Aku menatap pesan-pesan dari Lorenzo yang terus bermunculan di layar ponsel.

【Sudah lewat satu menit. Banyak sekali yang harus kau bicarakan dengan mantan tunanganmu?】

【Sudah lewat tiga menit. Perlu aku naik dan membereskan tempat tidur kalian juga?】

Aku tertawa kecil.

Di luar kaca jendela, langit Jakarta mulai gelap.

Saat itu, Teddy akhirnya kembali turun dari lantai atas.

Tatapannya langsung jatuh ke dokumen yang masih tergeletak di meja.

“Ini apa?”

“Kau belum membacanya?”

Aku mendorong map itu ke arahnya.

“Perjanjian pembatalan pertunangan.”

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ekspresi Teddy berubah.

Ia membuka dokumen itu dengan cepat.

Semakin banyak halaman yang dibaca, semakin gelap wajahnya.

“Apa maksudmu?”

“Aku akan pergi.”

Suasana langsung membeku.

Teddy mengangkat kepala.

Matanya yang biasanya tenang kini dipenuhi sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Panik.

“Kau serius?”

Aku tersenyum.

“Teddy, bukankah kau sendiri yang pernah bilang bahwa hubungan kita hanyalah transaksi?”

“Kita sudah menyelesaikan semua tujuan kerja sama.”

“Aku mendapatkan kembali saham perusahaanku.”

“Kau juga berhasil membersihkan semua masalah dalam keluargamu.”

“Kontrak selesai.”

“Tidak ada alasan lagi untuk melanjutkan.”

Tangan Teddy perlahan mengepal.

“Tapi aku tidak setuju.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Selama bertahun-tahun, dia bebas melakukan apa saja.

Sekarang ketika aku ingin pergi, tiba-tiba dia tidak setuju?

“Teddy.”

Aku berdiri.

“Kesepakatan ini selalu membutuhkan persetujuan dua pihak saat dimulai.”

“Tapi untuk mengakhirinya, cukup satu orang yang ingin pergi.”

Wajahnya langsung memucat.

Seolah-olah baru saat itu ia menyadari bahwa aku benar-benar akan meninggalkannya.

Bukan cemburu.

Bukan marah.

Bukan mencari perhatian.

Aku sungguh-sungguh ingin pergi.

Dan itulah hal yang paling tidak pernah ia bayangkan.


Saat aku berjalan menuju lift, Teddy tiba-tiba memegang pergelangan tanganku.

Tangannya gemetar.

“Clara.”

Suaranya serak.

“Kalau aku bilang aku mencintaimu?”

Aku berhenti.

Lalu perlahan menoleh.

“Kalau kau mencintaiku…”

“Mengapa kau menunggu sampai aku pergi untuk mengatakannya?”

Bibir Teddy bergerak, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Karena bahkan dirinya sendiri tahu jawabannya.

Ia selalu berpikir aku akan tetap ada.

Selalu.

Jadi ia tidak pernah takut kehilangan.

Sampai hari ini.


Pintu lift terbuka.

Di dalamnya berdiri Lorenzo.

Masih mengenakan setelan hitam.

Masih tampan seperti biasa.

Namun wajahnya jelas menunjukkan bahwa kesabarannya sudah habis.

Tatapannya berpindah dari tangan Teddy yang masih menggenggamku ke wajahku.

Lalu ia tersenyum.

Senyum yang sangat berbahaya.

“Tuan Zobel.”

“Bisakah kau melepaskan pacarku?”

Pacarku.

Dua kata sederhana itu membuat Teddy membeku.

Aku juga sedikit terkejut.

Karena bahkan aku sendiri belum sempat mengiyakan hubungan kami secara resmi.

Lorenzo berjalan keluar dari lift.

Lalu menarikku ke sisinya dengan sangat alami.

“Tadi malam kau bilang akan mempertimbangkannya.”

“Aku menganggap itu sebagai persetujuan.”

Aku tidak bisa menahan tawa.

Teddy berdiri diam di tempatnya.

Seolah baru sekarang ia menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lihat.

Selama bertahun-tahun, aku selalu berdiri di sampingnya.

Dan sekarang…

Aku berdiri di samping pria lain.


Enam bulan kemudian.

Berita pertunangan Clara Wijaya dan Lorenzo Pratama menjadi topik hangat di kalangan bisnis Jakarta.

Banyak orang terkejut.

Lebih banyak lagi yang tidak percaya.

Mereka semua berpikir aku akan menikah dengan Teddy.

Termasuk Teddy sendiri.

Namun kenyataannya, pada hari pesta pertunanganku, Teddy hanya berdiri di kejauhan.

Sendirian.

Tidak ada Pia.

Tidak ada wanita lain.

Tidak ada tawa.

Tidak ada kesombongan.

Ia hanya berdiri diam sambil memegang segelas anggur.

Kemudian mengangkat gelas itu ke arahku dari kejauhan.

Seperti sebuah perpisahan yang terlambat.

Aku membalas dengan anggukan kecil.

Tidak ada kebencian.

Tidak ada penyesalan.

Karena cinta yang terlalu lama menunggu akhirnya akan habis.

Dan seseorang yang selalu mengira dirinya tidak akan pernah kehilangan apa pun…

sering kali baru menyadari nilainya setelah semuanya benar-benar hilang.

Di sampingku, Lorenzo meraih tanganku dan menggenggamnya erat.

“Kau sedang melihat siapa?”

“Tidak ada.”

Aku tersenyum.

“Hanya masa lalu.”

Lorenzo langsung menarikku ke dalam pelukannya.

“Bagus.”

“Karena masa depanmu sudah menjadi milikku.”

Aku tertawa.

Dan kali ini, aku tidak menolak.

Karena akhirnya aku mengerti satu hal:

Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan membuatmu menunggu sampai kehilangan dirimu sendiri.

Ia akan memilihmu sejak awal.

Lorenzo terus mengirim pesan tanpa henti.

【Sudah lima menit.】

【Clara, jangan bilang kau masih memandangnya dengan perasaan yang sama.】

【Kalau begitu aku benar-benar akan naik.】

Aku baru saja hendak membalas ketika pintu ruang tamu terbuka.

Teddy turun dari lantai atas.

Di tangannya masih ada map berisi perjanjian pembatalan pertunangan yang kuberikan tadi.

Tatapannya jatuh pada layar ponselku yang terus menyala.

Nama Lorenzo muncul berkali-kali.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, wajah Teddy kehilangan ketenangannya.

“Jadi kau serius?”

Aku mengangkat kepala.

“Aku selalu serius.”

Ia menggenggam map itu lebih erat.

“Clara, kau marah karena Pia.”

Aku tertawa pelan.

“Teddy, sampai sekarang kau masih berpikir semua yang kulakukan hanya untuk membuatmu cemburu?”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku berdiri dan merapikan jas.

“Tiga tahun lalu aku mencintaimu.”

“Lalu aku melihatmu membawa wanita lain ke dalam hidupmu, sementara kau menganggap perasaanku sebagai permainan.”

“Setelah itu, aku tidak lagi menunggumu.”

Untuk pertama kalinya, Teddy tidak bisa langsung membalas.

Pria yang selalu percaya diri itu tampak seperti kehilangan sesuatu yang tidak pernah ia kira akan hilang.

“Aku bisa mengakhiri semuanya dengan Pia.”

“Aku tidak memintamu melakukannya.”

“Clara…”

“Terlambat.”

Aku mengambil pulpen dari meja dan menunjuk halaman terakhir perjanjian.

“Tanda tanganlah.”

Matanya memerah samar.

“Apa kau mencintai Lorenzo?”

Aku terdiam sesaat.

Lalu tersenyum.

“Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu.”

Karena yang penting bukan lagi siapa yang kucintai.

Yang penting adalah aku tidak lagi mencintainya.

Itulah kekalahan terbesar Teddy Zobel.

Tangannya gemetar ketika akhirnya menandatangani dokumen itu.

Garis tanda tangannya terlihat lebih buruk daripada kontrak bisnis miliaran rupiah yang pernah ia buat.

Setelah tinta mengering, aku mengambil map tersebut.

Hubungan kami yang berlangsung bertahun-tahun berakhir hanya dengan satu lembar kertas.

Aku berjalan menuju pintu.

Di belakangku, Teddy tiba-tiba berkata:

“Kalau suatu hari nanti kau menyesal…”

Aku tidak menoleh.

“Tidak akan.”

Lalu aku pergi.

Begitu pintu lift terbuka di lobi, seseorang langsung menarik pergelangan tanganku.

Lorenzo.

Wajahnya muram.

“Enam belas menit.”

“Aku menghitung semuanya.”

Aku tertawa.

“Jadi?”

Ia menarikku ke dalam pelukannya.

“Jadi aku cemburu.”

“Aku sudah menunggu terlalu lama.”

Aku menatap pria yang selama ini selalu berada di sisiku tanpa pernah memaksa.

Pria yang diam-diam mengumpulkan semua pecahan diriku saat aku masih sibuk mengejar seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihku.

“Lorenzo.”

“Hm?”

“Sekarang aku bebas.”

Untuk beberapa detik ia tidak bergerak.

Kemudian matanya perlahan memerah.

Pria dewasa yang selalu terlihat santai itu justru tampak paling rapuh saat ini.

Seolah-olah ia baru saja memenangkan perang yang tidak pernah diketahui orang lain.

Ia menunduk dan mencium keningku dengan sangat hati-hati.

“Akhirnya.”

Malam itu, hujan turun di luar gedung.

Sementara di lantai dua puluh delapan, Teddy berdiri sendirian di depan jendela yang dulu menjadi saksi semua permainan kami.

Untuk pertama kalinya, tidak ada wanita di sisinya.

Tidak ada kemenangan.

Tidak ada kesombongan.

Yang tersisa hanyalah penyesalan.

Dan ia akhirnya mengerti sesuatu yang terlambat disadari banyak orang:

Orang yang paling mencintaimu tidak akan selalu menunggumu selamanya.

Ketika mereka benar-benar pergi, bahkan seluruh kekayaan dunia pun tidak bisa membelinya kembali.