Aku menangis di pelukannya seperti istri bodoh yang takut ditinggal suami tercinta.
Padahal… di balik kacamata hitamku, tidak ada lagi cinta yang tersisa.
Hanya penghinaan.
Dan rencana.
James mencium keningku sebelum berjalan menuju pintu keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
Dia bahkan masih sempat melambaikan tangan sambil tersenyum manis.
Seolah-olah dia benar-benar akan terbang ke Toronto demi masa depan kami.
Aku membalas lambaian itu.
Lalu… aku menunggu.
Bukan untuk dua tahun.
Hanya dua puluh menit.
Dua puluh menit setelah dia masuk ke area keberangkatan, ponselku bergetar.
Pesan dari investigator pribadiku.
【Target keluar melalui Gate 6. Tidak ada boarding pass internasional. Sekarang menuju parkiran bersama seorang wanita hamil.】
Aku tersenyum kecil.
Tepat seperti dugaanku.
Aku membuka aplikasi bank.
Rekening joint savings kami masih aktif.
US$650.000.
Perlahan jariku menekan tombol transfer.
Semua dana.
Ke rekening offshore atas namaku sendiri.
TRANSFER SUCCESSFUL.
Dalam hitungan detik… James resmi menjadi pria miskin.
Lalu aku mengirim satu email terakhir.
Kepada pengacaraku.
“Proceed with the divorce filing.”
Aku melepas cincin pernikahanku.
Menatapnya beberapa detik.
Lima tahun pernikahan.
Lima tahun aku membangun hidup bersama pria yang ternyata hanya menungguku lengah.
Aku memasukkan cincin itu ke dalam tas.
Dan pulang.
Malam itu, James akhirnya menelepon.
Video call.
Aku sengaja mengangkatnya.
Di layar, dia berada di dalam condo mewah di kawasan SCBD bersama Erica yang sedang hamil besar.
Mereka tampak panik.
— “Sarah… listen first…”
Aku menuang wine ke gelasku dengan santai.
— “Toronto terlihat sangat tropis ya.”
Wajah James langsung pucat.
Erica membeku.
Aku melanjutkan:
— “Atau memang udara BGC sekarang sudah mirip Kanada?”
Dia langsung marah.
— “Kamu ngikutin aku?!”
Aku tertawa pelan.
— “Tidak perlu.”
— “Kamu terlalu bodoh untuk menyembunyikan apa pun.”
James mulai panik.
— “Sarah, uang kita—”
— “Salah.” potongku dingin.
— “Uangku.”
Aku memperlihatkan screenshot saldo rekening kosong.
Nol.
Benar-benar nol.
Erica langsung menangis.
— “James, kamu bilang uangnya aman!”
James membentak panik:
— “Sarah, balikin dulu uangnya! Kita bisa ngomong baik-baik!”
Aku menatap pria itu lama.
Pria yang dulu bersumpah akan mencintaiku selamanya.
Pria yang menangis saat memasangkan cincin di jariku.
Dan sekarang… bahkan anak dalam kandungan selingkuhannya pun dibiayai dari uangku.
— “Kamu tahu bagian paling lucu?” tanyaku tenang.
Dia diam.
Aku tersenyum.
— “Aku benar-benar sempat ingin ikut pindah ke Kanada bersamamu.”
Sunyi.
Lalu aku mengakhiri panggilan.
Seminggu kemudian, berita tentang gugatan perceraian kami menyebar di kalangan bisnis Jakarta.
Karena ternyata… James diam-diam memakai namaku untuk mengajukan beberapa utang investasi.
Saat semua itu terbongkar, klien-kliennya langsung menghilang.
Condo mewah itu tidak bisa lagi mereka bayar.
Mobil leasing disita.
Dan Erica… meninggalkannya bahkan sebelum bayi mereka lahir.
Sedangkan aku?
Enam bulan kemudian, aku berdiri di balkon apartemen baruku di Singapore River.
Tenang.
Mewah.
Sunyi.
Tidak ada lagi kebohongan.
Tidak ada lagi pria yang hidup dari pengorbananku.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari nomor lama James:
“Aku menyesal.”
Aku membaca pesan itu sambil tersenyum kecil.
Lalu menghapusnya.
Karena beberapa orang… baru sadar nilai seseorang setelah kehilangan semuanya.
Dan saat itu terjadi…
sudah terlambat.

Setahun kemudian…
aku kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai istri James.
Bukan sebagai perempuan yang pernah menangis di bandara.
Tapi sebagai Regional Director termuda di perusahaan investasiku sendiri.
Malam itu, sebuah gala bisnis besar digelar di hotel mewah kawasan Sudirman.
Lampu kristal berkilau.
Musik jazz mengalun pelan.
Semua orang mengenakan pakaian terbaik mereka.
Dan saat aku melangkah masuk dengan gaun hitam sederhana namun elegan… seluruh ruangan menoleh.
— “Itu Sarah Dela Cruz?”
— “Katanya dia pindah ke Singapore!”
— “Dia sekarang pegang investasi miliaran!”
Aku hanya tersenyum kecil.
Karena dulu… orang-orang yang sama juga membicarakanku saat pernikahanku hancur.
Lalu aku melihat seseorang di ujung ruangan.
James.
Dia berdiri sendirian dekat meja minuman.
Jasnya murah.
Wajahnya lelah.
Tidak ada lagi aura percaya diri yang dulu selalu dia pamerkan.
Untuk sesaat… mata kami bertemu.
Dan aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya darinya.
Penyesalan.
Dia perlahan mendekat.
— “Sarah…”
Suaranya pelan.
Hampir tidak terdengar.
Aku menatapnya tenang.
— “Hai, James.”
Dia tersenyum pahit.
— “Kamu kelihatan bahagia.”
Aku mengangguk.
— “Aku memang bahagia.”
Kalimat sederhana itu langsung menghancurkannya.
Karena dia sadar…
aku benar-benar sudah melanjutkan hidup.
Tanpa dirinya.
Dia menarik napas panjang.
— “Aku dengar Erica pergi ke Australia.”
Aku diam.
Tidak tertarik.
Dia tertawa kecil… tawa orang yang kalah.
— “Anakku bahkan tidak mengenalku.”
Aku tetap tidak bicara.
Karena beberapa luka… tidak lagi membutuhkan balasan.
James menatapku lama.
Matanya mulai merah.
— “Kalau waktu bisa diulang…”
Aku langsung memotongnya.
— “Tapi waktu tidak bisa diulang.”
Sunyi.
Musik di ballroom tetap berjalan.
Orang-orang tetap tertawa.
Tapi di antara kami… semuanya sudah berakhir sejak lama.
Lalu MC memanggil namaku ke atas panggung untuk menerima penghargaan.
Saat aku berjalan melewati James, dia berbisik:
— “Aku kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintaiku.”
Langkahku berhenti sesaat.
Aku menoleh pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah semua pengkhianatan itu… aku tidak marah lagi.
Aku hanya merasa kasihan.
Kasihan pada pria yang menukar cinta tulus dengan kebohongan sementara.
Aku tersenyum kecil.
— “Bukan, James.”
Dia menatapku.
Aku melanjutkan dengan tenang:
— “Kamu tidak kehilangan aku malam saat aku transfer uang itu.”
— “Kamu kehilangan aku… saat pertama kali memilih berbohong.”
Air mata jatuh dari matanya.
Sedangkan aku…
berjalan naik ke atas panggung dengan kepala tegak.
Lampu menyorot wajahku.
Semua orang bertepuk tangan.
Dan di tengah suara meriah malam Jakarta itu…
aku akhirnya sadar:
balas dendam terbaik bukan menghancurkan orang yang menyakitimu.
Melainkan hidup bahagia… seolah mereka tidak pernah berhasil menghancurkanmu sama sekali.