Aku Mengajarkan Anakku Memanggil Ayahnya Sendiri dengan Sebutan “Paman”, Karena Setiap Kali Kami Membutuhkannya, Ia Selalu Memilih Wanita yang Tak Bisa Ia Lepaskan dan Anak yang Bahkan Bukan Darah Dagingnya

Aku akhirnya menyadari bahwa suamiku, seorang CEO sukses, masih belum mampu melepaskan cinta pertamanya—seorang wanita yang sudah bercerai dan memiliki seorang putra.

Karena itu, aku mulai mengajari anak kami untuk memanggilnya “Paman”.

Bukan untuk membalas dendam.

Melainkan untuk mempersiapkan hati anakku menghadapi hari ketika pria yang selama ini kami tunggu kepulangannya benar-benar meninggalkan kami.

Malam itu, putra kami, Nico, demam sangat tinggi.

Dahinya terasa membakar. Tubuh kecilnya gemetar di atas ranjang sambil memeluk selimut bergambar karakter kartun favoritnya.

Aku segera menelepon suamiku, Rafael Hartono.

“Raf, Nico demam tinggi. Kita harus membawanya ke rumah sakit.”

Dari seberang telepon terdengar suara langkah kaki dan bunyi kunci mobil.

“Aku berangkat sekarang.”

Aku mengira dia akan datang kepada kami.

Namun beberapa detik kemudian, panggilan lain masuk.

Karena video call kami belum tertutup sempurna, aku sempat melihat nama yang muncul di layarnya.

Camila Pratama.

Wanita yang tak pernah bisa ia tinggalkan.

Wanita yang selalu ia sebut sebagai “orang yang perlu dibantu”.

Suara Camila terdengar gemetar.

“Raf… Arga tidak berhenti menangis. Dia mencarimu. Dia bilang dia tidak punya ayah…”

Rafael terdiam beberapa saat.

Lalu ia berkata kepadaku,

“Nanti aku ke sana. Bawa Nico ke IGD dulu. Kamu pasti bisa mengurusnya, kan?”

Aku menatap Nico yang berkeringat dan kesulitan bernapas karena hidungnya tersumbat.

Lalu aku menyodorkan ponsel kepadanya.

“Nico,” kataku pelan, “ucapkan selamat tinggal pada Paman.”

Anakku terdiam lama.

Usianya baru tujuh tahun.

Pada usia itu, kata “Ayah” seharusnya menjadi tempat berlindung paling aman.

Namun malam itu, dengan bibir bergetar, ia hanya berbisik:

“Dadah, Paman…”

Di seberang sana Rafael tidak mengatakan apa-apa.

Dan dia tetap tidak datang.

Sejak hari itu, setiap kali Rafael memilih Camila dan Arga dibandingkan kami, aku mengajari Nico memanggilnya “Paman”.

Saat acara pertemuan orang tua di sekolah Nico di Jakarta Selatan, ia sudah bercerita kepada teman-temannya selama seminggu penuh bahwa ayahnya akan datang.

“Ayah yang akan menunjukkan proyek sainsku,” katanya dengan bangga.

Namun satu jam sebelum acara dimulai, Camila menelepon lagi.

Menangis seperti biasa.

“Raf, bisa temani Arga ke acara keluarga di sekolahnya? Semua anak datang bersama ayah mereka. Dia malu…”

Aku tidak terkejut ketika Rafael mengambil kunci mobilnya.

“Dina, kamu saja yang datang untuk Nico. Arga lebih membutuhkan aku sekarang. Nico masih punya ibunya.”

Aku tidak menangis.

Aku tidak marah.

Aku hanya menyerahkan ponsel kepada Nico.

“Kirim pesan ke grup sekolah,” kataku.

“Katakan bahwa Paman tidak bisa datang.”

Jari-jari kecilnya gemetar saat mengetik.

Ia menatap lama kata “Paman” sebelum menekan tombol kirim.

Malam itu, Rafael menandatangani beberapa dokumen tanpa membacanya.

Ia mengira itu hanyalah dokumen sekolah milik Nico.

Padahal sebenarnya itu adalah berkas permohonan pemisahan hukum yang telah disiapkan oleh sahabatku yang berprofesi sebagai pengacara.

Ada masa tunggu tiga puluh hari.

Aku berkata pada diriku sendiri:

Jika dalam tiga puluh hari itu ia sadar.

Jika sekali saja ia memilih kami tanpa syarat.

Mungkin aku masih bisa memaafkannya.

Tetapi jika tidak…

Aku akan menggunakan tiga puluh hari itu untuk mengajari anakku agar tidak lagi berharap.

Pada hari ke-28, Rafael tiba-tiba berubah menjadi sangat baik.

“Ayo kita menebus semuanya,” katanya suatu pagi.

“Kita foto keluarga. Bertiga.”

Nico sangat bahagia.

Selama dua minggu ia terus membicarakan baju yang akan dipakainya, bagaimana ia akan tersenyum, dan bagaimana ia akan meletakkan tangannya di bahu ayahnya.

Aku membawanya ke sebuah studio foto di kawasan Sudirman, Jakarta.

Rafael sudah menunggu di sana.

Mengenakan kaus putih.

Terlihat seperti seorang suami dan ayah yang sempurna.

Untuk sesaat, aku ingin percaya.

Aku ingin meyakinkan diriku bahwa masih ada harapan.

Namun sebelum kami masuk ke studio, ponselnya berdering.

Aku bahkan tidak perlu melihat layarnya.

Aku sudah tahu siapa yang menelepon.

“Raf…” suara Camila terdengar terisak. “Tolong jemput Arga di TK. Anak-anak mengejeknya karena dia tidak punya ayah…”

Aku melihat ekspresi Rafael.

Rasa iba.

Keraguan.

Ekspresi yang sama yang selalu muncul sebelum dia meninggalkan kami.

Ia berjongkok di depan Nico, seolah ingin memberikan penjelasan.

Namun kali ini aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku tidak perlu lagi mengingatkan anakku.

Nico sendiri yang mundur setengah langkah.

Lalu ia tersenyum kecil dan melambaikan tangan.

“Tidak apa-apa, Paman.”

Tubuh Rafael langsung membeku.

Nico menatapnya dengan mata merah, tetapi suaranya sangat tenang.

“Pergilah menemui anakmu di luar sana.”

“Aku dan Mama bisa foto keluarga sendiri.”

“Lagipula… keluarga kami memang hanya berdua.”

Seakan ada sesuatu yang pecah di udara.

Rafael tidak bergerak.

Aku pun sulit bernapas.

Nico menggenggam tanganku dan menarikku menuju pintu studio.

Namun sebelum kami masuk, Rafael tiba-tiba berteriak dari belakang.

“Nico! Tunggu!”

Anakku berhenti.

Untuk pertama kalinya dalam hampir sebulan, aku melihat tangan Rafael gemetar saat memegang telepon.

Panggilan itu masih tersambung.

Dan kami mendengar suara Camila dengan sangat jelas dari speaker:

“Raf, cepatlah. Jangan kejar mereka.”

“Kalau kamu tidak datang sekarang… aku akan memberitahu istrimu yang sebenarnya tentang Arga.”

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, wajah Rafael kehilangan seluruh warnanya.

“Apa maksudmu?” suaranya serak.

Di seberang telepon, Camila tertawa kecil.

Tawa yang selama ini selalu terdengar rapuh dan menyedihkan.

Namun kali ini terdengar dingin.

“Sampai sekarang kamu masih belum sadar?”

“Arga bukan anakmu, Rafael.”

Dunia seakan berhenti berputar.

Rafael membeku di tempat.

Aku pun tidak mampu bergerak.

Bahkan Nico yang berdiri di sampingku ikut terdiam.

Camila menarik napas panjang.

“Selama tujuh tahun ini, kamu selalu datang ketika aku memanggil.”

“Kamu membayar sekolahnya.”

“Kamu membayar rumahnya.”

“Kamu membayar seluruh hidup kami.”

“Padahal sejak awal aku tidak pernah bilang Arga adalah anakmu.”

“Aku hanya tidak pernah membantah saat kamu menganggapnya begitu.”

Telepon terjatuh dari tangan Rafael.

Suara benturannya menggema di lantai studio.

Matanya merah.

Tubuhnya gemetar.

Bukan karena marah.

Melainkan karena akhirnya ia menyadari sesuatu yang terlambat.

Selama bertahun-tahun, ia mengejar anak orang lain.

Sementara anak kandungnya sendiri berdiri hanya beberapa langkah darinya.

Dan bahkan sudah berhenti memanggilnya Ayah.

Nico perlahan menggenggam tanganku lebih erat.

“Ayo, Mama.”

Suaranya kecil.

“Terlambat nanti fotonya.”

Aku mengangguk.

Lalu kami berjalan masuk ke dalam studio.

Tanpa menoleh lagi.

Di belakang kami, Rafael masih berdiri seperti patung.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada seorang pun yang memilih menunggunya.


Tiga bulan kemudian, proses perceraian kami selesai.

Aku tidak meminta harta.

Aku tidak meminta balas dendam.

Aku hanya meminta hak asuh penuh atas Nico.

Dan Rafael menandatangani semuanya.

Tanpa perlawanan.

Ia mulai datang setiap minggu.

Membawakan hadiah.

Mainan.

Buku.

Sepeda.

Semua yang dulu tidak sempat ia berikan.

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dibelinya kembali.

Waktu.

Suatu sore, saat matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung Jakarta, Rafael duduk di bangku taman sambil memandangi Nico bermain bola.

Lama sekali ia hanya diam.

Kemudian ia memanggil pelan.

“Nico…”

Anakku menoleh.

Rafael menunduk.

Air mata jatuh untuk pertama kalinya.

“Ayah minta maaf.”

“Maaf karena selalu terlambat.”

“Maaf karena tidak memilihmu.”

“Maaf karena membuatmu memanggil Ayah dengan sebutan Paman.”

Taman itu hening.

Aku bahkan bisa mendengar suara angin yang menggerakkan dedaunan.

Nico berdiri beberapa detik.

Lalu berjalan mendekatinya.

Rafael mengangkat wajah dengan harapan yang rapuh.

Namun Nico hanya tersenyum kecil.

Senyum yang sangat mirip dengannya.

“Tidak apa-apa, Om Rafael.”

Kalimat itu menghancurkan seluruh pertahanan pria tersebut.

Ia menutupi wajahnya dan menangis.

Benar-benar menangis.

Karena akhirnya ia mengerti.

Anak-anak mungkin memaafkan.

Tetapi masa kecil yang hilang tidak pernah bisa kembali.

Dan ada beberapa kata yang, sekali berhenti diucapkan, tidak akan pernah terdengar sama lagi.

Aku memandang langit yang mulai berubah jingga.

Lalu menggenggam tangan Nico.

Kami berjalan pulang perlahan.

Di belakang kami, Rafael masih duduk sendirian.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan apa yang selama ini kami rasakan:

Menunggu seseorang yang tidak datang.

Dan kali ini…

orang itu adalah dirinya sendiri.