Posted in

SUDAH TUJUH TAHUN MENJADI SUAMI ISTRIKU, TAPI DI RUMAH ORANG LAIN DIA DIPANGGIL MENANTU—SAAT AKU PULANG SENDIRIAN KE RUMAH ORANG TUAKU DI BEKASI, AKU MENDENGARNYA BERTERIAK, “MA, PA, KAMI SUDAH DATANG,” DAN SAAT ITULAH AKU AKHIRNYA MEMBEBASKAN DIRI DARI TUJUH TAHUN KEBOHONGAN**

SUDAH TUJUH TAHUN MENJADI SUAMI ISTRIKU, TAPI DI RUMAH ORANG LAIN DIA DIPANGGIL MENANTU—SAAT AKU PULANG SENDIRIAN KE RUMAH ORANG TUAKU DI BEKASI, AKU MENDENGARNYA BERTERIAK, “MA, PA, KAMI SUDAH DATANG,” DAN SAAT ITULAH AKU AKHIRNYA MEMBEBASKAN DIRI DARI TUJUH TAHUN KEBOHONGAN**

Sudah tujuh tahun dia menjadi suamiku.

Selama tujuh tahun itu pula aku terus meyakinkan diriku bahwa dia hanya terlalu sibuk.

Namun pada hari aku mendengarnya memanggil orang tua perempuan lain dengan sebutan “Ma” dan “Pa”, sambil merangkul pinggang wanita itu…

Saat itulah aku akhirnya memahami semuanya.

Bukan karena dia sibuk.

Dia hanya memang tidak pernah benar-benar pulang kepadaku.

Namaku **Mikaela Sarmiento**, tiga puluh dua tahun, tinggal di **Bekasi**.

Suamiku, **Adrian Villareal**, adalah seorang insinyur yang bekerja di perusahaan konstruksi di kawasan **Sudirman, Jakarta**.

Selama tujuh tahun pernikahan kami, dia jarang berbicara panjang.

Jarang tertawa.

Di rumah kami, selalu terasa ada tembok yang memisahkan kami.

Tetapi aku mencintainya.

Karena itu aku selalu memilih untuk memahaminya.

Setiap kali ada acara di rumah orang tuaku—ulang tahun Ibu, ulang tahun pernikahan mereka, Natal, Tahun Baru, bahkan sekadar makan siang hari Minggu—aku selalu mengajaknya.

Dan setiap kali pula dia selalu punya alasan.

“Ada inspeksi proyek.”

“Ada meeting dengan klien.”

“Aku harus ke Bandung.”

“Aku capek. Kamu saja yang datang.”

Karena terlalu sering mendengarnya, akhirnya aku ikut menyiapkan alasan untuknya.

Setiap kali Ibu bertanya kenapa aku datang sendirian lagi, aku hanya tersenyum.

“Adrian lagi sibuk, Bu.”

Hari itu mungkin sudah yang keseribu kalinya aku mengajaknya.

“Adrian, besok ulang tahun Ayah. Temani aku makan siang sebentar saja.”

Dia bahkan tidak menoleh.

Masih fokus pada laptop di meja makan.

“Ada meeting di Karawang. Kamu saja yang datang. Titip bilang selamat ulang tahun buat Ayah.”

Aku hanya mengangguk pelan.

Keesokan harinya, membawa kue kecil dan sekantong buah, aku turun dari ojek online di depan rumah orang tuaku di Bekasi.

Sore itu cuaca sangat panas.

Anak-anak bermain di gang.

Penjual bakso lewat sambil membunyikan mangkuknya.

Dan di rumah tetangga, Pak Lito dan Bu Dely, terparkir sebuah mobil hitam.

Awalnya aku tidak memperhatikannya.

Sampai aku mendengar suara yang sangat kukenal.

“Ma, Pa, kami sudah datang!”

Seluruh tubuhku langsung membeku.

Aku menoleh.

Awalnya kukira itu kejutan.

Kupikir Adrian akhirnya berubah pikiran dan menyusulku demi membahagiakan Ayah.

Aku bahkan sempat mempercepat langkah.

Namun kakiku berhenti begitu melihat pemandangan di depan mata.

Itu Adrian.

Masih mengenakan kemeja yang kusetrika sendiri semalam.

Dia sedang tersenyum.

Dan lengannya melingkari pinggang **Yna Robles**, wanita yang dulu diperkenalkannya kepadaku sebagai “adik tingkat waktu kuliah.”

Pak Lito dan Bu Dely keluar rumah dengan wajah penuh kebahagiaan.

“Ayo masuk!” seru Bu Dely sambil menggandeng lengan Yna.

“Untung Adrian datang lagi menemanimu. Rajin sekali dia. Sudah seperti menantu sendiri. Tiap dua minggu sekali selalu mengantarmu pulang.”

Seakan tanah di bawah kakiku menghilang.

Menantu?

Setiap dua minggu?

Adrian…

Yang selama tujuh tahun bahkan tidak pernah mau berkunjung ke rumah orang tua istrinya sendiri?

Mungkin dia merasakan tatapanku.

Dia menoleh.

Senyumnya langsung lenyap.

Dalam satu detik aku melihat sesuatu di wajahnya.

Bukan kaget.

Bukan bingung.

Melainkan takut.

Artinya…

Dia sadar betul apa yang sedang dilakukannya.

Pak Lito dan Bu Dely juga melihatku.

Mereka terdiam sesaat, lalu tersenyum canggung.

“Mikaela,” kata Bu Dely, “kamu datang sendiri lagi? Kasihan ya… suamimu masih sibuk juga?”

Aku tersenyum.

Senyum yang ringan…

Tetapi sama sekali tidak hangat.

“Dia tidak sibuk.”

Wajah Adrian langsung berubah.

Aku menatap lurus ke matanya.

Lalu berkata dengan jelas,

“Dia sudah mati bagiku.”

Aku tidak menunggu jawaban siapa pun.

Aku langsung masuk ke rumah orang tuaku.

Ibu sedang memotong bawang di dapur untuk membuat mi goreng ulang tahun.

Beliau bahkan tidak menoleh ketika mendengar aku masuk.

“Datang sendiri?”

“Iya, Bu.”

Pisau di tangannya berhenti sesaat.

Lalu kembali memotong.

Ayah keluar dari ruang tamu sambil membawa sandal pria baru.

Sandal yang dibelinya bulan lalu khusus untuk Adrian kalau suatu hari mau berkunjung.

Beliau melihat sandal itu.

Lalu melihatku.

Kemudian tanpa berkata apa-apa meletakkannya kembali di rak sepatu.

Di meja makan hanya ada tiga piring.

“Kerja lagi?” tanya Ayah.

“Iya.”

Tidak ada pertanyaan berikutnya.

Namun dari balik tembok rumah sebelah…

Kami bisa mendengar suara tawa.

Untuk pertama kalinya…

Aku mendengar Adrian tertawa lepas.

Begitu bahagia.

Begitu ringan.

Selama tujuh tahun menjadi istrinya…

Aku belum pernah sekali pun mendengar tawa seperti itu.

Malamnya aku kembali ke apartemen kami di Jakarta.

Hampir pukul sepuluh malam Adrian baru pulang.

Dia membawa sekantong kertas.

“Kue chestnut,” katanya sambil meletakkannya di meja.

“Aku sempat mampir ke mal. Bukannya minggu lalu kamu bilang ingin mencobanya?”

Aku memandang kantong itu.

Aku memang pernah mengatakannya lewat telepon minggu lalu.

Kupikir dia bahkan tidak mendengarnya.

“Terima kasih,” jawabku dingin.

Dia duduk di depanku.

“Mika… soal tadi siang…”

Dia menelan ludah.

“Yna itu cuma adik tingkatku. Dulu dia pernah banyak membantuku waktu kuliah. Aku cuma balas budi. Orang tuanya terus mendesaknya menikah, jadi aku cuma pura-pura jadi pacarnya. Tidak ada apa-apa.”

Aku tertawa kecil.

“Tidak ada apa-apa?”

“Sampai kamu memanggil orang tuanya ‘Ma’ dan ‘Pa’?”

“Sampai mereka menganggapmu menantu?”

“Sampai mereka tahu kamu datang ke sana setiap dua minggu?”

Dia tidak mampu menjawab.

“Kapan kamu pernah benar-benar hadir untukku, Adrian?”

“Waktu dia pindah apartemen, kamu yang mengangkat barang-barangnya.”

“Waktu ulang tahunnya, kamu makan malam bersamanya.”

“Waktu dia sakit, kamu yang mengantarnya ke IGD.”

“Sekarang bahkan kamu sudah menjadi menantu keluarganya.”

Dia hanya menunduk.

“Kamu tidak pernah absen dari hidupnya,” kataku pelan.

“Tapi dalam hidupku… kamu selalu tidak pernah ada.”

Aku masuk ke kamar dan menutup pintu.

Beberapa menit kemudian aku merasa haus.

Saat keluar mengambil segelas air, aku mendengar Adrian sedang berbicara lewat telepon di balkon.

Suaranya pelan.

Tetapi jelas.

“Mika lagi bad mood.”

“Nanti kalau dia sudah tidur, aku ke rumahmu.”

Aku langsung berhenti melangkah.

Lalu terdengar kalimat berikutnya.

“Tenang saja, Yna… kamu tetap yang akan selalu kuutamakan.”

Aku mengambil segelas air.

Meminumnya perlahan.

Lalu kembali ke kamar.

Tiga puluh menit kemudian aku berpura-pura tertidur.

Adrian masuk.

Dia merapikan selimutku dengan lembut.

Seolah-olah dia adalah suami yang sempurna.

Lalu dia keluar lagi.

Begitu mendengar pintu utama dibuka dan ditutup…

Aku langsung membuka mata.

Kugenggam ponselku dan mencari pengacara perceraian terbaik di Jakarta.

Namun sebelum sempat menelepon…

Muncul unggahan terbaru dari Yna.

Foto dirinya bersama Adrian di depan rumah Pak Lito dan Bu Dely.

Caption-nya berbunyi:

**”Terima kasih karena selalu memilih aku, setiap saat.”**

Dan di kolom komentar…

Aku melihat balasan Adrian.

**”Selalu.”**

Saat itulah aku menekan nomor kantor pengacara.

Begitu sekretarisnya mengangkat telepon…

Aku hanya mengucapkan satu kalimat.

Kelanjutan dan Akhir Cerita

“Saya ingin mengajukan gugatan cerai paling lambat besok pagi, dan pastikan pria itu keluar dari hidup saya tanpa membawa sepeser pun.”

Suaraku terdengar sangat tenang. Begitu dingin, hingga aku sendiri hampir tidak mengenalinya. Namun, di balik ketenangan itu, ada rasa lega yang luar biasa. Beban tujuh tahun yang menghimpit dadaku runtuh seketika.

Babak Pembongkaran

Pengacaraku bergerak cepat. Malam itu juga, aku mengirimkan semua bukti: mutasi rekening bersama yang diam-diam dia gunakan untuk membelikan Yna barang mewah, foto-foto kedekatan mereka, hingga tangkapan layar komentar menjijikkan di media sosial malam ini.

Semua kukumpulkan tanpa air mata. Bagiku, Adrian sudah mati siang tadi di depan pagar rumah orang tuaku.

Dua minggu kemudian, bom itu meledak.

Aku sengaja memilih hari Minggu, saat tahu Adrian menjadwalkan dirinya untuk kembali menjadi “menantu teladan” di rumah Pak Lito dan Bu Dely. Aku datang lebih dulu ke rumah orang tuaku, duduk di ruang tamu bersama Ayah dan Ibu yang sudah mengetahui semuanya.

Sesuai dugaan, mobil hitam itu terparkir di sebelah. Suara tawa Adrian kembali terdengar, begitu akrab di telinga Pak Lito.

Aku bangkit, berjalan keluar pagar bersama pengacaraku dan seorang petugas pengadilan yang membawa surat gugatan resmi serta berkas penyitaan aset apartemen atas namaku.

“Eh, Mikaela?” Bu Dely yang sedang menyiram tanaman di halaman menatapku bingung. Di teras rumahnya, Adrian sedang minum kopi bersama Pak Lito, sementara Yna keluar membawa sepiring pisang goreng.

“Selamat siang, Pak Lito, Bu Dely,” sapaku dengan senyum paling manis yang pernah kupunya.

Adrian langsung tersedak. Gelas kopinya beradu keras dengan meja. Wajahnya memucat, seketika berubah sekuning layang-layang putus.

“Mika… kamu ngapain di sini?” tanya Adrian, suaranya bergetar hebat.

“Saya ke sini untuk mengantarkan ini,” kataku sambil memberi isyarat kepada pengacaraku untuk menyerahkan map tebal ke tangan Adrian.

“Apa ini?” Pak Lito ikut mengernyit, menatap bergantian antara Adrian, Yna, dan aku.

“Itu surat gugatan cerai dan panggilan sidang pidana atas dugaan perzinaan dan penipuan asal-usul perkawinan, Pak Lito,” jawab pengacaraku dengan suara tegas yang menggema di gang sepi itu.

Bu Dely menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Cerai? Perkawinan? Adrian… kamu…”

“Dia suami sah saya, Bu Dely. Sudah tujuh tahun,” ujarku langsung, memotong segala kalimat pembelaan yang hendak keluar dari mulut Adrian. “Pria yang kalian panggil ‘menantu’ ini adalah pria yang menelantarkan pernikahannya demi berpura-pura menjadi lajang di rumah ini.”

Yna berteriak histeris, “Adrian! Apa-apaan ini?! Kamu bilang kamu belum menikah! Kamu bilang perempuan ini cuma mantan pacarmu yang terobsesi!”

Tangisan Yna pecah. Pak Lito yang merasa terhina langsung berdiri dan mencengkeram kerah kemeja Adrian. Rumah tangga palsu yang dibangun Adrian dengan kebohongan hancur lebur di depan matanya sendiri, di tempat yang paling dia agung-agungkan.

Kebebasan yang Sesungguhnya

Adrian mencoba mengejarku hingga ke depan pagar rumah orang tuaku. Dia berlutut di atas aspal panas Bekasi, menangis dan memohon-mohon.

“Mika, aku mohon… jangan begini. Aku khilaf. Aku cuma kasihan sama Yna… Aku mencintaimu, Mika!”

Aku berhenti melangkah, berbalik, dan menatapnya dari atas ke bawah. Tidak ada lagi rasa benci, tidak ada lagi rasa cinta. Hanya ada kekosongan.

“Kamu tidak pernah mencintaiku, Adrian. Kamu hanya mencintai dirimu sendiri yang dipuja-puja sebagai pahlawan di rumah orang lain,” kataku pelan namun menusuk. “Tujuh tahun aku menunggumu pulang. Sekarang, pintunya sudah kukunci. Selamanya.”

Ayahku keluar dari rumah. Beliau memegang pundakku, lalu menatap Adrian dengan pandangan paling dingin. Tanpa sepatah kata pun, Ayah melempar sepasang sandal pria yang baru dibelinya bulan lalu tepat ke hadapan Adrian. Sandal yang tidak akan pernah dipakai oleh menantu mana pun di rumah kami.

Kami masuk dan menutup pintu pagar rapat-rapat.

Akhir yang Baru

Tiga bulan kemudian, pengadilan agama Jakarta Pusat meresmikan perceraian kami. Adrian kehilangan hak atas apartemen, reputasinya di perusahaan konstruksi Sudirman hancur karena skandal moral, dan hubungannya dengan keluarga Yna berakhir dengan tuntutan hukum dari pihak Pak Lito yang merasa ditipu mentah-mentah.

Kini, hari Minggu tidak lagi terasa menyesakkan.

Aku duduk di ruang makan rumah orang tuaku di Bekasi. Angin sore berembus pelan, membawa aroma masakan Ibu yang menggugah selera. Di meja makan, hanya ada tiga piring. Milik Ayah, Ibu, dan miliku.

Tidak ada lagi kursi kosong yang harus kuisi dengan alasan palsu. Tidak ada lagi ruang yang kusediakan untuk pria yang tidak pernah menganggapku ada.

Ayah tersenyum sambil menyendokkan nasi ke piringku. “Makan yang banyak, Mika. Kamu kelihatan jauh lebih cantik sekarang.”

Aku tertawa lepas. Sebuah tawa yang renyah, ringan, dan begitu bahagia. Tawa yang selama tujuh tahun ini terkubur, kini akhirnya pulang ke tempat yang seharusmya.

Aku telah membebaskan diriku. Dan di rumah ini, aku tidak perlu berpura-pura lagi.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.