Aku bersusah payah sebelum akhirnya mendapatkan “pekerjaan impian” sebagai tutor privat dengan gaji 4.000 peso per jam.
Namun, tepat di foto keluarga majikanku, aku melihat sosok ayahku—yang selama ini dikenal jujur dan sederhana.
Di dalam foto itu, satu tangannya merangkul seorang wanita kaya yang tubuhnya dipenuhi perhiasan emas, sementara tangan satunya lagi menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar lima atau enam tahun.
Senyumnya bahkan lebih lembut daripada saat ia mengantarkanku ke universitas untuk mendaftar kuliah.
Pendengaranku mendadak berdengung. Aku segera mengeluarkan ponsel, berniat melakukan video call dengan Ibu agar semuanya terbongkar saat itu juga.
Namun sebuah tangan kasar tiba-tiba mencengkeram lenganku dengan kuat.
Ayahku.
Ia menarikku ke sudut ruangan dan berbisik dengan nada memohon:
“Soso, jangan bilang pada Ibumu. Pembayaran dialisisnya tidak boleh sampai terputus!”
“Majikan ini sangat kaya, dia sendiri yang memberiku uang.”
“Aku melakukan ini untuk ‘memerah’ dia, demi biaya kuliahmu dan memperpanjang hidup Ibumu!”
Aku tersenyum tipis lalu mengembalikan foto itu ke posisi semula.
“Lito Dimaano, kamu sendiri… percaya dengan kata-katamu itu?”
Wajahnya langsung pucat sesaat.
Tapi aku tak ingin memperpanjangnya. Aku malah dengan hati-hati mengelap debu di kaca foto itu.
“Baiklah. Tinggal lakukan saja ‘pekerjaanmu’ dengan lebih baik.”
…
Aku memasukkan ponsel ke saku, mengganti ekspresiku dengan senyum yang bahkan lebih ramah daripada para kapitalis, lalu keluar dari sudut ruangan.
Tepat saat itu, pemilik rumah keluar dari dapur membawa sepiring buah potong.
Namanya Trina Khristine Lam, seorang wanita dengan aura elegan yang kuat.
Bahkan piyama sutra yang ia kenakan saja setara dengan uang sakuku selama setahun.
“Ms. Lito, sini makan buah dulu. ‘Daddy Lito’-ku agak canggung bergerak, dia tidak membuatmu takut tadi, kan?” sapa Trina sambil tersenyum manis.
Daddy Lito?
Sudut bibirku bergetar.
Aku melirik ayahku—Lito Dimaano—yang berdiri di belakang wanita itu sambil membawa baki buah dengan kepala tertunduk.
Memang benar kata orang, semakin lama hidup, semakin banyak hal yang bisa kita lihat.
Ayahku, pria hampir lima puluh tahun, kulitnya kasar karena panas dan hujan di proyek konstruksi, rambutnya pun sudah menipis hampir botak.
Namun di dalam vila mewah ini, ia dipanggil “Daddy Lito” dengan penuh kemanjaan.
Bahkan ikut menikmati makanan kelas atas.
Selera wanita kaya ini juga cukup unik.
“Tidak, Bu. Menurut saya, Pak Lito terlihat seperti suami yang baik dan tulang punggung keluarga.”
Aku mengatupkan gigi saat menekankan kata “tulang punggung keluarga.”
Ayah terpaku, batuk kecil karena gugup, lalu buru-buru mengupas anggur dan menyuapkannya pada Trina.
“Trins, kamu istirahat saja. Biar aku yang urus Ms. Lito dan belajar anak.”
Trina bersandar di bahunya. Meski tersenyum, nada suaranya penuh kepemilikan yang tak bisa ditawar:
“Lito, aku suka kesetiaanmu. Kamu tidak memikirkan siapa pun selain aku dan anakku.”
“Kalau sampai aku tahu kamu menipuku dan ternyata punya keluarga di luar sana, aku tidak akan memaafkannya.”
Perutku terasa mual mendengarnya, tapi wajahku tetap datar.
Selama dua jam berikutnya, aku menyaksikan betapa hebatnya ayahku sebagai “penyedia nilai emosional.”
Ayahku—yang di rumah bahkan tak pernah membereskan piring makan—di sini seperti butler serba bisa.
Ia memijat bahu Trina, bermain Lego dengan Hao-hao yang berusia lima tahun.
Bahkan suara seraknya ia pakai untuk menyanyikan lagu nursery rhyme bahasa Inggris.
Hao-hao pun terus memanggilnya “Daddy” dengan manja.
Sambil mengajari anak itu Matematika, aku hanya bisa tersenyum pahit dalam hati.
Katanya dia hanya memanfaatkan wanita itu.
Tapi dari yang kulihat, keahliannya memainkan peran ini bukan sesuatu yang bisa dipelajari hanya dalam satu setengah tahun.
Akhirnya sesi tutorial selesai. Trina langsung membayarku, bahkan menambahkan 1.000 peso sebagai “uang transport.”
Saat aku keluar dari gerbang vila, Ayah berpura-pura membuang sampah agar bisa menyusulku diam-diam.
“Soso…” Ia menggaruk kepala, seperti anak kecil yang bersalah.
“Berhenti.” Aku mengangkat tangan menghentikannya.
“Mr. Lito Dimaano, aku tidak peduli teori ‘Robin Hood’-mu itu nyata atau tidak. Yang kulihat hanya hasilnya.”
“Biaya dialisis dan nutrisi Ibu untuk minggu depan harus masuk ke rekening sebelum besok siang.”
“Kalau tidak, aku pastikan foto keluarga itu akan sampai di samping ranjang Ibu di rumah sakit… besok juga.”

Angin malam berembus pelan di luar gerbang vila. Lampu-lampu taman memantulkan bayangan kami berdua di jalan setapak marmer yang dingin.
Ayah terdiam lama.
Untuk pertama kalinya sejak aku kecil, bahunya terlihat benar-benar runtuh.
“Soso… Ayah cuma takut kehilangan Ibumu,” suaranya serak. “Setiap kali lihat dia tidur dengan selang dialisis itu… Ayah merasa tak berguna.”
Aku tidak lagi menatapnya sebagai anak yang kecewa, melainkan sebagai seseorang yang tiba-tiba menyadari: lelaki ini memang salah, tapi dia juga sedang tenggelam.
“Kalau Ayah benar-benar takut kehilangan Ibu,” kataku pelan namun tegas, “jangan kehilangan diri Ayah dulu.”
Ia mengangkat wajahnya. Matanya merah.
“Ayah kira dengan jadi ‘Daddy Lito’ di sini, semua bisa selesai. Tapi Ayah lupa… setiap kebohongan selalu punya harga.”
Aku mengeluarkan ponselku, membuka aplikasi bank.
“Transfer sekarang.”
Tangannya gemetar saat mengetik nominal.
₱ 85.000 — cukup untuk biaya dialisis, obat, dan nutrisi Ibu selama sebulan.
Notifikasi masuk berbunyi.
Aku mengangguk. “Ini terakhir kalinya aku membantumu menutup kebohongan.”
“Apa maksudmu?” Ia tampak panik.
“Aku akan tetap bekerja di sini. Tapi bukan untuk menutupi Ayah.”
Aku menatap vila megah itu.
“Aku akan menabung. Tahun depan aku pindah kerja ke pusat pendidikan internasional. Gajinya dua kali lipat. Aku akan ambil alih semua biaya Ibu.”
“Ayah tidak perlu jadi siapa pun lagi.”
Wajahnya memucat. “Kalau Trina tahu—”
“Itu urusan Ayah.” Suaraku datar. “Tapi cepat atau lambat, dia akan tahu. Dan saat itu terjadi, setidaknya Ayah bisa berdiri sebagai laki-laki yang mengaku salah, bukan laki-laki yang tertangkap.”
Ia terdiam.
Malam itu, untuk pertama kalinya, tidak ada alasan. Tidak ada teori Robin Hood. Tidak ada pembelaan.
Hanya seorang ayah yang akhirnya berkata lirih:
“Maafkan Ayah.”
Aku tidak menjawab. Tidak juga memaafkan.
Tapi aku juga tidak membongkar semuanya.
—
Tiga bulan kemudian, kabar itu tetap meledak.
Bukan karena aku.
Trina menemukan sendiri transfer rutin ke rekening rumah sakit atas nama Ibu.
Tidak ada adegan histeris. Tidak ada tamparan dramatis.
Hanya satu kalimat dingin yang menjatuhkan semuanya:
“Lito, keluar dari rumahku.”
Ayah pulang malam itu dengan koper kecil dan wajah yang sepuluh tahun lebih tua.
Namun anehnya, aku tidak melihat kehancuran.
Aku melihat kelegaan.
Ia kembali bekerja di proyek konstruksi. Kasar, panas, melelahkan.
Tapi nyata.
Sementara itu, aku diterima di pusat pendidikan internasional. Gajiku naik menjadi ₱ 8.500 per jam. Cukup untuk membayar seluruh perawatan Ibu tanpa bantuan siapa pun.
Suatu sore di rumah sakit, Ibu memegang tanganku.
“Kamu sudah dewasa sekali, Soso.”
Aku tersenyum.
Di kursi plastik sebelah, Ayah sedang mengupas apel dengan canggung—seperti orang yang sedang belajar menjadi ayah lagi dari awal.
Kali ini, tidak ada vila mewah.
Tidak ada perhiasan.
Tidak ada panggilan “Daddy” yang palsu.
Hanya kami bertiga.
Dan kebenaran yang akhirnya berdiri di tengah-tengah.
Aku sadar satu hal:
Uang bisa memperpanjang hidup seseorang.
Tapi hanya kejujuran yang bisa menyelamatkan sebuah keluarga.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa malu menyebutnya—
Ayahku.