Aku adalah seorang guru pensiunan yang pernah menerima berbagai penghargaan di bidang pendidikan.
Selama tiga tahun terakhir, aku mengajar anak-anak di kompleks perumahanku dengan tarif hanya Rp20.000 per jam. Nilai mereka meningkat pesat, dan para orang tua sangat senang dengan hasilnya.
Sampai suatu hari, aku tiba-tiba menerima telepon dari Dinas Pendidikan.
“Bu Ratna, kami menerima laporan bahwa Ibu membuka kelas bimbingan belajar tanpa izin resmi dan menerima pembayaran yang melanggar ketentuan. Kami berharap Ibu segera menghentikan kegiatan tersebut dan bekerja sama dalam proses pemeriksaan.”
Setelah telepon ditutup, layar ponselku langsung menyala.
Seseorang menandai namaku di grup WhatsApp komplek.
【Bu Ratna, besok jam tiga sore jadi belajar seperti biasa, kan?】
1
Aku menatap pesan itu cukup lama sebelum akhirnya membalas:
【Maaf, mulai sekarang saya tidak bisa mengajar lagi. Anak-anak juga tidak perlu datang ke rumah saya.】
Orang tua itu langsung terkejut.
【Bukankah perkembangan mereka sangat bagus? Kenapa tiba-tiba berhenti?】
Tak lama kemudian, grup mulai ramai.
【Bu Ratna, anak saya sebentar lagi ujian masuk SMA. Tidak mungkin berhenti sekarang!】
【Benar! Anak saya kelas 10 dan sedang masa-masa penting. Kalau Ibu berhenti sekarang, itu sangat tidak bertanggung jawab!】
Saat membaca pesan-pesan itu, dadaku terasa sesak.
Awalnya aku berpikir mereka hanya khawatir pada masa depan anak-anak mereka.
Karena itu aku tetap menjelaskan dengan sabar.
【Bukan saya yang ingin berhenti. Saya dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan diminta menghentikan kegiatan mengajar.】
Grup langsung sunyi.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan muncul.
【Bu Ratna, bukankah yang dilarang itu menerima bayaran? Kalau begitu, Ibu mengajar saja gratis supaya kelas tetap berjalan.】
Begitu pesan itu muncul, banyak yang langsung setuju.
【Benar juga. Kita ini tetangga, seharusnya saling membantu.】
【Selama tiga tahun ini kita juga tidak tahu berapa banyak uang yang sudah Ibu dapatkan dari anak-anak. Masih pantaskah disebut pendidik?】
Aku benar-benar tidak menyangka mereka akan berpikir seperti itu.
Di Jakarta, tarif guru privat bisa mencapai ratusan ribu rupiah per jam.
Karena kami bertetangga, aku sama sekali tidak mencari keuntungan.
Aku hanya meminta Rp20.000 per jam, sekadar untuk biaya fotokopi materi, buku latihan, dan alat tulis anak-anak.
Dan sekarang mereka menyebutnya uang kotor?
Tiba-tiba sebuah pikiran muncul di kepalaku.
【Apakah kalian yang melaporkanku?】
Grup kembali sunyi.
Amarahku langsung memuncak.
Ibu dari Bima akhirnya menjawab:
【Bu Ratna, jangan menuduh sembarangan. Memungut biaya itu memang salah. Kami dulu juga sering memberi buah dan sayur untuk Ibu. Bukankah itu sudah cukup? Meminta uang dari tetangga sendiri terlalu serakah.】
Yang lain segera ikut menimpali.
【Betul. Bima dibesarkan oleh ibunya seorang diri. Kondisi ekonomi mereka tidak mudah.】
【Ibu sudah menerima uang pensiun jutaan rupiah setiap bulan, tapi masih tega mengambil uang dari tetangga.】
Tanganku gemetar karena marah.
Bima adalah murid pertamaku.
Tiga tahun lalu, ibunya datang ke rumahku membawa sekantong apel.
“Bu Ratna, bisakah Ibu membantu Bima belajar? Nilainya sangat rendah dan sebentar lagi ujian masuk SMP.”
Saat itu aku baru pensiun.
Aku belum terbiasa menganggur.
Karena tidak ingin masa depan anak itu terhambat, aku setuju.
Bahkan aku tidak meminta bayaran apa pun.
Aku hanya menerima apel yang dibawanya.
Setelah Bima berhasil diterima di sekolah favoritnya, aku tetap mengajarinya secara gratis.
Aku tidak pernah menyangka bahwa pada akhirnya aku justru dianggap memanfaatkan mereka.
Benar-benar tidak tahu berterima kasih.
Aku menarik napas panjang lalu mengetik:
【Kalau kalian menganggap saya mengambil keuntungan dari kalian, dan karena Dinas Pendidikan juga sudah meminta saya berhenti, maka mulai hari ini saya tidak akan mengajar lagi.】
2
【Kalau anak saya gagal ujian nanti, apakah Ibu yang akan bertanggung jawab?】
【Benar! Ibu Ratna sangat egois!】
Aku tertawa karena kesal.
Mereka yang melaporkanku.
Mereka pula yang sekarang menyebutku egois.
Aku membalas:
【Dinas Pendidikan sudah melarang saya mengajar. Jika kalian khawatir dengan nilai anak-anak kalian, silakan daftarkan mereka ke lembaga bimbingan belajar resmi.】
Tidak ada yang membalas lagi.
Karena semua orang tahu biaya bimbingan belajar profesional mencapai ratusan ribu rupiah per jam.
Mereka bahkan keberatan membayar Rp20.000 kepadaku.
Bagaimana mungkin mereka sanggup membayar tarif lembaga resmi?
Tanpa ragu, aku keluar dari grup WhatsApp itu.
Masih ingin memanfaatkanku?
Silakan bermimpi.
Malam harinya, putraku datang berkunjung.
Setelah mendengar seluruh cerita, wajahnya langsung gelap karena marah.
“Bu, dari dulu Ibu terlalu baik.”
“Mereka tidak pantas mendapatkan bantuan Ibu.”
Aku terdiam sejenak.
Lalu teringat sesuatu.
Beberapa tahun lalu, seorang teman putraku pernah menawariku posisi pengajar senior di sebuah pusat bimbingan belajar terkenal di Jakarta.
Saat itu aku menolaknya.
Karena aku merasa anak-anak di lingkungan ini lebih membutuhkan bantuanku.
Sekarang aku tersenyum pahit.
Lalu menatap putraku.
“Setelah urusan dengan Dinas Pendidikan selesai…”
“Aku akan menerima tawaran temanmu itu.”

3
Sebulan kemudian, surat pemeriksaan dari Dinas Pendidikan akhirnya selesai diproses.
Karena kelas yang kuadakan hanyalah bimbingan belajar kecil di lingkungan perumahan dan tidak ditemukan pelanggaran serius, aku hanya diminta menghentikan kegiatan tersebut secara permanen.
Pada hari yang sama, aku resmi menerima tawaran mengajar di Bright Future Education Center, salah satu lembaga bimbingan belajar paling bergengsi di Jakarta.
Gajinya hampir sepuluh kali lipat dari uang yang pernah kuterima selama mengajar di kompleks perumahan.
Lingkungan kerjanya nyaman.
Murid-muridnya juga menghargai gurunya.
Untuk pertama kalinya setelah pensiun, aku merasa kemampuanku benar-benar dihargai.
Tiga bulan berlalu dengan cepat.
Suatu sore, ketika aku baru selesai mengajar kelas olimpiade matematika, ponselku tiba-tiba berdering.
Nama yang muncul membuatku mengernyit.
Itu adalah Ibu Bima.
Aku ragu beberapa detik sebelum mengangkatnya.
“Bu Ratna…”
Suara di seberang terdengar jauh berbeda dari dulu.
Tidak lagi arogan.
Tidak lagi meremehkan.
Justru terdengar panik.
“Ada apa?” tanyaku datar.
“Bu Ratna, bisakah Ibu membantu Bima sekali lagi?”
Aku tidak langsung menjawab.
Ia buru-buru melanjutkan.
“Sejak Ibu berhenti mengajar, nilainya turun terus.”
“Kami sudah mencoba tiga tempat les berbeda.”
“Tapi dia tidak cocok dengan siapa pun.”
“Sebentar lagi ujian masuk SMA favorit…”
Suaranya mulai bergetar.
“Kalau begini terus, dia bisa gagal.”
Aku terdiam.
Lalu perlahan bertanya:
“Bukankah dulu Ibu bilang saya hanya memanfaatkan kalian untuk mencari uang?”
Di seberang sana langsung sunyi.
Beberapa detik kemudian terdengar suara tangisan tertahan.
“Bu Ratna…”
“Saya salah.”
4
Ternyata bukan hanya Ibu Bima.
Dalam beberapa minggu berikutnya, satu per satu orang tua mulai menghubungiku.
Ada yang menelepon.
Ada yang mengirim pesan.
Bahkan ada yang datang langsung ke rumah membawa hadiah.
Mereka semua mengatakan hal yang sama.
Anak-anak mereka mulai kesulitan mengikuti pelajaran.
Nilai mereka turun drastis.
Biaya les profesional jauh lebih mahal daripada yang mereka bayangkan.
Namun yang paling penting…
Tidak ada satu pun guru yang benar-benar memahami kondisi masing-masing anak seperti aku dulu.
Suatu pagi akhir pekan, aku pulang ke rumah dan mendapati lima orang tua sudah berdiri di depan pagar.
Di tangan mereka ada buah-buahan, kue, bahkan bingkisan mahal.
Begitu melihatku turun dari mobil, mereka langsung menghampiri.
“Bu Ratna…”
“Kami datang untuk meminta maaf.”
Aku memandang wajah mereka satu per satu.
Orang-orang yang dulu menyebutku serakah.
Orang-orang yang menuduhku mencari uang kotor.
Orang-orang yang melaporkanku.
Kini semuanya menundukkan kepala.
Tidak ada yang berani menatap mataku.
5
Yang paling mengejutkan adalah Bima sendiri.
Anak laki-laki yang dulu sering datang ke rumahku membawa buku latihan lusuh itu kini sudah tumbuh lebih tinggi.
Ia melangkah maju.
Lalu membungkuk dalam-dalam.
“Bu Ratna…”
“Maafkan saya.”
Mataku sedikit membesar.
“Bukan salahmu.”
Ia menggeleng.
“Saya tahu Ibu selalu baik kepada saya.”
“Saya juga tahu Ibu sering mengajar saya gratis.”
“Tapi saat Mama dan orang-orang membicarakan Ibu, saya tidak pernah membela Ibu.”
“Saya pengecut.”
Suasana langsung hening.
Air mata mulai menggenang di mata anak itu.
“Kalau bukan karena Ibu…”
“Mungkin saya tidak pernah bisa masuk SMP favorit.”
“Saya tidak pernah sempat mengucapkan terima kasih.”
Dadaku terasa hangat.
Selama berbulan-bulan, semua amarah yang kusimpan perlahan menghilang.
Karena setidaknya masih ada anak yang memahami ketulusanku.
6
Aku akhirnya membuka pagar.
Namun bukan untuk menerima murid lagi.
Aku menatap para orang tua itu dengan tenang.
“Dulu saya mengajar karena saya peduli pada anak-anak kalian.”
“Saya tidak pernah melakukannya demi uang.”
“Tapi ketika saya membutuhkan kepercayaan kalian, tidak ada satu pun yang berdiri di pihak saya.”
Semua orang menunduk lebih dalam.
“Ada beberapa hal yang bisa diperbaiki dengan uang.”
“Tapi kepercayaan bukan salah satunya.”
Air mata mulai jatuh dari wajah beberapa orang tua.
Mereka tahu.
Kesempatan itu sudah hilang.
Aku tersenyum tipis.
Bukan senyum marah.
Bukan juga senyum kemenangan.
Hanya senyum seseorang yang akhirnya melepaskan kekecewaannya.
“Mulai sekarang, saya akan fokus pada murid-murid saya di tempat baru.”
“Saya berharap anak-anak kalian juga menemukan guru yang tepat.”
Setelah mengatakan itu, aku masuk ke dalam rumah.
Dan menutup pintu perlahan.
Epilog
Dua tahun kemudian.
Bright Future Education Center memberikan penghargaan kepadaku sebagai Guru Terbaik Nasional.
Foto dan kisahku dimuat di berbagai media pendidikan.
Pada hari penerimaan penghargaan, aku berdiri di atas panggung dan melihat ratusan siswa bertepuk tangan.
Di antara mereka, aku melihat sosok yang sangat familiar.
Bima.
Ia berhasil masuk ke SMA impiannya.
Dan kini menjadi salah satu siswa terbaik di sekolahnya.
Saat acara selesai, ia menghampiriku sambil tersenyum.
“Bu Ratna.”
“Saya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.”
Mataku langsung berkaca-kaca.
“Selamat.”
Ia tertawa.
Lalu berkata pelan:
“Semua ini berawal dari seorang guru yang pernah percaya kepada saya saat tidak ada orang lain yang percaya.”
Saat itu aku akhirnya sadar.
Kebaikan memang tidak selalu dibalas dengan rasa terima kasih.
Tetapi benih yang ditanam dengan tulus…
Pada akhirnya tetap akan tumbuh di hati orang yang tepat.
Dan itu sudah lebih dari cukup.