Aku melahirkan untuk ketiga kalinya. Perempuan lagi.

Aku melahirkan untuk ketiga kalinya. Perempuan lagi.

Ibu mertuaku berdiri saja di depan ruang bersalin. Tidak sekalipun melirik bayiku. Ia langsung berbalik dan pergi.

Pada hari aqiqah, ia mengadakan pesta besar dengan dua puluh meja. Makanan melimpah.

Sambil menggendong bayiku, kukira pesta itu untuknya.

Saat tiba di gedung acara, aku tertegun melihat spanduk merah besar di tengah aula:

“Selamat Datang Cucu Laki-Laki Pertama Keluarga Wijaya”

Ternyata itu anak iparku, Arman, dan istrinya, Rani. Rani melahirkan bayi laki-laki bulan lalu.

Ibu mertua—Bu Ratna—menggandeng tangan menantu bungsunya dan memperkenalkan pada semua tamu:

“Inilah kebanggaan sejati keluarga Wijaya!”

Total biaya pesta itu mencapai Rp86.000.000.

Tiga anak perempuanku?
Yang sulung memakai baju bekas sepupunya.
Yang bungsu hanya terbungkus selimut lama kiriman ibuku dari kampung.

Tujuh tahun aku menikah.
Akulah yang mengurus tambak kepiting keluarga mereka seluas lima hektar.

Setiap hari pukul tiga pagi aku sudah bangun untuk memberi pakan dan memeriksa tambak.

Semua hasilnya kuserahkan kepada ibu mertua.
Ternyata uang itu dipakai untuk membayar rumah dan mobil Arman di kota.

Sedangkan aku? Untuk membeli baju baru saja harus menunggu suasana hati Bu Ratna baik.

Kerabat yang lewat di depanku bahkan tak menyapa.

Seorang tante berbisik,
“Perempuan yang tak bisa melahirkan anak laki-laki itu tak ada gunanya. Pasti nanti diganti oleh keluarga Wijaya.”

Aku menatap bayi bungsuku yang tertidur pulas di pelukanku.
Tangannya kecil menggenggam bajuku erat-erat.

Tiba-tiba aku merasa yang digenggamnya bukan hanya kain…
tapi harapan terakhir hidupku.

Di tengah suara tawa pesta, aku mengambil ponsel dan menelepon orang yang ingin membeli tambak.


Bab 1

“Pak Riko, tambak lima hektar di sisi barat desa. Termasuk peralatan dan kepiting yang sedang panen, saya jual Rp800.000.000.”

“Ya, tunai. Sekali bayar.”

“Kalau hari ini bisa transfer, saya langsung tanda tangan kontrak.”

“Kita ketemu di kafe kota sore ini.”

Aku menutup telepon.

Di meja utama, Bu Ratna dan Rani sedang tertawa-tawa minum bersama tamu.

Rani mengenakan gaun merah cantik dengan kalung emas tebal—yang baru dibelikan Bu Ratna kemarin.

Bu Ratna menyerahkan amplop tebal kepada Rani.

“Karena kamu memberi kami cucu laki-laki, ini hadiah untukmu.”

Rani tersenyum manis.

“Terima kasih, Bu. Dengan ini anak saya bisa masuk playgroup mahal, biaya masuknya Rp20.000.000.”

Aku melihat anak bungsuku.
Masih dibungkus selimut lusuh.

Anak sulungku, Lala, dan yang kedua, Sari, duduk di sampingku.

Saat hidangan cumi hitam dan babi panggang disajikan,
Lala hendak mengambil sepotong daging untuk adiknya.

Tiba-tiba Arman datang dan menepis tangan Lala hingga daging itu jatuh.

“Anak perempuan jangan rakus! Makanan ini untuk tamu yang bawa hadiah!”

Lala menunduk, tak berani bicara.
Sari bersembunyi di belakangku.

Aku meletakkan bayi bungsuku di kursi kosong.
Lalu berdiri.

Kuambil mangkuk sup panas dan kusiram langsung ke tubuh Arman.

Ia menjerit.

“Kamu sudah gila, Mira?!”

Bu Ratna berlari mendekat.

“Mira! Kamu merusak acara cucu laki-lakiku!”

Aku menatapnya lurus.

“Pesta ini biayanya Rp86 juta. Uangnya dari tambak. Dari kerja kerasku.”

“Jam tiga pagi aku sudah di lumpur, digigit kepiting.”

Bu Ratna membentak,
“Sejak kamu menikah dengan anakku, uangmu adalah uang keluarga Wijaya!”

“Karena Arman punya anak laki-laki, dia yang berhak!”

“Kamu bahkan tak bisa melahirkan anak laki-laki! Tak punya hak bicara!”

Kerabat mulai berbisik.

“Kamu harusnya bersyukur belum diusir,” kata salah satu sepupu.

Kakak iparku menimpali,
“Karena kamu tak punya anak laki-laki, pengelolaan tambak seharusnya diberikan pada Arman.”

Aku menunjukkan riwayat transfer di ponselku.

“Selama tujuh tahun, tambak menghasilkan Rp1,4 miliar.”

“Bibit dan pakan? Aku pinjam dari orang tuaku.”

“Semua uang itu Ibu pakai untuk rumah dan motor Arman!”

“Sekarang bahkan makanan anakku kalian larang?!”

Suamiku, Andi, datang membawa dua dus bir.

“Mira, kenapa kamu bikin keributan lagi?”

“Anakmu dilarang makan,” jawabku.

Andi hanya melihat daging di lantai.

“Cuma sepotong daging. Mereka tak akan mati kelaparan.”

Saat itu juga aku tahu…
aku tak punya suami.

Aku menggendong anakku.

“Lala, Sari. Kita pulang.”


Bab 2

Di rumah, kuambil kontrak tambak dari laci.

Tujuh tahun lalu aku yang menandatanganinya.

Andi pernah bilang ingin usaha bersama.
Tapi modal awal Rp50.000.000 habis di meja judi dalam semalam.

Saat itu aku sedang hamil.
Aku pulang ke kampung meminjam uang orang tuaku.

Aku yang membeli bibit.
Aku yang mengurus semuanya.

Dan di kontrak hanya ada satu nama:

Mira Santoso.

Ponselku berbunyi.

“Bu Mira, dokumen sudah siap. Saya tunggu di kafe.”

Sore itu, kontrak ditandatangani.

Lima menit kemudian, saldo rekeningku bertambah Rp800.000.000.

Aku mencetak semua bukti transfer lima tahun terakhir di bank.

Saat pulang, Andi menelepon.

“Ibu bilang kamu harus ke pasar. Malam ini ada keluarga datang makan.”

“Beli sendiri.”

“Itu perintah Ibu!”

Aku memutus telepon. Lalu memblokir nomornya.

Aku pergi ke mal dan membeli baju serta sepatu baru untuk tiga anakku. Total Rp12.000.000.

Saat tiba di rumah, aku mendengar suara Bu Ratna dari dalam.

“Andi, mulai bulan depan hasil tambak langsung ke rekening Arman.”

“Kalau Mira tak setuju, ceraikan saja. Usir dia dari rumah ini!”

Rani tertawa kecil,
“Benar, Bu. Kak Mira terlalu pelit. Harus diberi pelajaran.”

Aku berdiri di luar pintu, mendengar semuanya.

Perlahan aku membuka pintu…

(Anda mau saya lanjutkan dengan akhir yang kuat dan memuaskan?)

Aku melangkah masuk dengan tenang.

Semua kepala menoleh ke arahku.

Bu Ratna masih duduk di kursi, dagunya terangkat tinggi. Arman bersandar santai, Rani tersenyum sinis. Andi terlihat gelisah.

Aku meletakkan map cokelat di atas meja.

“Aku dengar semuanya.”

Tak ada yang bicara.

Aku mengeluarkan dua lembar kertas.
Yang pertama—fotokopi sertifikat dan kontrak tambak.
Yang kedua—bukti transfer masuk sebesar Rp800.000.000.

“Tambak itu sudah terjual.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Tidak mungkin!” teriak Andi.

“Di kontrak hanya ada satu nama. Mira Santoso. Bukan Andi Wijaya. Bukan Bu Ratna. Bukan Arman.”

Wajah Bu Ratna memucat.

“Kamu berani menjual aset keluarga?!”

“Aset keluarga?” Aku tertawa kecil. “Bibitnya dari uang orang tuaku. Kontraknya atas namaku. Tujuh tahun aku yang bekerja. Itu bukan aset keluarga. Itu hasil keringatku.”

Arman berdiri.
“Kalau begitu, mulai sekarang kamu tidak punya apa-apa di sini!”

Aku menatapnya lurus.

“Benar. Karena rumah ini pun bukan atas namaku.”

Aku mengeluarkan amplop lain.

“Dan ini… surat gugatan cerai.”

Andi gemetar.
“Kamu serius?”

“Ketika anakmu dilarang makan dan kamu bilang mereka tak akan mati kelaparan… saat itu juga aku berhenti menjadi istrimu.”

Bu Ratna berdiri dan menampar meja.

“Pergi! Bawa anak-anakmu pergi dari rumah ini!”

Aku tersenyum tipis.

“Tenang saja. Aku memang akan pergi.”

Aku mengangkat koper kecil yang sudah kusiapkan di luar.

“Besok pembeli tambak akan mengambil alih. Semua pekerja sudah kuberi tahu. Kalian tak akan menerima satu rupiah pun lagi.”

Wajah Arman berubah panik.

“Tapi… cicilan rumahku? Motor? Sekolah anakku?!”

Aku menatap Rani yang masih mengenakan kalung emas tebal itu.

“Mungkin bisa dijual.”

Aku menggandeng tangan Lala dan Sari. Bayi bungsuku kugendong erat.

Saat melangkah keluar, Andi berteriak,
“Mira! Kamu tak bisa hidup tanpa keluarga ini!”

Aku berhenti sejenak.

Tanpa menoleh, aku menjawab pelan,
“Keluarga? Keluarga tidak pernah membiarkan anak-anak kelaparan.”

Aku keluar dari rumah itu dengan kepala tegak.


Enam Bulan Kemudian

Aku menyewa rumah kecil di kota. Tidak besar, tapi hangat.

Sebagian uang hasil penjualan tambak kugunakan untuk membuka usaha distribusi hasil laut sendiri. Pengalaman tujuh tahun tak sia-sia.

Penghasilanku stabil.

Lala kini sekolah di tempat yang layak. Sari ikut les menggambar. Bayi bungsuku tumbuh sehat dan ceria.

Suatu sore, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal.

Itu Andi.

Arman bangkrut. Cicilan menumpuk. Rumah hampir disita.
Tambak baru yang mereka coba kelola gagal total.

Bu Ratna sakit karena stres.

Andi menulis:

“Aku salah. Bisakah kita mulai lagi?”

Aku menatap layar cukup lama.

Lalu menghapus pesan itu.

Beberapa hal bisa diperbaiki.

Tapi harga diri seorang ibu yang diinjak-injak selama tujuh tahun… tidak.

Aku memeluk ketiga anakku malam itu.

Mereka bukan kegagalan.
Mereka bukan beban.
Mereka bukan “kurang” hanya karena perempuan.

Mereka adalah alasanku untuk bangkit.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,
aku tidak lagi merasa menggenggam harapan terakhirku.

Karena kini—
aku sendiri adalah harapan itu.