Posted in

“TIGA HARI SETELAH AKU MELAHIRKAN, IBU MERTUAKU MENGUSIRKU DARI RUMAH KARENA MENGIRA AKU TIDAK MEMILIKI KELUARGA MAUPUN ORANG YANG AKAN MEMBELA KU. MEREKA MENGIRA AKU AKAN MEMOHON-MOHON DI JALANAN… NAMUN KETIKA IRING-IRINGAN PANJANG MOBIL-MOBIL MEWAH BERHENTI DI DEPAN GERBANG, RAHANG MEREKA TERJATUH DAN WAJAH MEREKA MEMUCAT KARENA KETAKUTAN.”

“TIGA HARI SETELAH AKU MELAHIRKAN, IBU MERTUAKU MENGUSIRKU DARI RUMAH KARENA MENGIRA AKU TIDAK MEMILIKI KELUARGA MAUPUN ORANG YANG AKAN MEMBELA KU. MEREKA MENGIRA AKU AKAN MEMOHON-MOHON DI JALANAN… NAMUN KETIKA IRING-IRINGAN PANJANG MOBIL-MOBIL MEWAH BERHENTI DI DEPAN GERBANG, RAHANG MEREKA TERJATUH DAN WAJAH MEREKA MEMUCAT KARENA KETAKUTAN.”

### Pengusiran yang Kejam

Namaku Clara, dua puluh enam tahun.

Baru tiga hari yang lalu aku melahirkan anak pertamaku bersama suamiku, Anton.

Karena persalinanku normal, aku bisa segera pulang ke rumah. Namun jahitanku masih sangat baru, aku sering merasa pusing, dan masih kewalahan merawat bayi kami yang bernama Luna.

Aku mengira suamiku dan keluarganya akan membantuku.

Namun menikah dengan Anton ternyata menjadi kesalahan terbesar dalam hidupku.

Saat itu aku sedang menyusui Baby Luna ketika pintu kamar kami tiba-tiba terbuka dengan keras.

Ibu mertuaku, Nyonya Matilda, masuk bersama dua orang pembantu yang membawa kantong sampah hitam berukuran besar.

“Masukkan semua pakaian tua perempuan miskin itu ke dalam kantong sampah!” perintah Nyonya Matilda dengan suara tajam.

“M-Ma? Apa yang Anda lakukan? Kenapa barang-barang saya diambil?” tanyaku panik sambil memeluk erat bayiku yang menangis.

“Karena aku akan mengusirmu dari rumahku!” bentak ibu mertuaku sambil menatapku dengan jijik dari ujung kepala hingga kaki.

“Aku berharap kamu memberi anakku seorang pewaris laki-laki! Tapi apa yang kamu lahirkan? Seorang anak perempuan! Selain miskin dan yatim piatu, kamu juga tidak berguna sebagai istri! Pergilah bersama anakmu!”

### Suami yang Pengecut dan Pengkhianat

Seluruh tubuhku gemetar.

“Anton! Anton, tolong kami!” seruku saat suamiku masuk ke kamar.

Namun bukannya membelaku, ia hanya berdiri dengan tangan terlipat dan wajah dingin.

Ia meletakkan sebuah amplop cokelat di atas tempat tidur.

“Tandatangani ini, Clara. Surat pembatalan pernikahan.”

Suaranya begitu tanpa perasaan.

“Ibu benar. Aku tidak akan mendapatkan apa pun darimu. Aku akan menikahi putri rekan bisnis kami, wanita yang sama kayanya denganku dan mampu memberiku anak laki-laki. Terimalah kenyataan bahwa kamu tidak berharga dan tidak punya keluarga untuk pulang.”

Lalu ia melemparkan uang sebesar lima ribu peso ke lantai.

“Itu ongkos untuk kembali ke kampungmu. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi.”

Sebelum sempat berpikir jernih, dua orang satpam mereka mengangkat tubuhku dan menyeretku menuruni tangga.

Mereka tidak peduli pada tangisku.

Tidak peduli pada tangisan bayiku.

Tidak peduli pada darah yang mulai merembes melalui dasterku karena jahitan pasca melahirkan terbuka akibat perlakuan kasar mereka.

Mereka melemparkanku ke luar gerbang besar mansion keluarga itu di bawah terik matahari siang.

### Rahasia Sang Yatim Piatu

“Membusuklah di jalanan!” teriak Nyonya Matilda sambil tertawa dari balik gerbang sebelum menutupnya rapat.

Para tetangga yang gemar bergosip hanya menonton dari kejauhan.

Tidak ada satu pun yang datang membantu.

Aku duduk di atas beton yang panas.

Tubuhku basah oleh keringat dan air mata.

Aku menatap putriku yang tak berdosa, menangis karena kepanasan.

Sudah cukup menjadi orang baik, bisikku dalam hati.

Sudah cukup berpura-pura…

Aku merogoh saku dasterku dengan tangan yang gemetar, mengeluarkan sebuah ponsel tua yang layarnya sudah retak. Aku menekan satu-satunya nomor yang selama tiga tahun ini sengaja kunonaktifkan.

Hanya dalam satu kali nada dering, panggilan itu langsung diangkat.

“Nona Muda?!” Suara di seberang sana terdengar sangat panik sekaligus lega. “Tuhan Yesus… Anda akhirnya menghubungi kami! Tuan Besar hampir gila mencari Anda!”

“Paman Hans…” Bisikku, suaraku serak namun sarat akan ketegasan yang selama ini kusembunyikan. “Jemput aku. Sekarang. Di depan kediaman keluarga Adijaya.”

“Baik, Nona Muda. Kami segera tiba.”

TIGA HARI SETELAH AKU MELAHIRKAN, IBU MERTUAKU MENGUSIRKU DARI RUMAH KARENA MENGIRA AKU TIDAK MEMILIKI KELUARGA MAUPUN ORANG YANG AKAN MEMBELA KU. MEREKA MENGIRA AKU AKAN MEMOHON-MOHON DI JALANAN… NAMUN KETIKA IRING-IRINGAN PANJANG MOBIL-MOBIL MEWAH BERHENTI DI DEPAN GERBANG, RAHANG MEREKA TERJATUH DAN WAJAH MEREKA MEMUCAT KARENA KETAKUTAN.

Gemuruh di Jalanan Sunyi

Hanya butuh waktu tepat sepuluh menit.

Suara raungan mesin mobil yang berat dan berwibawa tiba-tiba memecah keheningan kawasan perumahan elite tersebut. Dari ujung jalan, tampak iring-iringan panjang mobil hitam mewah melaju dengan kecepatan tinggi.

Bukan hanya satu atau dua, melainkan belasan!

Di barisan paling depan, tiga mobil Rolls-Royce Phantom hitam mengkilap memimpin jalan, diikuti oleh barisan Range Rover dan Mercedes-Benz G-Class yang biasa digunakan oleh para pengawal kelas atas. Di bagian atas salah satu mobil, terdapat logo berlapis emas berbentuk burung phoenix—lambang dari Dirgantara Group, konglomerat terbesar yang menguasai hajat hidup ekonomi negara ini.

Iring-iringan itu berhenti tepat di depan gerbang mansion keluarga Anton, menutup seluruh akses jalan.

Pintu-pintu mobil terbuka serentak. Puluhan pria berjas hitam dengan langkah tegap langsung keluar dan membuat barikade perlindungan mengelilingiku.

Dari mobil Rolls-Royce paling depan, seorang pria paruh baya berambut pudar namun berwibawa—Paman Hans, kepala pelayan setia keluargaku—berlari tergesa-gesa menghampiriku. Di belakangnya, beberapa dokter dan perawat pribadi berwajah panik langsung membawa tandu medis dan peralatan steril.

“Nona Muda!” Paman Hans berlutut di atas aspal panas, matanya berkaca-kaca melihat kondisiku. Namun saat melihat darah yang merembes di dasterku, wajahnya seketika berubah menjadi sedingin es. “Berani-beraninya mereka… Siapa yang melakukan ini pada penerus tunggal keluarga Dirgantara?!”

“Paman, urus bayiku dulu. Dia kepanasan,” bisikku lemah namun tajam. Dokter dengan sigap langsung mengambil Baby Luna dengan sangat hati-hati, memindahkannya ke dalam inkubator portabel di dalam mobil ambulans mewah mereka, sementara perawat lain mulai mengobati jahitanku yang robek.

Penyesalan yang Terlambat

Kegemparan di luar menyedot perhatian orang-orang di dalam mansion. Pintu gerbang besar itu terbuka kembali. Anton, Nyonya Matilda, dan calon istri barunya keluar dengan wajah penuh kemarahan yang bersiap untuk memaki.

“Hei! Ada apa ribut-ribut di depan rumahku?! Siapa kalian—” Kalimat Anton terhenti di tenggorokan.

Matanya membelalak lebar saat melihat lambang emas di mobil-mobil tersebut. Rahangnya seolah terjatuh ke tanah. Wajahnya yang tadinya sombong, kini mendadak memucat seputih kertas.

“P-Paman Hans? Kepala Eksekutif Dirgantara Group?” Suara Anton bergetar hebat. Perusahaannya hanyalah remah-remah kecil jika dibandingkan dengan raksasa Dirgantara.

Nyonya Matilda ikut melangkah mundur, tubuhnya gemetar menyaksikan puluhan pengawal bersenjata yang menatap mereka dengan tatapan membunuh. “Anton… ada apa ini? Kenapa orang-orang kaya ini berlutut di depan perempuan miskin itu?!”

Aku menolak untuk berbaring di tandu. Dengan sisa tenagaku, aku berdiri tegak dibantu oleh dua perawat. Aku menatap mantan suamiku dan ibunya dengan senyum paling dingin yang pernah mereka lihat.

“Perempuan miskin?” Paman Hans berbalik, suaranya menggelegar penuh amarah yang tertahan. “Dia adalah Clara Dirgantara, putri tunggal dan pewaris sah dari Tuan Besar William Dirgantara! Wanita yang kalian sebut yatim piatu dan tidak punya tempat kembali adalah pemilik dari tanah yang saat ini sedang kalian injak!”

Deg.

Nyonya Matilda langsung terduduk lemas di lantai teras. Wajahnya dipenuhi ketakutan yang luar biasa hingga napasnya tersengal-sengal.

“Clara… Kamu… Putri Dirgantara?!” Anton merangkak turun dari tangga, mencoba mendekatiku dengan mata yang dipenuhi penyesalan mendalam. “Clara, maafkan aku! Aku tidak tahu! Tolong, demi anak kita, Luna! Aku terhasut oleh ibuku!”

“Anak kita?” Aku terkekeh sinis, memandang uang lima ribu peso yang tadi dilemparkannya, kini terinjak oleh sepatu bot pengawalku. “Tiga menit yang lalu, kamu bilang dia bukan pewaris karena dia perempuan. Mulai hari ini, Luna hanya memiliki satu marga: Dirgantara. Dan dia adalah pemilik tunggal masa depan yang tidak akan pernah bisa kau bayangkan.”

Hancur dalam Semalam

Aku berbalik arah, berjalan perlahan menuju mobil Rolls-Royce yang pintunya sudah dibukakan untukku. Sebelum masuk, aku menoleh sedikit ke arah Paman Hans.

“Paman, aku tidak ingin melihat rumah itu, perusahaan mereka, atau nama keluarga mereka lagi besok pagi.”

“Dimengerti, Nona Muda,” jawab Paman Hans dengan senyuman dingin. Ia langsung merogoh ponselnya. “Hancurkan saham Adijaya Group sekarang. Batalkan semua kontrak, sita seluruh aset atas nama pencucian uang, dan pastikan tidak ada satu pun bank di negara ini yang memberikan mereka pinjaman. Biarkan mereka merasakan apa artinya memohon di jalanan.”

“Clara!!! Maafkan aku!!! Clara!!!” Jeritan histeris Anton menggema di jalanan, namun pintu mobil kedap suara itu tertutup dengan rapat.

Melalui kaca jendela yang gelap, aku melihat Anton dan ibunya bersujud di aspal, menangis dan menjambak rambut mereka sendiri, menyadari bahwa kesombongan telah membawa mereka ke dasar jurang kemiskinan yang sesungguhnya.

Mobil mulai melaju. Aku memeluk putri kecilku yang kini sudah tertidur pulas di dalam pelukan yang hangat dan aman. Waktunya pulang ke istana yang sebenarnya.