Aku memegang segelas milk tea sambil berjalan santai di trotoar kawasan Sudirman, Jakarta. Hidup seharusnya seperti ini—tenang, tanpa beban.

Aku memegang segelas milk tea sambil berjalan santai di trotoar kawasan Sudirman, Jakarta. Hidup seharusnya seperti ini—tenang, tanpa beban.

Tiba-tiba seseorang menghalangi jalanku.

Dengan malas aku bergeser ke kanan.
Eh, dia ikut menghalangi lagi.

Kesabaranku habis. Aku mengangkat kepala.

Seorang wanita elegan berdiri di depanku. Perhiasannya berkilauan, tas Hermes tergantung anggun di lengannya. Dari atas sampai bawah, semuanya berteriak: orang kaya.

“Permisi, Tante. Anda menghalangi jalan saya. Bisa minggir sedikit?”

Aku masih tahu sopan santun.

“Tante?” Dia menaikkan alisnya.

“Kalau mau dipanggil Kakak juga boleh. Tapi kelihatannya sudah masuk kategori nenek.”

Wajahnya menegang, jelas menahan emosi.
Menarik.

“Kamu Raisa Hartono?”

Dia tahu namaku.

Oke. Ini bukan kebetulan.

“Iya, saya Raisa. Dan Anda siapa?”

“Bukan tempat yang tepat untuk bicara. Masuk mobil. Kita ke Plaza Indonesia, minum kopi.”

Dia sudah berbalik seolah yakin aku akan ikut.

“Gila,” gumamku dan hendak pergi.

“Tunggu! Kamu tidak bisa pergi.”

Aku menepis tangannya. “Anda mau apa sebenarnya?”

“Menurutmu aku mau menculikmu?”

Aku menyeringai. “Bisa saja. Saya muda, sehat, ginjal saya masih bagus. Siapa tahu mau dijual ke sindikat internasional.”

“Kamu kebanyakan nonton sinetron,” katanya kesal.

“Kalau begitu, siapa Anda? Satu langkah lagi saya teriak minta satpam.”


Pengakuan

“Raisa Hartono, 26 tahun. Besar di Panti Asuhan Kasih Bunda. Pekerjaan freelance, penghasilan tidak tetap…”

Mataku menyipit. “Anda menyelidiki saya? Intel?”

“Aku ibu kandungmu. Namaku Helena Wijaya.”

Aku tertawa keras.

“Kenapa kamu tertawa?”

“Karena ini lucu. Kalau benar Anda ibu saya, berarti saya apes delapan turunan.”


Di Coffee Shop

Akhirnya aku ikut juga. Kenapa?
Rasa penasaran… dan mungkin peluang finansial.

Wanita itu—Helena—mengeluarkan tiga laporan tes DNA.

“Sebelum menemuimu, aku sudah melakukan tes. Kamu adalah putri kandung keluarga Wijaya. Bayi kami tertukar di rumah sakit.”

“Tunggu. Tes DNA? Anda ambil sampel saya tanpa izin? Itu ilegal, tahu.”

Dia terdiam.

“Kamu peduli soal itu sekarang?”

“Saya peduli hukum,” jawabku santai.


Putri “Palsu”

“Kamu harus pulang. Darah keluarga Wijaya tidak boleh hidup di luar.”

“Lalu bagaimana dengan gadis yang sekarang tinggal di rumah Anda?”

Namanya Vanessa Wijaya. Sosialita Instagram. Hidup mewah.

Helena ragu sesaat.

“Dia juga korban. Kalian tertukar tanpa sengaja.”

Aku menyeringai. “Tanpa sengaja? Saya dibuang ke panti asuhan. Kedengarannya tidak terlalu ‘tanpa sengaja’.”

“Keluarga Wijaya sangat kaya. Kami bisa menghidupi seratus orang sepertimu.”

“Bagus. Berarti satu saya tidak masalah.”


Uang Pertama

“Kalau benar Anda ibu saya,” kataku sambil menyodorkan telapak tangan,
“sebagai kompensasi 26 tahun penderitaan, minimal Rp3.000.000.000 dulu.”

Dia terperangah. “Kamu hanya memikirkan uang?”

“Saya realistis.”

Beberapa menit kemudian, notifikasi masuk.

Transfer masuk: Rp3.000.000.000

Mataku berbinar.

Wow. Jadi begini rasanya jadi anak orang kaya.


Tawaran

Helena menatapku serius.

“Pulanglah. Kamu pewaris sah Grup Wijaya. Aset keluarga kami bernilai lebih dari Rp8 triliun.”

Aku menyeruput kopi.

“Kontraknya apa?”

“Apa maksudmu?”

“Saya kembali sebagai putri kandung. Hak waris jelas. Tidak ada perlakuan diskriminatif. Tidak ada drama menjatuhkan Vanessa. Kalau ada, saya keluar.”

Dia terpaku. Mungkin tidak menyangka anak panti asuhan bicara soal kontrak.

“Saya tidak ingin jadi karakter antagonis di keluarga Anda,” lanjutku tenang.
“Saya mau jadi pemegang saham.”

Helena akhirnya tertawa kecil.
“Kamu memang darah keluarga Wijaya.”


Aku berdiri.

“Anggap Rp3 miliar itu uang muka. Sisanya nanti kita negosiasi.”

“Kamu akan pulang?”

Aku tersenyum tipis.

“Saya akan pulang sebagai investor. Bukan sebagai anak yang minta kasih sayang.”

Karena dalam hidupku, satu hal sudah kupelajari:

Perasaan bisa menyusul.
Tapi uang?
Itu fondasi dulu.

Aku tidak lagi menangis.

Bukan karena rasa sakitnya sudah hilang, tetapi karena akhirnya aku mengerti—tidak semua yang pergi berarti kehilangan, dan tidak semua yang menyakiti pantas untuk ditangisi.

Hari itu, aku menutup pintu rumah dengan kepala tegak. Bukan sebagai seseorang yang kalah, tetapi sebagai seseorang yang memilih untuk berhenti bertahan di tempat yang salah.

Beberapa bulan kemudian, hidupku berubah perlahan.

Aku mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji Rp18.000.000 per bulan. Aku menyewa apartemen kecil di pusat kota Jakarta. Tidak mewah, tapi cukup untuk membuatku merasa damai. Untuk pertama kalinya, aku bisa membeli sesuatu tanpa perlu meminta izin siapa pun.

Suatu sore, ketika hujan turun perlahan di balik jendela kaca, ponselku berdering.

Namanya muncul di layar.

Aku menatapnya cukup lama… lalu tersenyum kecil.

Kali ini, bukan karena masih berharap.

Tetapi karena aku sadar—aku sudah tidak peduli lagi.

Aku menekan tombol “blokir”.

Dan di detik itu juga, aku tahu…

Yang sebenarnya pergi bukanlah dia dari hidupku.

Melainkan aku dari masa laluku sendiri.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,

aku merasa benar-benar bebas.