Posted in

“Terima kasih, nona cantik,” kata Sonia dengan suara kecil yang cerah sambil makan seolah itu adalah makanan sungguhan pertama yang dia rasakan setelah berhari-hari.

“Terima kasih, nona cantik,” kata Sonia dengan suara kecil yang cerah sambil makan seolah itu adalah makanan sungguhan pertama yang dia rasakan setelah berhari-hari.

Catherine tersenyum hangat — sempurna, bahkan hampir terlalu sempurna.

Tapi Angela menyadarinya.

Senyum itu tidak sampai ke matanya.

Mata itu dingin. Mengamati. Penuh perhitungan.

Lalu Catherine sedikit mendekat dan menurunkan suaranya agar hanya Angela yang bisa mendengar.

“Angela… ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Sesuatu yang bisa mengubah hidup kalian berdua. Selamanya.”

Angela menggenggam erat tepi meja.

Detak jantungnya bergemuruh di telinganya.

“Apa maksud Anda?” tanyanya pelan.

Catherine melipat kedua tangannya dengan tenang, seolah mereka sedang membahas kesepakatan bisnis, bukan masa depan seorang anak.

“Aku adalah wanita yang sangat kaya,” katanya lembut. “Aku dan suamiku memiliki perusahaan, properti, investasi… semua yang bisa dibeli uang.”

Dia berhenti sejenak.

Tatapannya beralih pada Sonia.

“Tapi ada satu hal yang tidak pernah Tuhan berikan kepada kami.”

Suaranya semakin lirih.

“Seorang anak.”

Kata itu menggantung di antara mereka seperti asap.

“Selama lima belas tahun,” lanjut Catherine, “kami berdoa. Kami mencoba. Kami memohon kepada langit. Tapi tetap tidak ada.”

Dia kembali menatap Sonia, yang tersenyum polos tanpa menyadari beratnya momen itu.

“Lalu aku melihat putrimu.”

Angela merasa napasnya berhenti.

“Dia pintar. Sopan. Cantik. Ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya.” Tatapan Catherine menajam. “Dia pantas mendapatkan sekolah yang tak akan mampu kau bayar. Rumah tanpa kelaparan. Masa depan tanpa rasa takut.”

Angela merasakan dadanya sesak, seolah jari-jari tak terlihat sedang meremas jantungnya.

“Sebenarnya apa yang ingin Anda katakan?” tanyanya, berusaha menjaga suaranya tetap tegas.

Catherine semakin mendekat.

“Yang ingin kukatakan,” bisiknya, “aku bisa memberinya kehidupan yang tidak akan pernah bisa kau

Catherine mengambil jeda panjang, membiarkan keheningan yang mencekam mengendap di antara mereka, kontras dengan suara kunyahan kecil Sonia yang sedang asyik menikmati makanannya.

“Berikan Sonia kepadaku,” lanjut Catherine, lugas tanpa basa-basi. “Biarkan aku mengadopsinya secara legal. Sebagai gantinya, aku akan mengirimkan sepuluh miliar rupiah ke rekeningmu besok pagi. Kau bisa membeli rumah baru, memulai bisnismu sendiri, dan keluar dari kemiskinan ini selamanya.”

Dunia di sekitar Angela mendadak berputar. Kata “sepuluh miliar” terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi harga dirinya.

Dia menatap putrinya yang masih belepotan saus, lalu menatap wanita sosialita di depannya. Catherine tidak sedang menawarkan bantuan; dia sedang melakukan transaksi. Dia melihat kemiskinan Angela sebagai kesempatan, dan Sonia sebagai barang mewah yang bisa dibeli untuk melengkapi hidupnya yang hampa.

Harga Diri Seorang Ibu

Angela merasakan amarah yang murni dan panas membakar seluruh ketakutannya. Dia melepaskan cengkeramannya pada tepi meja, menegakkan punggungnya, dan menatap lurus ke dalam mata Catherine yang dingin.

“Anda salah, Nyonya Catherine,” kata Angela, suaranya bergetar namun sarat akan ketegasan yang mematikan. “Uang Anda memang bisa membeli seluruh isi restoran ini, bahkan bisa membeli masa depan yang berkilau. Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh sepuluh miliar rupiah Anda.”

Catherine mengangkat sebelah alisnya, meremehkan. “Oh ya? Apa itu?”

“Jiwa dan kebahagiaan anak saya,” desis Angela. “Sonia tersenyum hari ini bukan karena makanan mahal ini. Dia tersenyum karena dia tahu, sekosong apa pun perut kami, dia memiliki seorang ibu yang tidak akan pernah menukarnya dengan apa pun di dunia ini. Anda mengira saya akan menyerahkan anak saya demi hidup tenang? Anda salah menilai seorang ibu.”

Angela berdiri dari kursinya. Dia tidak peduli dengan tatapan pengunjung restoran lain. Dengan lembut namun sigap, dia menarik tangan Sonia, membersihkan sisa makanan di mulut putrinya dengan selembar tisu.

“Ayo, Sonia. Kita pulang,” ajak Angela lembut.

“Tapi Ibu, makanannya belum habis…” gumam Sonia bingung, memandang piringnya yang masih setengah penuh.

“Kita makan di rumah, Sayang. Ibu punya nasi dan garam, dan itu jauh lebih sehat daripada makanan yang dibumbui dengan keserakahan,” jawab Angela sambil menuntun Sonia menjauh dari meja.

Batas yang Tak Terbeli

Catherine tetap duduk dengan tenang, namun rahangnya mengencang. Penghinaan dari seorang wanita miskin adalah sesuatu yang tidak pernah dia duga.

“Pikirkan baik-baik, Angela!” seru Catherine setengah berbisik, suaranya tajam menembus punggung Angela yang berjalan menjauh. “Besok malam kau akan kembali menangis karena tidak punya uang untuk membelikannya susu! Kebanggaanmu tidak akan bisa memberi makan anakmu!”

Angela menghentikan langkahnya sejenak di dekat pintu keluar. Tanpa menoleh ke belakang, dia mengeratkan genggamannya pada tangan kecil Sonia.

“Mungkin besok kami akan kelaparan, Nyonya. Tapi setidaknya, anak saya akan tumbuh dengan mengetahui bahwa dia adalah segalanya bagi ibunya—bukan sebuah piala yang dibeli dari hasil menindas orang kesusahan. Selamat tinggal.”

Malam itu, di bawah rintik hujan kota yang dingin, Angela memeluk Sonia erat-erat di dalam angkutan umum yang membawa mereka kembali ke kontrakan sempit mereka. Tidak ada uang sepuluh miliar, tidak ada kemewahan. Namun saat Sonia menyandarkan kepalanya di bahu Angela dan berbisik, “Aku sayang Ibu,” Angela tahu, dia telah memenangkan pertempuran terbesar dalam hidupnya. Jiwanya utuh, dan putrinya tetap miliknya.berikan.”..