Aku langsung membeku.

Aku langsung membeku.

Seluruh mansion mendadak sunyi.

Luna berdiri di tangga lantai dua dengan tubuh kecil gemetar sambil menunjuk ke arahku. Wajahnya pucat, matanya dipenuhi ketakutan.

Dan untuk pertama kalinya sejak setahun terakhir—

anak kecil itu berbicara.

“Dia…” suara Luna pecah karena tangis, “dia perempuan di foto Mommy…”

Sebastian langsung menoleh tajam ke arahku.

Tatapannya dingin.

Namun ada sesuatu yang lain di sana sekarang.

Keterkejutan.

Dan rasa takut.

Karena ia tahu satu hal—

Luna hampir tidak pernah bicara sejak kematian ibunya.

“Luna,” suara Sebastian rendah namun lembut, “foto apa yang kamu maksud?”

Namun Luna malah mundur satu langkah.

Tangannya mencengkeram pagar tangga erat-erat.

“Aku takut…”

Lalu tiba-tiba—

ia berlari naik sambil menangis.

“Luna!”

Sebastian langsung mengejarnya.

Aku masih berdiri kaku di tengah main hall dengan jantung berdetak begitu keras sampai telingaku berdenging.

Karena aku tahu persis foto apa yang dimaksud Luna.

Dan itu berarti…

masa lalu yang selama ini berusaha kulupakan—

akhirnya datang mencariku.

Beberapa menit kemudian.

Ramon membawaku ke ruang kerja pribadi Sebastian.

Ruangan itu besar dan gelap, penuh rak buku mahal dan aroma kayu tua.

Sebastian berdiri membelakangiku di depan jendela.

Di tangannya…

ada sebuah foto lama.

Saat ia membaliknya perlahan, napasku langsung tertahan.

Foto itu.

Aku langsung mengenalinya.

Itu foto lima tahun lalu.

Aku.

Dan Elena De La Cruz.

Istri Sebastian.

Kami sedang duduk di tangga dormitory kampus sambil tertawa memegang ramen instan murahan.

Sebastian menatap foto itu lama sebelum akhirnya bertanya tanpa menoleh:

“Kenapa kamu mengenal istriku?”

Aku menggigit bibir pelan.

“Elena senior-ku di University of Santo Tomas.”

Sunyi.

Hanya suara hujan Tagaytay yang terdengar dari luar.

Lalu Sebastian akhirnya menoleh.

Dan untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu di balik wajah dinginnya.

Kesedihan yang sangat dalam.

“Elena tidak pernah menyebut namamu,” katanya lirih.

Aku tersenyum kecil pahit.

“Karena waktu itu saya cuma mahasiswa miskin yang sering numpang makan di kamarnya.”

Tatapan Sebastian berubah sedikit.

Lembut.

Sangat tipis.

Namun sebelum ia sempat berkata apa pun—

BRAK!

Pintu ruang kerja mendadak terbuka.

Ramon masuk dengan wajah panik.

“Sir… Young Miss kambuh lagi.”

Sebastian langsung berlari keluar.

Aku ikut menyusul.

Dan saat sampai di kamar Luna—

dadaku langsung terasa sesak.

Tubuh kecil itu gemetar di sudut ruangan sambil memeluk lututnya.

Mainan berserakan.

Vas bunga pecah.

Dan di sela tangisnya, Luna terus mengulang satu kalimat:

“Mommy berdarah…”

“Mommy berdarah…”

Sebastian mencoba mendekat.

Namun Luna malah makin histeris.

“Jangan! Jangan!”

Pria itu langsung membeku di tempat.

Tatapannya hancur.

Ramon berbisik pelan padaku:

“Setelah kecelakaan Madam Elena… Young Miss selalu seperti ini.”

Aku menarik napas pelan.

Lalu berjalan perlahan mendekati Luna.

Tidak menyentuhnya.

Tidak memaksa.

Aku hanya duduk di lantai beberapa langkah darinya.

“Luna…” suaraku lembut, “lihat aku.”

Anak kecil itu mengangkat wajah perlahan.

Matanya merah karena menangis.

Aku tersenyum kecil.

“Mommy pernah cerita tentang Luna.”

Tangisnya mulai melemah sedikit.

“Mommy bilang Luna anak paling pemberani di dunia.”

Bibir kecil Luna langsung bergetar.

“Bo… bohong…”

Aku menggeleng pelan.

“Tidak.”

“Mommy sangat sayang sama Luna.”

Dan detik berikutnya—

Luna tiba-tiba merangkak cepat lalu memelukku erat sambil menangis sejadi-jadinya.

Seluruh ruangan langsung sunyi.

Sebastian membeku.

Karena selama satu tahun penuh—

bahkan dirinya sendiri tidak pernah bisa sedekat itu dengan putrinya.

Luna tertidur di pelukanku malam itu.

Dan saat aku mengangkat kepala—

aku melihat Sebastian sedang menatapku dengan ekspresi yang tak bisa kubaca.

Seolah untuk pertama kalinya sejak istrinya meninggal…

ada seseorang yang berhasil menghidupkan kembali rumah itu.

Hari-hari berikutnya berubah perlahan.

Luna mulai bicara sedikit demi sedikit.

Mulai makan dengan tenang.

Mulai tersenyum kecil saat aku membacakan cerita sebelum tidur.

Dan mansion yang selama ini terasa dingin seperti makam…

akhirnya kembali memiliki suara tawa.

Namun kedamaian itu tidak bertahan lama.

Karena suatu malam—

aku mendengar Sebastian dan Ramon berbicara di ruang kerja.

“Apa hasil investigasi terbaru tentang kecelakaan Madam Elena?”

Langkahku langsung terhenti di balik pintu.

Ramon tampak ragu sebelum menyerahkan sebuah amplop cokelat.

“Kami menemukan ini di gudang lama, Sir.”

Sebastian membuka amplop itu perlahan.

Dan dalam detik berikutnya—

wajahnya langsung berubah dingin.

Sangat dingin.

“Ada apa?” tanya Ramon pelan.

Suara Sebastian rendah dan mengerikan.

“Ini bukan kecelakaan.”

Darahku langsung membeku.

Sebastian mengangkat isi amplop itu.

Sebuah foto.

Dan saat aku melihat siapa pria di dalam foto tersebut—

napasku langsung berhenti.

Karena pria itu…

adalah Adrian Valdez.

Mantan pacarku.

Dan di foto itu, Adrian sedang memberikan sebuah amplop tebal kepada sopir pribadi Elena—

dua hari sebelum Elena meninggal dalam kecelakaan mobil.

Tanganku langsung dingin.

Foto itu hampir terlepas dari jemariku.

Adrian.

Mantan pacarku yang mencuri semua tabunganku.

Pria yang menghancurkan hidupku.

Dan sekarang—

dia muncul dalam penyelidikan kematian Elena De La Cruz.

Sebastian perlahan menoleh kepadaku.

Tatapannya tajam, namun tidak penuh tuduhan.

Justru… penuh pertanyaan.

“Kamu tahu tentang ini?”

Aku menggeleng cepat.

“Demi Tuhan, aku tidak tahu apa-apa…”

Suaraku bahkan bergetar.

Karena aku sendiri tidak percaya dengan apa yang kulihat.

Ramon membuka map lain dengan wajah serius.

“Kami juga menemukan transaksi besar masuk ke rekening sopir Madam Elena tiga hari sebelum kecelakaan.”

“Lima belas juta peso.”

“Dan pengirimnya menggunakan perusahaan palsu.”

Ruangan langsung sunyi.

Sebastian mengepal tangannya begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih.

“Apa hubungan Adrian dengan Elena?” tanyanya dingin.

Aku mencoba mengingat semuanya.

Semua hal kecil yang dulu terasa tidak penting.

Lalu mendadak—

jantungku serasa berhenti.

“Ada satu hal…”

Mereka langsung menatapku.

Aku menelan ludah.

“Dulu… Adrian pernah sangat marah setelah melihat foto Elena di dompetku.”

Sebastian mengernyit.

“Foto?”

Aku mengangguk pelan.

“Waktu kuliah, Elena pernah membantuku bayar biaya rumah sakit ibuku.”

“Karena itu aku menyimpan foto kami.”

“Aku pernah bilang ke Adrian kalau Elena berasal dari keluarga kaya raya.”

Wajah Ramon langsung berubah.

Dan detik berikutnya—

Sebastian langsung memahami sesuatu.

“Dia mendekati kamu… untuk mengenal Elena.”

Darahku terasa membeku.

Karena semakin kupikirkan…

semuanya mulai masuk akal.

Adrian selalu bertanya tentang Elena dulu.

Tentang keluarganya.

Tentang suaminya.

Tentang kekayaannya.

Dan aku…

aku terlalu bodoh untuk menyadarinya.

Air mataku jatuh perlahan.

“Aku yang membawa monster itu masuk ke hidup Elena…”

“Tidak.”

Suara Sebastian langsung memotongku.

Tegas.

Kuat.

Untuk pertama kalinya, pria itu menatapku bukan dengan dingin—

melainkan dengan kepastian.

“Kamu korban juga.”

Dadaku langsung terasa sesak.

Karena setelah begitu lama disalahkan, dikhianati, dan diinjak—

akhirnya ada seseorang yang tidak menyalahkanku.

Namun malam itu—

kebenaran yang lebih mengerikan akhirnya terungkap.

Polisi swasta Sebastian berhasil menemukan sopir pribadi Elena.

Pria itu ditangkap saat mencoba kabur ke Indonesia menggunakan identitas palsu.

Dan saat diinterogasi—

ia menangis sambil mengaku semuanya.

Bukan Adrian dalang utamanya.

Pria itu cuma perantara.

Otak sebenarnya…

adalah sahabatku sendiri.

Camille.

Perempuan yang kupanggil saudara selama tujuh tahun.

Ternyata sejak dulu ia berselingkuh dengan Adrian.

Mereka berdua merencanakan semuanya setelah mengetahui Elena adalah pewaris keluarga De La Cruz.

Mereka ingin memeras uang.

Namun sesuatu terjadi malam itu.

Elena mengetahui hubungan mereka dengan sopirnya.

Dan saat Elena mencoba melapor—

rem mobilnya dirusak.

Aku langsung jatuh terduduk saat mendengar semuanya.

Tubuhku gemetar hebat.

Sebastian diam membatu.

Sedangkan Luna…

anak kecil itu hanya memeluk bonekanya sambil menatap kosong.

Karena akhirnya—

ia tahu bahwa ibunya tidak pergi karena kecelakaan biasa.

Dua minggu kemudian.

Seluruh Filipina gempar.

Nama Adrian dan Camille muncul di semua berita nasional.

“Kasus pembunuhan sosialita terkenal akhirnya terungkap.”

“Dalang kematian Elena De La Cruz ditangkap.”

Video penangkapan mereka viral di internet.

Adrian yang dulu menghina kemiskinanku…

kini diborgol di depan wartawan.

Sedangkan Camille menangis histeris saat wajahnya ditutupi jaket hitam.

Namun anehnya—

aku tidak merasa puas.

Hanya lelah.

Sangat lelah.

Malam setelah semuanya selesai, aku duduk sendirian di taman belakang mansion.

Udara Tagaytay dingin.

Kabut turun perlahan.

Lalu seseorang menyelimuti pundakku dengan jas hangat.

Sebastian.

Ia duduk di sampingku tanpa bicara.

Untuk beberapa saat…

kami hanya diam mendengarkan suara angin.

Lalu akhirnya ia berkata pelan:

“Elena pernah bilang…”

Tatapannya lurus ke depan.

“…kalau suatu hari nanti, kalau dia tidak ada, orang yang paling ingin dia percayakan untuk menjaga Luna adalah kamu.”

Air mataku langsung jatuh.

“Aku?”

Sebastian tersenyum kecil untuk pertama kalinya.

Sedih.

Namun hangat.

“Dia bilang kamu punya hati yang paling lembut di dunia.”

Tangisku pecah malam itu.

Karena setelah semua pengkhianatan yang kulalui…

ternyata masih ada seseorang yang pernah melihat kebaikan dalam diriku.

Dan orang itu—

bahkan sudah mempercayaiku sebelum aku sendiri percaya pada diriku.

Bulan-bulan berlalu.

Luna kembali menjadi anak kecil yang ceria.

Mansion De La Cruz perlahan hidup kembali.

Dan ibuku akhirnya bisa menjalani perawatan terbaik tanpa perlu aku takut soal biaya lagi.

Namun yang paling tidak kusangka—

adalah perubahan Sebastian.

Pria dingin yang dulu hampir tidak pernah tersenyum…

kini selalu pulang lebih cepat hanya untuk makan malam bersama kami.

Kadang aku memergokinya memperhatikan kami diam-diam saat Luna tertawa.

Dan di matanya…

aku melihat sesuatu yang perlahan tumbuh.

Bukan rasa kasihan.

Bukan rasa terima kasih.

Melainkan cinta.

Suatu malam, saat pesta ulang tahun Luna yang keenam selesai…

kembang api memenuhi langit Tagaytay.

Luna tertidur di sofa setelah kelelahan bermain.

Aku hendak mengangkatnya—

namun Sebastian lebih dulu melakukannya dengan hati-hati.

Lalu ia menoleh kepadaku.

Tatapannya lembut.

Sangat lembut.

“Mira.”

“Ya?”

Ia diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata lirih:

“Aku kehilangan istriku.”

“Aku kehilangan hidupku.”

“Dan Luna hampir kehilangan dirinya sendiri.”

Langit malam dipenuhi cahaya kembang api.

Namun entah kenapa…

aku merasa jantungku berdetak lebih keras dari suara apa pun.

Sebastian mendekat perlahan.

“Lalu kamu datang.”

Air mataku mulai menggenang.

“Aku tidak tahu kapan tepatnya…”

“tapi rumah ini mulai terasa hidup lagi karena kamu.”

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—

ada seseorang yang menatapku seolah aku bukan beban.

Bukan perempuan miskin.

Bukan korban pengkhianatan.

Melainkan seseorang yang pantas dicintai.

Lalu di tengah cahaya kembang api dan udara dingin Tagaytay—

Sebastian menggenggam tanganku perlahan.

Dan akhirnya…

setelah begitu banyak kehilangan—

aku menemukan tempat yang benar-benar bisa kusebut rumah.