Aku menatap tangan Miguel yang masih menggenggam pergelangan tanganku.

“Pulang ke rumah siapa?” tanyaku pelan.

“Ya rumah kita, lah,” jawabnya cepat.

Aku tersenyum.

“Rumah yang akan direnovasi dengan uangku, atau rumah yang dipakai untuk membayar uang muka apartemen adikmu?”

Wajah Miguel langsung membeku.

Orang-orang di sekitar mulai melirik. Beberapa pasangan yang sedang antre untuk menikah bahkan menghentikan obrolan mereka.

Miguel menurunkan suaranya.

“Clarisse, jangan bikin keributan di sini.”

“Aku yang bikin keributan?”

Aku mengangkat ponsel dan memperlihatkan tangkapan layar dari grup keluarga mereka.

“Yang berencana memakai tujuh miliar rupiah milikku untuk membeli apartemen adikmu, siapa?”

“Tapi itu cuma pinjam sementara!”

“Pinjam?”

Aku tertawa kecil.

“Kalau aku tidak melihat pesan Junior tadi pagi, apakah kalian akan memberitahuku?”

Miguel terdiam.

Jawabannya sudah jelas.

Tidak.

Kalau aku benar-benar masuk ke kantor catatan sipil hari ini, dua jam kemudian uang itu akan berpindah.

Dan setelah statusku berubah menjadi istrinya, mereka pasti akan mengatakan:

“Kita sudah satu keluarga.”

“Kenapa masih menghitung uang?”

“Adik iparmu juga keluarga sendiri.”

Pada akhirnya, yang dianggap pelit pasti aku.


Bab 2: Topeng yang Mulai Robek

Saat itu, ponsel Miguel berdering.

Nama yang muncul di layar adalah:

Mama Remedios.

Begitu ia mengangkat telepon, suara wanita tua itu langsung terdengar keras.

“Sudah selesai tanda tangannya?”

“Junior sudah di kantor pemasaran apartemen. Tinggal tunggu uang masuk!”

Miguel buru-buru mematikan speaker.

Namun aku sudah mendengarnya dengan jelas.

Dan rupanya, wanita itu belum sadar bahwa teleponnya belum ditutup.

“Jangan sampai Clarisse tahu dulu. Setelah jadi suami istri, mau marah seperti apa pun dia juga tidak akan ke mana-mana.”

“Perempuan itu terlalu baik. Sedikit dibujuk pasti luluh.”

“Lagipula, bukankah uangnya nanti juga jadi milik keluarga kita?”

Suara itu sangat jelas.

Begitu jelas hingga beberapa orang yang berdiri di dekat kami ikut mendengarnya.

Seorang wanita yang sedang memegang buket bunga bahkan berbisik pada tunangannya:

“Untung aku dengar ini dulu sebelum masuk.”

Wajah Miguel pucat pasi.

“Clarisse… Mama cuma salah bicara…”

Aku mengambil telepon dari tangannya dan berkata dengan tenang:

“Bu Remedios.”

“Transfer tujuh miliar rupiah sudah saya batalkan.”

“Apa?!”

Jeritan dari seberang telepon terdengar begitu keras.

“Clarisse! Apa maksudmu?!”

“Junior sudah tanda tangan pemesanan apartemen!”

“Kalau uang muka tidak dibayar hari ini, uang booking-nya hangus!”

Aku tersenyum tipis.

“Lalu?”

“Kenapa aku harus peduli?”


Bab 3: Nomor A0527 Tidak Pernah Dipanggil

Beberapa menit kemudian, nomor kami muncul di layar.

【Nomor A0527, silakan menuju Loket 2.】

Petugas memanggil tiga kali.

Tetapi aku tidak bergerak.

Miguel mulai panik.

“Clarisse, kita tinggal tiga langkah lagi!”

“Tiga langkah?”

Aku menatap gedung itu.

“Benar.”

“Tiga langkah lagi, aku akan menjadi anggota keluargamu.”

“Tiga langkah lagi, uangku akan menjadi milik ibumu.”

“Tiga langkah lagi, aku akan menghabiskan sisa hidupku bersama seorang pria yang tahu aku sedang ditipu, tapi tetap memilih diam.”

Setiap kata yang keluar membuat wajah Miguel semakin pucat.

“Clarisse, aku salah.”

“Setelah menikah, aku akan meminta Mama mengembalikan uang itu.”

“Tidak akan ada yang berani menyentuh uangmu lagi.”

Aku menggeleng pelan.

“Miguel.”

“Masalahnya bukan uang.”

“Masalahnya adalah, saat melihat keluargamu memperlakukanku seperti mesin ATM, kau memilih berdiri di sisi mereka.”

“Dan seorang pria seperti itu…”

“Tidak layak menjadi suamiku.”


Bab 4: Selamat Tinggal

Aku melepas cincin pertunangan dari jariku.

Cincin itu kubeli sendiri.

Bahkan uang pesta pernikahan, uang muka rumah, dan biaya renovasi semuanya berasal dari tabunganku selama enam tahun bekerja.

Aku meletakkan cincin itu di telapak tangan Miguel.

“Aku kembalikan.”

“Dan mulai hari ini…”

“Kita selesai.”

Miguel gemetar.

“Clarisse!”

“Jangan!”

“Enam tahun hubungan kita…”

Air mata akhirnya jatuh dari matanya.

Namun aku tidak menangis.

Karena pada saat seseorang bersekongkol dengan keluarganya untuk menipumu…

Cinta itu sudah mati lebih dulu.

Aku berbalik dan berjalan menuruni tangga City Hall.

Di belakangku, suara pengumuman kembali terdengar:

【Nomor A0528, silakan menuju Loket 2.】

Nomor kami terlewati.

Sama seperti hubungan kami.

Tidak ada penyesalan.


Epilog

Tiga bulan kemudian.

Aku mendengar kabar bahwa uang muka apartemen Junior hangus.

Bu Remedios meminjam uang ke sana-sini, tetapi tak seorang pun mau membantu.

Miguel beberapa kali datang ke kantorku.

Kadang membawa bunga.

Kadang membawa sarapan favoritku.

Kadang hanya berdiri diam di lobi selama berjam-jam.

Namun aku tidak pernah menemuinya.

Suatu hari, sekretarisku bertanya:

“Bu Clarisse, apakah Anda tidak menyesal membatalkan pernikahan tepat di depan City Hall?”

Aku menutup laptop dan tersenyum.

“Menyesal?”

“Justru hari Valentine tahun itu adalah hadiah terbaik yang pernah aku berikan pada diriku sendiri.”

“Karena aku kehilangan seorang calon suami…”

“Namun aku menyelamatkan seluruh sisa hidupku.”

Dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun,

aku pulang ke rumah,

membuka sebotol anggur,

menatap langit malam yang tenang,

lalu berkata pada diriku sendiri dengan lega:

“Untung aku tidak menikah dengannya.”

Tentu. Berikut phần kết bằng tiếng Indonesia với cao trào mạnh và cái kết thỏa mãn:

Tròn sáu bulan kemudian, aku nhận được một cuộc gọi từ một số lạ.

Suara di seberang sana terdengar serak dan lelah.

“Clarisse… ini aku.”

Aku langsung mengenali suara itu.

Miguel.

Pria yang hampir menjadi suamiku.

Pria yang rela menjadikanku jaminan demi keluarganya.

“Ada apa?” tanyaku datar.

Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,

“Aku dan Mama sudah menjual rumah.”

“Mobilku juga sudah dijual.”

“Junior kabur membawa semua uang yang dipinjam dari rentenir.”

“Apartemennya disita.”

“Mama sakit karena stres.”

“Dan sekarang… aku benar-benar sendirian.”

Aku tidak mengatakan apa pun.

Dulu, pria ini pernah berkata bahwa setelah menikah, aku dan dia akan saling menjaga sampai tua.

Namun ternyata, saat keluarganya mengulurkan tangan ke dompetku, ia justru membantu mereka membuka jalan.

“Clarisse…”

Suara Miguel bergetar.

“Bisakah kita mulai lagi?”

“Aku tahu aku salah.”

“Aku tahu aku sudah mengecewakanmu.”

“Aku tidak minta dimaafkan.”

“Aku hanya ingin bertemu sekali saja.”

Di luar jendela kantorku, hujan turun dengan pelan.

Aku memandang lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala.

Enam tahun.

Dua ribu lebih hari.

Dulu, aku pernah membayangkan akan menjadi istrinya, melahirkan anak-anaknya, dan menua bersamanya.

Aku bahkan pernah memilih warna gorden rumah kami.

Pernah menghitung berapa banyak bunga yang akan menghiasi pesta pernikahan.

Pernah membayangkan wajah kami saat rambut sudah memutih.

Tetapi ternyata…

Orang yang salah, bahkan seribu mimpi indah pun tidak bisa mengubah akhirnya.

Aku tersenyum tipis.

“Miguel.”

“Kau tahu hadiah Valentine terbaik yang pernah aku terima?”

Ia terdiam.

“Bukan cincin.”

“Bukan bunga.”

“Bukan janji.”

“Melainkan hari ketika aku membatalkan transfer tujuh miliar rupiah itu.”

“Karena pada hari itu, aku bukan hanya menyelamatkan uangku.”

“Aku menyelamatkan seluruh hidupku.”

Tangis Miguel akhirnya pecah.

“Clarisse…”

“Aku mencintaimu.”

Aku memejamkan mata selama beberapa detik.

Lalu perlahan menjawab,

“Tidak.”

“Yang kau cintai adalah seseorang yang bersedia berkorban untuk keluargamu.”

“Sedangkan aku…”

“Sudah belajar mencintai diriku sendiri.”

Aku menutup telepon.

Dan sekaligus menutup enam tahun masa lalu.


Setahun kemudian.

Pada tanggal 14 Februari berikutnya, aku kembali melewati City Hall tempat kami dulu hampir menikah.

Di tangga yang sama, masih banyak pasangan yang tersenyum bahagia.

Aku ikut tersenyum.

Namun kali ini, bukan karena aku akan menikah.

Melainkan karena akhirnya aku mengerti satu hal.

Tidak semua hubungan yang gagal adalah sebuah kehilangan.

Kadang-kadang…

Itu adalah penyelamatan.

Dan tidak semua orang yang pergi dari hidupmu adalah hukuman dari Tuhan.

Kadang-kadang…

Mereka adalah jawaban atas doa yang bahkan belum sempat kau panjatkan.

Aku mengenakan kacamata hitam, melangkah melewati gedung itu tanpa menoleh lagi.

Karena ada beberapa pintu yang ditutup oleh takdir…

Bukan untuk membuat kita menangis.

Melainkan agar kita tidak pernah terjebak di dalamnya.

Dan saat matahari sore menyinari wajahku, aku akhirnya tersenyum dengan tenang.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Aku tidak lagi menunggu seseorang datang untuk memberiku kebahagiaan.

Karena aku sendiri…

Sudah menjadi rumah yang paling hangat bagi diriku sendiri.