Posted in

SUAMIKU MENGIRA AKU SUDAH TERTIDUR — DAN DIA MENGAKUI SEBUAH RAHASIA MENYAKITKAN TEPAT DI DEPANKU

SUAMIKU MENGIRA AKU SUDAH TERTIDUR — DAN DIA MENGAKUI SEBUAH RAHASIA MENYAKITKAN TEPAT DI DEPANKU

Hampir tengah malam ketika aku perlahan berbaring di tempat tidur. Aku baru saja pulang setelah hari kerja yang panjang, dan tubuhku benar-benar terasa sangat lelah.

Di sisi lain ranjang, suamiku Ricardo masih menatap layar ponselnya, seolah sedang membaca email penting.

Aku memejamkan mata dan berpura-pura tidur. Dalam hati, aku berharap seperti biasanya… dia akan memelukku.

Namun beberapa menit berlalu, aku mendengarnya menghela napas panjang.

Kupikir dia hanya akan bangun untuk minum air.

Tapi ternyata tidak.

Dia mulai berbicara… sangat pelan, hampir berbisik.

“Tuhan… aku nggak tahu harus bagaimana memperbaiki semua ini. Aku nggak mau menyakiti Althea, tapi aku takut.”

Dadaku langsung terasa dingin.

Aku adalah Althea.

Kenapa terdengar seperti dia menyembunyikan sesuatu dariku?

Aku tetap diam, pura-pura tertidur, sementara jantungku mulai berdetak semakin cepat.

Karena mengira aku benar-benar tidur, dia melanjutkan.

“Kalau aku jujur pada Althea… mungkin dia akan meninggalkanku. Tapi salah juga kalau aku terus membiarkan ini.”

Tanganku mulai gemetar pelan di balik selimut.

Apa maksudnya?

Apa sebenarnya yang dia sembunyikan?

Aku hanya berbaring diam, berusaha tidak bergerak sedikit pun.

Beberapa saat kemudian, dia berdiri lalu keluar kamar.

Aku kembali mendengar suaranya dari ruang tamu—pelan, seperti sedang bicara pada dirinya sendiri.

“Aku nggak sengaja… sungguh nggak sengaja. Tapi seharusnya dari dulu aku sudah bilang.”

Dadaku terasa sesak.

Selama sepuluh tahun pernikahan kami, aku tidak pernah membayangkan dia mampu menyimpan rahasia sedalam ini.

Keesokan paginya, aku berpura-pura tidak mendengar apa pun.

Aku menyiapkan sarapan, bahkan bercanda dengannya seperti biasa.

Tapi kegelisahan jelas terlihat di matanya.

Seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan… namun terus dia tahan.

Sepanjang minggu itu, dia menjadi sangat pendiam.

Sering melamun.

Wajahnya seperti memikul beban yang sangat berat.

Saat itulah aku mulai benar-benar cemas.

Aku mulai bertanya-tanya sendiri…

Apa ada wanita lain?

Atau dia melakukan sesuatu yang buruk?

Atau jangan-jangan… dia sakit dan tidak ingin memberi tahu siapa pun?

Suatu malam, setelah makan malam dan anak-anak sudah tidur, akhirnya aku memberanikan diri bertanya.

“Sayang…” kataku pelan sambil mencuci piring,
“ada masalah ya?”

Dia tampak terkejut, tetapi langsung tersenyum.

“Nggak kok. Cuma capek kerja.”

Tapi aku tidak percaya.

Keesokan harinya, aku pulang kerja lebih awal.

Begitu membuka pintu rumah, aku mendengar dia sedang berbicara di telepon.

“Aku sudah nggak sanggup menyembunyikan ini lagi. Aku harus bilang pada Althea sebelum rasa bersalah ini benar-benar menghancurkanku…”

Suara Ricardo langsung terputus begitu mendengar derit pintu terbuka. Dia membalikkan badan dengan wajah pucat pasi, ponselnya hampir saja terlepas dari genggamannya.

“Al-Althea? Kamu… sudah pulang?” tanyanya gagap, mencoba menyembunyikan ponsel itu di balik sakunya.

Rasa sabarku sudah mencapai batasnya. Ketakutan, kecurigaan, dan rasa sesak yang kupendam selama seminggu ini meledak seketika. Aku menutup pintu rumah dengan kencang, lalu berjalan mendekatinya dengan tatapan tajam.

“Siapa yang kamu telepon, Ricardo? Dan apa yang sebenarnya harus kamu katakan padaku?” tanyaku, suaraku bergetar menahan tangis. “Jangan bohong lagi. Aku mendengar semuanya. Seminggu lalu di kamar, saat kamu mengira aku sudah tidur… aku mendengar kamu bicara sendiri. Siapa wanita itu? Atau kesalahan apa yang sudah kamu perbuat di belakangku?!”

Mendengar kata-kataku, Ricardo tampak sangat terkejut. Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Dia menggelengkan kepala dengan panik, lalu meraih kedua tanganku.

“Bukan… demi Tuhan, Althea, tidak ada wanita lain! Aku tidak pernah berselingkuh!” bisiknya parau, air matanya mulai luruh.

“Lalu apa?!” tuntutku, air mataku ikut tumpah. “Sepuluh tahun kita menikah, Ricardo! Rahasia apa yang begitu besar sampai kamu takut aku akan meninggalkanmu?!”

Ricardo menarik napas panjang, bahunya merosot seolah seluruh kekuatannya telah hilang. Dia menuntunku duduk di sofa, lalu berlutut di depanku. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tua dari dalam tas kerjanya dan menyerahkannya kepadaku.


Rahasia yang Terkubur

“Buka dan bacalah, Althea. Maafkan aku… maafkan kebodohanku sepuluh tahun lalu,” tangis Ricardo pecah.

Dengan jantung yang berdebar kencang, aku membuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah dokumen resmi dari pengadilan, dokumen klaim asuransi, dan selembar surat perjanjian lama. Saat aku membaca baris demi baris, duniaku serasa berputar.

Itu adalah dokumen kasus kecelakaan tabrak lari sepuluh tahun lalu. Kecelakaan yang menewaskan ayah kandungku.

Selama ini, polisi mengatakan pelakunya tidak pernah ditemukan karena minimnya bukti dan CCTV di sekitar lokasi kejadian. Kematian ayah adalah trauma terbesar dalam hidupku, alasan mengapa aku sempat terpuruk sebelum akhirnya Ricardo datang dan menyembuhkan luka hatiku.

Namun di dokumen ini… tertera nama Ricardo sebagai pemilik kendaraan yang menabrak ayahku.

“Malam itu… hujan sangat deras,” suara Ricardo terdengar tersendat di antara tangisnya. “Aku baru pulang kerja, kelelahan, dan pandanganku kabur. Aku merasa menabrak sesuatu, tapi karena panik dan takut, aku langsung tancap gas melarikan diri. Aku baru tahu keesokan harinya dari berita bahwa yang kutabrak adalah seorang pria paruh baya… ayahmu.”

Aku membeku. Tubuhku mendadak kaku bagai es. Pria yang selama sepuluh tahun ini memelukku, menenangkan tangisku setiap kali aku merindukan ayah, adalah orang yang bertanggung jawab atas hilangnya nyawa ayahku.


Pilihan yang Menyakitkan

“Saat aku mengenalmu beberapa bulan kemudian melalui teman kita, aku tidak tahu kalau kamu adalah putri dari pria itu,” lanjut Ricardo sambil bersujud di depan lututku. “Tapi setelah kita semakin dekat dan kamu menceritakan soal ayahmu… aku menyadarinya. Aku sangat mencintaimu, Althea. Aku pengecut. Aku takut kehilanganmu, jadi aku mengubur rahasia ini sedalam mungkin.”

“Lalu kenapa sekarang?” tanyaku dengan suara yang hampir habis, tenggorokanku terasa tercekik.

“Pria yang kutelepon tadi adalah pengacara,” Ricardo mendongak, wajahnya dipenuhi penyesalan terdalam. “Kasus ini dibuka kembali oleh pihak kepolisian karena ada saksi baru yang menyerahkan rekaman dasbor mobilnya. Aku tahu cepat atau lambat mereka akan datang ke rumah ini. Aku tidak mau kamu mengetahuinya dari polisi. Aku mau menyerahkan diri, Althea… tapi aku sangat takut menyakitimu.”

Aku menarik tanganku dari genggamannya. Rasa sakit ini jauh lebih hebat daripada jika dia berselingkuh. Ini adalah pengkhianatan terhadap fondasi hidupku. Pria yang kucintai adalah pembunuh ayahku, dan dia membangun pernikahan kami di atas pondasi kebohongan yang mengerikan.

“Pergilah,” kataku dingin, air mataku sudah berhenti menetes, digantikan oleh kekosongan yang hampa.

“Althea…”

“Pergi ke kantor polisi sekarang, Ricardo. Serahkan dirimu,” ujarku tanpa menatap wajahnya. “Dan jangan pernah kembali ke rumah ini lagi. Urusan kita… sudah selesai.”

Ricardo tidak membantah. Dia tahu dia tidak punya hak untuk meminta maaf. Dengan sisa-sisa harga dirinya, dia berdiri, menatapku untuk terakhir kalinya dengan tatapan hancur, lalu melangkah keluar dari rumah.

Saat pintu depan tertutup, aku jatuh terduduk di lantai, memeluk dokumen-dokumen itu, dan menangis sejadi-jadinya di tengah rumah yang mendadak terasa begitu asing dan dingin.