Suamiku Menamparku Saat Aku Masih Dalam Masa Pemulihan Setelah Melahirkan Karena Aku Tidak Memasakkan Makanan untuk Ibu dan Kakaknya; Mereka Mengira Aku Akan Kembali Karena Aku Menggendong Anak Kami, Tetapi yang Datang ke Rumah Mereka Adalah Surat Perintah Pengadilan
BAGIAN 1: Hari Ketika Pengasuh Libur, Mereka Menjadikanku Koki, Tukang Bersih-Bersih, dan Pembantu, Sampai Seorang Anak Kecil Mengucapkan Penghinaan Paling Menyakitkan
Saat suamiku menamparku ketika aku sedang memegang botol susu anak kami, aku tidak langsung menangis.
Bukan karena tidak sakit.
Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan yang kulihat di wajahnya.
Selama hampir empat puluh hari setelah aku melahirkan, aku selalu berpikir Paolo hanya kelelahan.
Kupikir emosinya mudah meledak karena pekerjaan, kemacetan di EDSA, tagihan, kurang tidur, dan beratnya menjadi ayah baru.
Tetapi ketika telapak tangannya mendarat di pipiku hanya karena aku tidak memasak makan malam untuk ibu dan kakaknya, akhirnya aku mengerti.
Ternyata dia bukan kelelahan.
Dia hanya terbiasa memiliki seorang perempuan yang diam dan terus menahan semuanya.
Namaku Mara.
Usiaku tiga puluh satu tahun.

Baru dua bulan yang lalu aku melahirkan anak pertama kami, Lia.
Persalinanku tidak mudah.
Aku harus menjalani operasi caesar darurat karena detak jantung bayi tiba-tiba menurun.
Sampai sekarang, setiap kali tertawa terlalu keras atau berdiri terlalu cepat, rasanya masih seperti ada sesuatu yang tertarik dari dalam perutku.
Karena itu, pada bulan pertama setelah melahirkan, aku mempekerjakan seorang pengasuh.
Itu bukan hadiah dari Paolo.
Bukan pula bantuan dari keluarganya.
Akulah yang membayarnya.
Aku memiliki toko online kecil yang menjual perlengkapan bayi dan camilan untuk ibu menyusui, usaha yang sudah kurintis jauh sebelum aku menikah.
Aku bukan orang kaya, tetapi aku tahu cara menabung.
Hal itu tidak pernah diakui oleh ibu mertuaku, Aling Cora.
Atau mungkin dia tahu, hanya saja lebih suka percaya bahwa semua yang ada di rumah kami berasal dari anak laki-lakinya.
Di matanya, Paolo adalah “tiang keluarga”.
Sedangkan aku hanyalah “perempuan yang tinggal di rumah”.
Hari itu, pengasuh kami, Tessie, sedang libur.
Sejak lama dia sudah memberitahuku bahwa dia harus pulang ke Bulacan karena ibunya memiliki jadwal pemeriksaan kesehatan.
Aku mengizinkannya.
Dia juga manusia.
Bukan robot.
Sejak pagi aku sudah mencuci botol susu Lia, mengganti popok, mencuci pakaian bayi, dan menghangatkan sup sisa semalam.
Aku bahkan belum selesai melipat selimut kecil Lia ketika Aling Cora pulang dari senam zumba di lapangan warga.
Bagian belakang blus bermotif bunganya basah oleh keringat. Dia membawa tumbler dan langsung mengangkat alis begitu masuk ke dapur.
—Oh, ada udang?
katanya sambil mengintip ke wastafel.
Aku memang memesan satu kilogram udang melalui aplikasi.
Bukan untuk mereka.
Aku berencana menjadikannya stok makanan dan bahan makanan lunak untuk Lia ketika dokter anak mengizinkannya bulan depan.
Aku ingin menyiapkannya lebih awal karena tahu akan sulit bergerak sendirian.
—Iya, Ma. Nanti untuk Lia kalau sudah boleh makan makanan lunak. Setelah dibersihkan, mau saya simpan di freezer.
Dia bahkan tidak mendengarkan.
Langsung mengambil ponselnya.
—Pesan lagi. Jessa pulang sore ini. Dia ingin udang santan. Sekalian untuk Nico juga, dia suka sekali.
Jessa adalah kakak perempuan Paolo.
Selama tiga tahun pernikahan kami, selama tiga tahun pula dia terus mengingatkanku bahwa aku bukan perempuan yang seharusnya dinikahi adiknya.
Saat pernikahanku, dia pernah berkata gaunku seharusnya lebih sederhana karena aku tidak cocok terlihat seperti orang kaya.
Saat aku hamil, dia berkali-kali bertanya apakah bayi yang kukandung benar-benar anak Paolo karena aku terlalu “mandiri”.
Setiap kali aku mengadu kepada Paolo, jawabannya selalu sama.
—Begitulah Kak Jessa. Jangan ditanggapi.
Karena itu, ketika Aling Cora mengatakan Jessa akan datang, aku tidak terkejut.
Aku terlalu lelah untuk berdebat.
Aku memesan tambahan udang dan sayuran.
Lalu berkata kepada Aling Cora:
—Ma, nanti kalau pesanan datang, tolong masak saja ya. Saya belum tidur dengan baik. Saya mau istirahat sebentar selagi Lia tidur.
Dia mengangguk sambil berbicara di telepon.
Kupikir dia setuju.
Aku membawa Lia ke kamar.
Menyusuinya.
Setelah dia tertidur lelap, aku berbaring di sampingnya.
Belum sampai tiga puluh menit aku tertidur ketika terdengar gedoran di pintu.
Awalnya pelan.
Lalu semakin keras.
Bertubi-tubi.
Seolah seseorang ingin merobohkan pintu itu.
Aku bangun perlahan agar Lia tidak terbangun.
Bekas jahitanku terasa nyeri karena gerakan mendadak itu.
Ketika pintu kubuka, kulihat Nico, anak Jessa yang berusia sembilan tahun.
Dia memegang pistol mainan berwarna merah dan menodongkannya ke arah perutku.
—Dor! Dor!
teriaknya.
Aku langsung mundur.
Bukan karena takut pada mainan itu.
Tetapi karena plastik kerasnya hampir mengenai bekas operasiku.
—Nico, jangan arahkan itu ke aku. Bayi sedang tidur.
Alih-alih meminta maaf, dia malah menyeringai.
—Kata Nenek, kamu pemalas. Kata Mama, kamu putri manja yang numpang hidup. Bangun, babi. Masakkan udangku.
Aku membeku.
Ada kata-kata yang tidak mungkin diciptakan anak kecil tanpa diajari orang dewasa.
Dari ruang tamu terdengar tawa Jessa.
Dia duduk santai di sofa dengan kaki dinaikkan ke meja, memakan kerupuk kulit dan menjatuhkan remahnya ke lantai.
Sementara Aling Cora bersandar di depan kipas angin, menonton sesuatu di ponselnya seolah tidak mendengar apa pun.
—Jessa, kamu dengar apa yang baru saja dikatakan anakmu?
tanyaku.
Dia menatapku seolah akulah yang mengganggu.
—Dia masih anak-anak, Mara. Jangan berlebihan. Kalau kamu tidak tidur siang, dia juga tidak perlu membangunkanmu.
Aku menggenggam sisi pintu.
—Aku tidur karena baru dua bulan melahirkan. Aku bukan pembantu di rumah ini.
Jessa berdiri.
Langkahnya pelan, tetapi tatapannya tajam.
—Pembantu? Bukankah kamu punya pembantu yang dibayar adikku? Apa lagi yang kamu mau? Suami ada, rumah ada, pengasuh ada. Disuruh masak sedikit saja sudah mengeluh?
—Aku yang membayar Tessie.
Dia tertawa keras.
—Oh ya? Kamu? Dari toko online kecilmu itu? Jangan lucu. Kalau bukan karena Paolo, mungkin sampai sekarang kamu masih tinggal di kamar kos.
Saat itu aku tersenyum.
Bukan senyum bahagia.
Senyum dingin.
Senyum yang muncul ketika kesabaran sudah habis.
—Jessa, kamu datang ke sini untuk makan atau untuk menghina aku?
Aling Cora langsung menyela.
—Mara, jangan meninggikan suara kepada kakak suamimu. Memalukan. Sudah punya anak, tapi masih tidak tahu sopan santun.
Nico menyenggol lenganku dengan pistol mainannya.
—Masak, babi. Aku lapar.
Aku mengambil pistol mainannya.
Aku tidak menyakitinya.
Hanya menariknya dari tangannya dan meletakkannya di atas lemari.
Tetapi dia langsung menangis seolah baru dipukuli.
—Mama! Dia menyakitiku!
Seolah sudah menunggu kesempatan itu, Jessa langsung menerjang dan mencengkeram lenganku.
—Kamu gila? Itu anakku!
—Dan anakku juga sedang tidur di dalam! Kalau pistol itu mengenai bayiku, apa yang akan kamu katakan? Bahwa dia cuma anak kecil?
—Ya! Dia memang anak kecil! Kamu yang dewasa. Kamu yang harus mengalah!
—Aku tidak akan membesarkan anak yang belajar merendahkan perempuan karena orang dewasa membiarkan anak laki-laki bersikap kasar.
Wajah Jessa memerah.
—Sombong sekali kamu. Pantas Mama tidak menyukaimu. Baru melahirkan satu anak saja sudah merasa hebat.
Tiba-tiba pintu depan terbuka.
Paolo masuk sambil membawa tas laptop.
Keningnya berkerut.
—Ada apa lagi ini?
Sebelum aku sempat menjawab, Jessa lebih dulu berbicara.
—Paolo, urus istrimu. Dia menarik tangan Nico sampai anak itu menangis. Dan dia belum memasak apa pun padahal kami sudah lapar sejak tadi.
Aling Cora menghampiri Nico dan mengusap kepalanya.
—Nak, sikap Mara memang sudah tidak bisa ditoleransi. Sejak melahirkan dia merasa seperti ratu.
Paolo menatapku.
Dia tidak bertanya apakah aku terluka.
Tidak bertanya bagaimana kondisi bekas operasiku.
Tidak bertanya mengapa tanganku gemetar.
Kalimat pertamanya adalah:
—Mara, minta maaf kepada Kak Jessa dan Nico. Setelah itu masaklah. Aku lelah. Jangan dibesar-besarkan.
Rasanya seperti seember air es disiramkan ke kepalaku.
—Paolo, kamu dengar tidak apa yang baru saja kamu katakan?
—Aku dengar. Dan aku juga mendengar keluhanmu setiap hari.
Ruang tamu mendadak sunyi.
Dari kamar terdengar tangisan lapar Lia yang pelan.
Aku menoleh.
Aku ingin segera menghampiri anakku.
Tetapi Paolo menghalangi jalanku.
—Selesaikan ini dulu.
—Tidak. Anakku dulu.
—Anakmu selalu menjadi alasanmu untuk tidak menjalankan tugasmu di rumah.
Aku menatapnya.
—Tugasku? Memasak untuk ibu dan kakakmu saat aku masih memulihkan diri dari operasi?
Tatapannya menjadi dingin.
—Jangan berlebihan. Semua perempuan melahirkan. Kamu tidak istimewa.
Ada sesuatu yang pecah di dalam diriku.
Bukan teriakan.
Bukan tangisan.
Melainkan sebuah keputusan yang tiba-tiba menjadi sangat jelas.
—Kalau memang begitu caramu memandangku, Paolo, berarti kamu pulang ke rumah yang salah.
Jessa mendekat sambil tersenyum sinis.
—Nah, mulai lagi dramanya. Silakan menangis. Kita lihat saja sejauh apa kamu bisa bertahan dengan bayi di tanganmu.
Aling Cora tertawa.
—Kamu perempuan, Mara. Bahkan punya anak perempuan. Belajarlah menelan harga dirimu.
Aku tidak tahu dari mana kekuatan itu datang.
Tetapi aku menjawab:
—Yang kalian telan bukan harga diri kalian sendiri. Kalian sedang memakan martabat orang lain untuk memuaskan diri.
Tangan Paolo terangkat.
Hanya sesaat.
Cukup untuk melihat cincin di jarinya.
Cukup untuk melihat wajah pria yang pernah kunikahi.

Cukup untuk menyadari bahwa ini bukan lagi soal udang, makan malam, atau tamu.
Ini tentang seberapa jauh mereka bisa menginjak-injakku sebelum aku benar-benar hancur.
Lalu telapak tangannya menghantam pipi kiriku.
Dan untuk pertama kalinya, aku bukan orang pertama yang menangis.
Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir dari cerita tersebut:
BAGIAN 2: Senyap di Ruang Tamu dan Koper yang Sudah Siap di Balik Lemari
Plak!
Tamparan itu begitu keras hingga gema suaranya seolah tertinggal di udara selama beberapa detik. Kepalaku terlempar ke kanan. Rasa panas menjalar dari pipi hingga ke leherku, menimbulkan denyut nyeri yang anehnya membuat pikiranku mendadak sangat jernih.
Lia menangis lebih keras dari dalam kamar, seolah dia bisa merasakan rasa sakit yang baru saja dihantamkan ayahnya ke wajah ibunya.
Di ruang tamu, keheningan mencekam langsung tercipta. Nico berhenti merengek. Jessa menahan napas dengan tangan masih bersedekap, sementara Aling Cora memalingkan wajah pura-pura sibuk merapikan baju cucunya. Mereka semua tahu Paolo telah melewati batas, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara untuk membelaku.
Paolo sendiri tampak terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan. Dia menatap telapak tangannya, lalu menatapku dengan kilat penyesalan yang terlambat.
“Mara… aku…” suaranya terbata. “Kamu yang memancingku. Kamu tidak menghormati ibuku, tidak menghormati kakakku—”
“Cukup, Paolo,” potongku. Suaraku tidak melengking. Tidak ada histeria. Hanya ada nada datar yang sangat dingin.
Aku tidak memegang pipiku yang mulai membengkak. Aku justru menatap lurus ke dalam matanya, merekam baik-baik wajah pria yang malam ini telah mati di dalam hatiku.
“Masuklah ke kamar dan kemasi barang-barangmu,” kata Jessa, mencoba memecah kecanggungan dengan nada ketus yang dipaksakan. “Jangan sok dramatis. Suami memukul itu karena istrinya keterlaluan. Besok juga kamu bakal sadar kalau kamu tidak bisa hidup tanpa uang Paolo.”
Aku tidak membalas ucapan Jessa. Aku berbalik, berjalan dengan langkah tenang menuju kamar bayi. Bekas jahitan operasi caesarku yang biasanya berdenyut nyeri saat aku berjalan cepat, entah mengapa tidak terasa sama sekali. Mati rasa. Seluruh tubuhku sudah mati rasa.
Aku mengangkat Lia dari ranjangnya, mendekap tubuh mungilnya yang hangat ke dadaku, lalu membisikkan kata maaf karena telah melahirkannya di tengah keluarga beracun ini. Namun di dalam hati, aku berjanji: Ini adalah hari terakhir mereka menyakitiku, dan ini adalah hari terakhir mereka bernapas di dekat anakku.
Dari kolong ranjang, aku menarik sebuah koper besar yang sebenarnya sudah kusiapkan sejak dua minggu lalu—sejak pertama kali Paolo mulai berani membentakku di depan bayinya. Di dalamnya sudah ada dokumen penting: akta kelahiran Lia, paspor, buku tabungan atas namaku sendiri, dan semua bukti transaksi toko online-ku yang menunjukkan bahwa akulah yang menopang 70% pengeluaran rumah ini, termasuk cicilan mobil yang dipakai Paolo sehari-hari.
Ketika aku keluar kamar sambil menggendong Lia dan menyeret koper, Paolo sedang duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Ibunya dan Jessa sedang berbisik-bisik di dapur, mungkin akhirnya memutuskan untuk memesan makanan lewat aplikasi.
“Kamu mau ke mana?” Paolo berdiri, mencoba menahan lenganku. “Mara, jangan kekanak-kanakan. Di luar sudah malam. Kamu mau bawa Lia ke mana dengan kondisi perutmu yang belum sembuh?”
“Lepas, Paolo,” kataku tajam.
Aling Cora mengintip dari dapur dan mencemooh, “Biarkan saja, Paolo! Paling dia cuma mau lari ke rumah temannya atau menginap di hotel semalam. Besok kalau uangnya habis dan bayinya rewel, dia juga bakal mengemis minta dijemput pulang. Perempuan kalau sudah punya anak tidak akan berani cerai!”
Aku menatap Aling Cora, lalu beralih ke Jessa dan Nico yang menonton dari kejauhan. Aku mengulas senyum tipis—senyuman dari seorang ibu yang tahu persis apa yang akan dia lakukan demi melindungi anaknya.
“Kalian benar,” kataku pelan namun terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan. “Seorang ibu yang memegang anaknya bisa melakukan apa saja. Dan kalian akan segera melihat sejauh apa aku bisa berjalan.”
Aku membuka pintu depan, melangkah keluar ke udara malam, dan tidak pernah menoleh lagi.
BAGIAN 3: Kejutan di Pagi Hari dan Ketukan yang Mengubah Segalanya
Dua minggu berlalu.
Paolo mengirimkan ratusan pesan teks. Awalnya penuh amarah, menuduhku sebagai istri durhaka yang membawa kabur anaknya. Lalu pesan-pesan itu berubah menjadi permohonan maaf yang menyedihkan, membujukku untuk pulang demi masa depan Lia. Dia bahkan menyuruh ibunya meneleponku, meski Aling Cora tetap menggunakan nada tinggi yang menggurui, memintaku “tahu diri” dan kembali memasak untuk suamiku.
Mereka mengira aku bersembunyi di rumah kos murah atau menangis di pojokan kamar hotel sambil kehabisan uang. Mereka tidak tahu bahwa selama dua minggu itu, aku tinggal di apartemen baruku yang nyaman, menyewa pengacara terbaik khusus hukum keluarga, dan mengumpulkan semua bukti medis.
Pagi itu, di rumah keluarga Paolo, suasana masih sepi. Paolo bersiap-siap pergi bekerja dengan kemeja yang kusut karena tidak ada lagi yang menyetrikanya. Aling Cora sedang mengomeli Jessa yang malas membersihkan sisa makanan Nico semalam.
Tok! Tok! Tok!
Pintu depan diketuk dengan keras dan tegas.
“Pasti Mara!” seru Aling Cora dengan wajah menang. “Sudah kuduga, dia tidak akan bertahan dua minggu sendirian dengan bayi. Paolo, buka pintunya! Biarkan dia memohon di depan rumah dulu agar dia tahu rasa!”
Paolo bergegas membuka pintu dengan senyum yang mengembang, siap untuk menerima kembali istrinya yang dia kira telah tunduk.
Namun, senyum itu langsung lenyap.
Di balik pintu tidak ada Mara yang kelelahan menggendong bayi. Yang berdiri di sana adalah dua orang pria berseragam rapi didampingi oleh seorang petugas kepolisian dan seorang wanita paruh baya bersetelan formal.
“Benar ini dengan Saudara Paolo?” tanya pria bersetelan rapi itu.
“I-iya, benar. Ada apa, ya?” Paolo mendadak gugup.
Pria itu menyerahkan sebuah map tebal berwarna putih dengan logo resmi pengadilan negeri.
“Kami dari pengadilan, mengantarkan Surat Perintah Perlindungan Sementara (Temporary Protection Order) atas nama Saudari Mara dan anak Anda, Lia. Berdasarkan undang-undang kekerasan terhadap perempuan dan anak, Anda dilarang mendekati istri dan anak Anda dalam radius satu kilometer.”
Wajah Paolo seketika pucat pasi. “Apa? Kekerasan? Ini pasti salah paham! Kami cuma bertengkar kecil—”
“Tidak ada salah paham, Pak Paolo,” sela pengacara wanita yang berdiri di belakang petugas. Dia adalah pengacaraku. “Kami sudah menyerahkan hasil visum resmi dari rumah silsilah terkait memar di pipi kiri Ibu Mara akibat tamparan Anda, lengkap dengan rekaman audio dari perangkat saku yang diaktifkan Ibu Mara malam itu. Rekaman di mana ibu dan kakak Anda menghina serta membiarkan kekerasan itu terjadi.”
Aling Cora dan Jessa yang mendengar dari dalam rumah langsung berlari ke depan pintu.
“Apa-apaan ini?! Menantu tidak tahu diuntung! Dia mau memenjarakan anakku hanya karena masalah masakan?!” teriak Aling Cora histeris.
Petugas kepolisian langsung menatap tajam ke arah Aling Cora. “Ibu, harap tenang. Jika Ibu terus berteriak, Ibu juga bisa terseret dalam pasal pembiaran kekerasan dalam rumah tangga. Dan perlu diketahui, ini bukan hanya surat perintah perlindungan.”
Pengacaraku tersenyum dingin dan menyerahkan satu lembar kertas tambahan kepada Paolo.
“Ini adalah gugatan cerai resmi, tuntutan hak asuh penuh atas anak bagi Ibu Mara, serta surat perintah penyitaan sementara atas mobil yang Anda kendarai, karena kendaraan tersebut terdaftar atas nama perusahaan toko online milik Ibu Mara. Hari ini juga, pihak bank akan membekukan rekening bersama yang selama ini Anda gunakan dari perputaran uang istri Anda.”
Paolo mundur selangkah, tubuhnya gemetar hebat. Map pengadilan di tangannya terasa begitu berat. Di belakangnya, Jessa terdiam seribu bahasa, sementara Nico yang ketakutan bersembunyi di balik kaki ibunya.
“Di mana Mara? Aku ingin bicara dengannya! Dia tidak bisa melakukan ini padaku! Aku ayahnya Lia!” teriak Paolo frustrasi, air mata penyesalan akhirnya jatuh di pipinya.
“Ibu Mara tidak ingin menemui Anda lagi, Pak Paolo,” kata pengacaraku dengan tegas sebelum berbalik arah. “Sampai jumpa di pengadilan. Dan bersiaplah, karena kami tidak akan mengambil jalan damai.”
Pintu depan tertutup, meninggalkan keluarga Chua dalam kehancuran yang mereka ciptakan sendiri.
Di tempat lain, di sebuah balkon apartemen yang disinari matahari pagi, aku duduk di kursi goyang sambil menyusui Lia dengan tenang. Pipiku sudah tidak lagi sakit, bekas jahitanku sudah pulih sepenuhnya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sangat merdeka.
Aku menatap wajah suci bayiku dan berbisik pelan, “Kita sudah aman, Nak. Ibu tidak akan pernah membiarkan siapa pun menginjak-injak kita lagi.”