Aku Julian, 32 tahun. Sepuluh tahun lalu, aku adalah mahasiswa miskin yang bekerja paruh waktu hanya untuk bertahan hidup. Sedangkan Cassandra adalah wanita paling cantik dan paling kaya di kampus—putri dari keluarga konglomerat properti dan perbankan.

Aku Julian, 32 tahun. Sepuluh tahun lalu, aku adalah mahasiswa miskin yang bekerja paruh waktu hanya untuk bertahan hidup. Sedangkan Cassandra adalah wanita paling cantik dan paling kaya di kampus—putri dari keluarga konglomerat properti dan perbankan.

Aku tahu kami berasal dari dunia yang berbeda, tapi aku tetap memberanikan diri menyatakan perasaanku.

Dengan uang receh hasil kerja keras, aku membeli cincin perak sederhana untuknya. Aku menunggunya di lobi kampus, dengan tangan gemetar.

Namun yang terjadi bukanlah cinta.

Tapi penghinaan.


“Julian? Kamu pikir aku mau sama orang miskin sepertimu?”

Suara Cassandra menggema di seluruh lobi.

Mahasiswa lain mulai tertawa.

Dia mengambil kotak cincin itu, membukanya, lalu melemparkannya ke tempat sampah di depan semua orang.

“Tempatmu memang di sini. Di bawah. Di sampah.”

Lalu dia pergi dengan mobil sport mewahnya, meninggalkanku di tengah tawa orang-orang.

Hari itu, aku bersumpah.

Aku akan bangkit… dan membuat dunia yang menertawakanku berlutut.


10 Tahun Kemudian

Aku berdiri di depan gedung pencakar langit 50 lantai di pusat kota Jakarta.

Julian Group kini adalah salah satu konglomerat teknologi dan properti terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai aset mencapai triliunan rupiah.

Mobil Rolls-Royce hitam berhenti di depan pintu utama.

Bodyguard membuka pintu.

Semua eksekutif menunduk.

“Selamat pagi, Tuan Julian.”

Aku hanya mengangguk.

Langkahku bergema di lantai marmer gedung itu.

Namun tiba-tiba—

Aku berhenti.

Dari kejauhan, terdengar suara keributan di dekat area layanan gedung.

“Cepat bersihkan lebih cepat! Lantai ini harus bersih sebelum CEO datang!”

Suara itu… terasa sangat familiar.

Aku menoleh.

Dan di sana…

Seorang wanita sedang berlutut, memakai seragam pembersih, tangan penuh sarung karet, sedang menggosok lantai toilet umum di perusahaanku sendiri.

Cassandra.

Wanita yang dulu menertawakanku.

Sekarang bekerja sebagai petugas kebersihan.

Dia mengangkat kepalanya perlahan.

Dan saat matanya bertemu denganku—

Baskom kecil di tangannya jatuh.

“Ju… Julian?”

Aku berjalan pelan mendekatinya.

Langkah demi langkah.

Suara sepatu mahalku menggema di lorong yang sunyi.

Aku berhenti tepat di depannya.

Dia gemetar.

“Ka… kamu CEO di sini?”

Aku menatapnya dingin.

“Bukan cuma CEO.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku pemilik gedung ini.”

Wajahnya langsung pucat.

Tangannya gemetar.

“Julian… aku—aku bisa jelasin—”

Aku mengangkat tangan.

Dia langsung diam.

Di belakangnya, petugas keamanan mulai berdiri siap.

Namun aku hanya menatapnya tenang.

Sepuluh tahun lalu… aku yang dibuang seperti sampah.

Hari ini…

Dia yang membersihkan sampah di duniaku.

Aku berbalik, lalu berkata pelan:

“Tidak perlu penjelasan.”

“Aku sudah tidak tertarik pada masa lalu yang tidak pernah menghargai nilainya.”

Aku berjalan pergi, meninggalkannya berlutut di lantai dingin itu.

Dan di belakangku, hanya ada suara isak tangis yang perlahan tenggelam di gedung yang kini… aku miliki sepenuhnya.

Cassandra masih berlutut di lantai, tangannya gemetar memegang kain pel yang sudah basah kuyup.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada tawa. Tidak ada orang yang menonton. Tidak ada yang membela.

Hanya sunyi.

Julian sudah berjalan beberapa langkah menjauh, dikelilingi para eksekutif dan bodyguard. Semua orang menunduk padanya, seperti dunia memang sudah memilih siapa yang menang.

Tapi sebelum ia masuk ke lift utama, ia berhenti lagi.

Bukan karena ragu.

Tapi karena sebuah notifikasi di tablet salah satu direktur yang berdiri di sampingnya.

“Pak Julian… ada laporan audit lama dari perusahaan lama milik keluarga Cassandra,” kata sang direktur hati-hati.

Julian menoleh sedikit.

“Teruskan.”

Direktur itu menelan ludah.

“Perusahaan mereka bangkrut bukan karena pasar… tapi karena manipulasi internal dan penggelapan dana. Ada transaksi yang ditutup-tutupi sepuluh tahun lalu.”

Ruangan itu langsung hening.

Cassandra yang masih di belakang langsung mendongak.

Wajahnya berubah.

“Apa… maksudnya itu?”

Direktur itu ragu, lalu melanjutkan.

“Nama yang paling sering muncul di dokumen… adalah ayah Anda sendiri.”

Dunia Cassandra seperti runtuh di tempat.

Tangannya lepas dari pel.

“Tidak… itu tidak mungkin…”

Julian akhirnya berbalik sepenuhnya.

Tatapannya tetap dingin, tapi kali ini ada sesuatu yang lebih tajam—bukan emosi, tapi kepastian.

“Jadi begitu,” katanya pelan.

Dia melangkah mendekat satu langkah saja.

Tidak lagi sebagai pria yang dulu dihina.

Tapi sebagai pemilik semua jawaban yang selama ini tersembunyi.

“Kau tidak pernah benar-benar ‘di atas’ dariku, Cassandra.”

Suara itu tenang, tapi menghantam lebih keras daripada teriakan.

“Ada orang yang menjatuhkan keluargamu dulu… dan kau hanya tumbuh di atas reruntuhannya tanpa tahu siapa yang berdiri di bawahnya.”

Cassandra gemetar hebat.

Air matanya jatuh, bukan lagi karena malu… tapi karena takut.

“Julian… aku tidak tahu…”

“Aku juga dulu tidak tahu,” potong Julian.

Dia menatapnya lama.

Lalu perlahan, ia mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan.

“Mulai hari ini, semua aset lama yang terkait kasus itu akan dibuka kembali.”

“Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.”

Lift terbuka.

Julian melangkah masuk.

Sebelum pintu tertutup, ia melontarkan kalimat terakhir tanpa menoleh.

“Dulu kau bilang tempatku di sampah.”

“Sekarang kau yang belajar bagaimana rasanya dibuang oleh dunia yang kau anggap milikmu.”

Pintu lift tertutup.

Dan untuk pertama kalinya…

Cassandra tidak punya apa-apa lagi untuk ditertawakan.

Hanya dirinya sendiri.