Posted in

SUAMIKU MEMAKSAKU BERHENTI DARI PEKERJAAN BAGUSKU UNTUK MERAWAT IBUNYA YANG HAMPIR TAK SADARKAN DIRI—TAPI SAAT KUPIKIR WANITA TUA ITU HANYA TERTIDUR, DIA DIAM-DIAM MENYELIPKAN SESUATU KE SAKUKU… DAN PESAN YANG TERTULIS DI DALAMNYA MENGHANCURKAN SELURUH HIDUPKU…

SUAMIKU MEMAKSAKU BERHENTI DARI PEKERJAAN BAGUSKU UNTUK MERAWAT IBUNYA YANG HAMPIR TAK SADARKAN DIRI—TAPI SAAT KUPIKIR WANITA TUA ITU HANYA TERTIDUR, DIA DIAM-DIAM MENYELIPKAN SESUATU KE SAKUKU… DAN PESAN YANG TERTULIS DI DALAMNYA MENGHANCURKAN SELURUH HIDUPKU…

Saat itu aku sedang memeras handuk hangat sambil perlahan membersihkan lengan kurus penuh bekas suntikan milik ibu mertuaku, Doña Pilar, ketika tiba-tiba dia menggenggam tanganku.

Tubuhku langsung membeku.

Sudah satu tahun Doña Pilar hampir tidak bergerak sama sekali.

Terbaring.

Diam.

Seolah sudah tidak sadar.

Tapi malam itu, dengan tangan gemetar, dia menyelipkan sebuah buku tabungan lama ke dalam saku dasterku.

Napasaku hampir berhenti.

Lututku langsung lemas di samping tempat tidurnya.

Dia hanya menatap langit-langit putih dengan tatapan kosong…

tapi cengkeramannya di pergelangan tanganku begitu kuat, seolah ada sesuatu yang sangat penting ingin dia sampaikan.

Aku terengah pelan.

Keringat dingin mengalir di punggungku.

Namun ketika mendengar langkah Adrian dari tangga, aku buru-buru menyembunyikan buku tabungan itu lebih dalam ke sakuku.

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Dan aku sama sekali tidak menyadari bahwa malam itu akan mengubah seluruh hidupku.

Adrian masuk ke kamar sambil membawa aroma parfum mahalnya memenuhi udara.

Dia memelukku dari belakang dan meletakkan dagunya di bahuku.

— Pasti istriku capek banget… Mama gimana hari ini?

Suaranya hangat dan lembut.

Dulu aku ingin mendengarnya setiap hari.

Sekarang…

setiap kali dia bicara, ada sesuatu yang terasa berat di dadaku.

Aku memaksa tersenyum.

— Masih sama. Kata dokter memang butuh kesabaran.

Adrian mendekat lalu mencium kening ibunya.

Setelah itu dia menatapku dengan penuh kekaguman.

— Aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kamu. Nggak semua orang mau merawat ibu mertua seperti ini. Kamu berkah terbesar dalam hidupku.

Setahun lalu, aku pasti menangis bahagia mendengar kata-kata itu.

Sekarang…

semuanya terasa salah.

Aku masih ingat saat dia memaksaku resign.

Waktu itu aku adalah marketing manager di sebuah perusahaan besar di Jakarta.

Gajiku Rp35 juta per bulan, belum termasuk bonus.

Aku mencintai pekerjaanku.

Aku mencintai perasaan punya hidup sendiri.

Tapi Adrian memakai cinta dan rasa bersalah untuk membuatku menyerah.

— Gajimu memang besar, tapi itu kecil dibanding penghasilanku di bisnis properti. Mama membesarkanku sendirian. Aku nggak tega menyerahkan dia ke caregiver atau panti jompo. Berhentilah kerja. Aku akan mengurus semuanya untukmu.

Dan aku percaya.

Pada citranya sebagai anak baik.

Suami baik.

Pria sempurna.

Jadi aku meninggalkan pekerjaanku.

Sampai perlahan aku berubah menjadi pembantu di rumahku sendiri.

Obat.

Popok.

Makanan.

Merawat Doña Pilar yang bahkan hampir tidak bisa bicara lagi.

Memang Adrian memberiku uang.

Membelikanku tas dan pakaian mahal.

Tapi setiap hari aku merasa diriku perlahan menghilang.

Rumah kami besar di kawasan elite Jakarta Selatan.

Mewah.

Indah.

Tapi bagiku, itu hanya penjara emas.

Adrian memasang CCTV di hampir setiap sudut rumah.

Alasannya:

— Biar Mama bisa dipantau kalau ada keadaan darurat.

Tapi aku tahu bukan cuma Doña Pilar yang dia awasi.

Kadang kalau aku terlalu lama diam, dia langsung menelepon.

— Babe, kamu nggak apa-apa? Kok kelihatan sedih?

Seolah aku bahkan tidak punya ruang untuk bernapas sendiri.

Aku semakin takut ketika dia mulai memintaku menandatangani berbagai dokumen perusahaan.

— Buat masa depan kamu dan anak kita nanti lebih aman.

Tapi semakin banyak berita tentang istri yang dijadikan tumbal utang suami…

aku mulai takut.

Hanya saja aku tidak pernah berani mengatakannya.

Kadang aku cuma menangis diam-diam di kamar mandi.

Meski begitu, aku tetap tidak pernah membayangkan bahwa Adrian ternyata menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap.

Di mata semua orang, dia tetap suami sempurna.

Pebisnis sukses.

Anak berbakti.

Kebanggaan seluruh lingkungan.

Malam itu dia pulang lebih awal sambil membawa bunga lily putih kesukaanku.

Bahkan dia tersenyum lebar.

— Aku baru tanda tangan deal besar hari ini. Nanti malam kita keluar ya.

Aku menoleh ke arah Doña Pilar yang hanya berbaring diam di tempat tidur.

Dan aku tidak bisa menjelaskan kenapa perutku tiba-tiba terasa dingin.

Seolah ada sesuatu yang salah.

Tapi aku belum tahu apa.

Keesokan paginya Adrian pergi lebih awal.

Seperti biasa, aku membersihkan tubuh Doña Pilar.

Air hangat sudah siap.

Seluruh kamar berbau disinfektan.

Aku perlahan mengusap punggungnya yang tinggal tulang.

Aku berbisik pelan:

— Mama… hari ini cuacanya bagus. Semoga Mama cepat sembuh. Nanti aku ajak Mama pulang kampung. Kita tanam sayur bareng…

Air mataku mulai jatuh saat bicara.

Dan tiba-tiba—

tangannya bergerak.

Aku langsung membeku.

Sudah setahun Doña Pilar hampir tidak pernah bergerak.

Tapi sekarang…

dia menggenggam pergelangan tanganku pelan.

Jarinya dingin.

Dan untuk pertama kalinya, matanya terlihat sadar.

Dia melirik cepat ke arah CCTV.

Lalu menatapku penuh ketakutan.

Seolah sedang memohon.

Aku buru-buru membelakangi kamera sambil pura-pura membetulkan bantalnya.

Saat itulah dia menyelipkan sesuatu ke sakuku.

Bibirnya bergerak pelan.

Hampir tanpa suara.

Tapi aku bisa membaca jelas:

— Sembunyikan… selamatkan dirimu…

Lalu—

dia kembali diam tak bergerak.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Aku membeku di tempat.

Dan tepat saat itu—

aku mendengar suara mobil Adrian masuk ke driveway.

Dia pulang lebih cepat.

Dengan tangan gemetar aku berdiri dan merapikan bajuku.

Adrian masuk sambil tersenyum manis.

— Surprise. Aku pulang cepat biar nanti bisa ngajak kamu keluar.

Aku menoleh ke arah Doña Pilar.

Dan saat itulah aku menyadari kenyataan yang mengerikan.

Ibu mertuaku sadar.

Selama satu tahun penuh dia berpura-pura tidak sadar.

Tapi kenapa?

Dan apa isi buku tabungan yang dia sembunyikan padaku?

Sepanjang malam aku gelisah.

Takut dan penasaran bercampur jadi satu di dadaku.

Saat Adrian akhirnya tertidur setelah minum alkohol, aku diam-diam masuk ke kamar mandi sambil membawa buku tabungan lama itu.

Detak jantungku begitu cepat saat membukanya di bawah cahaya redup.

Dan aku hampir pingsan saat melihat isinya.

Nama rekening:

PILAR MENDOZA CRUZ.

Saldo:

Rp120 miliar.

Tanganku langsung gemetar.

Aku berpegangan pada dinding.

Tapi mimpi buruk itu belum selesai.

Sebuah kertas kecil jatuh dari dalam buku tabungan.

Ada tulisan di sana.

Seolah ditulis dengan darah yang sudah mengering.

Hanya tujuh kata:

“ADRIAN YANG MEMBUNUH AYAHNYA.”

Aku jatuh terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, membekap mulutku sendiri agar teriakan histerisku tidak membangunkan pria yang sedang mendengkur di balik pintu itu.

Tujuh kata itu terasa seperti pisau yang menguliti seluruh kewarasanku.

Aku teringat cerita Adrian tentang ayahnya. Katanya, ayahnya meninggal karena kecelakaan mobil saat Adrian masih kuliah. Dia selalu memasang wajah sedih dan heroik setiap kali menceritakan bagaimana dia harus berjuang dari nol demi menghidupi ibunya.

Tapi buku tabungan ini… saldo Rp120 miliar ini menunjukkan bahwa mereka tidak pernah miskin.

Perlahan, aku membuka lembar demi lembar buku tabungan itu. Ada catatan kecil di pinggir baris transaksi, tulisan tangan Doña Pilar yang sangat halus, hampir tidak terbaca: “Uang asuransi dan aset Papa. Adrian tidak tahu rekening ini ada. Jangan sampai dia tahu.”

Di lembar terakhir, terselip sebuah foto kecil yang sudah menguning. Foto seorang pria paruh baya yang wajahnya sangat mirip Adrian, tapi dengan sorot mata yang hangat. Di balik foto itu tertulis: “Dia memutus kabel remnya. Aku melihatnya dari jendela. Jangan percaya senyumnya, menantuku. Dia butuh boneka untuk mencuci uangnya, dan kau adalah korban selanjutnya.”

Tubuhku menggigil hebat. Tiba-tiba, semua potongan teka-teki itu jatuh ke tempatnya.

Kenapa dia memaksaku resign? Bukan karena dia ingin merawat ibunya, tapi karena dia ingin memutus aksesku ke dunia luar. Kenapa dia memasang CCTV? Bukan untuk memantau ibunya, tapi untuk memastikan aku tidak bicara dengan siapa pun. Kenapa dia memintaku menandatangani dokumen perusahaan? Karena dia butuh nama “bersih” untuk menampung skema pencucian uang dari bisnis properti bodongnya—sehingga jika suatu saat polisi datang, akulah yang akan membusuk di penjara, bukan dia.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu kamar mandi.

“Babe? Kamu di dalam? Kok lama banget?”

Itu suara Adrian. Suara yang tadinya kupikir merdu, kini terdengar seperti desis ular.

Aku segera menyambar buku tabungan itu, memasukkannya ke dalam celah di bawah lantai marmer yang sedikit longgar dekat wastafel, lalu menyiram wajahku dengan air dingin berkali-kali.

“Iya, Mas… perutku agak sakit,” sahutku, mencoba menstabilkan suaraku.

Aku membuka pintu. Adrian berdiri di sana, masih dengan senyum “sempurna” itu. Dia memegang sebuah dokumen baru.

“Oh, syukurlah. Eh, mumpung kamu bangun, tanda tangan ini bentar ya? Cuma dokumen pengalihan aset kecil buat investasi baru kita di Bali. Biar kamu makin kaya, Sayang.”

Aku menatap pulpen di tangannya. Di belakangnya, di kamar yang remang-remang, aku bisa melihat mata Doña Pilar yang terbuka sedikit, menatapku dengan peringatan yang tajam.

“Nanti pagi saja ya, Mas? Aku pusing banget,” kataku sambil melewatinya.

Malam itu, aku tidak tidur. Aku menunggu sampai napas Adrian berat dan stabil. Dengan sangat hati-hati, aku mengambil ponsel rahasiaku—ponsel lama yang kukira sudah hilang tapi ternyata disimpan Doña Pilar di bawah kasurnya dan diberikan padaku saat aku mengganti sprei tadi sore.

Aku mengirim pesan singkat ke mantan bosku di perusahaan marketing, seorang pria dengan koneksi luas di kepolisian.

“Tolong aku. Kirim tim ke rumah sekarang. Aku punya bukti pembunuhan dan pencucian uang Rp100 miliar lebih. Jangan pakai sirine. Dia berbahaya.”


Dua Jam Kemudian…

Adrian terbangun bukan karena alarm, melainkan karena lampu senter yang menyilaukan matanya. Polisi sudah mengepung kamar.

“Apa-apaan ini?! Liza! Apa yang kau lakukan?!” teriak Adrian saat tangannya dipiting ke belakang.

Aku berdiri di samping tempat tidur Doña Pilar, memegang buku tabungan dan tumpukan dokumen yang selama ini dia suruh aku tanda tangani tanpa kubaca.

“Aku tidak pernah menjadi pembantumu, Adrian,” kataku dingin, air mataku sudah mengering, digantikan oleh keberanian yang murni. “Dan aku bukan lagi tumbalmu.”

Doña Pilar tiba-tiba duduk tegak di tempat tidurnya. Dengan sisa tenaganya, dia menunjuk ke arah Adrian dan mengeluarkan suara parau yang sudah dipendamnya selama bertahun-tahun:

“PEMBUNUH!”

Adrian pucat pasi. Dia menyadari bahwa selama setahun ini, ibunya yang dia anggap “tanaman” ternyata merekam setiap pengakuan dosanya saat dia bicara sendirian di kamar itu.

Saat polisi menyeret Adrian keluar, aku menghampiri ibu mertuaku. Kami tidak perlu bicara banyak. Dia telah memberiku kunci untuk menghancurkan monster yang dia lahirkan, dan sebagai gantinya, aku memberinya kebebasan yang telah dirampas darinya.

Rumah mewah itu bukan lagi penjara emas. Pagi itu, saat matahari terbit di Jakarta Selatan, aku menyadari bahwa pekerjaan terbaikku bukanlah menjadi manajer marketing, melainkan menjadi wanita yang berhasil menjatuhkan seorang iblis dengan bantuan sebuah buku tabungan tua.