Aku mencuri kondom bekas yang digunakan oleh sahabatku, dan sekarang aku hamil anak tunangannya – Enrique Co.
Aku melakukan semua ini demi hadiah yang ditawarkan keluarga Co bagi siapa pun yang bisa melahirkan keturunan bagi mereka – keluarga terkaya di seluruh Manila.
Kalau saja bukan karena cinta buta Enrique pada sahabatku, yang sangat percaya pada gaya hidup DINK (Double Income, No Kids), aku tidak akan pernah punya kesempatan ini.
Enrique adalah satu-satunya pewaris dari sembilan generasi keluarga Co. Don Teodoro Co tentu tidak akan membiarkan miliaran aset keluarga mereka jatuh ke tangan kerabat jauh.
Karena itu, sang kakek pernah menyatakan secara terbuka:
“Asalkan lahir cicit laki-laki, seluruh aset keluarga Co akan diwariskan kepadanya!”
Ketika sahabatku mendengar itu, dia menangis dan bahkan mengancam akan menyakiti dirinya sendiri.
“Enrique, apa maksud keluargamu? Mereka mau membunuhku atau memaksamu berselingkuh?!”
“Apakah kamu benar-benar mencintaiku, atau hanya melihatku sebagai mesin untuk melahirkan anak?!”
Karena takut kehilangannya, Enrique berjanji tidak akan pernah memaksanya punya anak, dan tidak akan melihat perempuan lain. Sahabatku membenci gagasan melahirkan, menganggapnya sebagai bentuk penindasan terhadap perempuan.
Tapi bagiku, itu adalah golden ticket menuju kekayaan bernilai triliunan rupiah! Sebuah level kehidupan yang bahkan jika aku lahir berkali-kali pun tak akan pernah bisa kuraih dengan cara biasa.
Dia tidak mau melahirkan? Baik. Aku yang akan melahirkan.
1
Saat melihat dua garis di test pack, aku langsung menelepon nomor yang ditinggalkan keluarga Co.
Mereka datang dengan cepat, tetapi tidak membawaku ke mansion keluarga Co. Aku dibawa ke rumah sakit swasta di Makati.
Setelah dipastikan bahwa usia kehamilanku sudah delapan minggu, aku langsung dibaringkan di ranjang rumah sakit. Asisten keluarga mengatakan mereka harus melakukan tes DNA sejak dalam kandungan sebelum berbicara serius denganku.
Jarum dingin menusuk tubuhku tanpa banyak penjelasan. Saat itu aku sadar—aku hanyalah bagian kecil dalam rencana besar mereka.
Beberapa jam kemudian, asisten itu kembali dan untuk pertama kalinya menatapku langsung.
“Ikut saya.”
Mobil melaju menuju kawasan elit di Alabang dan berhenti di depan sebuah mansion besar.
Di dalam, seorang wanita elegan duduk di sofa. Doña Victoria Co menatapku.
“Kamu teman tunangan anakku. Dari mana asal anak itu?”
Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
“Aku pernah beberapa kali bersama Enrique,” jawabku singkat.
“Bagus. Setidaknya kamu jujur.”
Senyumnya tipis, penuh penilaian.
“Kalau nanti sudah cukup besar, kita akan lakukan USG. Kalau anaknya perempuan, kamu akan mendapat satu unit apartemen dan uang yang cukup, lalu tidak ada hubungan lagi dengan keluarga kami. Tapi kalau laki-laki, dia akan masuk ke keluarga Co sebagai pewaris. Dan kamu… akan dianggap sebagai ibu dari pewaris.”
Aku mengangguk.
“Saya mengerti.”
Dia mengangkat dagu.
“Sampai semuanya jelas, jangan sebarkan apa pun ke luar.”
Pertemuan selesai. Aku diantar pulang.
Saat membuka pintu apartemen, Bianca sudah menungguku. Dia mengibaskan test pack yang ditemukannya di tempat sampah.
Mataku membesar.
Dia tertawa mengejek.
“Pantas saja kamu tidak mau keluar beberapa hari ini. Ternyata kamu hamil!”
“Anaknya siapa? Jangan bilang pria tua yang tadi menjemputmu?”
Aku menahan napas.
“Memang agak lebih tua, tapi dia baik padaku.”
Bianca melirik mobil yang baru saja pergi.
“Mobilnya kelihatan mahal. Lumayan juga kamu diperhatikan orang kaya. Kapan nikah?”
Aku pura-pura murung.
“Keluarganya mau anaknya lahir dulu baru menikah.”
Bianca tertawa keras.
“Gila, kamu setuju? Harusnya bilang dari dulu, aku kenalkan ke sugar daddy yang lebih keren!”
Karena aku tidak bereaksi, dia bosan dan pergi.
Aku menatap punggungnya.
Sudah berapa lama kami disebut “sahabat”? Dan sudah berapa lama aku menjadi bayang-bayangnya?
Dia selalu mengajakku ke pesta. Dia berpakaian seperti putri, sementara aku dipaksa memakai baju yang bahkan neneknya tak mau pakai.
Dia memperkenalkanku sebagai BFF, tapi selalu membuatku tampak lebih rendah.
Jika tidak makan di depan orang lapar adalah kebaikan, Bianca adalah tipe orang yang makan dengan sengaja di depanmu sambil tertawa dan bertanya, “Kamu tidak lapar?”
Aku menunduk, mengambil test pack itu.
Aku lapar. Sangat lapar.
Dan ketika seseorang tahu kamu lapar lalu tetap mempermalukanmu, satu-satunya pilihan adalah merebut apa yang mereka miliki.
2
Demi kesehatan bayi, aku membaca semua tentang kehamilan.
Beberapa hari kemudian, Bianca menelepon.
“Sofia, keluar yuk!”
Aku ingin menolak, tapi dia sudah mendahului.
“Kamu lihat postinganku? Meja sudah dipesan! Semua teman datang! Ini perayaan kehamilanmu!”
Aku membuka media sosial.
Postingan teratas adalah foto test pack milikku dengan caption:
【Selamat untuk BFF-ku Sofia! Hamil sebelum menikah! Go girl!】
Komentarnya penuh sindiran.
【Kelihatannya polos, ternyata tidak juga!】
【Siapa lelaki malang itu?】
【Jangan-jangan dia sendiri tidak tahu siapa ayahnya!】
Aku terdiam.
Terpaksa aku datang untuk mengendalikan situasi.
Di ruang VIP bar, semua mata tertuju pada perutku.
“Bintang utama sudah datang!”
Bianca memelukku. Aku melihat luka gores di lengannya, dan Enrique juga memakai perban.
“Ada apa?” tanyaku.
“Kami drag race beberapa hari lalu, mobil terbalik. Kalau tidak, pestanya sudah dari kemarin!”
Tawa kembali pecah.
Seseorang berkata pelan, “Bagaimana kalau setelah melahirkan kamu tidak dinikahi? Hati-hati…”
Bianca membanting gelas ke meja.
“Kalian iri ya? Sofia sudah cukup beruntung ada pria yang mau punya anak dengannya! Tidak seperti aku, Enrique sangat mencintaiku dan menghormati keputusanku untuk tidak punya anak. Dia bahkan berani melawan keluarganya demi aku.”
Dia bersandar manja pada Enrique.
“Benar, kan?”
Enrique hanya mengusap rambutnya.
Sorakan terdengar.
Sekali lagi, aku hanya latar belakang cerita cinta mereka.
Bianca tersenyum padaku.
“Jangan iri ya, Sofia. Hidup memang begitu. Ada yang beruntung, ada yang biasa saja.”
Aku mengangguk.
“Tunggu saja.”
Karena tidak bisa minum, malam itu cepat berakhir.
Beberapa bulan berlalu.
Kehamilanku memasuki bulan keempat. Perutku mulai terlihat jelas.
Suatu sore, mobil hitam itu kembali berhenti di depan rumahku.
Aku tahu.
Hari ini akan menentukan—
apakah masa depanku di mansion keluarga Co…
atau di jalanan.
(Bersambung…)

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan rumahku.
Kali ini tidak ada asisten yang berbicara panjang lebar.
Hanya satu kalimat singkat:
“USG hari ini.”
Di rumah sakit, suasana berbeda. Lebih resmi. Lebih sunyi.
Aku berbaring di ranjang pemeriksaan, menatap langit-langit putih. Gel dingin menyentuh perutku.
Dokter memeriksa lama.
Terlalu lama.
Aku bisa merasakan tatapan orang-orang di ruangan itu.
Lalu dokter berkata pelan:
“Jenis kelamin janin… laki-laki.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.
Asisten keluarga Co langsung menelepon seseorang.
Sepuluh menit kemudian, Doña Victoria sendiri datang.
Dia berdiri di ujung ranjangku, menatap layar monitor.
“Laki-laki,” ulangnya.
Tatapannya berubah.
Bukan hangat.
Tapi… puas.
“Mulai hari ini, kamu akan pindah.”
Aku menelan ludah.
Ke mansion.
Bukan ke jalan.
**
Kehidupanku berubah dalam semalam.
Kamar besar.
Perawat pribadi.
Makanan khusus.
Semua teratur.
Semua diawasi.
Aku bukan tamu.
Aku juga bukan anggota keluarga.
Aku adalah… wadah yang sangat berharga.
Enrique datang tiga hari kemudian.
Wajahnya pucat ketika melihatku duduk di taman mansion.
“Ini benar?” suaranya pelan.
Aku mengangguk.
Dia menatap perutku lama sekali.
Ada kebingungan. Ada rasa bersalah. Ada sesuatu yang tak bisa dia jelaskan.
“Aku tidak tahu…” katanya akhirnya.
“Tapi ini darahku.”
Aku tersenyum tipis.
“Ya. Darahmu.”
Malam itu aku mendengar kabar bahwa Bianca mengamuk besar di rumahnya.
Dia tidak percaya.
Dia menuduh.
Dia menangis.
Tapi keluarga Co sudah memegang hasil DNA.
Tak ada yang bisa dia bantah.
**
Bulan-bulan berlalu.
Semakin besar perutku, semakin jelas posisiku.
Para pelayan mulai memanggilku “Nyonya Muda” secara tidak resmi.
Doña Victoria mulai duduk bersamaku saat makan malam.
Don Teodoro bahkan datang sekali, menatap perutku dengan mata berbinar.
“Cicit laki-laki,” katanya lirih.
Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar hampir menyentuh puncak.
Hampir.
**
Hari persalinan tiba lebih cepat dari perkiraan.
Hujan deras mengguyur malam itu.
Lampu ruang operasi menyilaukan.
Rasa sakitnya… jauh lebih nyata daripada semua ambisi yang pernah kupikirkan.
Saat tangisan bayi terdengar, air mataku ikut jatuh.
“Laki-laki. Sehat.”
Seorang bayi kecil diletakkan di dekatku.
Jari-jarinya menggenggam udara.
Begitu kecil.
Begitu rapuh.
Dan tiba-tiba—
untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai—
aku merasa takut.
Bukan takut kehilangan uang.
Tapi takut kehilangan dia.
**
Beberapa hari kemudian, pengacara keluarga datang membawa dokumen.
Dana pendidikan.
Trust fund atas nama anakku.
Aset bernilai miliaran rupiah yang dialihkan secara bertahap.
Semuanya sesuai janji.
Tapi ada satu klausul tambahan.
Hak asuh utama berada pada keluarga Co.
Aku tetap akan tinggal di mansion.
Dengan fasilitas penuh.
Dengan status terhormat.
Tapi semua keputusan besar tentang anakku… berada di tangan mereka.
Aku membaca ulang kalimat itu berkali-kali.
Aku telah memenangkan permainan.
Tapi papan catur itu… bukan milikku.
**
Malam itu, aku masuk ke kamar bayi sendirian.
Anakku tertidur pulas.
Wajahnya tenang.
Aku menyentuh pipinya perlahan.
Aku teringat pada diriku sendiri bertahun-tahun lalu.
Gadis yang selalu berdiri di belakang Bianca.
Yang selalu diberi sisa.
Yang selalu lapar.
Sekarang aku tidak lapar lagi.
Aku memiliki kekayaan.
Status.
Kekuatan.
Tapi untuk pertama kalinya…
aku bertanya pada diriku sendiri—
harga apa yang sebenarnya sudah kubayar?
Pintu kamar terbuka pelan.
Enrique berdiri di sana.
Dia tidak lagi terlihat seperti pria yang dikendalikan cinta buta.
Dia terlihat seperti seorang ayah.
“Kita harus bicara,” katanya.
Aku menatapnya tenang.
“Bukan tentang Bianca,” lanjutnya. “Tentang dia.”
Dia melangkah mendekat.
“Aku tidak peduli bagaimana semua ini dimulai. Tapi sekarang… dia anakku.”
Sunyi.
“Dan dia juga anakku,” jawabku pelan.
Untuk pertama kalinya, kami berdiri sejajar.
Bukan sebagai musuh.
Bukan sebagai alat.
Tapi sebagai dua orang yang terikat oleh kehidupan kecil di depan kami.
**
Beberapa bulan kemudian, Bianca meninggalkan kota.
Katanya dia tidak tahan melihat berita tentang “pewaris keluarga Co”.
Media mulai berspekulasi.
Tapi keluarga Co menutup semuanya rapat.
Dan aku?
Aku belajar perlahan.
Belajar menjadi ibu.
Belajar membaca laporan keuangan.
Belajar memahami bahwa kekuasaan bukan hanya tentang merebut.
Tapi tentang mempertahankan.
Suatu sore, saat matahari terbenam di atas taman mansion, aku menggendong anakku.
Dia tertawa kecil.
Dan aku tersenyum.
Dulu aku pikir aku hanya mencuri satu kesempatan.
Ternyata…
aku sedang mencuri takdir.
Dan kali ini—
aku tidak lagi berdiri di belakang siapa pun.
Aku berdiri di depan.
Sebagai ibu dari pewaris keluarga Co.
— Tamat —