Aku menatap layar ponsel itu lama sekali di sebuah kafe kecil dekat rumah sakit di Jakarta Selatan.
Rp3.000.000 per bulan.
Gratis makan, gratis tempat tinggal.
Hanya merawat seorang anak perempuan berusia lima tahun.
Rp3 juta.
Bukan Rp30 ribu.
Bukan Rp300 ribu.
Tapi Rp3 juta.
Dua hari lalu, aku diusir dari apartemen kecilku di Jakarta Timur karena telat bayar sewa tiga bulan.
Dan mantan pacarku, Dimas Pratama…
Dia membawa kabur semua tabungan yang kukumpulkan untuk membuka toko kue.
Lalu dia memeluk sahabatku di depan umum di sebuah mall di Jakarta Pusat dan berkata dingin:
“Rina, kamu itu miskin. Masa depan apa yang bisa kamu kasih ke aku?”
Aku tidak menangis.
Karena saat itu, ibuku masih dirawat di RS Cipto Mangunkusumo untuk cuci darah.
Setiap hari butuh biaya.
Banyak sekali.
Aku langsung menelpon nomor di iklan itu.
Suara perempuan terdengar tenang.
“Selamat siang, Keluarga De La Cruz, Puncak. Kamu tertarik posisi nanny?”
“Ya.”
“Ada pengalaman mengasuh anak?”
Aku menarik napas.
“Saya lulusan Psikologi Anak Universitas Indonesia. Pernah jadi asisten guru untuk anak autisme.”
Hening sejenak.
“Besok jam sembilan pagi, datang ke Monteverde Estate di Puncak. Akan ada yang menjemput di gerbang.”
Aku melihat celana jeans lusuhku.
Ya sudah.
Aku cuma mau kerja, bukan ikut kontes kecantikan.
MONTEVERDE ESTATE – PUNCAK
Aku turun dari mobil angkot dan langsung terpaku.
Ini bukan rumah.
Ini seperti resort milik miliarder.
Jalan panjang dipenuhi pohon pinus.
Air mancur besar.
Taman sempurna.
Bahkan ada kandang kuda.
Seorang pria bersetelan hitam menungguku di gerbang.
“Apa kamu Rina?”
“Ya.”
“Aku Rafi, kepala pelayan. Ikuti aku.”
Di dalam, aku benar-benar merasa dunia ini tidak adil.
Lampu gantung di ruang utama saja mungkin setara dengan Rp500 juta.
Di lantai dua, aku dibawa ke sebuah ruang bermain.
Seorang anak perempuan kecil duduk di lantai, menyusun balok domino dengan sangat rapi.
Cantik.
Tapi matanya kosong.
“Non Luna, ini pengasuh baru.”
Dia tidak menoleh.
Rafi berbisik:
“Sejak kecelakaan setahun lalu, dia hampir tidak pernah bicara.”
Aku duduk pelan.
Tidak mendekat.
Aku hanya mengambil satu domino dan menaruh di ujung barisan.
Tiba-tiba—
BRRAK!
Semua domino jatuh.
Rafi menghela napas.
“Dia selalu begitu pada nanny sebelumnya.”
Aku tidak marah.
Aku hanya diam, lalu menyusun ulang satu per satu.
Satu.
Dua.
Tiga.
Lalu aku membuat bentuk matahari kecil di lantai.
Anak itu menatap.
Lalu untuk pertama kalinya, dia mengambil domino kuning dan menaruh di samping matahari itu.
Aku tersenyum.
“Kamu bikin mataharinya jadi lebih bagus.”
Dia tidak bicara.
Tapi dia tidak menghancurkannya lagi.
Malamnya, suara mobil terdengar di halaman.
Seluruh rumah tiba-tiba sunyi.
“Tuanku Sebastian sudah pulang,” kata Rafi.
Pintu utama terbuka.
Seorang pria masuk.
Dan dunia seolah berhenti.
Tinggi.
Tegap.
Tatapan dingin.
Dia melepas sarung tangan kulitnya.
Lalu menatapku.
Dan dia langsung berhenti.
Aku juga.
Karena aku mengenalnya.
Sebastian De La Cruz.
Pria yang pernah menyelamatkanku dari kebakaran asrama di Bandung lima tahun lalu.
Pria yang kukira tidak akan pernah kutemui lagi.
Dia juga mengenaliku.
“…Kamu?”
Aku belum sempat menjawab—
KRAK!
Suara kaca pecah dari lantai dua.
Semua menoleh.
Luna berdiri di tangga, wajahnya pucat.
Tangannya gemetar.
“Dia… dia orangnya…”
Semua orang membeku.
Rafi kaget.
“Nona kecil… kamu bicara?”
Tapi Luna tidak peduli.
Dia menunjuk ke arahku sambil menangis.
“Dia… perempuan di foto bersama Mama sebelum Mama meninggal…”
Dan di saat itu—
aku tidak tahu lagi…
apakah aku datang ke rumah ini sebagai pengasuh…
atau sebagai kunci dari rahasia yang selama ini dikubur keluarga miliarder itu.

Luna masih menangis di tangga, tubuh kecilnya bergetar seolah sedang menahan sesuatu yang sudah lama dikunci di dalam dirinya.
Ruang tamu mansion itu sunyi total.
Bahkan suara jam dinding terdengar seperti dentuman.
Sebastian tidak bergerak. Matanya masih tertuju padaku, tapi sekarang bukan lagi dingin—melainkan seperti seseorang yang baru saja melihat masa lalu yang ia kubur sendiri.
“Foto itu…” suara Luna serak, hampir tak terdengar. “Mama bilang… kalau perempuan ini datang… berarti semuanya akan berubah.”
Jantungku jatuh.
“Foto apa?” tanyaku pelan.
Rafi langsung pucat.
Sebastian akhirnya bergerak. Satu langkah. Lalu dua.
“Luna,” suaranya dalam, “turun.”
Tapi Luna menggeleng keras.
“Aku ingat! Aku ingat suara Mama!”
Dia menunjuk ke arahku lagi.
“Dia yang gendong aku waktu aku kecil… sebelum kecelakaan!”
Kepalaku terasa panas.
“Aku tidak pernah punya anak,” bisikku refleks.
Namun Luna justru semakin menangis.
“Bukan… bukan kamu…”
Dia menutup telinganya.
“Tapi Mama bilang… kamu yang disuruh datang kalau aku mulai lupa semuanya!”
Keheningan yang jatuh setelah itu lebih berat dari apa pun.
Sebastian akhirnya menutup mata sebentar, seperti orang yang baru mengambil keputusan besar yang sudah lama ia hindari.
“Rafi,” katanya pelan.
“Siapkan ruang arsip bawah.”
Rafi terkejut. “Tuan?”
“Sekarang.”
Aku tidak tahu kenapa aku mengikuti mereka.
Mungkin karena rasa ingin tahu.
Mungkin karena rasa takut.
Atau mungkin… karena sebagian dari diriku sudah merasa bahwa aku memang seharusnya ada di sini.
Kami turun ke basement mansion.
Udara lebih dingin.
Lebih sunyi.
Lebih tua.
Sebastian membuka sebuah pintu besi.
Di dalamnya ada ruangan penuh dokumen, foto, dan arsip lama.
Dia berjalan ke sebuah lemari dan mengeluarkan satu kotak kayu.
Lalu meletakkannya di meja.
“Lihat sendiri,” katanya.
Tangannya membuka kotak itu.
Dan di dalamnya—
ada foto.
Aku.
Lebih muda.
Memakai seragam relawan.
Menggendong seorang bayi perempuan.
Luna.
Napasku terhenti.
“Ini tidak mungkin…” suaraku pecah.
Rafi mundur satu langkah.
“Non Rina… itu… itu data rumah sakit lima tahun lalu…”
Sebastian menatapku lama.
“Namamu bukan Rina,” katanya pelan.
Aku terpaku.
Dia membuka satu dokumen lagi.
“Namamu… sebenarnya adalah bagian dari program perlindungan saksi.”
Dunia seperti runtuh perlahan.
“Apa?”
Luna tiba-tiba turun dari tangga terakhir dan memeluk kakiku.
“Aku ingat kamu…” bisiknya. “Aku ingat kamu nyanyi waktu aku nangis…”
Tanganku gemetar.
“Aku tidak mengerti… aku tidak pernah…”
Sebastian menghela napas panjang.
“Karena kamu juga korban.”
Dia mendorong dokumen itu ke arahku.
“Dan hari ini… orang yang mengejarmu sudah mulai menemukan jejakmu lagi.”
Sunyi.
Lalu suara alarm keamanan mansion berbunyi pelan.
Rafi langsung menegang.
“Tuanku… perimeter luar baru saja terdeteksi gangguan.”
Sebastian menatap ke atas.
Lalu kembali ke aku.
“Sekarang kamu mengerti kenapa aku tidak pernah lupa wajahmu.”
Aku berdiri kaku.
Untuk pertama kalinya sejak aku datang ke mansion itu—
aku sadar:
pekerjaan ini bukan tentang menjadi nanny.
Ini tentang bertahan hidup.
Dan Luna…
bukan anak yang harus kuasuh.
Dia adalah alasan kenapa aku masih hidup sampai hari ini.