Posted in

“SUAMIKU MENGUMUMKAN PERCERAIAN KAMI TEPAT DI HARI JADI PERNIKAHAN KAMI YANG KELIMA DAN MEMPERKENALKAN SELINGKUHANNYA YANG SEDANG HAMIL DI DEPAN RATUSAN TAMU. DIA MENGIRA AKU AKAN MENANGIS DAN MEMOHON AGAR TIDAK DITINGGALKAN. NAMUN SEBALIKNYA, AKU TERSENYUM MANIS DAN MEMBERIKAN ‘HADIAHKU’… SEBUAH HADIAH YANG MEMBUAT MEREKA MENANGIS HISTERIS DAN MENGHANCURKAN HIDUP MEREKA SELAMANYA.”

“SUAMIKU MENGUMUMKAN PERCERAIAN KAMI TEPAT DI HARI JADI PERNIKAHAN KAMI YANG KELIMA DAN MEMPERKENALKAN SELINGKUHANNYA YANG SEDANG HAMIL DI DEPAN RATUSAN TAMU. DIA MENGIRA AKU AKAN MENANGIS DAN MEMOHON AGAR TIDAK DITINGGALKAN. NAMUN SEBALIKNYA, AKU TERSENYUM MANIS DAN MEMBERIKAN ‘HADIAHKU’… SEBUAH HADIAH YANG MEMBUAT MEREKA MENANGIS HISTERIS DAN MENGHANCURKAN HIDUP MEREKA SELAMANYA.”

Perayaan Anniversary yang Mewah

Namaku Victoria, tiga puluh tahun. Sebagai satu-satunya pewaris jaringan resort mewah terbesar di negeri ini, aku memberikan segala kemewahan yang bisa dibayangkan kepada suamiku, Carlos.

Aku bahkan mengangkatnya menjadi Wakil Presiden di perusahaanku agar tidak dipandang rendah oleh kalangan bisnis.

Selama lima tahun pernikahan kami, aku selalu percaya bahwa kami bahagia.

Malam ini adalah perayaan ulang tahun pernikahan kami yang kelima.

Aku menyelenggarakan pesta mewah di ballroom utama hotel bintang lima milik keluargaku sendiri. Para pengusaha ternama, pejabat penting, selebritas, dan anggota kalangan elit hadir memenuhi ruangan.

Aku berdiri di sisi panggung mengenakan gaun bertabur berlian, menunggu Carlos memanggilku untuk mendampinginya saat menyampaikan pidato.

“Ladies and gentlemen,” ujar Carlos sambil tersenyum percaya diri dan memegang mikrofon di tengah panggung. “Terima kasih atas kehadiran kalian malam ini. Hari ini menandai lima tahun pernikahanku dengan Victoria. Namun malam ini, aku memiliki sebuah pengumuman penting yang akan mengubah hidupku selamanya.”

Para tamu langsung bertepuk tangan.

Mereka mengira Carlos akan menyampaikan kata-kata romantis atau kejutan spesial.

Namun kalimat berikutnya membuat seluruh ballroom membeku.

Pengkhianatan di Atas Panggung

“Aku ingin memberitahukan kepada semua orang bahwa aku akan secara resmi mengajukan gugatan cerai terhadap Victoria.”

Suasana langsung sunyi.

Beberapa tamu tersentak.

Para direktur perusahaan saling berpandangan.

Kedua orang tuaku yang duduk di barisan depan tampak pucat pasi.

Namun Carlos belum selesai.

Ia memberi isyarat ke belakang panggung.

Beberapa detik kemudian, sekretarisku sendiri, Bella, berjalan naik ke atas panggung.

Bella mengenakan gaun ketat yang jelas memperlihatkan perutnya yang sudah membesar.

Ia tampak hamil sekitar lima bulan.

“Selama lima tahun aku menunggu Victoria memberiku seorang anak, tetapi dia tidak mampu,” kata Carlos tanpa sedikit pun rasa malu di depan ratusan tamu.

Ia merangkul pinggang Bella dan mengecup pipinya dengan penuh kemesraan.

“Bella telah memberiku pewaris darah dagingku. Dialah wanita yang benar-benar kucintai. Dan sebagai Wakil Presiden yang ikut membesarkan perusahaan ini, aku akan mengambil setengah dari aset dan properti kami sebagai bagian dari penyelesaian perceraian.”

Bella tersenyum penuh kemenangan lalu mengambil mikrofon.

“Maaf ya, Victoria. Aku tidak bermaksud merebut suamimu. Tapi anakku berhak memiliki keluarga yang utuh. Terimalah kenyataan bahwa kamu sudah kalah.”

Seluruh mata di ballroom langsung tertuju kepadaku.

Mereka menunggu ledakan emosi.

Mereka menunggu aku menangis.

Menjerit.

Atau mempermalukan diri sendiri karena rasa sakit yang begitu besar.

Senyum Sang Ratu

Aku menarik napas panjang.

Aku menatap Carlos dan Bella tanpa berkedip.

Pada detik itu juga, seluruh cinta yang pernah kumiliki untuk Carlos lenyap tanpa jejak.

Tidak ada lagi kesedihan.

Tidak ada lagi penyesalan.

Yang tersisa hanyalah ketenangan.

Dan sesuatu yang tidak mereka duga.

Aku tersenyum.

Senyuman yang begitu tenang hingga membuat beberapa tamu mulai merasa tidak nyaman.

Carlos mengernyit.

Bella terlihat bingung.

Perlahan aku melangkah menuju panggung sambil membawa sebuah kotak hadiah berlapis pita emas yang sejak awal malam sudah kusiapkan untuk suamiku.

“Lima tahun pernikahan memang pantas dirayakan dengan hadiah istimewa,” kataku lembut.

Lalu aku menyerahkan kotak itu ke tangan Carlos.

“Silakan buka. Ini hadiah terakhirku untuk kalian berdua.”

Carlos tersenyum sinis dan mulai membuka kotak tersebut.

Namun beberapa detik kemudian…

Wajahnya langsung berubah pucat.

Tangannya gemetar.

Kotak itu terjatuh ke lantai.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum kemenangan Bella menghilang dari wajahnya.

Kotak Pandora yang Terbuka

Kotak berlapis pita emas itu jatuh ke lantai ballroom yang dilapisi marmer, isinya berserakan di bawah sorotan lampu panggung yang terang. Ratusan pasang mata menunduk, mencoba melihat apa yang membuat wajah Carlos mendadak sekaku mayat.

Di atas lantai, tersebar setumpuk dokumen resmi berstempel hukum, sebuah kilasan kilat (flashdisk), dan sebuah map medis berkop rumah sakit internasional.

“A-Apa… Apa-apaan ini?!” suara Carlos bergetar hebat. Ia mencoba memungut dokumen tersebut dengan tangan yang gemetar.

Aku melangkah maju, mengambil mikrofon dari tangan Bella yang mendadak membeku. Suaraku menggema jernih, penuh ketenangan seorang ratu yang sedang menjatuhkan vonis hukuman.

“Hadiah pertama di dalam kotak itu,” kataku sambil menatap Carlos dengan senyum paling manis, “adalah hasil tes medis rahasia dari Rumah Sakit Pusat yang keluar tiga tahun lalu. Carlos, kamu divonis mandul total akibat kecelakaan masa lalumu sebelum kita menikah. Kamu tidak akan pernah bisa memiliki keturunan seumur hidupmu.”

Seluruh ballroom langsung gempar. Bisikan-bisikan tajam mulai memenuhi ruangan bagai dengungan lebah.

Carlos menatap map medis itu, lalu menatap Bella dengan mata terbelalak. “Mandul? T-tidak mungkin! Aku sehat! Bella sedang mengandung anakku!”

“Oh, benarkah?” Aku menekan tombol remote di tanganku, mengaktifkan layar proyektor raksasa di belakang panggung yang tadinya disiapkan untuk menampilkan foto-foto anniversary kami.

Layar itu menyala. Namun, alih-alih foto romantis, yang muncul adalah rekaman CCTV hotel dan mutasi rekening. Di sana terlihat jelas Bella sedang bermesraan di dalam kamar dengan seorang pria—yang tidak lain adalah satpam pribadi Carlos sendiri. Di bawahnya, tertera hasil tes DNA janin yang secara ilegal berhasil kudapatkan minggu lalu.

“Bella hamil lima bulan, itu benar. Tapi anak itu adalah anak dari satpammu, Carlos. Dia hanya memanfaatkan kebodohanmu agar kamu menceraikanku, sehingga dia bisa menikmati setengah dari harta yang dia kira akan kamu dapatkan,” lanjutku, santai.

Tangisan Histeria di Atas Panggung

Wajah Bella seketika kehilangan seluruh darahnya. “V-Victoria! Ini fitnah! Carlos, jangan percaya! Ini rekayasa!” teriah Bella histeris. Ia mencoba menggapai lengan Carlos, namun Carlos yang sudah diselimuti kemarahan dan rasa malu yang luar biasa langsung menepis tangannya hingga Bella tersungkur di panggung.

“KAU WANITA JALANG!!” raung Carlos, suaranya melengking frustrasi di depan ratusan tamu elit yang kini menatap mereka dengan pandangan menjijikkan dan penuh tawa ejekan.

“Tunggu, Carlos. Jangan menangis dulu. Pesta belum selesai,” sela-ku, memotong drama domestik mereka. “Kamu tadi bilang ingin mengambil setengah dari asetku sebagai Wakil Presiden?”

Aku memberi isyarat kepada tim hukum keluargaku yang berdiri di barisan depan. Tiga pengacara senior berjalan naik ke panggung dengan membawa dokumen pembatalan hak.

“Hadiah kedua di dalam kotak itu adalah surat pemecatan tidak terhormat atas namamu dari seluruh jaringan resort mewah milik keluargaku. Dan asal kamu tahu, Carlos…” Aku mendekatkan wajahku ke telinganya, berbisik namun cukup dekat dengan mikrofon.

“Sebelum kita menikah, ayahku sudah membuat prenuptial agreement (perjanjian pranikah) yang kamu tandatangani tanpa membaca detailnya karena kamu terlalu sibuk pamer. Isinya jelas: jika terjadi perceraian karena perselingkuhan di pihakmu, kamu tidak berhak mendapatkan satu peser pun dari hartaku. Sebaliknya, kamu harus mengembalikan semua fasilitas, mobil, dan rumah yang kamu gunakan selama lima tahun ini.”

Kehancuran yang Sempurna

Carlos berlutut di atas panggung, dokumen-dokumen yang berserakan di sekitarnya kini terasa seperti batu nisan bagi masa depannya. Dari seorang Wakil Presiden yang terhormat, dalam hitungan menit ia kembali menjadi pria tidak punya apa-apa, ditambah beban rasa malu menjadi bahan tertawaan seluruh kalangan elit negeri ini.

“Victoria… tolong… aku khilaf… aku dijebak oleh Bella!” Carlos merangkak mendekati kakiku, mencoba meraih ujung gaun berlianku. Air matanya mengalir deras, meruntuhkan seluruh harga dirinya yang tadi ia sombongkan.

Aku mundur satu langkah, menghindari sentuhannya seolah dia adalah sampah yang kotor.

“Dan hadiah terakhir,” kataku, berbalik memunggungi mereka. “Di luar ballroom ini, pihak kepolisian sudah menunggu kalian berdua. Flashdisk di dalam kotak itu berisi seluruh bukti penggelapan dana perusahaan sebesar 50 miliar yang kamu lakukan bersama Bella selama dua tahun terakhir. Selamat menikmati hari jadi pernikahan kita yang kelima di balik jeruji besi, Carlos.”

Tepat setelah kalimat itu terucap, pintu ballroom terbuka. Enam petugas kepolisian masuk dengan borgol yang berkilauan di bawah lampu kristal. Mereka langsung mengamankan Carlos yang menangis histeris dan Bella yang berteriak menyumpah-nyumpah bagai orang gila saat diseret keluar dari ruangan.

Suasana ballroom kembali hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya gemuruh tepuk tangan dari para menteri, pengusaha, dan seluruh tamu undangan pecah, mengagumi keanggunan dan ketegasan sang Ratu Resort yang sesungguhnya.

Aku berbalik menghadap para tamu, mengangkat gelas sampanye-ku tinggi-tinggi dengan senyuman paling menawan.

“Terima kasih atas kehadiran kalian malam ini. Silakan nikmati hidangannya. Pesta… baru saja dimulai.”