AKU DIUSIR OLEH SELINGKUHAN SUAMIKU DARI RESOR YANG SEBENARNYA MILIKKU

Dia menertawakanku dan menyebutku wanita gila serta perebut suami orang.

Namun sepuluh menit kemudian, seluruh layar LED di lobi menyala secara bersamaan.

Ponselku bergetar saat aku sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa rekan bisnis.

Yang menelepon adalah manajer resor.

“Bu, kami hanya ingin memberi tahu bahwa semua pengeluaran tadi malam telah dibebankan ke akun Diamond Membership milik Anda.”

Aku mengernyit.

“Tapi aku tidak datang ke sana tadi malam.”

Manajer itu terdiam sesaat.

“Namun menurut catatan kami, pemilik akun menggunakan vila tepi pantai paling mewah.”

Ada sesuatu yang aneh.

Akun keanggotaan itu adalah hadiah ulang tahun dari ayahku beberapa tahun lalu.

Akun itu terhubung dengan nomor pribadi dan verifikasi biometrikku.

Tidak ada orang lain yang bisa menggunakannya selain aku.

Satu-satunya orang yang mengetahui seluruh informasi itu adalah suamiku.

Arga Pratama.

Aku segera meneleponnya.

Dia tertawa dengan santai.

“Sayang, mungkin mereka salah.”

“Satu malam di sana sangat mahal. Aku tidak akan menghamburkan uang seperti itu.”

Kedengarannya masuk akal.

Namun ada sesuatu yang menggangguku.

Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu.

Aku tidak memberi tahu siapa pun.

Satu jam kemudian, aku sudah tiba di resor.

Karena akhir pekan, lobi dipenuhi wisatawan.

Setelah memeriksa dataku, resepsionis memandangku dengan aneh.

“Maaf, Bu. Tapi akun keanggotaan Anda sedang digunakan.”

“Aku tahu.”

Aku berusaha tetap tenang.

“Siapa yang menggunakannya?”

Resepsionis tampak terkejut.

“Bukankah itu Anda?”

Aku mengerutkan dahi.

“Lihat aku baik-baik.”

Baru saat itu dia memperhatikanku dengan saksama.

Wajahnya langsung pucat.

“T-tapi… sekitar lima belas menit yang lalu, Anda baru saja lewat dari sini.”

Jantungku berdegup kencang.

Seseorang sedang menyamar menjadi diriku.

Tepat pada saat itu, pintu lift terbuka.

Seorang wanita muda keluar.

Dia mengenakan gaun desainer yang kubeli tetapi belum pernah kupakai.

Di lehernya tergantung kalung warisan ibuku.

Dan di pergelangan tangannya…

Ada jam tangan edisi terbatas yang kuberikan kepada Arga saat ulang tahun pernikahan kami.

Aku langsung mengenalinya.

Clara Wijaya.

Pegawai magang baru di perusahaan suamiku.

Dia juga melihatku.

Senyumnya sempat membeku.

Namun dia segera memulihkan ekspresinya.

“Kak, ngapain ke sini?”

Aku menatapnya dingin.

“Aku yang seharusnya bertanya.”

“Kenapa kamu menggunakan akunku?”

“Kenapa kamu memakai barang-barangku?”

“Dan kenapa kamu tinggal di vila atas namaku?”

Semua orang di sekitar langsung menoleh.

Mata Clara seketika memerah.

Dia memang sangat pandai berakting.

“Jangan menakutiku seperti itu.”

“Vila ini hadiah dari suamiku agar aku bisa beristirahat.”

“Dan semua ini dibelikan olehnya untukku.”

Dia sengaja memperlihatkan cincin di jarinya.

“Dia memperlakukanku seperti seorang putri.”

Bisik-bisik segera terdengar di sekitar.

Semua orang memandangku seolah aku adalah orang jahat.

Seolah akulah yang sedang menghancurkan rumah tangga orang lain.

Tiba-tiba ponsel Clara berbunyi.

Di layar hanya ada dua kata.

“Suami.”

Dia langsung mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara.

“Sayang…”

“Ada wanita yang membuat masalah di sini.”

Begitu mendengar suara dari seberang sana, seluruh tubuhku membeku.

Arga.

Pria yang telah kucintai dan kunikahi selama tujuh tahun.

“Jangan takut.”

“Aku akan segera datang.”

Sepuluh menit kemudian.

Sebuah mobil mewah berhenti di depan resor.

Arga turun.

Dia langsung berlari menuju Clara.

Dan bahkan tidak melirik ke arahku.

“Sayang, kamu tidak apa-apa?”

Clara segera memeluknya.

“Aku takut.”

“Dia bersikeras mengatakan bahwa aku bukan istrimu.”

Arga menoleh ke arahku.

Dan untuk pertama kalinya, tatapannya terasa seperti tatapan seorang asing.

“Kenapa kamu masih di sini?”

Aku terpaku.

“Kamu?”

Dia tidak pernah berbicara kepadaku dengan nada seperti itu.

Dia melindungi Clara di belakangnya.

Lalu dengan penuh kesombongan berkata:

“Dia istriku.”

“Dan kamu hanyalah mantan pegawai perusahaan.”

Seluruh lobi langsung gempar.

Aku tersenyum.

Senyum pahit.

“Dia istrimu?”

“Kalau begitu… siapa aku?”

Arga mencibir.

“Aku tidak tahu.”

“Tapi kalau kamu tidak berhenti, aku akan memanggil polisi.”

Aku tidak marah.

Aku justru tertawa.

Karena pria ini tidak mengetahui satu kenyataan.

Resor ini terdaftar atas namaku.

Dan sebagian besar saham grup resor ini dimiliki oleh keluargaku.

Aku mengambil ponsel untuk menghubungi pengacara.

Namun Arga tiba-tiba merebutnya dan membantingnya ke lantai.

Ponsel itu langsung hancur.

“Cukup.”

“Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti istriku.”

Clara tersenyum dengan penuh kemenangan.

Lalu dia mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.

“Kak.”

“Kalau kamu menandatangani surat permintaan maaf publik ini, aku akan memaafkanmu.”

“Aku tidak ingin masalah ini semakin besar.”

Aku melihat dokumen itu.

Sebuah surat yang menyatakan bahwa aku telah memfitnahnya.

Aku tersenyum.

Senyum yang membuatnya mulai gelisah.

Karena pada detik berikutnya…

Seluruh layar LED di lobi mendadak menyala.

Alarm darurat berbunyi di seluruh resor.

Semua orang mendongak.

Dan sebuah tulisan merah muncul di layar:

“EMERGENCY NOTICE.”

“KETUA GRUP AKAN MELAKUKAN INSPEKSI MENDADAK.”

Bersamaan dengan itu, puluhan pengawal berpakaian hitam memasuki lobi.

Pemimpin mereka membungkuk dalam-dalam di hadapanku.

Dengan suara keras dia berkata:

“Ketua, mohon maaf karena kami terlambat.”

Dalam sekejap…

Senyum di wajah Clara lenyap sepenuhnya.

Dan Arga…

Ponsel di tangannya terlepas.

Jatuh ke lantai marmer.

Dan ketika mereka berdua menatapku dengan wajah pucat…

Aku perlahan tersenyum.

“Baru sekarang permainan yang sesungguhnya dimulai.”

Bagian selanjutnya dari cerita ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca keseluruhan cerita… Semoga harimu menyenangkan! 👇

Dalam sekejap, seluruh lobi menjadi sunyi.

Clara mundur beberapa langkah.

Wajahnya yang semula penuh kemenangan berubah pucat pasi.

“Ke-ketua?”

Arga menatapku dengan mata membelalak.

“Tidak mungkin…”

“Alya…”

“Apa ini semua?”

Aku menatap pria yang telah menjadi suamiku selama tujuh tahun itu.

Pria yang bahkan menghancurkan ponselku demi melindungi wanita lain.

Dan aku hanya tersenyum.

“Kenapa?”

“Bukankah aku hanya mantan pegawai perusahaan?”

Suara Arga mulai bergetar.

“Alya, dengarkan aku…”

Namun kepala pengawal langsung melangkah maju.

“Berani sekali Anda merusak barang milik Ketua.”

“Dan lebih berani lagi, menggunakan identitas serta fasilitas pribadi beliau secara ilegal.”

Seluruh tubuh Clara langsung gemetar.

“Tidak!”

“Bukan aku!”

“Arga yang memberikan semuanya!”

Semua orang di lobi langsung gempar.

Arga menoleh dengan tidak percaya.

“Clara!”

“Kamu bilang hanya ingin berlibur beberapa hari!”

Mata Clara dipenuhi air mata.

“Kamu yang bilang kalau istrimu hanya wanita tua yang membosankan!”

“Kamu bilang semua harta kalian nanti akan menjadi milikmu!”

“Aku hanya percaya padamu!”

Tamparan itu datang begitu cepat.

Plak!

Arga menampar Clara di depan semua orang.

“Diam!”

Namun aku tertawa kecil.

Tawa yang membuat keduanya membeku.

“Menarik.”

“Jadi sekarang kalian saling menyalahkan?”

“Padahal tadi kalian terlihat sangat saling mencintai.”

Arga langsung berlutut.

“Alya!”

“Aku salah!”

“Maafkan aku!”

“Aku hanya tersesat!”

“Dia yang menggoda aku!”

Clara menatapnya dengan wajah hancur.

“Kamu bilang mencintaiku!”

“Kamu bilang akan menceraikannya!”

“Dasar pembohong!”

Dan untuk pertama kalinya…

Aku melihat mereka saling menghancurkan.

Persis seperti yang mereka lakukan terhadap pernikahanku.


Sepuluh menit kemudian.

Direktur hukum grup datang bersama beberapa pengacara.

Mereka langsung mengumumkan:

“Mulai hari ini, Tuan Arga Pratama diberhentikan dari seluruh jabatannya.”

“Seluruh aset yang dibeli menggunakan dana perusahaan akan disita untuk penyelidikan.”

“Dan Grup Aruna Resort secara resmi akan mengajukan tuntutan pidana atas pencurian identitas dan penyalahgunaan fasilitas eksklusif.”

Tubuh Arga langsung lemas.

“Alya…”

“Tolong…”

“Kita suami istri…”

Air mata mulai mengalir di wajahnya.

“Tolong beri aku satu kesempatan lagi.”

Aku memandangnya dengan tenang.

“Kesempatan?”

“Saat kau memanggil wanita lain sebagai istrimu di depan semua orang…”

“Saat kau menghancurkan ponselku…”

“Saat kau membiarkan mereka menghinaku…”

“Kau sudah menghabiskan seluruh kesempatan yang kumiliki.”


Tiga bulan kemudian.

Aku resmi bercerai.

Arga kehilangan pekerjaannya.

Banyak perusahaan menolak mempekerjakannya karena reputasinya telah hancur.

Sedangkan Clara meninggalkannya segera setelah mengetahui bahwa dia tidak memiliki apa-apa lagi.

Ironisnya…

Wanita yang dulu dia lindungi mati-matian…

Justru menjadi orang pertama yang meninggalkannya.


Satu tahun kemudian.

Grup Aruna Resort berkembang semakin pesat.

Pada hari peresmian cabang baru di Bali…

Aku berdiri di balkon hotel sambil memandangi matahari terbenam.

Saat itulah seseorang mendekat.

Leon Wijaya.

Direktur baru yang selama setahun terakhir selalu bekerja bersamaku.

Dia tidak pernah bertanya tentang masa laluku.

Tidak pernah memaksakan perasaannya.

Dan selalu diam-diam melindungiku.

Dia tersenyum sambil menyerahkan secangkir kopi hangat.

“Kamu masih suka kopi tanpa gula.”

Aku ikut tersenyum.

“Kamu masih mengingatnya?”

Leon tertawa pelan.

“Hal-hal penting tidak mudah dilupakan.”

Lalu dia berkata dengan suara lembut:

“Terima kasih karena telah bertahan.”

“Karena jika kamu menyerah waktu itu…”

“Mungkin aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk bertemu wanita luar biasa seperti dirimu.”

Aku memandang langit yang perlahan berubah jingga.

Dan akhirnya tersenyum dengan tulus.

Karena aku baru menyadari satu hal.

Pengkhianatan memang bisa menghancurkan hati seseorang.

Tetapi pengkhianatan juga bisa membuka pintu menuju kehidupan yang lebih baik.

Dan orang yang benar-benar mencintaimu…

Tidak akan pernah membuatmu merasa seperti orang asing di rumah yang seharusnya menjadi milikmu.

TAMAT.