AKU MENANGIS SAAT MENGANTAR SUAMIKU KE BANDARA KARENA DIA BILANG AKAN “DUA TAHUN” DI TORONTO — TAPI BEGITU PULANG, AKU MEMINDAHKAN Rp10 MILIAR KE REKENINGKU DAN MENGAJUKAN CERAI.

AKU MENANGIS SAAT MENGANTAR SUAMIKU KE BANDARA KARENA DIA BILANG AKAN “DUA TAHUN” DI TORONTO — TAPI BEGITU PULANG, AKU MEMINDAHKAN Rp10 MILIAR KE REKENINGKU DAN MENGAJUKAN CERAI.

Kami berada di area keberangkatan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

James memelukku erat.

“Shh, nggak apa-apa, Sayang,” bisiknya sambil mengusap rambutku. “Cuma dua tahun di Toronto. Ini demi masa depan kita. Aku harus ambil tawaran perusahaan supaya kita bisa punya tabungan besar.”

Aku menangis di dadanya.

“A-aku bakal kangen kamu, James. Hati-hati di sana ya? Jangan lupa sering telepon.”

“I promise,” katanya sambil mencium keningku. “Kamu yang urus semuanya dulu di sini. I love you, Sarah.”

Aku melihatnya berjalan menuju imigrasi.

Ia melambaikan tangan untuk terakhir kalinya.

Aku membalas lambaian itu dengan mata penuh air mata.

Tetapi…

begitu tubuhnya hilang dari pandangan—

air mataku langsung berhenti.

Aku mengusap pipiku perlahan.

Wajah sedih itu menghilang.

Digantikan ekspresi dingin dan tenang.

Aku keluar dari bandara dengan kepala tegak.

Karena “penugasan Toronto” itu?

Kebohongan besar.

Tiga hari sebelum penerbangannya, saat James mandi, aku melihat laptopnya terbuka.

Tidak ada email tawaran kerja dari Kanada.

Yang ada justru booking apartemen mewah di kawasan SCBD Jakarta.

Apartemen yang ia sewa untuk dirinya sendiri…

dan selingkuhannya.

Erica.

Yang sedang hamil.

James berencana berpura-pura tinggal di luar negeri agar bisa hidup bebas bersama wanita itu tanpa aku mengganggu.

Dan yang lebih menjijikkan?

Ia juga berencana menggunakan rekening tabungan bersama kami—
sekitar 650 ribu dolar AS, hampir Rp10 miliar—
uang hasil warisan keluargaku dan kerja kerasku bertahun-tahun.

Ia pikir aku bodoh.

Ia pikir aku percaya drama menangisnya di bandara.

Aku masuk ke mobil dan pulang.

Begitu sampai rumah, aku langsung menuju ruang kerja.

Kubuka laptop.

Login ke rekening bersama kami.

Saldo masih utuh:

USD 650,000.00

Uang yang rencananya akan ia ambil sedikit demi sedikit setelah “mendarat di Toronto.”

Tanganku gemetar.

Bukan karena takut.

Tetapi karena marah.

“Kamu mau hidup baru, James?”

Aku tersenyum dingin sambil mengetik.

Dalam waktu kurang dari lima menit…

seluruh dana berpindah ke rekening pribadiku yang dibuat dari dana warisan keluarga sebelum pernikahan.

Selesai.

Lalu aku membuka folder lain.

Folder berisi:
screenshot chat,
foto James dan Erica,
kontrak apartemen,
dan hasil konsultasiku dengan pengacara selama dua hari terakhir.

Ya.

Aku sudah menyiapkan semuanya bahkan sebelum mengantarnya ke bandara.

Teleponku bergetar.

Pesan dari James.

“Love, baru boarding. Jangan nangis terus ya 😊”

Aku tertawa kecil.

Lalu memblokir nomornya.

Malam itu juga, pengacaraku mengajukan gugatan cerai resmi ke pengadilan.

Beserta permohonan pembekuan akses James terhadap seluruh aset bersama sampai investigasi finansial selesai.

Keesokan paginya…

James panik.

Puluhan panggilan masuk dari nomor asing.

Aku tidak mengangkat satu pun.

Sampai akhirnya Erica sendiri mengirim pesan.

“Sarah, please… James bilang ini cuma salah paham.”

Salah paham?

Aku menatap layar sambil tersenyum hambar.

Suamiku menyewa apartemen untuk perempuan lain.
Menghamili dia.
Memalsukan hidup di luar negeri.
Dan mencoba mengambil uangku untuk membangun keluarga baru.

Lalu mereka menyebutnya salah paham.

Tiga hari kemudian, James muncul di depan rumah.

Wajahnya berantakan.
Matanya merah karena tidak tidur.

Ia terus menekan bel.

“Sarah! Tolong buka! Kita bisa bicara!”

Aku turun perlahan dari tangga.

Tetapi tidak membuka pintu.

Aku hanya berdiri di balik kaca besar ruang tamu.

James menatapku penuh putus asa.

“Please… aku bikin kesalahan…”

Aku menatapnya lama.

Pria yang dulu kucintai sepenuh hati.

Pria yang dulu kubangun hidup bersama dari nol.

Lalu akhirnya aku bicara lewat interkom.

“Kesalahan itu lupa ulang tahun.”

Suaraku tenang.

“Yang kamu lakukan adalah pengkhianatan.”

James mulai menangis.

“Aku masih cinta kamu…”

Aku tersenyum tipis.

Lucu sekali.

Orang selalu bilang cinta membuat seseorang bertahan.

Padahal kadang…

cinta juga yang membuat seseorang sadar bahwa dirinya pantas mendapatkan lebih baik.

Aku mengambil map cokelat dari meja.

Lalu mengangkatnya sedikit agar terlihat jelas dari kaca.

Dokumen perceraian.

“Aku sudah tanda tangan, James.”

Wajahnya langsung hancur.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah…

aku melihat pria itu benar-benar takut kehilangan aku.

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Aku mematikan interkom.

Lalu berjalan pergi tanpa melihat ke belakang.

Sementara di luar rumah, mantan suamiku masih berdiri sendirian di tengah hujan—
dengan koper yang bahkan tidak pernah benar-benar pergi ke Toronto.

Dua bulan kemudian…

perceraian kami menjadi berita besar di kalangan bisnis Jakarta.

Bukan karena drama perselingkuhannya.

Tetapi karena James kehilangan segalanya hampir dalam semalam.

Perusahaannya mulai menjauh.
Investor mundur.
Dan yang paling parah—

Erica pergi meninggalkannya.

Ternyata selama ini Erica hanya percaya James adalah pria kaya yang akan memberinya hidup mewah.

Saat rekeningnya dibekukan dan apartemen SCBD itu disita sebagai bagian investigasi aset…

wanita itu menghilang begitu saja.

James mencoba menghubungiku berkali-kali.

Email.
Nomor baru.
Bahkan surat tulisan tangan.

Semua berisi hal yang sama:

penyesalan.

Namun ada satu hal yang lucu tentang penyesalan—

ia selalu datang setelah semuanya hancur.

Suatu sore, aku menghadiri pembukaan pusat pendidikan yang kubangun memakai sebagian dana warisanku.

Sebuah yayasan untuk perempuan yang ingin memulai hidup kembali setelah mengalami pengkhianatan atau kekerasan finansial.

Aku berdiri di atas panggung sederhana sambil mendengar tepuk tangan.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

aku merasa damai.

Bukan karena berhasil membalas dendam.

Tetapi karena akhirnya aku tidak lagi hidup sebagai seseorang yang terus takut kehilangan cinta.

Acara hampir selesai ketika asistanku mendekat pelan.

“Bu Sarah…”

“Ada apa?”

“Pak James ada di luar.”

Aku diam beberapa detik.

Lalu mengangguk kecil.

“Biarkan dia masuk.”

James masuk perlahan ke aula.

Dan aku hampir tidak mengenalinya.

Tubuhnya lebih kurus.
Wajahnya lelah.
Matanya kosong.

Bukan lagi pria percaya diri yang dulu berdiri di bandara sambil berjanji akan “membangun masa depan kami.”

Ia berdiri beberapa meter dariku.

Cukup jauh untuk menunjukkan bahwa sekarang ia tahu batas.

“Aku cuma…” suaranya serak. “Aku cuma ingin bilang selamat.”

Aku tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

Matanya melihat sekeliling ruangan.

Perempuan-perempuan yang sedang tertawa.
Anak-anak kecil yang bermain di pojok aula.
Dan papan besar bertuliskan:

“Mulai Lagi Foundation.”

James tertunduk.

“Kamu membangun semua ini…”

Aku mengangguk pelan.

“Dengan uang yang hampir kamu pakai untuk membangun hidup baru bersama orang lain.”

Ia memejamkan mata seolah kalimat itu menusuk tepat ke dadanya.

“Aku bodoh.”

Aku tidak menyangkal.

Karena memang begitu.

Beberapa saat kami hanya diam.

Lalu James berkata pelan,

“Dulu aku pikir sukses itu punya lebih banyak uang… lebih banyak kebebasan… lebih banyak pilihan.”

Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Tapi setelah kehilangan kamu… baru aku sadar rumah sebenarnya bukan tempat.”

Dadaku terasa sesak sebentar.

Karena sebagian kecil dari diriku masih mengingat pria yang pernah kucintai sepenuh hati.

Tetapi cinta lama tidak selalu berarti seseorang pantas mendapat kesempatan kedua.

Aku melangkah mendekat.

Lalu membenarkan sedikit kerah jasnya yang kusut—kebiasaan kecil yang dulu sering kulakukan saat kami masih menikah.

James langsung menahan napas.

Namun kemudian aku mundur lagi.

“Aku memaafkanmu, James.”

Air matanya langsung jatuh.

“Tapi aku tidak akan kembali.”

Ia menangis dalam diam.

Dan kali ini…

aku tidak ikut hancur melihatnya.

Karena akhirnya aku mengerti sesuatu:

Kesetiaan bukan tentang siapa yang bertahan saat hidup mudah.

Tetapi tentang siapa yang tetap memilihmu saat mereka punya kesempatan untuk pergi.

James kehilangan itu.

Dan aku…

akhirnya menemukan diriku sendiri lagi.

Saat matahari sore masuk melalui jendela aula, aku berbalik meninggalkannya perlahan.

Di belakangku, mantan suamiku masih berdiri diam.

Sementara di depanku…

hidup baru yang dulu ia coba rebut dariku akhirnya benar-benar dimulai.