Aku membantu anak perempuanku melihat hasil penerimaan universitas. Saat aku memasukkan LRN (Learner Reference Number)-nya, situs hanya memuat selama dua detik.
Lalu muncul satu baris teks:
“Pemohon ini telah menyelesaikan proses pendaftaran.”
Aku terdiam.
Anakku, Therese, sedang duduk di sofa ruang tamu saat itu, memegang gelas yogurt, menunggu Surat Penerimaan resminya.
Dia bahkan belum pergi ke mana pun hari ini.
Aku menyegarkan halaman lagi.
Sistem menampilkan:
“Pemohon atas nama Therese Cruz telah menyelesaikan pendaftaran di Departemen Biologi Molekuler dan Bioteknologi, Universitas Filipina Diliman pada 28 Agustus.”
Padahal hari ini baru 27 Agustus.
Bahkan besok belum tiba.
Siapa yang mendaftarkan anakku ke universitas?
1
Tahun ini, anakku mendapat nilai sangat tinggi dalam ujian masuk universitas. Dia berada di peringkat 87 seluruh wilayah bidang Sains dan Teknologi.
Hari pengumuman hasil, aku menangis.
Bukan hanya karena nilainya tinggi.
Tapi karena selama 18 tahun, semua perjuanganku akhirnya terbayar.
Sejak kecil, Therese sangat pintar dan bertanggung jawab.
Ayahnya, Danilo, sering berada di luar kota untuk bisnis, hanya pulang 3–4 hari dalam sebulan.
Hanya kami berdua di rumah.
Saat umur 3 tahun, dia sudah bisa membaca. Umur 5 tahun, dia bisa membaca puisi dengan lancar.
Di sekolah dasar, dia selalu peringkat 1, dinding kamarnya penuh medali.
Di SMA, dia masuk sekolah sains terbaik di kota.
Sepanjang sekolah, dia tidak pernah membuat masalah.
Sebulan sebelum ujian, dia berkata:
“Ma, jangan khawatir. Aku pasti masuk UP Diliman.”
Aku menyuruhnya jangan terlalu menekan diri.
Dia tersenyum:
“Ini bukan tekanan, Ma. Ini janji.”
Dan dia berhasil.
Saat aku memberitahu ayahnya, dia hanya diam sebentar di telepon.
“Ah, baguslah.”
Lalu menutup telepon karena “ada rapat”.
Aku terdiam.
Anakku bertanya:
“Ayah bilang apa?”
“Dia bangga padamu,” jawabku.
Dia tidak bertanya lagi.
Dia sudah terbiasa.
Sejak kecil, ayahnya memang seperti itu.
Tidak hangat, tidak dingin.
Tidak pernah datang ke pertemuan sekolah.
Hadiah ulang tahun hanya lewat sekretaris.
Saat dia juara, ayahnya hanya berkata: “Jangan sombong.”
Saat menang olimpiade sains: “Fokus saja di pelajaran utama.”
Kami pernah bertengkar karena itu.
“Kenapa kamu seperti ini terhadap anakmu?”
Jawabannya:
“Aku sibuk.”
Dua kata.
Sibuk selama 18 tahun.
Tapi anakku tetap berhasil.
Aku pikir semuanya akan baik.
Tapi malam itu, layar komputer menunjukkan:
“Pemohon ini telah selesai mendaftar.”
Tanganku dingin.
Siapa yang memakai identitas anakku?
Aku menelpon kantor penerimaan UP Diliman. Sibuk.
Menelpon lagi. Masih sibuk.
Jam sudah 11:30 malam.
Aku menyimpan tangkapan layar, lalu pergi ke kamar anakku.
Dia sudah tidur.
Di meja, buku Biologi Molekuler terbuka.
Aku berdiri lama.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Jam 3 pagi, aku memutuskan.
Besok aku pergi ke kampus.
2
Jam 6 pagi aku berangkat ke Manila dengan bus pertama.
Aku tidak memberi tahu anakku atau Danilo.
Setelah 3,5 jam, aku berdiri di kantor penerimaan UP Diliman.
“Selamat pagi, saya ingin memverifikasi status pendaftaran anak saya.”
“LRN dan ID siswa,” kata staf.
Aku menyerahkan data.
Dia mengetik.
“Therese Cruz, benar?”
“Ya.”
“Sudah terdaftar sejak kemarin sore.”
Dunia seperti runtuh.
“Tidak mungkin. Dia ada di rumah.”
“Tapi sistem menunjukkan sudah lengkap, termasuk dokumen fisik.”
“Apa saja dokumennya?”
“Akta lahir PSA, hasil ujian, Form 137, dan surat perilaku baik.”
Aku meminta formulir.
Nama: Therese Cruz.
Nomor dan data cocok.
Tapi alamat:
Unit 1702, Tower 3, Greenview Residences, Antipolo.
Rumah kami: Tuguegarao.
Itu bukan alamat kami.
Aku mengambil foto.
“Boleh lihat foto siswa?”
Di layar muncul wajah seorang gadis lain.
Bukan anakku.
Dia mencuri identitas anakku.
Aku meminta laporan cetak, ditolak.
Aku berkata:
“Aku akan lapor polisi.”
Kepala kantor dipanggil.
Dia terkejut.
“Jadi ini bukan anak Anda?”
“Bukan.”
“Dia membawa semua dokumen asli…”
“Palsu.”
Suasana menjadi tegang.
Aku meninggalkan nomor.
Di luar, aku menelpon pengacara sahabatku, Grace.
“Cari alamat ini.”
Aku menyebutkan Antipolo.
“Siapa di sana?”
“Aku tidak tahu. Tapi dia mencuri masa depan anakku.”
3
Keesokan harinya Grace mengirim pesan:
“Pemilik unit: Divina Mercado.”
Usia 35 tahun, tidak bekerja tetap.
Membeli unit itu tahun 2014.
Harga: 5,8 juta peso tunai.
(≈ 5,8 juta PHP ~ ± 1,6–1,8 miliar rupiah tergantung kurs)
2014… saat anakku baru 6 tahun.
Bagaimana seseorang tanpa pekerjaan bisa membeli apartemen tunai?
Aku bertanya:
“Kamu bisa telusuri sumber uangnya?”
“Bisa, tapi ini akan dalam.”
“Aku mau lanjut.”
(To be continued…)

Grace meneleponku malam itu, suaranya jauh lebih pelan dari biasanya.
“Ada sesuatu… kamu harus siap.”
Dadaku langsung menegang.
“Divina Mercado bukan hanya pembeli unit apartemen itu.”
Aku diam.
“Dua belas tahun lalu, dia pernah bekerja di sebuah pusat layanan administrasi data pendidikan… tempat yang menangani sistem pendaftaran siswa.”
Tanganku mulai dingin.
“Maksudmu…”
“Ya. Dia pernah punya akses ke sistem lama beberapa universitas. Dan yang lebih penting… di arsip karyawan lama, ada nama Danilo Cruz.”
Aku terdiam.
Danilo.
Suamiku.
Aku tidak ingat bagaimana aku sampai di Antipolo malam itu.
Hujan turun ketika aku berdiri di depan Greenview Residences – Unit 1702.
Pintu tidak terkunci.
Di dalamnya, apartemen itu rapi… tapi terasa kosong, seperti tidak pernah benar-benar dihuni.
Di atas meja, ada satu map tebal.
Nama di sampulnya: THERESA CRUZ
Aku membukanya dengan tangan gemetar.
Isinya penuh dokumen anakku.
Tapi bukan hanya itu.
Ada catatan tulisan tangan:
“Jika rencana gagal, anak ini tetap akan menjadi milikku secara hukum.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Tiba-tiba…
“Cepat juga kamu datang.”
Suara pria dari belakang.
Aku menoleh.
Danilo.
Dia berdiri di sana, tenang… terlalu tenang.
Tidak terkejut. Tidak panik.
Hanya lelah.
“Kamu yang melakukan ini?” suaraku bergetar.
Dia diam sejenak.
“Therese terlalu istimewa. Kalau dia mengikuti sistem biasa, dia akan hancur.”
“Apa kamu gila?! Kamu mencuri identitas anak kita sendiri!”
Dia menghela napas.
“Aku hanya membuka jalannya. Identitas baru, dokumen baru, semuanya dibuat agar dia bisa masuk tanpa hambatan.”
“Dan kamu menyebut itu ‘membantu’?”
Dia menatapku.
“Divina hanya menyelesaikan tahap akhir. Dia punya utang padaku sejak lama… 5,8 juta peso, sudah aku lunasi dengan cara lain.”
Aku tertawa pahit.
“Jadi kamu menjadikan anak kita eksperimen masa depan?”
Dia terdiam.
“Aku hanya ingin dia bertahan di dunia ini.”
Tiba-tiba pintu terbuka.
Therese masuk.
Dia berhenti di tengah ruangan.
Tidak panik. Tidak menangis.
Di tangannya masih ada ponsel.
“Aku sudah tahu semuanya.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Aku masuk ke sistem sejak kemarin,” katanya pelan. “Aku melihat semua perubahan data.”
Aku berbisik:
“Jadi kamu…”
Therese menatapku.
“Aku tidak pernah ‘hilang’, Ma.”
Lalu dia menatap Danilo.
“Tapi ayah salah satu hal.”
Danilo mengernyit.
“Aku tidak butuh kehidupan yang sudah ditentukan untuk bisa bertahan.”
Sunyi.
Hanya suara hujan di luar jendela.
Sebulan kemudian, seluruh kasus diselidiki ulang.
Semua data palsu dibatalkan.
Beberapa petugas administrasi pendidikan ditangguhkan.
Danilo menyerahkan diri tanpa perlawanan.
Divina Mercado menghilang dari semua catatan resmi, seperti tidak pernah ada.
Hari surat penerimaan resmi datang, aku dan Therese berdiri di gerbang Universitas Filipina Diliman.
Dia memegang kertas itu.
Lalu berkata:
“Ma… kali ini aku mau memilih jalanku sendiri.”
Aku mengangguk.
Tidak berkata apa-apa lagi.
Karena untuk pertama kalinya, aku mengerti sesuatu.
Tidak semua masa depan yang dirancang adalah bentuk cinta.
Dan tidak semua kontrol adalah perlindungan.
Therese melangkah masuk ke kampus.
Kali ini, tidak ada yang berjalan menggantikannya.