Aku cuma ingin melupakan masa lalu lewat beberapa gelas alkohol…
Aku tak pernah menyangka akan menampar orang yang salah di lorong hotel.
Dan nama yang dia sebut… meruntuhkan seluruh duniaku.
Di sebuah acara team building perusahaan di rooftop bar kawasan SCBD, Jakarta, suasana makin panas saat permainan “Truth or Dare” dimulai.
Tiba-tiba semua menunjuk ke arahku.
— Hanna, giliran kamu. Apa hal paling menjijikkan yang pernah dilakukan mantanmu?
Aku tersenyum tipis dan mengangkat gelas cocktail.
— Mantanku?
Aku meneguknya perlahan.
— Dia pura-pura miskin selama dua tahun… cuma untuk menguji apakah aku benar-benar mencintainya.
Meja langsung hening.
Aku melanjutkan dengan suara serak.
— Dan saat aku tahu kebenarannya, dia bahkan berani bilang…
Aku berhenti sebentar, lalu tersenyum pahit.
— “Wanita sepertimu sudah sangat beruntung bisa masuk ke duniaku. Harusnya kamu bersyukur.”
Udara terasa membeku.
Teman-temanku langsung memaki.
— Psikopat banget!
— Drama banget hidupnya?!
— Untung kamu putus!
Aku tersenyum, tapi hidungku terasa perih.
Tidak.
Umpatan mereka belum cukup.
Aku minum lagi.
Dan lagi.
Dalam keadaan setengah mabuk, satu hal terus berputar di kepalaku—
Seharusnya… dulu aku menamparnya.
Aku tak tahu sudah berapa gelas yang kuhabiskan.
Saat berdiri untuk ke toilet, dunia terasa berputar.
Lampu neon menari di langit-langit.
Musik terdengar samar.
Aku berpegangan pada dinding saat keluar dari private room.
Lorongnya panjang dan dingin.
Lalu—
Di ujung lorong.
Seorang pria.
Posturnya.
Profil wajahnya.
Hidungnya.
Matanya.
Jantungku langsung berdebar.
Bryan.
Itu dia.
Amarahku meledak.
Tanpa berpikir.
Tanpa ragu.
Aku mendekat—
PLAK!
Tamparan keras menggema di lorong.
Dia memegang pipinya, menatapku terkejut.
Aku mendekat dan memperhatikannya lebih jelas.
— Hah?
Ada yang berbeda.
Kulitnya lebih halus.
Fitur wajahnya lebih tegas.
Aku menyilangkan tangan dan menyeringai.
— Tiga tahun nggak ketemu, operasi plastik ya? Sekarang rajin perawatan?
Orang yang salah.
Aku sadar…
Tapi sudah terlambat.
Dengan wajah dingin, dia mengeluarkan ponselnya.
— Saya telepon polisi.
Sepuluh menit kemudian.
Aku duduk di kantor polisi, ruang mediasi.
Aku sudah agak sadar.
Dan cukup sadar untuk tahu bahwa masalahku besar.
Seorang polisi menatapku.
— Jelaskan.
Aku menggigit bibir.
— Pak… salah orang. Saya mabuk. Saya minta maaf. Saya akan bayar ganti rugi. Berapa pun.
Dia menghela napas.
— Salah orang tetap tidak boleh main tangan.
Aku mengangguk terus.
— Iya, Pak. Salah saya.
Belum selesai aku bicara, pria di depanku tertawa mengejek.
— Salah orang?
Dia menatapku dari atas sampai bawah.
— Dengan penampilan seperti itu, kamu pikir kamu kenal pria yang mirip saya?
Tanganku mengepal.
Dia belum selesai.
— Atau mungkin matamu yang bermasalah? Periksa saja ke dokter.
Aku menahan diri.
Mungkin…
Aku memang pantas dimarahi.
Tapi dia makin menjadi-jadi.
— Sepertinya otakmu juga bermasalah. Harusnya kamu dirawat saja.
— Dan soal mantanmu? Tidak ada pria yang mirip saya akan tertarik pada wanita sepertimu.
Aku langsung mengangkat kepala.
— Bukan 30%! Kalian mirip 90%! Aku kira dia cuma terlihat lebih muda!
Dia terdiam sesaat.
Lalu tersenyum tipis.
— Kalau begitu… makin tidak mungkin.
Dia sedikit menunduk.
— Satu-satunya orang yang benar-benar mirip saya… hanya kakak saya.
Dia berhenti, lalu tersenyum dingin.
— Dan kakak saya? Jauh lebih tidak mungkin kamu jangkau.
Tubuhku membeku.
Kalimat itu…
Terlalu familiar.
Menakutkan familiar.
“Masuk ke duniaku saja sudah sebuah keberuntungan untukmu.”
Nada yang sama.
Kesombongan yang sama.
Aku menatapnya.
Sebuah kemungkinan mengerikan mulai terbentuk di kepalaku.
Kakaknya…
Jangan-jangan…
Tiba-tiba pintu ruang mediasi terbuka.
Pria yang tadi menyombong langsung berdiri.
— Kak! Kamu datang! Perempuan gila ini menamparku! Bela aku!
Perlahan aku mengangkat kepala.
Dan saat melihat siapa yang masuk—
Darahku seolah berhenti mengalir.
Semua kenangan runtuh kembali.
Karena pria itu…
Adalah pria yang pernah kucintai.
Dan paling kubenci dalam hidupku.

Aku menatap lurus ke matanya, untuk pertama kalinya dalam hidupku tanpa rasa gemetar.
“Kau pikir aku menikah denganmu karena cinta?”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Aku meletakkan setumpuk dokumen lain di atas meja. Bukan surat perceraian. Melainkan salinan semua bukti — transaksi gelap, uang yang diselewengkan, kontrak atas nama orang lain.
Wajahnya pucat.
“Aku akan menandatangani perjanjian ini,” aku tersenyum tipis, “tapi kau juga sedang menandatangani akhir dari dirimu sendiri.”
Selama satu tahun ini, aku bukan istri patuh yang hanya menunggu hari untuk pergi. Aku diam-diam belajar, diam-diam mengumpulkan bukti, diam-diam mempersiapkan segalanya.
Dia pikir dialah yang mengatur permainan.
Tapi dia lupa — aku lebih sabar darinya.
Aku berdiri, menarik koper yang sudah kusiapkan sejak lama.
“Terima kasih untuk satu tahun ini,” kataku tenang. “Berkatmu, aku tahu seberapa kuat diriku sebenarnya.”
Pintu tertutup di belakangku.
Di luar, langit baru saja mulai terang.
Ponselku bergetar — pesan dari pengacara bahwa berkas sudah resmi dikirim.
Aku menarik napas panjang.
Kali ini, aku tidak pergi dengan tangan kosong.
Aku pergi dengan kebebasan.
Dan dengan diriku sendiri.