SUAMIKU MEMESAN MAKAN MALAM ROMANTIS BERSAMA SELINGKUHANNYA — AKU LANGSUNG MEMESAN MEJA TEPAT DI SEBELAH MEREKA DAN MENGUNDANG SATU ORANG YANG AKAN MEMPERMALUKANNYA SEUMUR HIDUP…
“Aku duduk di meja yang jaraknya bahkan tidak sampai satu meter darinya. Saat ia mendongak, mata kami bertemu, dan wajahnya langsung pucat. Di sampingku, pria yang kuundang malam ini menuangkan anggur dengan tenang lalu tersenyum tipis:
‘Senang bertemu lagi denganmu, Rian.’”
Namaku Nadira, 34 tahun, bekerja sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan logistik di Jakarta. Aku sudah hampir tujuh tahun menikah dengan Rian. Kami memiliki seorang putra berusia lima tahun bernama Arka — pintar dan sangat dekat dengan ayahnya.
Rian adalah project manager di sebuah perusahaan konstruksi besar di Surabaya. Pekerjaannya sibuk dan penghasilannya stabil. Dari luar, keluarga kami terlihat sempurna.
Namun semuanya mulai berubah.
Ia semakin sering pulang larut malam. Ponselnya selalu terkunci dengan sidik jari dan hampir selalu dalam mode senyap. Saat kutanya, jawabannya singkat:
“Banyak proyek.”
Perjalanan dinasnya semakin sering, bahkan ada hari-hari di mana ia tidak bisa dihubungi sama sekali.
Aku bukan tipe istri yang mudah cemburu. Tapi firasat seorang wanita jarang salah.
Suatu hari, saat ia sedang mandi, muncul notifikasi dari aplikasi reservasi restoran di ponselnya. Tanpa berpikir panjang, aku memotret layar itu.
Aku mulai menyelidiki.
Rian memesan makan malam di sebuah restoran Prancis mewah di kawasan SCBD — tempat yang bahkan belum pernah sekali pun ia gunakan untuk mengajakku makan.
Tanggal dan waktunya sangat jelas:
Jumat, pukul tujuh malam.
Aku tidak bertanya.
Aku tidak marah.
Aku memilih diam — dan bersiap.
Aku tiba di restoran tepat waktu. Aku memesan meja tepat di sebelah meja Rian, hanya dipisahkan oleh sekat kaca rendah. Cukup dekat untuk melihat dan mendengar semuanya.
Dan aku tidak datang sendirian.
Aku mengundang Aditya, mantan kekasihku, yang kini menjadi branch director di sebuah perusahaan finansial ternama di Bandung. Saat kami masih bersama dulu, Aditya beberapa kali pernah bertemu Rian. Setelah aku menikah, hubungan kami tetap hanya sebatas teman.
Saat aku meneleponnya, aku hanya mengatakan satu hal:
“Aku butuh teman makan malam. Bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk benar-benar menutup satu bab dalam hidupku.”
Ia setuju tanpa banyak bertanya.
Meja nomor 12. Tempat Rian duduk bersama seorang wanita muda berambut panjang yang tak henti-hentinya tertawa manja, sambil sesekali menyuapkan dessert ke mulut suamiku. Rian terlihat begitu bahagia, tipe ekspresi yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia tunjukkan di rumah.
Lalu, aku melangkah masuk. Anggun, tenang, mengenakan gaun hitam terbaikku. Di sampingku, Aditya berjalan dengan tegap, memancarkan aura pria sukses yang matang.
Saat kami duduk di meja nomor 11—tepat di sebelah mereka—pelayan menarik kursi untukku. Sengaja kubuat sedikit suara gesekan agar pria di sebelahku menoleh.
Dan saat Rian mendongak, dunianya runtuh dalam satu detik.
Sendok di tangannya berdenting jatuh ke atas piring porselen. Wajahnya yang semula kemerahan karena alkohol langsung pucat pasi, seperti mayat. Wanita selingkuhannya bingung, “Sayang, kamu kenapa?” tanyanya tanpa tahu maut sedang mengintai.
Di sampingku, Aditya menuangkan anggur ke gelasku dengan sangat tenang, lalu menoleh ke arah Rian dan tersenyum tipis. “Senang bertemu lagi denganmu, Rian.”
“N-Nadira… Adit…?” suara Rian bergetar, terbata-bata. Ia mencoba berdiri, namun lututnya seolah kehilangan daya.
“Lanjutkan makan malammu, Rian. Restorannya bagus, seleramu lumayan juga kalau memakai uang tunjangan proyek,” kataku dengan nada suara yang sangat datar, bahkan cenderung ramah, namun justru itu yang membuatnya semakin ketakutan.
Wanita di hadapan Rian mulai panik. “Rian, siapa mereka?”
Sebelum Rian sempat menjawab, aku membuka tas tanganku. Aku mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dan meletakkannya di atas meja Rian, tepat di samping gelas anggurnya.
“Itu berkas gugatan cerai, bukti perselingkuhanmu selama enam bulan terakhir, beserta mutasi rekening yang menunjukkan kamu membiayai apartemen wanita ini menggunakan dana darurat keluarga kita,” ujarku cukup keras hingga beberapa meja di sekitar kami mulai berbisik-bisik.
Rian membelalak. “Nadira, tolong, jangan di sini… Kita bicarakan di rumah!”
“Rumah? Rumah yang mana, Rian? Rumah yang sertifikatnya atas namaku karena dulu ibumu meminjam uang pada keluargaku untuk DP?” Aku terkekeh sinis. “Mulai malam ini, barang-barangmu sudah dipindahkan ke kosan karyawan. Oh, dan satu hal lagi…”

Aku menatap Aditya, yang kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah surel yang baru saja terkirim.
“Rian,” Aditya angkat bicara, suaranya berat dan berwibawa. “Kebetulan, perusahaan finansial tempatku bekerja adalah investor utama untuk proyek konstruksi terbarumu di Surabaya. Dan baru saja, aku mengirimkan bukti manipulasi dana entertainment yang kamu gunakan untuk memesan restoran dan hotel mewah ini kepada jajaran direksimu. Jam delapan besok pagi, surat pemecatanmu akan terbit.”
Seketika itu juga, Rian jatuh terduduk kembali di kursinya. Selingkuhannya yang menyadari bahwa Rian kini hanyalah pria pengangguran yang tak punya apa-apa, langsung menyambar tasnya, berdiri, dan pergi meninggalkan Rian tanpa mengucap sepatah kata pun.
Rian menatapku dengan mata berkaca-kaca, memohon belas kasihan. Namun hatiku sudah mati rasa.
Aku berdiri dari kursiku, memandang suamiku—mantan suamiku—untuk terakhir kalinya dengan tatapan paling dingin yang pernah kupunya.
“Terima kasih atas makan malamnya, Rian. Nikmati sisa anggurmu, karena setelah ini, kamu harus terbiasa dengan rasa pahit.”
Aku berbalik, melangkah keluar dari restoran itu dengan kepala tegak, digandeng oleh Aditya. Di belakangku, Rian hanya bisa tertunduk lesu di tengah bisikan sinis para pengunjung restoran, menyadari bahwa dalam satu malam, ia telah kehilangan istri, anak, harga diri, dan seluruh kariernya.