“SUAMIKU MEMERINTAHKAN AGAR AKU DIKURUNG DI RUANG BAWAH TANAH HANYA KARENA KATANYA AKU MEMBUAT ARTIS TERKENAL KESAYANGANNYA MENANGIS…
TAPI SAAT AKU TERBARING SEkarat DALAM LUMURAN DARAHKU SENDIRI, SEORANG PRIA ASING MENENDANG PINTU MANSION…
DAN KETIKA KELUARGA SUAMIKU MELIHAT CINCIN DI TANGANNYA, BARULAH MEREKA BENAR-BENAR KETAKUTAN.”
“Pak Alejandro… Nyonya Celestine sudah dipukuli hampir empat jam. Kalau tidak segera dibawa ke rumah sakit, mungkin dia tidak akan bertahan sampai pagi…”
Tangan Alejandro Villareal yang sedang memutar gelas wiski berhenti sesaat.
Di sampingnya, Vanessa Cruz menghela napas pelan, tampak iba sambil menggigit bibir merahnya.
Alejandro bahkan tidak mengangkat kepala.
Ia menyesap minumannya, lalu berkata dengan suara sedingin angin pegunungan saat musim hujan.
“Kurung dia di ruang penyimpanan anggur di belakang mansion. Tidak seorang pun boleh memanggil dokter.”
Ramon, kepala pelayan tua keluarga itu, langsung terdiam.
“Pak…”
Perlahan Alejandro mengangkat pandangannya.
Dan hanya dengan satu tatapan, seluruh ruang makan mewah di mansion Forbes Park terasa membeku.
“Apa perintahku kurang jelas?”
Vanessa menyentuh bahunya dengan lembut.
“Alex… dia cuma tidak sengaja menumpahkan teh ke aku. Aku tidak terluka. Jangan hukum dia lagi.”
Alejandro menggenggam tangan wanita itu.
Tatapannya langsung melembut.
“Vanessa… kamu terlalu baik.”
“Tapi bagaimanapun dia tetap istrimu…”
“Istri?”
Ia tertawa sinis.
“Kalau bukan karena keluarga Reyes memaksakan pernikahan itu dulu, menurutmu dia pantas menjadi bagian dari keluarga Villareal?”
Ruangan langsung sunyi.
Di luar, hujan deras mengguyur seluruh Manila.
Ramon mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Pak Alejandro… Nyonya Celestine benar-benar bisa meninggal.”
“Bagus.”
Alejandro membanting gelasnya ke meja.
“Biar dia belajar untuk tidak menyentuh Vanessa lagi.”
Ramon menundukkan kepala.
“Baik, Pak.”
Belakangan, Ramon sendirilah yang menceritakan semua itu kepadaku.
Namaku Celestine Reyes.
Saat itu aku terbaring di lantai semen dingin ruang penyimpanan anggur keluarga Villareal.
Seluruh ruangan berbau jamur dan darah.
Aku hampir tidak bisa merasakan punggungku lagi.
Darah merembes menembus pakaian tidur tipisku dan membentuk jejak merah panjang di lantai.
Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih hidup atau tidak.
Tiba-tiba pintu besi terbuka.
Cahaya kuning menerobos masuk.
Seseorang berlari mendekat lalu berlutut di sampingku.
“Nyonya…”
Itu Ramon.
Suaranya bergetar.
“Saya membawa obat dan perban.”
Aku bahkan tidak membuka mata.
“Pak Alejandro bilang tidak boleh memanggil dokter.”
Aku tertawa pelan.
Tawaku terdengar seperti batuk yang patah-patah.
“Apakah dia mengatakan sesuatu lagi… tentang aku?”
Ramon terdiam lama.
Lalu dengan suara serak ia menjawab:
“Beliau bilang… Anda harus ingat posisi Anda di rumah ini.”
Posisi.
Aku memejamkan mata.
Air mata perlahan mengalir di pelipisku.
Benar juga.
Tiga tahun lalu, aku adalah putri kesayangan keluarga Reyes di Cebu.
Ayahku pemilik pelabuhan pengiriman terbesar di Visayas.
Kakakku memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan.
Dan aku…
aku adalah gadis yang bahkan tidak pernah dibiarkan kehujanan.
Saat hari pernikahanku dengan Alejandro Villareal, seluruh kalangan elite Manila hadir.
Pernikahan kami berlangsung di gereja tua di Intramuros.
Iring-iringan mobil memenuhi jalanan Roxas Boulevard.
Saat itu Alejandro menggenggam tanganku dan berjanji:
“Celestine, aku tidak akan pernah membuatmu menangis.”
Dan aku mempercayainya.
Aku begitu mempercayainya hingga meninggalkan Cebu demi ikut bersamanya ke Manila.
Sampai setahun yang lalu…
Vanessa Cruz datang.
Seorang artis yang katanya pernah menyelamatkan nyawanya dalam kebakaran studio di Quezon City.
Alejandro membawa wanita itu ke mansion.
Dan sejak saat itu…
aku perlahan dihapus dari hidupnya.
Ia tidak lagi tidur di kamar kami.
Kami tidak lagi makan bersama.
Ia bahkan melupakan ulang tahunku.
Dan malam ini…
Vanessa sengaja menyiram dirinya sendiri dengan teh panas lalu menangis.
Alejandro bahkan tidak memberiku kesempatan menjelaskan.
Ia memerintahkan orang-orang memukuliku selama hampir empat jam.
Hanya karena Vanessa berkata:
“Aku takut… Kak Celestine membenciku…”
Dengan tangan gemetar, Ramon membuka kotak obatnya.
“Nyonya, mari saya obati luka Anda dulu.”
“Tidak perlu.”
“Nyonya…”
“Aku ingin bertanya sesuatu.”
Ia langsung menunduk.
“Apa itu?”
“Di ruang gantiku… ada kotak berwarna biru tua.”
Aku kesulitan bernapas.
“Di dalamnya ada USB.”
Ramon terdiam.
Aku membuka mata perlahan.
Untuk pertama kalinya setelah berjam-jam, pandanganku kembali fokus.
“Bawakan itu kepadaku.”
“Nyonya… apa isi USB itu?”
Sudut bibirku terangkat.
Senyuman yang dipenuhi rasa sakit dan kemarahan.
“Itu adalah sesuatu… yang bisa menyeret seluruh keluarga Villareal ke neraka.”
Ramon terpaku.
Dan tepat pada saat itu—
Terdengar suara rem mobil yang memekik dari luar.
SKREEECH!
Pintu utama mansion terbuka dengan keras.
Para pengawal berteriak panik.
“Berhenti!”
“Anda tidak boleh masuk—”
“MINGGIR DARI JALANKU!”
Suara pria yang dalam dan menggelegar menggema.
Tubuhku langsung gemetar.
Tidak mungkin…
Bahkan wajah Ramon mendadak pucat.
Lalu terdengar langkah kaki berat menuruni tangga menuju ruang bawah tanah.
BUM!
Pintu besi ditendang hingga terbuka.
Seorang pria dengan mantel hujan hitam berdiri di bawah cahaya dingin lampu.
Air hujan menetes dari tubuhnya.
Matanya merah saat menatap darah yang berserakan di lantai.
Di jarinya berkilau cincin keluarga Reyes.
Ramon langsung berlutut.
“Tuan… Tuan Adrian…”
Kakakku.
Pria yang hilang di perairan Filipina selama tiga tahun.

Pria yang selama ini dianggap sudah meninggal.
Adrian Reyes menatap tubuhku yang berlumuran darah di lantai.
Ia mengepalkan tangan begitu kuat hingga urat-uratnya menonjol.
Lalu perlahan mengangkat kepala.
Dan hanya dari tatapannya saja, ruang bawah tanah itu terasa berubah menjadi neraka.
“Alejandro Villareal…”
Ia mengucapkan setiap kata dengan penuh tekanan.
“Malam ini… keluargamu akan membayar semua yang mereka lakukan terhadap adikku.”
“Seratus kali lipat.”
Adrian melangkah maju, tubuhnya yang tegap dan kokoh menerobos kegelapan ruang penyimpanan anggur. Tanpa memedulikan jas mahalnya yang kini ternoda merah, ia langsung berlutut di sampingku. Tangannya yang gemetar mengangkat kepalaku dengan sangat hati-hati, seolah aku adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.
“Celestine… ini Kakak, Dek. Kakak pulang,” bisiknya, suaranya yang tadinya menggelegar kini pecah oleh rasa sakit yang teramat sangat.
Aku menatap wajahnya yang dipenuhi bekas luka baru—bukti dari perjuangannya bertahan hidup selama tiga tahun terombang-ambing di lautan lepas sebelum akhirnya berhasil kembali. Aku tersenyum lemah, memuntahkan sedikit darah dari sudut bibirku. “Kak Adrian… kotak biru… di kamarku…”
“Ramon!” bentak Adrian tanpa menoleh. “Bawa USB di kotak itu sekarang! Dan panggil tim medis pribadi Reyes. Aku tidak sudi darah adikku menyentuh rumah sakit milik relasi bajingan itu!”
“Baik, Tuan Besar!” Ramon berlari keluar dengan tergesa-gesa.
Adrian menggendong tubuhku yang terkulai lemas. Langkah kakinya yang berat menaiki tangga ruang bawah tanah, bergema seperti lonceng kematian yang siap menjemput seluruh isi mansion Forbes Park.
Ruang Tengah yang Mencekam
Di ruang tengah yang mewah, Alejandro dan Vanessa sedang duduk santai di sofa kulit sambil menikmati musik klasik, sama sekali tidak menyadari badai yang baru saja menerobos masuk. Para pengawal Villareal yang mencoba menghalangi Adrian tadi kini terkapar di lantai lobi, dilumpuhkan oleh tim taktis bersenjata lengkap yang dibawa oleh Adrian.
Begitu Adrian melangkah masuk ke ruang tengah sambil menggendong tubuhku yang bersimbah darah, Alejandro langsung berdiri dengan wajah berang.
“Siapa kamu?! Berani-beraninya masuk ke rumahku dan—”
Kata-kata Alejandro terhenti di udara. Matanya beralih dari tubuhku yang sekarat ke arah tangan kiri Adrian yang mencengkeram pundakku. Di jari manis Adrian, sebuah cincin emas murni dengan ukiran lambang burung elang laut khas keluarga Reyes berkilau di bawah lampu gantung.
Cincin Kepala Keluarga Reyes. Cincin yang menandakan kekuasaan mutlak atas seluruh jalur logistik laut Filipina.
Wajah Alejandro mendadak kehilangan seluruh warnanya. Langkahnya mundur setengah langkah. “A-Adrian? Tidak mungkin… kamu sudah mati di perairan Sulu tiga tahun lalu!”
Vanessa yang berada di sampingnya ikut menjerit ngeri, menutup mulutnya saat melihat penampakan Adrian yang tampak seperti hantu yang bangkit dari kubur untuk menuntut balas.
“Mati?” Adrian tertawa, suara tawa yang begitu dingin hingga membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding. Ia meletakkan tubuhku dengan sangat perlahan di atas sofa beludru putih milik Alejandro, membiarkan darah segarku mengotori kain mahalnya hingga berubah merah pekat.
“Tuhan sengaja membiarkanku hidup, Alejandro… hanya untuk memastikan aku sendiri yang akan menguliti bajingan yang berani menyentuh adikku,” desis Adrian, matanya menatap Alejandro bagai predator yang siap mencabik mangsanya.
“Adrian, dengar dulu! Ini masalah rumah tangga kami! Celestine keterlaluan, dia melukai Vanessa!” Alejandro mencoba membela diri, meskipun suaranya kini bergetar hebat ketakutan.
Tepat saat itu, Ramon berlari masuk dan menyerahkan USB dari kotak biruku kepada Adrian.
Adrian menggenggam USB itu, lalu melemparkannya tepat ke wajah Alejandro hingga sudut bibir pria itu berdarah. “Buka mata anjingmu, Villareal. Di dalam sana ada seluruh bukti transaksi gelap yang dilakukan ayahmu dengan kartel penyelundup, serta bukti bahwa kecelakaan studio yang dialami jalang di sampingmu itu adalah rekayasa untuk memeras uang asuransi dan mendekatimu!”
Alejandro membeku. Ia menatap USB itu, lalu menatap Vanessa yang kini mulai menangis histeris, menyadari bahwa topeng “penyelamat” yang digunakannya selama ini telah hancur berkeping-keping.
Kehancuran yang Sempurna
“Malam ini, aku menarik seluruh saham dan kontrak pengiriman logistik keluarga Reyes dari Villareal Group,” kata Adrian sambil berbalik, kembali menggendongku saat tim medisnya tiba dengan tandu. “Besok pagi, perusahaanmu akan dinyatakan bangkrut. Dan lusa, seluruh keluargamu akan membusuk di penjara.”
“Adrian! Tolong! Jangan lakukan ini!” Alejandro berlutut di lantai, merangkak mencoba menggapai kaki Adrian, kehilangan seluruh keangkuhannya sebagai pewaris Forbes Park. “Celestine… maafkan aku… Celestine!”
Aku menyandarkan kepalaku di dada Adrian, melihat pemandangan menjijikkan itu dengan tatapan kosong. Rasa cintaku pada Alejandro sudah mati bersama darah yang mengalir di ruang bawah tanah tadi.
“Kak…” bisikku pelan di telinga Adrian sebelum kesadaranku perlahan menghilang. “Jangan sisakan apa pun untuk mereka.”
Adrian mengecup keningku yang dingin. “Tidak akan, Sayang. Kakak janji.”
Dua minggu kemudian, berita utama di seluruh Manila dipenuhi oleh kejatuhan tragis keluarga Villareal. Ayah Alejandro ditangkap atas tuduhan pengkhianatan negara dan penyelundupan ilegal, sementara seluruh aset mereka disita oleh negara. Alejandro sendiri kehilangan segalanya dalam semalam—ia diusir dari Forbes Park, dinyatakan bersalah atas penganiayaan berat, dan dijatuhi hukuman belasan tahun penjara tanpa remisi.
Vanessa Cruz? Artis kesayangannya itu dijebloskan ke penjara wanita atas kasus penipuan asuransi dan konspirasi kejahatan, kecantikannya memudar di balik jeruji besi yang dingin.
Sementara itu, di sebuah rumah sakit privat di Cebu yang menghadap langsung ke arah laut biru, aku membuka mataku. Angin laut yang hangat menyapu wajahku. Di sampingku, Adrian sedang mengupas buah dengan senyuman tulus.
Keluarga Villareal mengira mereka bisa mengurungku dan menghapusku dari dunia. Mereka lupa, bahwa di belakangku, ada kekuatan raksasa yang siap meruntuhkan langit demi melindungiku. Dan kini, aku kembali ke rumahku yang sesungguhnya.