Aku mengajak Ibu makan di sebuah restoran buffet mewah yang terkenal di kawasan SCBD, Jakarta.

Meja-meja dipenuhi seafood segar, steak premium, dan berbagai macam daging panggang. Namun Ibu hanya duduk di sudut. Ia bahkan tidak menyentuh makanan apa pun. Yang dimakannya hanya kacang goreng dan bawang putih gratis yang disediakan sebagai hidangan pembuka.

Aku bertanya kenapa ia tidak mau makan.

Ia menatapku dingin lalu berkata,

“Semua ini mahal sekali. Buang-buang uang saja. Sama seperti membuang uang ke tempat sampah.”

Lalu ia menambahkan,

“Untung saja Kak Linda lebih pandai mengatur uang. Tidak boros seperti kamu.”

Aku hanya tersenyum.

Buffet ini seharga Rp5.000.000 untuk kami berdua, tetapi ia tidak mau makan.

Saat ulang tahunnya tahun lalu, Kak Linda memberinya buket bunga plastik yang dibeli di pasar dengan harga Rp50.000.

Ibu sangat senang dan memamerkannya ke seluruh tetangga.

Karena itu, aku langsung membelikannya tiket bus dan memulangkannya ke kampung halaman kami di Cirebon.

Sejak hari itu, aku hanya mengirim Rp1.000.000 per bulan untuknya.

Ia menelepon sambil menangis dan marah-marah.

Aku hanya menjawab empat kata:

“Ikuti saja Kak Linda.”

1

Aku mengambil sepotong wagyu yang baru matang dari panggangan dan meletakkannya di piring putih di depan Ibu.

Ia tidak menyentuh garpunya.

Piringnya tetap kosong.

“Bu, makanlah,” kataku.

Ia menatap daging itu dengan alis berkerut.

“Berapa harga per kilogramnya?”

Suaranya tidak keras, tetapi setiap katanya terasa berat.

“Bu, ini buffet. Tidak dihitung per kilogram.”

Aku mengambil makanan untuk diriku sendiri dan mulai makan.

Rasanya luar biasa.

Namun Ibu menatapku seolah-olah aku sedang menghamburkan seluruh harta keluarga.

Di depannya hanya ada semangkuk kecil saus berisi bawang cincang, cabai, dan kacang goreng.

Ia memunguti kacang satu per satu dengan garpunya.

Di sampingnya ada lobster Boston, kaki kepiting salju, dan sashimi salmon tebal.

Ia bahkan tidak meliriknya.

“Kamu benar-benar mau membuang uang sebanyak ini?”

Akhirnya ia berbicara lagi.

Suara itu cukup keras hingga beberapa pelanggan menoleh ke arah kami.

Wajahku memanas karena malu.

“Bu, aku membawa Ibu ke sini supaya bisa menikmati makanan enak.”

“Makanan enak?”

Ia menunjuk daging di piringku.

“Satu suapan itu saja sudah cukup untuk biaya lauk Kak Linda selama tiga hari.”

Kak Linda lagi.

Aku mulai merasa kesal.

Tahun lalu saat ulang tahunnya, aku mengirim Rp20.000.000.

Ia bahkan tidak mengucapkan terima kasih.

Sementara Kak Linda hanya memberinya bunga plastik seharga Rp50.000.

Namun bunga itu dipamerkan ke seluruh tetangga.

Sampai sekarang masih dipajang di ruang tamunya.

“Kakakmu tidak akan pernah datang ke tempat seperti ini,” lanjut Ibu.

“Ia tahu bagaimana menggunakan uang dengan benar. Tidak seperti kamu.”

Ia memandangku penuh kekecewaan.

“Kamu baru punya sedikit uang saja sudah lupa diri.”

Aku mengunyah daging itu perlahan.

Entah kenapa, rasanya tiba-tiba hambar.

Aku menatap wajah Ibu yang penuh kerutan dan ketidakpuasan.

Tiba-tiba aku tidak ingin menjelaskan apa pun lagi.

Tidak ada gunanya.

Aku meletakkan tisu di atas meja.

“Jadi Ibu benar-benar tidak mau makan?”

Ia memalingkan wajah.

“Makan makanan semahal ini seperti berdosa.”

Aku berdiri dan tersenyum.

“Kalau begitu, ayo pulang.”

2

Aku menuju kasir.

Petugas menyerahkan tagihan.

Rp5.000.000.

Aku langsung membayar dengan aplikasi mobile banking.

Ibu berdiri di belakangku.

Saat melihat jumlahnya, matanya langsung membelalak.

“Rp5.000.000?!”

Ia mencengkeram lenganku.

“Kalian merampok orang, ya?!”

Petugas hanya tersenyum canggung.

“Maaf, Bu. Harga buffet kami Rp2.500.000 per orang.”

Setelah membayar, aku mengajaknya keluar.

Sepanjang jalan ia terus mengomel.

“Orang sudah susah-susah cari uang, malah dibuang begitu saja.”

Aku tidak menjawab.

Begitu keluar dari mal, angin sore menerpa wajahku.

Pikiranku tiba-tiba terasa sangat jernih.

Aku membuka aplikasi perjalanan dan membeli tiket bus.

Ibu mengira kami akan pulang ke apartemenku di Jakarta Selatan.

Namun taksi justru berhenti di terminal bus.

Saat melihat deretan bus antarkota, ia langsung terdiam.

“Kita mau apa di sini?”

Aku tidak menjawab.

Aku membayar sopir, mengambil barang-barangnya, lalu menyerahkan tiket dan uang tunai Rp2.000.000.

“Bu, Ibu pulang ke Cirebon hari ini.”

Ia menatap tiket itu dengan tidak percaya.

“Aku tidak mau pulang!”

Ia menangis, duduk di lantai, dan menuduhku tidak tahu berbakti.

Banyak orang mulai memperhatikan kami.

Tetapi aku tidak goyah.

Ketika bus menuju Cirebon dipanggil, aku membantunya naik ke kursinya.

“Telepon aku kalau sudah sampai.”

Itu saja yang kukatakan sebelum turun.

Aku berdiri di terminal sampai bus itu menghilang di kejauhan.

3

Malam itu apartemenku terasa sangat tenang.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada sindiran.

Tidak ada perbandingan dengan Kak Linda.

Tak lama kemudian ponselku berdering.

Kakakku, Bambang.

“Rina! Kamu memulangkan Ibu? Apa masalahmu?”

teriaknya.

“Ibu menangis! Katanya kamu meninggalkannya di terminal!”

“Itu bus eksekutif ber-AC, Kak. Aku juga memberinya uang saku.”

“Tapi bukan itu masalahnya!”

“Aku pikir Ibu akan tinggal di tempatmu selama enam bulan!”

“Rencana berubah.”

Aku menjawab tenang.

“Ibu bilang aku boros dan tidak bisa mengatur uang seperti Kak Linda.”

“Karena itu aku berpikir lebih baik Ibu tinggal bersama kalian agar bisa menikmati kehidupan hemat yang selalu ia banggakan.”

Di seberang sana tiba-tiba hening.

“Tapi… biaya hidupnya bagaimana?”

“Kamu tetap kirim uang, kan?”

“Tentu.”

“Setiap tanggal satu, aku akan mengirim tepat Rp1.000.000 ke rekening Ibu.”

“Apa?!”

Suara Kak Bambang hampir pecah.

“Rp1.000.000? Kamu bercanda?”

“Dengan uang segitu mana cukup?”

Aku tersenyum tipis.

“Kak, bukankah Ibu selalu bilang hidup sederhana itu yang terbaik?”

“Waktu menerima bunga plastik Rp50.000 saja, beliau sangat bahagia.”

“Itu berarti kebutuhan beliau sebenarnya tidak banyak.”

“Dan untuk biaya lain…”

aku berhenti sejenak.

“…bukankah ada Kakak dan Kak Linda yang sangat pandai mengatur uang?”

“Aku yakin kalian pasti bisa merawat Ibu dengan jauh lebih baik daripadaku.”

Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Kak Bambang tidak langsung membalas.

Lalu sambungan telepon terputus.

Aku meletakkan ponsel dan melanjutkan pekerjaanku seperti biasa.

Namun dua minggu kemudian, telepon itu datang lagi.

Kali ini bukan dari Kak Bambang.

Melainkan dari Ibu.

Suaranya terdengar jauh lebih lemah dari biasanya.

“Rina…”

Aku terdiam.

Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah memanggil namaku selembut itu.

“Ada apa, Bu?”

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berbicara.

“Bisakah kamu datang sebentar?”

Aku tidak langsung menjawab.

Selama bertahun-tahun, setiap kali teleponku berdering karena keluarga, biasanya selalu tentang uang.

Atau keluhan.

Atau perbandingan dengan Kak Linda.

Tapi kali ini berbeda.

Suara Ibu terdengar seperti orang yang benar-benar kelelahan.

Akhirnya aku pulang ke Cirebon akhir pekan itu.

Rumah yang dulu selalu ramai kini terasa sunyi.

Saat aku masuk, aku melihat Ibu duduk sendirian di teras.

Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus.

Di sampingnya masih ada vas bunga plastik yang sama.

Bunga yang dulu begitu ia banggakan.

Namun warnanya sudah pudar karena matahari.

Ketika melihatku, matanya langsung memerah.

Aku duduk di depannya.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit.

Lalu Ibu perlahan berkata,

“Sekarang aku mengerti kenapa kamu marah.”

Aku terdiam.

Ia menunduk.

“Kak Linda dan Bambang sering bertengkar soal biaya rumah.”

“Mereka selalu menghitung siapa yang harus keluar uang lebih banyak.”

“Kalau aku sakit, mereka saling menyuruh satu sama lain untuk membawaku ke dokter.”

Tangannya gemetar saat memegang gelas teh.

“Dulu aku selalu berpikir kamu punya banyak uang.”

“Aku mengira semua yang kamu berikan itu mudah bagimu.”

“Aku tidak pernah bertanya bagaimana kamu mendapatkannya.”

Mataku mulai terasa panas.

Ibu mengusap air mata yang jatuh di pipinya.

“Rina…”

“Selama ini aku selalu memuji orang yang memberiku bunga plastik lima puluh ribu rupiah.”

“Tapi aku lupa bahwa orang yang membayar biaya rumah sakitku, memperbaiki rumahku, dan mengirim uang setiap bulan adalah kamu.”

Suasana menjadi sangat sunyi.

Angin sore bertiup perlahan melewati halaman.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat penyesalan di mata Ibu.

Penyesalan yang nyata.

Bukan sekadar kata-kata.

Ia bangkit perlahan lalu masuk ke dalam rumah.

Beberapa menit kemudian ia kembali membawa sebuah kotak tua.

Kotak kayu yang sudah kusam dimakan usia.

“Ayahmu meninggalkan ini sebelum meninggal.”

Katanya sambil menyerahkannya kepadaku.

Tanganku bergetar saat membuka kotak itu.

Di dalamnya ada puluhan lembar foto.

Foto masa kecilku.

Foto saat aku lulus sekolah.

Foto saat pertama kali mendapat pekerjaan.

Foto saat aku membeli rumah pertamaku.

Semua tersimpan rapi.

Di bagian paling bawah ada sebuah amplop tua.

Tulisan tangan Ayah masih jelas terlihat.

Untuk Rina.

Aku membuka surat itu dengan tangan gemetar.

Hanya ada satu kalimat:

“Jika suatu hari kamu merasa tidak dicintai, ingatlah bahwa Ayah selalu bangga memilikimu sebagai anak perempuan.”

Air mataku langsung jatuh.

Aku menangis untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menahan semuanya.

Dan di seberangku…

Ibu juga menangis.

Tidak ada lagi perbandingan.

Tidak ada lagi pujian untuk Kak Linda.

Tidak ada lagi sindiran tentang uang.

Hanya seorang ibu tua yang akhirnya menyadari kesalahannya.

Dan seorang anak perempuan yang selama ini hanya ingin dihargai.

Beberapa bulan kemudian, aku kembali mengirim uang seperti dulu.

Bukan karena kewajiban.

Bukan karena rasa bersalah.

Melainkan karena aku akhirnya mengerti satu hal:

Kadang-kadang, pelajaran yang paling mahal bukanlah tentang uang.

Melainkan tentang membuat seseorang menyadari nilai dari orang yang selama ini selalu ada untuknya.

Dan sejak hari itu, bunga plastik di ruang tamu tetap tidak pernah dibuang.

Bukan karena harganya.

Melainkan sebagai pengingat bahwa kasih sayang tidak pernah bisa diukur dari murah atau mahalnya sebuah hadiah.

Kasih sayang diukur dari siapa yang tetap memberi, bahkan ketika tidak pernah dihargai.

TAMAT.