Aku dan sepupuku jatuh cinta pada pria yang sama selama hampir sepuluh tahun.

Aku dan sepupuku jatuh cinta pada pria yang sama selama hampir sepuluh tahun.

Namanya Daniel Cruz.

Sejak awal, dia selalu bilang dia menyukai perempuan yang lembut, perhatian, dan pengertian.

Dan semua itu ada pada Angela.

Sejak kecil, Angela memang pandai bersikap manis. Setiap kali dia memanggil Daniel dengan suara lembut, suasana langsung berubah hangat.

Sedangkan aku?

Aku tidak bisa seperti itu.

Aku bicara terlalu jujur. Terlalu serius. Dan terlalu keras untuk selera kebanyakan orang.

Keluargaku bahkan sering bilang wajahku seperti orang yang tidak punya emosi.

Setiap kali kami bertiga bersama, Daniel hanya berbicara pada Angela.

“Kamu capek?”
“Sudah makan?”
“Kedinginan?”

Dan aku?

Seperti tanaman hias di sudut ruangan.

Pernah suatu hari hujan deras saat kami pulang bersama.

Daniel melepas jaketnya dan memakaikannya pada Angela.

Lalu dia menoleh padaku.

“Kamu bisa pulang sendiri, kan?”

Aku hanya tersenyum waktu itu.

Tapi malamnya, aku menangis sendirian di apartemen.


Setelah kami lulus kuliah, Angela mengunggah foto buku nikah mereka.

Caption-nya hanya satu kalimat:

“Akhirnya.”

Aku menatap foto itu lama sekali.

Keesokan harinya, aku mendaftar beasiswa ke luar negeri.

Tidak ada yang mengantarku ke bandara.

Di mata keluargaku, aku hanyalah perempuan patah hati yang kabur sejauh mungkin.

Dan aku membiarkan mereka berpikir begitu.


Selama enam tahun aku hampir tidak pernah pulang.

Belajar di pagi hari.
Bekerja di malam hari.

Dari intern dengan gaji kecil, aku membangun startup teknologi bersama beberapa teman di kantor sewaan kecil.

Tahun pertama, kami hidup dari mi instan.

Tahun kedua, kami ditipu investor.

Tahun ketiga, perusahaan hampir bangkrut.

Tapi di tahun keenam…

Sebuah korporasi besar membeli sebagian besar saham perusahaan kami.

Untuk pertama kalinya, namaku muncul di berita bisnis.

Tapi keluargaku tetap tidak peduli.

Mama hanya mengirim pesan:

“Apa gunanya sukses kalau umurmu sudah lewat tiga puluh tapi belum menikah?”

Aku membaca pesan itu lalu mematikan ponsel.


Sampai minggu lalu.

Tante meneleponku.

“Isabella… Angela sedang kesulitan sekarang.”

Aku mendengarkan dalam diam di ruang meeting.

“Apa yang terjadi?”

“Bisnis Daniel hampir bangkrut. Utangnya banyak sekali. Gaji karyawan pun sudah terlambat…”

Dia menghela napas.

“Kamu punya banyak koneksi luar negeri, kan? Tolong bantu Daniel cari investor.”

Aku tidak langsung menjawab.

Pelan-pelan aku membuka email dari sekretarisku.

Meeting Schedule – 9:00 AM Besok
Representative:
Daniel Cruz

Aku tersenyum tipis.

Tante masih terus bicara.

“Aku tahu dulu kamu suka sama Daniel… tapi itu masa lalu. Mereka sudah punya keluarga sekarang.”

“Tante,” kataku tenang, “aku tidak peduli soal itu.”

“Jangan benci Angela lagi. Dia sering menangis karena merasa bersalah sejak kamu pergi.”

Aku berhenti sejenak.

“Menangis?”

“Iya. Katanya dia sangat sedih waktu kamu pergi ke luar negeri.”

Aku melihat nama Daniel di layar laptopku.

Lalu tersenyum pelan.

Saat aku meninggalkan negara ini…

Angela dan Daniel sedang bulan madu.

Bahkan Angela tidak tahu jam penerbanganku.

Bagaimana mungkin dia menangis melepas kepergianku?


Beberapa menit setelah telepon ditutup, voice note dari Angela masuk.

Suaranya masih sama—pelan dan lembut.

“Kak… aku tahu kamu masih marah sama aku…”

“Tapi Daniel benar-benar tertekan sekarang…”

Dia berhenti sebentar seperti menahan tangis.

“Bulan depan uang sekolah anak kami jatuh tempo…”

Aku tidak membalas.

Tak lama kemudian, grup keluarga mulai ramai.

Tante:

[Besok hari penting untuk Daniel! Semoga dapat investor.]

Om:

[Kamu pasti bisa, Nak.]

Angela:

[Best husband ever ❤️]

Tidak ada satu pun yang bertanya bagaimana kabarku.

Tidak ada yang tahu bagaimana aku membangun diriku lagi selama enam tahun.

Di mata mereka…

aku masih perempuan patah hati yang melarikan diri.


Malam itu, sekretarisku mengetuk pintu kantor.

“Bu Isabella, laporan keuangan perusahaan Pak Daniel sudah lengkap.”

“Taruh saja.”

“Ada satu hal lagi…” katanya ragu. “Asisten mereka menelepon. Mereka minta meeting dimajukan. Sepertinya mereka benar-benar putus asa.”

“Katakan tidak.”

“Baik, Bu.”

Aku membuka laporan keuangan itu.

Semua angka merah.

Utang menumpuk.
Gaji terlambat.
Arus kas hampir mati.

Di halaman terakhir ada foto Daniel.

Masih memakai jas hitam rapi.

Tapi wajahnya terlihat sangat lelah.

Tidak ada lagi rasa percaya diri yang dulu.

Aku menatap foto itu lama sekali.

Lalu menutup foldernya.


Keesokan harinya.

08:15 pagi.

Sekretarisku masuk dengan cepat.

“Bu Isabella, perwakilan perusahaan Pak Daniel sudah datang.”

“Dia terlalu pagi.”

“Iya, Bu. Dia menunggu di resepsionis.”

Aku berdiri dan berjalan ke jendela besar kantorku.

Dari lantai atas, kota Jakarta terlihat abu-abu karena hujan.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Angela.

“Kak… kalau dulu kamu pernah mencintainya, tolong bantu kami sekarang.”

Aku menatap pesan itu lama.

Lalu mematikan layar.

Di luar ruangan, sekretarisku bertanya pelan:

“Apakah Pak Daniel boleh masuk sekarang?”

Aku merapikan cuff blazerku lalu menjawab dingin:

“Tidak.”

“Biarkan dia menunggu.”

(Bersambung…)

Sekretarisku mengangguk lalu keluar dari ruangan.

Dari balik kaca kantor, aku bisa melihat Daniel duduk sendirian di ruang resepsionis.

Masih rapi.
Masih tenang.

Tapi bahunya tidak lagi setegak dulu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

dia terlihat seperti seseorang yang benar-benar kalah.


Aku membiarkannya menunggu hampir satu jam.

Jam 09:12.

Sekretaris kembali masuk.

“Bu Isabella… Pak Daniel bilang dia akan menunggu sampai kapan pun.”

Aku tersenyum tipis.

“Kalau begitu, biarkan saja.”

Tapi entah kenapa…

setelah semua yang terjadi,
setelah semua malam saat aku menangis sendirian karena merasa tidak pernah dipilih…

aku tidak merasa puas.

Yang tersisa hanya lelah.

Sangat lelah.


Jam 10 lewat sedikit, akhirnya aku berkata:

“Suruh dia masuk.”

Pintu terbuka perlahan.

Daniel masuk sambil membawa map hitam lusuh.

Begitu melihatku, langkahnya berhenti.

Mungkin karena enam tahun lalu aku pergi sebagai perempuan yang patah hati.

Sedangkan sekarang…

aku berdiri di depan jendela kantor tertinggi di gedung itu, memakai blazer abu-abu gelap dengan nama perusahaan yang kubangun sendiri.

Dia menatapku beberapa detik terlalu lama.

Lalu tersenyum kecil.

“Sudah lama, Isabella.”

Aku duduk tanpa membalas senyumnya.

“Duduk.”

Dia duduk perlahan.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Hanya suara hujan di luar gedung.

Akhirnya Daniel membuka mapnya.

“Kondisi perusahaan kami memang buruk,” katanya jujur. “Kalau dalam tiga bulan tidak ada investor masuk, kami selesai.”

Aku membaca laporan di depanku tanpa ekspresi.

“Kalian terlambat membayar gaji dua bulan.”

“Iya.”

“Utang bank Rp18 miliar.”

Dia menarik napas.

“Iya.”

“Dan cash flow kalian hampir mati.”

Daniel tertawa pahit.

“Kamu memang masih sama. Langsung ke bagian paling sakit.”

Aku akhirnya menatapnya.

“Karena bagian manisnya sudah habis sejak lama.”

Sunyi.

Kalimat itu membuat wajah Daniel berubah sedikit.


“Aku dengar Angela bilang kamu membencinya,” katanya pelan.

Aku menyandarkan tubuh ke kursi.

“Aku tidak pernah membenci Angela.”

“Kalau begitu kenapa kamu pergi?”

Aku tersenyum kecil.

Karena lucunya…

selama bertahun-tahun,
tak satu pun dari mereka pernah benar-benar bertanya.

Mereka hanya mengira aku pergi karena kalah.

Padahal kenyataannya…

aku pergi untuk menyelamatkan harga diriku sendiri.

“Daniel,” kataku tenang, “apa kamu tahu kenapa aku tidak pernah merebutmu dari Angela?”

Dia diam.

“Karena sejak awal… aku sadar satu hal.”

Aku menatap lurus ke matanya.

“Aku tidak mau memohon untuk dipilih.”

Ruangan menjadi hening.

Hujan di luar semakin deras.

Daniel menunduk perlahan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

aku melihat penyesalan di wajah pria itu.


“Aku tahu kamu menyukaiku dulu,” katanya lirih.

Aku tersenyum tipis.

“Seluruh keluarga juga tahu.”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Aku tertawa kecil.

“Untuk apa? Kamu bahkan tidak pernah benar-benar melihatku.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada marah.

Daniel memejamkan mata sejenak.

“Aku bodoh.”

“Mungkin.”

“Aku pikir kamu kuat.”

“Aku memang kuat.”

Aku berhenti sebentar.

“Tapi orang kuat juga bisa terluka.”


Dia diam lama sebelum akhirnya berkata:

“Angela bilang… selama enam tahun ini kamu tidak pernah pulang karena membenci kami.”

Aku melihat hujan di balik kaca.

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

Aku tersenyum pelan.

“Karena aku takut kalau pulang… aku kembali menjadi perempuan yang selalu merasa kurang.”

Sunyi lagi.


Setelah hampir satu jam membahas bisnis, aku menutup folder laporan itu.

“Aku akan investasi.”

Daniel langsung menatapku kaget.

“Tapi bukan karena masa lalu.”

Aku menyerahkan draft kontrak kepadanya.

“Perusahaanku akan mengambil 60% saham perusahaan kalian.”

Dia membaca cepat.

Lalu tertawa pahit.

“Kamu benar-benar pebisnis sekarang.”

“Aku belajar dari rasa kehilangan. Itu guru terbaik.”

Dia mengangguk pelan.

Tangannya gemetar sedikit saat menandatangani draft awal.

Dan anehnya…

melihat itu tidak membuatku menang.

Hanya membuatku sadar bahwa waktu benar-benar bisa mengubah segalanya.


Sebelum keluar ruangan, Daniel berhenti di depan pintu.

“Isabella.”

Aku mengangkat kepala.

“Kalau waktu bisa diulang…”

Dia tidak melanjutkan kalimatnya.

Karena kami berdua tahu jawabannya tidak lagi penting.

Aku tersenyum kecil.

“Untungnya hidup tidak bekerja seperti itu.”

Dia tertawa pelan.

Mata pria itu merah untuk pertama kalinya.

Lalu dia pergi.


Malam itu, grup keluarga kembali ramai.

Tante:

[Syukurlah Daniel dapat investor!]

Om:

[Keluarga memang harus saling membantu.]

Angela mengirim pesan pribadi beberapa menit kemudian.

“Kak… terima kasih.”

Aku membaca pesan itu lama.

Lalu akhirnya membalas:

“Aku membantu bisnisnya. Bukan kisah cintaku.”

Tidak ada balasan lagi setelah itu.


Dua bulan kemudian, aku akhirnya pulang ke rumah lama keluarga kami.

Mama menatapku lama saat aku turun dari mobil.

Untuk pertama kalinya…

dia tidak bertanya kapan aku menikah.

Karena sekarang seluruh keluarga tahu:

Aku tidak pergi karena kalah cinta.

Aku pergi…
dan membangun hidup yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan bisa kucapai sendiri.

Malam itu aku berdiri di balkon rumah lama sambil melihat langit.

Angin terasa dingin.

Tapi hati aku tidak lagi sakit.

Dan akhirnya aku mengerti sesuatu:

Kadang kita tidak kehilangan seseorang karena kita tidak cukup baik.

Kadang…

kita hanya sedang diselamatkan dari kehidupan yang membuat kita harus terus bersaing agar layak dicintai.