SUAMIKU MEREBUT KAMAR YANG KUSIAPKAN UNTUK IBUKU YANG CACAT, LALU MEMBERIKANNYA KEPADA IBU DARI MANTAN ISTRINYA YANG DIKATAKANNYA SUDAH MENINGGAL—TANPA IA SADARI, AKU SEDANG MENGANDUNG ANAKNYA DAN MENYIMPAN SATU RAHASIA YANG AKAN MENGHANCURKAN HIDUPNYA**
Pada hari kami pindah ke rumah baru, aku melihat ibuku merangkak menaiki tangga menuju lantai empat, menahan rasa sakit dari tiga batang besi yang masih tertanam di kakinya.
Sementara itu, kamar di lantai dasar yang secara khusus kubangun untuknya—lengkap dengan jalur landai, pegangan tangan, dan kamar mandi ramah kursi roda—justru ditempati dengan nyaman oleh ibu dari mantan istri suamiku.
Dan yang paling menyakitkan…
Suamiku sendiri yang memutuskan semuanya, tanpa pernah memberitahuku.
Namaku Mara Villanueva, 32 tahun. Sudah tiga tahun aku menikah dengan Adrian Sarmiento, seorang kontraktor ternama di Jakarta.
Berbulan-bulan kami menabung demi membangun rumah impian di Bogor. Aku sendiri yang berdiskusi dengan arsitek agar kamar utama di lantai dasar dirancang khusus untuk ibuku, Bu Rosa.
Sejak mengalami kecelakaan di pasar, lutut Ibu tak pernah benar-benar pulih. Ia telah menjalani tiga kali operasi. Berjalan sedikit saja, kakinya langsung membengkak dan terasa sangat sakit.
Karena itu, saat kulihat Nyonya Celia—ibu dari mendiang istri pertama Adrian—duduk santai di ruang tamu sementara para pekerja memindahkan barang-barangnya ke kamar utama, tubuhku langsung membeku.
“Di mana kardus-kardus milik Ibu saya?” tanyaku kepada mandor.
Ia menunjuk ke arah tangga.
“Di lantai empat, Bu. Itu perintah Pak Adrian.”
Aku menatap tangga yang panjang tanpa lift.
Baru sampai anak tangga kedua, napas Ibu sudah terengah-engah. Ia tetap memaksakan senyum sambil bertumpu pada tongkatnya.
“Tidak apa-apa, Nak,” bisiknya. “Katanya pemandangan dari atas lebih indah.”
Namun kedua tangannya gemetar.
Di setiap lantai, ia harus berhenti untuk beristirahat. Saat akhirnya kami tiba di lantai empat, rambutnya sudah basah oleh keringat dan bagian samping kakinya berubah kebiruan.
Aku langsung menelepon Adrian.
“Kenapa Ibu ditempatkan di lantai empat?”
Butuh beberapa saat sebelum ia menjawab.
“Di sana lebih terang. Bagus untuk rematiknya. Jangan membesar-besarkan masalah kecil.”
“Kamar di bawah memang dibuat untuk Ibu. Kamu tahu itu.”
“Minggu lalu Tante Celia terkena stroke ringan. Dia sudah tidak punya anak. Tidak ada lagi yang bisa merawatnya.”
“Lalu ibuku? Siapa yang akan merawatnya?”
“Dia masih punya kamu.”
Hanya satu kalimat.
Namun rasanya seperti tamparan keras di wajahku.
Malam harinya aku menemukan Adrian di dapur. Ia sedang menyaring minyak untuk sup yang dimasaknya. Di atas meja sudah tersedia roti lembut, teh hangat, dan puding tanpa gula—semuanya makanan favorit Tante Celia.
“Besok pindahkan Ibu ke kamar bawah,” kataku.
Ia bahkan tidak menoleh.
“Mara, jangan berpikiran sempit. Bagiku Tante Celia tetap keluarga.”
“Ibuku juga keluargamu.”
Tiba-tiba ia membanting sendok sayur ke wastafel.
“Tante Celia tidak boleh stres. Kalau kamu membuat keributan dan terjadi sesuatu padanya, kamu yang bertanggung jawab.”
“Kamu sedang mengancamku?”
Ia mendekat lalu menggenggam pergelangan tanganku.
“Keluarga yang baik tahu cara mengalah. Jangan mempermalukanku di depan orang lain.”
“Jadi ibuku yang harus menderita?”
Ia melepaskan tanganku.
“Kalau itu yang ingin kamu pikirkan, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
Ia mengambil nampan makanan lalu membawanya ke kamar di lantai bawah.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara Tante Celia.
“Nanti Mara tersinggung.”
Adrian menjawab dengan suara lembut.
“Dia cuma ngambek seperti anak kecil. Nanti juga reda sendiri.”
Tanpa sadar aku memegang perut bagian bawahku.
Di dalam saku ada hasil tes laboratorium yang sebenarnya ingin kujadikan kejutan malam itu.
Aku hamil delapan minggu.
Kami sudah lama menantikan kehamilan ini. Aku pernah dua kali keguguran, sehingga dokter berpesan agar aku menghindari stres dan tidak mengangkat beban berat.
Namun malam itu, aku memilih untuk tidak memberi tahu Adrian bahwa kami akan memiliki seorang anak.
Keesokan paginya hujan turun sangat deras.
Adrian berjanji akan mengantar kami ke rumah sakit untuk kontrol Ibu. Namun sampai pukul tujuh pagi ia belum juga pulang, bahkan mobil pun tidak ada.
Tak lama kemudian masuk pesan darinya.
“Tante Celia ingin dibelikan bibingka dari toko favoritnya di Bandung. Antrinya panjang. Kalian pesan Grab saja.”
Aku langsung meneleponnya.
“Adrian, Ibu sulit berjalan. Hujan deras dan tidak ada pengemudi yang menerima pesanan.”
Di seberang telepon terdengar suara orang-orang mengantre.
“Aku sudah antre hampir satu jam. Masa harus kubatalkan cuma karena kalian belum dapat kendaraan?”
“Bibingka lebih penting daripada kontrol kesehatan ibuku?”
“Kamu terlalu dramatis, Mara. Ibumu sudah tua, bukan anak kecil yang harus selalu diantar.”
Sebelum sempat menjawab, Ibu memegang lenganku.
“Sudahlah, Nak. Jangan bertengkar. Ibu masih sanggup.”
Terpaksa kami berjalan ke ujung jalan untuk mencari angkot.
Satu tanganku memegang payung, tangan lainnya menopang pinggang Ibu. Jalanan licin. Setiap tongkatnya menghantam aspal basah, jantungku ikut berdebar ketakutan.
Saat sampai di dekat selokan, tiba-tiba Ibu melepaskan pegangannya.
“Nak, jangan angkat Ibu. Kamu sedang hamil.”
Aku terkejut.
“Ibu sudah tahu?”
“Ibu melihat surat hasil pemeriksaanmu. Ibu sengaja tidak bertanya karena ingin kamu sendiri yang mengabarkan saat kamu benar-benar bahagia.”
Air mataku langsung jatuh.
Namun sebelum sempat memeluknya, salah satu tongkatnya terpeleset.
Bruk!
Ibu jatuh ke genangan air.
Lututnya menghantam keras bibir selokan.
“Ibu!”
Aku berlutut untuk mengangkatnya, tetapi tiba-tiba perutku terasa nyeri luar biasa, seolah-olah ada yang mengoyaknya dari dalam.
Meski kesakitan, Ibu justru mengkhawatirkanku.
“Jangan angkat Ibu! Telepon ambulans!”
Sambil menunggu petugas datang, mobil-mobil terus melintas, menyiram kami dengan air kotor. Tak satu pun berhenti membantu.
Tiba-tiba muncul unggahan baru dari Tante Celia di ponselku.
Foto bibingka hangat, secangkir cokelat panas, dan tangan Adrian di samping piring.
Keterangannya berbunyi:
*”Walaupun aku kehilangan anak kandungku, Tuhan menghadiahkanku seorang pria yang bahkan lebih baik daripada anak sendiri. Tidak semua orang mendapat berkat seperti ini.”*
Sesampainya di rumah sakit, dokter mengatakan posisi besi di kaki Ibu bergeser dan ia harus menjalani operasi lagi.
Menjelang siang Adrian akhirnya menelepon.
“Bagaimana keadaan kalian? Tadi Tante Celia sempat pusing setelah makan. Mungkin aku pulang agak malam.”
Aku menatap bercak darah di ujung gaun putihku.
Dengan suara pelan aku berkata,
“Adrian… aku juga sedang berada di ruang IGD.”
Ia terdiam beberapa detik.
Lalu terdengar suara seorang wanita dari belakangnya—suara yang seharusnya tidak mungkin ada di sana.
“Sayang, bilang saja jangan ganggu kamu lagi. Mama sudah menunggu kita.”

Tubuhku langsung membeku.
Karena aku sangat mengenal suara itu.
Suara Bianca—istri pertama Adrian yang selama ini ia katakan sudah meninggal lima tahun lalu.
Pengkhianatan yang Sempurna
Suara itu… tidak salah lagi. Itu adalah suara Bianca, wanita yang fotonya sengaja dipajang Adrian di sudut ruang kerja dengan bingkai hitam berhias pita duka. Lima tahun lalu, Adrian menangis di hadapanku, menceritakan bagaimana ia kehilangan istri pertamanya dalam kecelakaan tragis.
Ternyata, semua itu hanya sandiwara.
“Mara? Halo? Kenapa diam?” suara Adrian terdengar panik di seberang telepon, disusul suara kasak-kusuk seperti seseorang yang sedang menjauh dari keramaian. “Itu… itu tadi suara navigasi GPS mobil. Kamu di IGD mana? Aku akan ke sana setelah urusan Tante Celia selesai.”
Aku tidak menangis. Rasa sakit yang luar biasa di perutku mendadak mati rasa, digantikan oleh dingin yang membekukan seluruh dinding hatiku.
“Tidak perlu, Adrian,” jawabku datar. “Tetaplah di sana bersama navigasi GPS-mu. Nikmati bibingka kalian.”
Aku menutup telepon. Sejam kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah penuh penyesalan. Stress berat dan benturan saat mencoba menahan ibuku membuat janin berusia delapan minggu di rahimku tidak bisa diselamatkan. Aku kehilangan bayiku. Di saat yang sama, ibuku harus segera masuk ruang operasi karena pendarahan di dalam lututnya.
Di koridor rumah sakit yang dingin, di atas kursi roda dengan sisa darah yang mengering di gaun pengantin yang kubeli bersamanya dulu, Mara yang lemah lembut dan penurut telah mati.
Adrian tidak tahu satu hal: Nama belakangku adalah Villanueva.
Rahasia Sang Pewaris
Adrian menikahiku tiga tahun lalu karena mengira aku hanyalah seorang arsitek lepas sederhana dari keluarga biasa. Ia terlalu sombong untuk menyelidiki bahwa Villanueva Group—raksasa properti yang memegang 70% proyek konstruksi di Jabodetabek—adalah milik keluarga besarku. Selama ini, aku sengaja menyembunyikan identitas asliku karena ingin mencari pria yang tulus mencintaiku apa adanya, bukan karena takhta dan hartaku.
Bahkan, perusahaan kontraktor milik Adrian yang berkembang pesat dalam dua tahun terakhir ini bisa mendapatkan tender-tender besar bernilai ratusan miliar rupiah karena rekomendasi rahasia yang kukirimkan ke dewan direksi perusahaan ayahku.
Aku membuka ponsel, menelepon nomor yang sudah tiga tahun tidak pernah kuhubungi.
“Papa… ini Mara. Tolong siapkan tim hukum terbaik kita. Aku ingin menghancurkan seseorang sampai ke akarnya.”
Hari Pembalasan
Tiga hari kemudian, aku pulang ke rumah baru kami di Bogor. Ibuku masih di rumah sakit, dijaga oleh pengawal pribadi yang dikirim oleh Papaku.
Saat aku membuka pintu rumah, pemandangan menjijikkan menyambutku. Bianca sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menggunakan masker wajah kosmetik mahal milikku. Nyonya Celia duduk di kursi roda sambil tertawa, dan Adrian sedang menuangkan anggur ke gelas mereka.
“Oh, kamu sudah pulang?” Adrian bangkit, sama sekali tidak memperlihatkan rasa bersalah. “Bagaimana kandunganmu? Oh ya, kenalkan, ini Bianca, sepupu jauh Tante Celia yang baru datang dari luar negeri. Kemarin kamu salah dengar di telepon.”
Bianca tersenyum sinis, menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Hai, Mara. Maaf ya, kamar di bawah terpaksa dipakai Tante Celia. Lagipula, wanita tua lumpuh seperti ibumu memang lebih cocok di lantai atas agar tidak mengganggu pemandangan.”
Aku berjalan perlahan, lalu melempar sebuah map dokumen tebal ke atas meja kaca tepat di hadapan Adrian.
“Apa ini?” Adrian mengernyitkan dahi. Ia membuka map tersebut. Detik berikutnya, wajahnya langsung pucat pasi. Saking gemetarnya, gelas anggur di tangannya jatuh dan pecah berantakan di lantai.
Di dalam map itu ada tiga hal:
-
Surat Gugatan Cerai dan Tuntutan Ganti Rugi.
-
Akta Kematian Palsu Bianca yang digunakan Adrian untuk menipu negara dan menikahiku demi mendapatkan modal bisnis.
-
Surat Pembatalan Kontrak Kerja Sama antara Villanueva Group dan perusahaan kontraktor milik Adrian.
“M-Mara… k-kamu… Villanueva?” suara Adrian terbata-bata, keringat dingin bercucuran di dahinya.
Bianca yang tidak mengerti situasi langsung merebut kertas itu. “Apa-apaan ini?! Adrian, kenapa kamu takut pada wanita udik ini? Usir saja dia dan ibunya yang cacat itu dari rumah kita!”
“Diam kamu, bodoh!” bentak Adrian pada Bianca hingga wanita itu tersentak. Adrian langsung berlutut di depanku, mencoba meraih kakiku. “Mara, demi anak kita… maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya. Bianca terlilit utang judi besar di luar negeri lima tahun lalu, jadi kami memalsukan kematiannya agar penagih utang berhenti mencarinya. Tante Celia itu ibu kandung Bianca! Aku membawa mereka kesini hanya untuk melindungi mereka…”
“Demi anak kita?” aku tersenyum pahit, menendang tangannya menjauh dari kakiku. “Anak kita sudah meninggal, Adrian. Dia meninggal di hari ibuku merangkak ke lantai empat karena kebiadabanmu. Dia meninggal di saat kamu menyuapi istri pertamamu dengan bibingka di Bandung!”
Kehancuran Total
Pintu rumah didobrak terbuka. Empat petugas kepolisian bersama tim pengacara dari Villanueva Group masuk ke dalam rumah.
“Saudara Adrian Sarmiento dan Saudari Bianca, Anda berdua ditahan atas pasal penipuan dokumen negara, pemalsuan identitas, dan penggelapan dana proyek Villanueva Group sebesar 45 miliar rupiah,” ujar petugas polisi dengan tegas.
Adrian menatapku dengan mata membelalak penuh keputusasaan. “45 miliar? Mara, aku tidak pernah menggelapkan uang itu!”
“Kamu memang tidak,” bisikku di telinganya dengan dingin. “Tapi akuntan perusahaanmu adalah orang suruhan Papaku. Semua bukti transaksi palsu sudah diatur rapi untuk mengirimmu ke penjara. Kamu merebut kamar ibuku, maka aku akan memberikanmu ‘kamar baru’ di penjara bawah tanah untuk dua puluh tahun ke depan.”
Bianca menjerit histeris saat borgol besi mengunci pergelangan tangannya. Nyonya Celia menangis meraung-raung di atas kursi rodanya, menyadari bahwa rumah mewah yang baru mereka nikmati selama beberapa hari ini akan segera disita oleh bank sebelum matahari terbenam.
Saat Adrian diseret keluar menuju mobil polisi, ia menoleh ke arahku dengan air mata penyesalan yang tak lagi ada gunanya.
Aku berdiri tegak di ambang pintu, menyaksikan kehancuran pria yang pernah kucintai. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi air mata untuk wanita lemah. Aku adalah Mara Villanueva, dan siapa pun yang berani menyentuh ibuku, akan kupastikan mereka membayar harganya dengan seluruh sisa hidup mereka.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.