Aku memiliki sepasang orang tua yang dikagumi semua orang. Ayahku adalah Dekan Fakultas Sains di sebuah universitas ternama di Jakarta, sementara ibuku bekerja sebagai penasihat akademik kampus.

Para kerabat sering berkata:

“Beruntung sekali kamu, Nara. Masa depanmu sudah terjamin.”

Hanya aku yang tahu bahwa jalan yang mereka siapkan untukku adalah jalan yang dipenuhi duri.

Pada tahun kedua kuliah, aku mendaftar untuk beasiswa nasional paling bergengsi. Nilai IPK-ku adalah yang tertinggi, dan aku lolos wawancara panel dengan suara bulat.

Namun ketika hasil diumumkan, penerima beasiswa justru seorang teman sekelas yang nilainya sepuluh poin di bawahku dan setiap hari memamerkan tas Louis Vuitton mahalnya di media sosial.

Aku menangis karena marah dan kecewa, tetapi ibuku hanya menjawab tanpa sedikit pun rasa bersalah:

“Untung saja di kolom penilaian penasihat akademik, Ibu menulis bahwa kamu memiliki masalah kedisiplinan. Karena itu kamu tidak terpilih.”

“Kamu anak dosen. Kalau kamu yang mendapat beasiswa itu, apa kata orang? Bukankah kita harus menghindari konflik kepentingan?”

Sejak saat itu aku bekerja lebih keras. Aku selalu menjadi peringkat pertama di jurusanku dan bahkan berhasil menerbitkan tiga paper penelitian Q1 SCI.

Ketika kesempatan untuk mengikuti program percepatan magister di Universitas Indonesia semakin dekat, aku langsung mendaftar.

Namun setelah mengirimkan berkas, sistem menampilkan pemberitahuan:

“Kualifikasi Anda untuk program magister telah dibatalkan.”

Aku hampir kehilangan kendali dan langsung pulang untuk meminta penjelasan. Ayah hanya menghela napas.

“Ayah adalah dekan fakultas. Kalau kamu diterima langsung, bukankah orang-orang akan mengira ada jalur belakang atau orang dalam?”

“Untuk menghindari konflik kepentingan, kamu harus membuktikan kemampuanmu sendiri lewat ujian masuk.”

Kali ini aku tidak menangis ataupun membantah.

Aku hanya mengangguk dan berkata,

“Baik, Yah.”

Mereka tidak tahu bahwa selama satu tahun aku mempersiapkan ujian profesi dan program magister, aku juga diam-diam mengambil langkah lain.

Aku lulus seleksi Aparatur Sipil Negara dan diterima sebagai Auditor Junior di Badan Pengawasan Pendidikan Nasional, bertugas memeriksa berbagai penyimpangan dalam sistem pendidikan.

Aku ingin melihat…

Jika aku sendiri yang membongkar semua tindakan mencurigakan yang selama ini mereka lakukan atas nama “menghindari konflik kepentingan”…

Apakah mereka masih bisa mempertahankan citra sebagai orang yang begitu menjunjung integritas?

1

Ketika melihat aku tidak lagi membantah, ekspresi Ayah dan Ibu akhirnya melunak.

“Nara, jangan menyalahkan kami. Siapa suruh kamu lahir sebagai anak seorang dosen?”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

Benar.

Status sebagai “anak dosen” adalah rantai tak terlihat yang hampir mencekikku selama bertahun-tahun.

Saat tahun pertama kuliah, di tengah latihan bela negara kampus, pandanganku tiba-tiba menghitam dan tubuhku hampir pingsan karena kepanasan.

Instruktur melihat wajahku yang pucat dan segera menyuruhku beristirahat.

“Nak, kamu kelihatannya terkena heatstroke. Pulang saja dulu.”

Namun karena pelatihan itu terpusat, aku memerlukan tanda tangan penasihat akademik untuk keluar dari area kampus.

Dengan kaki yang gemetar, aku menuju kantor Ibu.

“Bu, aku kena heatstroke. Tolong tanda tangani surat izin ini.”

Bahkan tanpa menoleh dari layar komputer, beliau berkata,

“Kalau heatstroke, minum air yang banyak. Jangan manja.”

“Kamu anak penasihat akademik. Kalau kamu pulang begitu saja, apa kata mahasiswa lain? Kembali ke barisan dan jangan memanfaatkan statusmu!”

Aku tidak berkata apa-apa lagi.

Begitu keluar dari kantor, aku langsung pingsan.

Saat sadar, aku sudah berada di klinik kampus.

Dokter berkata dengan wajah serius:

“Ini berbahaya. Kalau terlambat sedikit saja, kamu bisa mengalami heatstroke berat yang mengancam nyawa.”

Pada semester dua tahun kedua, teman-teman sekelasku memilihku sebagai kandidat untuk bergabung dengan organisasi mahasiswa paling prestisius.

Ayahku kebetulan menjadi salah satu anggota dewan penilai.

Malam itu, teman sekamarku datang dengan wajah ragu.

“Nara… pengajuanmu resmi ditolak.”

Dengan marah aku langsung menelepon Ayah.

“Yah! Aku bekerja keras selama dua tahun untuk memenuhi semua persyaratan, dan aku memenangkan pemungutan suara mahasiswa! Kenapa Ayah tidak mengizinkanku?”

Ayah menjawab dengan kesal:

“Memangnya kenapa kalau kamu menunggu satu tahun lagi?”

Aku terdiam.

Beliau melanjutkan:

“Ayah sedang dalam proses penilaian untuk penghargaan dosen nasional. Kalau kamu langsung diterima, nanti orang mengira Ayah memihak anak sendiri.”

“Lebih baik kesempatan itu diberikan kepada orang lain agar semua orang melihat bahwa Ayah adil. Jangan membuat keributan.”

Tut.

Telepon ditutup.

Beberapa waktu kemudian, posisi itu diberikan kepada seorang mahasiswa yang bahkan sering gagal ujian.

Sementara Ayah berhasil memenangkan penghargaan nasional tersebut.

Pada tahun ketiga, jurusan mengumumkan sepuluh slot magang di berbagai instansi pemerintah.

Kesempatan itu sangat penting.

Aku mendaftar, memperoleh nilai tertinggi dalam tes dan wawancara, lalu diterima.

Namun tiga hari setelah magang dimulai, supervisorku memanggil dengan wajah canggung.

“Nara, Dekan fakultasmu menelepon langsung. Beliau mengatakan kamu tidak cocok untuk posisi ini dan meminta kami memulangkanmu.”

Dipermalukan seperti itu di depan rekan kerja terasa seperti tamparan keras di wajahku.

“Kenapa, Pak? Saya bekerja dengan baik dan tidak melanggar aturan apa pun…”

“Nara,” potong beliau pelan, “ini perintah dari dekanmu. Saya tidak bisa berbuat apa-apa.”

Aku langsung pulang.

“Yah, Bu, apakah kalian yang membuatku dikeluarkan dari program magang itu?”

Ibu langsung marah.

“Posisi seperti itu sangat sulit didapat! Kalau kamu magang di sana, orang pasti mengira Ayahmu memakai koneksi untuk memasukkanmu.”

“Untuk menghindari konflik kepentingan, lebih baik kamu magang saja di perusahaan ekspedisi dekat kompleks rumah kita!”

Tubuhku gemetar menahan amarah.

“Aku mahasiswa matematika! Kalian ingin aku menghabiskan musim panas menyortir paket?”

“Itu tetap pekerjaan yang terhormat,” kata Ayah dengan tenang. “Lagipula kamu sudah pintar. Kamu tidak membutuhkan magang itu.”

Musim panas itu, ketika teman-teman sekelasku magang di bank-bank besar dan perusahaan ternama, aku berdiri di gudang ekspedisi, memindai paket setiap hari sambil menjadi bahan ejekan orang-orang yang kukenal.

Semua kenangan itu terus berputar di kepalaku seperti film yang tak pernah berhenti.

Dan semuanya dilakukan oleh kedua orang tuaku dengan alasan yang sama:

Untuk menghindari konflik kepentingan.

2

Mereka berhasil menjaga reputasi mereka.

Tetapi masa depanku hancur karenanya.

Saat itu aku tersenyum dan berkata perlahan,

“Baik, sekarang aku mengerti. Mulai sekarang aku tidak akan mengganggu pekerjaan kalian lagi.”

Ayah dan Ibu saling berpandangan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajah mereka tampak lega.

“Bagus kalau begitu. Nara, jangan khawatir. Selama tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kami, kamu bebas melakukan apa pun yang kamu mau.”

Mereka tidak tahu bahwa saat mengucapkan kalimat itu, surat penugasanku sebagai Auditor Junior sudah resmi keluar.

Sebulan kemudian, aku pindah ke Jakarta tanpa banyak bicara.

Ayah dan Ibu mengira aku akhirnya menyerah.

Mereka bahkan terlihat lega saat mengantarku ke stasiun.

“Nara akhirnya mengerti niat baik kita,” kata Ibu kepada Ayah.

Aku hanya tersenyum.

Mereka tidak pernah sadar bahwa selama bertahun-tahun, aku bukan sedang belajar matematika.

Aku sedang belajar bagaimana kekuasaan bekerja.

Dan bagaimana penyalahgunaan kekuasaan disembunyikan di balik kata-kata yang terdengar mulia.


Enam bulan kemudian, sebuah tim audit khusus dibentuk untuk memeriksa berbagai laporan terkait penyalahgunaan wewenang di lingkungan pendidikan tinggi.

Namaku ada di dalam tim itu.

Ketika daftar kasus dibuka, aku melihat dua nama yang sangat familiar.

Prof. Arman Prasetyo.

Dr. Maya Prasetyo.

Ayah dan Ibuku.

Tanganku sempat berhenti selama beberapa detik.

Bukan karena ragu.

Melainkan karena akhirnya hari itu benar-benar datang.

Selama bertahun-tahun mereka selalu berkata:

“Kita harus menghindari konflik kepentingan.”

Tetapi anehnya, setiap kali mereka berbicara tentang integritas, yang selalu dikorbankan adalah aku.

Bukan orang lain.

Selalu aku.


Penyelidikan berlangsung selama tiga bulan.

Semakin dalam kami memeriksa, semakin banyak masalah yang muncul.

Beberapa mahasiswa yang memiliki prestasi lebih rendah ternyata menerima rekomendasi khusus.

Beberapa program yang seharusnya terbuka untuk semua mahasiswa justru diatur berdasarkan hubungan pribadi.

Dan yang paling ironis…

Dokumen beasiswaku.

Dokumen organisasi mahasiswa.

Dokumen program magister.

Semuanya masih tersimpan rapi.

Lengkap dengan tanda tangan mereka.

Lengkap dengan alasan penolakan yang dibuat secara sepihak.

Setiap halaman terasa seperti luka lama yang dibuka kembali.

Tetapi kali ini aku tidak menangis.

Aku hanya memindainya satu per satu dan memasukkannya ke dalam laporan.


Hari sidang etik tiba.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Ayah dan Ibu duduk di kursi pihak yang diperiksa.

Rambut Ayah sudah lebih banyak uban.

Wajah Ibu tampak jauh lebih tua.

Ketika melihatku masuk ke ruangan, keduanya membeku.

“Nara…”

Suara Ibu bergetar.

Aku mengangguk sopan.

“Selamat pagi, Bu.”

Tidak ada lagi sapaan hangat.

Tidak ada lagi rasa takut.

Hanya hubungan profesional antara auditor dan pihak yang diaudit.

Sidang berlangsung selama empat jam.

Semua bukti dipaparkan.

Semua keputusan mereka dibacakan satu per satu.

Semua dampaknya dijelaskan.

Untuk pertama kalinya, mereka mendengar bagaimana seorang mahasiswa kehilangan beasiswa.

Bagaimana seorang mahasiswa kehilangan kesempatan organisasi.

Bagaimana seorang mahasiswa kehilangan program magister.

Bagaimana seorang mahasiswa kehilangan masa mudanya.

Karena dua orang tua yang terlalu mencintai reputasi mereka sendiri.

Ruangan menjadi sunyi.

Ayah menundukkan kepala.

Ibu mulai menangis.

“Nara…”

“Semua yang kami lakukan demi melindungimu.”

Aku menatap mereka lama.

Lalu menggeleng perlahan.

“Tidak.”

“Kalian tidak melindungiku.”

“Kalian melindungi citra kalian sendiri.”

“Kalau benar kalian ingin melindungiku, seharusnya kalian berdiri di sampingku saat aku berjuang. Bukan menjadi orang pertama yang menarikku jatuh.”

Air mata Ibu mengalir semakin deras.

Tetapi kali ini aku tidak merasa puas.

Tidak juga marah.

Yang kurasakan hanyalah lelah.

Sangat lelah.


Setelah sidang selesai, keputusan akhir diumumkan.

Keduanya menerima sanksi disipliner dan dicopot dari beberapa jabatan administratif.

Berita itu menyebar ke seluruh kampus.

Orang-orang terkejut.

Sebagian mengecam.

Sebagian lagi merasa akhirnya keadilan ditegakkan.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidur nyenyak.

Tanpa dendam.

Tanpa amarah.

Tanpa keinginan untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun.


Setahun kemudian, aku diterima penuh dalam program magister yang dulu gagal kuraih.

Bukan karena aku anak dekan.

Bukan karena koneksi.

Bukan karena belas kasihan.

Melainkan karena nilainya memang milikku.

Prestasinya memang milikku.

Kerja kerasnya memang milikku.

Pada hari wisuda, aku berdiri di atas panggung menerima penghargaan mahasiswa terbaik.

Di antara ribuan orang, aku melihat Ayah dan Ibu duduk di barisan belakang.

Mereka bertepuk tangan.

Tidak lagi sebagai dekan.

Tidak lagi sebagai penasihat akademik.

Hanya sebagai dua orang tua yang akhirnya sadar bahwa anak mereka tidak pernah membutuhkan jalan pintas.

Yang ia butuhkan hanyalah kesempatan yang adil.

Ketika acara selesai, Ayah menghampiriku dengan mata memerah.

“Nara… maafkan Ayah.”

Aku menatap langit sore yang cerah.

Lalu tersenyum kecil.

“Ayah tidak perlu meminta maaf karena aku sudah berhasil.”

“Tapi semoga suatu hari nanti, tidak ada anak lain yang harus membayar harga yang sama seperti yang kubayar.”

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

Aku benar-benar merasa bebas.