersenyum seperti menantu baru.
Orang tua Nicole berdiri di belakang mereka.
Siapa pun yang melihat pasti mengira mereka satu keluarga.
Dadaku langsung terasa dingin.
Tapi yang benar-benar membuatku tertawa pahit adalah caption-nya.
“Akhirnya aku bisa mengenalkan pria yang tepat kepada orang tuaku.
Papa bilang dia tahu cara menyalakan lilin dan berdoa—benar-benar calon menantu sempurna.”
Kolom komentar penuh godaan.
“Kapan nikahnya?”
“Pasangan sempurna!”
“Pak Adrian kelihatan jatuh cinta banget!”
Bahkan ada beberapa karyawan perusahaan kami yang ikut berkomentar:
“Akhirnya resmi juga!”
Aku menatap layar cukup lama.
Lalu aku hanya menekan tombol “like.”
Dan meninggalkan satu komentar:
“Hormat dan selamat.”
Belum sampai sepuluh menit, Adrian menelepon.
Suaranya langsung dingin.
—Drama apa lagi ini?
Panggilan itu kuaktifkan di speaker sambil mengaduk kopi.
—Drama apa?
—Komentarmu itu.
—Aku cuma mengucapkan selamat untuk kalian.
—Kamu tahu orang-orang bakal berpikir macam-macam.
Aku tersenyum pahit.
—Lalu menurutmu orang akan berpikir apa saat melihat foto kalian?
Dia diam selama dua detik.
Kemudian menarik napas panjang.
—Nicole tidak punya keluarga lain selain orang tuanya yang sudah tua. Aku hanya menemani dia.
—Menemani sampai membersihkan makam bersama keluarganya?
—Jangan berpikir aneh-aneh.
Dia mulai kesal lagi.
Seperti biasa.
Kalau menyangkut Nicole, aku selalu jadi pihak yang “cemburuan,” “ribut,” dan “tidak pengertian.”
—Hapus komentarmu.
Katanya dingin.
—Perusahaan bisa malu.
—Bagaimana Nicole bisa bekerja nanti?
Aku menyandarkan tubuh ke kursi.
Diam-diam melihat lalu lintas di balik kaca.
Lalu aku berkata pelan:
—Kalau aku?
—Apa?
—Bagaimana aku bisa hidup dengan tenang?
Dia terdiam.
Tapi beberapa detik kemudian, terdengar suara lembut Nicole dari seberang telepon.
—Pak Adrian… Mama memanggil saya…
Dan dia langsung memutus panggilan.
Malam harinya.
Nicole kembali mengunggah “permintaan maaf” panjang.
Katanya semua itu hanya candaan dan dia tidak ingin “melukaiku.”
Tapi setiap katanya seperti menyalahkanku diam-diam.
“Aku tidak menyangka foto sederhana bisa menyakiti perasaan Ibu Maria…”
“Aku akan menjaga jarak dengan Pak Adrian mulai sekarang…”
Komentar-komentar langsung bermunculan.
“Istri CEO memang dramatis.”
“Nicole terlalu baik.”
“Kasihan Pak Adrian.”
Aku membaca semuanya dengan tenang.
Lucu juga kalau dipikir-pikir…
Tiga tahun lalu, justru aku sendiri yang merekomendasikan Nicole masuk ke perusahaan.
Saat wawancara, dia menangis karena ayahnya terkena stroke dan dia butuh pekerjaan.
Aku merasa kasihan.
Sementara Adrian saat itu berkata dingin:
—Aku tidak suka mempekerjakan orang yang emosional.
Tapi sekarang…
Dia sendiri yang siap melindunginya dariku.
Lewat tengah malam.
Aku membuka brankas kecil di ruang kerja.
Di dalamnya ada surat perceraian yang sudah dua bulan kusiapkan.
Dulu aku masih ragu.
Aku masih berharap dia akan menahanku.
Tapi saat dia menandatangani dokumen itu…
Dia bahkan tidak membacanya.
Langsung tanda tangan di halaman terakhir sambil mengetik pesan untuk Nicole.
Aku masih ingat sempat bertanya:
—Kamu bahkan tidak mau memeriksanya dulu?
Dia bahkan tidak menoleh kepadaku.
—Aku percaya padamu.
Percaya?
Aku tertawa pelan.
Dia tidak pernah benar-benar mempercayaiku.
Nicole yang memegang akun perusahaan.
Nicole yang melihat proyek-proyek rahasia.
Sementara aku—yang membangun perusahaan itu bersamanya sejak kantor kecil di Quezon City—bahkan tidak boleh mendekati brankas perusahaan.
Pernah suatu kali aku harus menggunakan stempel perusahaan demi menyelamatkan kontrak besar.
Tahukah kalian apa yang pertama dilakukan Adrian saat pulang?
Dia menamparku di depan semua karyawan.
—Siapa yang mengizinkanmu membuka brankas?
Dan hari itu…
Nicole yang memberinya sapu tangan untuk mengelap tangannya.
Aku memejamkan mata.
Lalu memasukkan surat perceraian ke dalam tasku.
Keesokan harinya.
Aku datang ke Kantor Catatan Sipil di Pasig.
Petugas memeriksa dokumen-dokumenku.
—Di mana suami Anda?
Aku diam-diam mengeluarkan ponsel.
Menunjukkan postingan terbaru Nicole.
Di foto itu, Adrian tersenyum bahagia bersama keluarga Nicole sambil menikmati kembang api Festival MassKara.
Aku menjawab pelan:
—Bersama keluarga barunya.
Petugas itu terdiam sejenak.
Seolah merasa kasihan padaku.
Tepat saat itu, ponselku bergetar.
Manajer HR perusahaan menelepon.
Suaranya cepat dan gugup.
—Bu Maria… jangan datang ke kantor dulu sekarang.
Aku mengernyit.
—Kenapa?
Dia menarik napas berat sebelum menjawab.
—Nicole menuduh Ibu mencuri file rahasia perusahaan sebelum mengundurkan diri.
Aku tertawa kecil.
—Lalu?
—Katanya Pak Adrian memberikan stempel perusahaan kepadanya…
Tanganku langsung membeku.
Stempel perusahaan itu…
Selama tujuh tahun Adrian tidak pernah membiarkanku menyentuhnya.
Tapi sekarang…
Dia mempercayakannya kepada Nicole?
Aku belum sempat bicara ketika tiba-tiba pintu Kantor Catatan Sipil terbuka keras.
Suara hak tinggi bergema di seluruh ruangan.
Saat aku menoleh—
Nicole berdiri di pintu masuk.
Matanya merah.
Adrian berdiri di belakangnya.
Dan di tangannya…
Sebuah map hitam yang langsung kukenali.
Itu adalah dokumen pemindahan seluruh sahamku di perusahaan.
Dokumen yang dulu dia mohon agar kutandatangani “demi masa depan pernikahan kami.”
Nicole tersenyum sambil menatapku.
Lalu perlahan mengeluarkan ponselnya.

Dan memutar sebuah rekaman suara dengan volume keras di depan semua orang.
Begitu aku mendengar kata pertama…
Seluruh tubuhku langsung dingin.
Karena itu suaraku.
Dan kalimat pertama yang didengar semua orang adalah:
—Kalau Adrian mati… seluruh perusahaan akan jadi milikku, kan?
Baca bagian selanjutAku terpaku di kursi. Rekaman suara itu terus berputar, bergema di antara dinding beton Kantor Catatan Sipil Pasig yang mendadak sunyi senyap.
Itu memang suaraku. Tapi itu adalah potongan percakapan lima tahun lalu, saat aku dan Adrian berdiskusi dengan pengacara hukum kami mengenai klausul asuransi dan perlindungan aset perusahaan jika terjadi kecelakaan kerja. Nicole telah memotongnya dengan sangat rapi, mengubah diskusi legal yang sah menjadi skenario pembunuhan berencana yang keji.
“Bu Maria…” Petugas Catatan Sipil menatapku dengan pandangan ngeri, perlahan menarik kembali berkas perceraianku.
Adrian melangkah maju. Wajahnya yang biasa tenang kini mengeras penuh amarah. Dia melempar map hitam di tangannya ke atas meja petugas hingga menimbulkan suara debuman keras.
“Tujuh tahun, Maria,” suara Adrian bergetar, dingin dan sarat kekecewaan. “Aku bekerja siang malam di Makati untuk memberikanmu kehidupan mewah di BGC. Dan ini yang kamu rencanakan di belakangku? Kamu ingin aku mati demi menguasai perusahaan?”
Nicole langsung memeluk lengan Adrian, tubuhnya bergetar fiktif seolah dia adalah korban yang sangat ketakutan. “Pak Adrian, sudah kuberitahu… Ibu Maria sengaja menjebakku di Bacolod agar dia punya alasan untuk menuntut cerai dan mengambil alih aset secara sepihak sebelum rencana ini terbongkar.”
Beberapa orang di ruangan itu mulai berbisik-bisik, menatapku seolah aku adalah monster yang kejam.
Aku melihat ke arah Adrian. Pria yang bersamaku sejak kami hanya mampu menyewa ruko kecil di Quezon City, pria yang pernah berjanji akan menjagaku, kini menatapku dengan kebencian yang begitu murni. Dia bahkan tidak mencoba bertanya. Dia langsung menghakimiku.
Perlahan, rasa dingin di dadaku menguap. Digantikan oleh sebuah ketenangan yang luar biasa. Rasa sakit yang teramat sangat ternyata bisa berubah menjadi mati rasa.
Aku berdiri dari kursi, merapikan tas tanganku tanpa gemetar sedikit pun.
“Kau tahu, Adrian?” suaraku terdengar sangat tenang, bahkan membuat Nicole sedikit tersentak. “Stempel perusahaan yang kau berikan pada Nicole itu… adalah stempel palsu.”
Langkah Adrian yang hendak berbalik langsung terhenti. Matanya menyipit. “Apa maksudmu?”
“Tiga tahun lalu, saat kau menampar wajahku di depan semua karyawan karena aku menggunakan stempel itu untuk menyelamatkan kontrak dengan klien dari Davao,” aku menyentuh pipi kiriku, mengingat rasa panas hari itu. “Malam harinya, aku mengganti stempel asli yang ada di brankas dengan stempel replika yang sudah kuubah sedikit detail ukirannya pada logo singa di bagian tengah.”
Wajah Nicole mendadak pucat pasi.
“Stempel asli, seluruh dokumen legalitas orisinal, dan hak paten sistem logistik terintegrasi yang kita bangun dari nol… tidak pernah ada di brankas Makati,” lanjutku sambil menatap langsung ke manajer HR yang masih terhubung di panggilan telepon genggamku yang menyala sejak tadi. “Semua itu terdaftar atas nama pribadi saya, Maria Santos-Villanueva, sebagai pencipta tunggal. Dokumen yang ada di tangan Nicole sekarang? Itu hanya salinan operasional yang tidak berlaku di pengadilan tanpa tanda tangan basah dariku.”
“Kau berbohong!” bentak Adrian, tapi suaranya mulai goyah. Dia segera merebut map hitam dari tangan Nicole dan membukanya dengan panik.
“Aku tidak pernah membohongimu, Adrian. Kau saja yang terlalu sibuk untuk peduli,” aku berjalan mendekatinya, lalu berhenti tepat di hadapan Nicole. Perempuan dua puluh enam tahun itu melangkah mundur, ketakutan yang sesungguhnya mulai merayap di wajah cantiknya.
“Nicole, terima kasih karena sudah membawanya ke Bacolod. Kalau kau tidak mengunggah foto itu, aku mungkin masih akan mengasihani pria ini dan membiarkannya menyimpan separuh dari kerja kerasku,” aku tersenyum tipis. “Oh ya, soal rekaman suara itu… silakan bawa ke kepolisian Makati. Pengacara pribadiku, yang memegang rekaman penuh berdurasi dua jam dari diskusi legal lima tahun lalu, sudah menunggu di sana.”
Aku berbalik kembali menghadap petugas Catatan Sipil yang kini menatapku dengan mata terbelalak.
“Bapak, tolong lanjutkan proses perceraian ini. Suami saya sudah hadir, dan dia sudah menandatangani halaman terakhirnya tanpa membaca, dua bulan lalu. Anda bisa mencocokkan tanda tangannya sekarang.”
Adrian mematung. Lembaran-lembaran di tangannya bergetar. Dia baru menyadari bahwa dokumen pemindahan saham yang dia bawa—yang dia kira dokumen kelicikanku—sebenarnya adalah lampiran pembagian mutlak harta gono-gini yang menyatakan bahwa seluruh modal dan aset utama perusahaan logistik di Makati akan kembali ke tangan pencipta aslinya: aku.
“Maria… tunggu,” Adrian mencoba menggapai tanganku saat aku melangkah melewatinya. Suaranya tidak lagi dingin. Ada ketakutan besar yang mendalam di matanya. Perusahaan yang dia agungkan, status CEO yang dia banggakan, semuanya runtuh dalam hitungan detik.
Aku menarik tanganku dengan lembut, menghindari sentuhannya.
“Selamat menikmati hari Todos Los Santos di Bacolod, Adrian. Jaga sekretarismu baik-baik. Karena mulai besok pagi, kau tidak akan punya perusahaan lagi untuk menggajinya.”
Aku melangkah keluar dari Kantor Catatan Sipil Pasig. Sinar matahari sore menyiram wajahku. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, dadaku terasa lapang, dan aku bisa bernapas dengan sangat lega.