AKU MENGEJAR CINTANYA SELAMA EMPAT BULAN.

Namun tepat di pesta ulang tahunnya, seorang wanita asing tiba-tiba muncul.

Dan ketika aku membuka foto yang dikirimnya, aku merasa seolah kehilangan napas…


Aku dan Bella adalah sahabat sejak kecil.

Kami tidak pernah menyembunyikan apa pun satu sama lain.

Sampai hari ketika kami berdua jatuh hati pada kakak masing-masing.

Bella?

Bahkan belum seminggu, kakakku sudah jatuh cinta padanya.

Sedangkan aku…

Butuh empat bulan penuh perjuangan sebelum akhirnya aku bisa mendekati kakaknya, Marco.

Jika Bella dan kakakku adalah pasangan sempurna yang dikagumi semua orang, maka aku dan Marco justru seperti sebuah lelucon besar.

Setidaknya, begitulah pendapat orang-orang.

Mereka mengatakan aku tidak cukup cantik.

Tidak cukup hebat.

Tidak pantas untuk pria yang dianggap kebanggaan seluruh kota.

Awalnya aku tidak mempercayainya.

Namun semakin lama aku bersama Marco, semakin aku merasa mungkin mereka benar.

Marco selalu sopan.

Selalu baik.

Tetapi juga selalu menjaga jarak.

Seolah ada dinding yang tak dapat kulewati, sekeras apa pun aku mencoba.


Malam itu, kedua keluarga berkumpul di sebuah restoran seafood di tepi pantai Bali.

Alunan musik akustik mengiringi aroma seafood bakar yang memenuhi udara.

Aku datang lebih awal.

Marco juga datang lebih awal.

Namun selama dua puluh menit duduk berdampingan, kami hanya berbicara tiga kalimat.

“Bagaimana pekerjaanmu?”

“Baik.”

“Kamu sudah pesan makanan?”

“Sudah.”

Lalu…

Keheningan kembali menyelimuti kami.

Hingga Bella dan kakakku datang.

Bella langsung menggandeng lengan kakakku.

Mereka tertawa dan bercanda tanpa henti.

Melihat mereka, siapa pun bisa merasakan cinta yang begitu besar.

Namun jika melihat aku dan Marco…

Yang terlihat hanyalah kecanggungan dan keheningan.

Saat makan malam berlangsung, tiba-tiba bibi Bella berkata,

“Aku dengar Marco akan segera dipromosikan menjadi regional manager?”

Semua orang langsung memuji.

Lalu seorang kerabat lainnya tersenyum.

“Masa depannya pasti akan semakin cerah.”

Setelah berkata begitu, dia melirik ke arahku.

“Kalau ada yang ingin mengimbanginya, orang itu harus bekerja jauh lebih keras.”

Suasana meja langsung menjadi sunyi.

Aku tahu kata-kata itu ditujukan padaku.

Dan itu bukan pertama kalinya.

Sejak aku mulai dekat dengan Marco, hampir setiap minggu aku mendengar kata-kata seperti itu.

Aku hanya menunduk dan meminum air.

Berpura-pura tidak mendengarnya.

Marco duduk di sampingku.

Diam.

Dia tidak membelaku.

Tidak membantah.

Bahkan tidak menoleh kepadaku.

Dan pada saat itu…

Seolah ada bagian dari hatiku yang membeku.


Makan malam selesai sekitar pukul sepuluh malam.

Semua orang pulang satu per satu.

Aku sengaja berjalan paling belakang.

Dan saat itulah aku melihat Marco berdiri sendirian di lorong sambil berbicara melalui telepon.

Suaranya sangat pelan.

Aku sebenarnya tidak berniat menguping.

Namun beberapa kata sampai ke telingaku.

“…Aku mengerti.”

“…Belum perlu.”

“…Biarkan saja dulu.”

Aku hendak pergi.

Namun langkahku terhenti ketika mendengar kalimat terakhirnya.

“Aku tahu apa yang sedang kulakukan.”

“Lanjutkan saja rencananya.”

Rencana?

Tubuhku membeku.

Rencana apa?

Tentang apa?

Apakah ada hubungannya denganku?

Atau mungkin hubungan ini hanyalah bagian dari sebuah pengaturan?

Sepanjang perjalanan pulang, empat kata itu terus terngiang di kepalaku.

“Lanjutkan saja rencananya.”

Aku tidak tidur sepanjang malam.

Sekitar pukul tiga pagi, aku membuka ponsel.

Dan membuat catatan baru.

Judulnya:

“Bagaimana Cara Membuat Marco Putus Denganku”

Jika dia hanya terpaksa mempertahankan hubungan ini karena alasan tertentu…

Maka aku sendiri yang akan membantunya mengakhirinya.


Keesokan paginya.

Baru saja aku sampai di kantor, Bella menelepon.

Suaranya terdengar ceria.

“Jangan lupa datang nanti malam!”

“Ke mana?”

“Pesta ulang tahun Marco!”

Aku membeku.

“Hari ini ulang tahunnya?”

“Iya.”

Bella terdiam.

“Tunggu… Kakakku belum bilang padamu?”

Aku tidak menjawab.

Karena aku sudah tahu jawabannya.

Tidak.

Dia tidak pernah memberitahuku.

Aku bahkan tidak tahu hari ini ulang tahunnya.

Bella pun terdiam.

Beberapa saat kemudian dia tertawa canggung.

“Mungkin dia terlalu sibuk.”

Setelah telepon ditutup, aku menatap layar ponsel cukup lama.

Dan tersenyum pahit.

Pacar macam apa yang bahkan tidak tahu ulang tahun pacarnya?

Lucu.

Dan menyedihkan.


Tetapi malam itu aku tetap datang.

Seluruh vila tepi pantai terang benderang.

Taman dipenuhi para tamu.

Suara tawa dan percakapan terdengar di mana-mana.

Begitu masuk, aku langsung melihat Marco.

Dia berdiri di tengah keramaian.

Mengenakan kemeja putih.

Tinggi.

Tampan.

Dan tetap menjadi pusat perhatian seperti biasanya.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Di sampingnya berdiri seorang wanita.

Aku tidak mengenalnya.

Dia sangat cantik.

Sangat percaya diri.

Dan sangat dekat dengan Marco.

Wanita itu bahkan berbincang akrab dengan keluarga Marco.

Seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.

Yang membuat darahku semakin dingin adalah reaksi semua orang.

Tidak ada yang terkejut.

Tidak ada yang heran.

Seolah kehadirannya adalah sesuatu yang normal.

Aku hendak bertanya kepada Bella.

Namun aku mendengar beberapa orang berbisik di belakangku.

“Akhirnya dia pulang juga dari luar negeri.”

“Mereka memang sangat serasi.”

“Aku kira Marco akan menunggunya seumur hidup.”

“Dia cinta pertamanya.”

Tanganku yang memegang gelas sedikit bergetar.

Cinta pertama?

Aku menoleh.

Dan tepat pada saat itu, wanita tersebut mendekati Marco.

Dia tersenyum.

Lalu menyerahkan sebuah kotak beludru hitam.

Marco menatap hadiah itu.

Dan untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan, aku melihat emosi yang jelas di matanya.

Emosi yang tidak pernah dia tunjukkan padaku.

Kemudian…

Dia membuka kotak itu.

Dan begitu melihat isinya, ekspresinya langsung berubah.

Detik berikutnya.

Dia menoleh ke seluruh pesta.

Dan tatapannya berhenti tepat padaku.

Wajahnya mendadak pucat.

Seolah sesuatu yang tak terduga baru saja terjadi.

Pada saat yang sama.

Ponselku bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal masuk.

Hanya satu kalimat.

“Benarkah kamu percaya bahwa dia mencintaimu? Kalau ingin mengetahui kebenaran tentang empat bulan terakhir ini, bukalah foto yang kukirim.”

Tanganku gemetar.

Perlahan aku membuka lampiran itu.

Dan ketika foto itu muncul di layar…

Aku merasa jatuh ke jurang yang sangat dalam.

Karena pria dalam foto itu tidak lain adalah Marco.

Dan wanita di sampingnya…

Adalah wanita yang baru saja datang ke pesta ulang tahunnya.

BERSAMBUNG…

Bagian selanjutnya dari kisah ini ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca keseluruhan cerita…

Semoga harimu menyenangkan! 👇

Aku berdiri membeku.

Foto itu jelas memperlihatkan Marco sedang memeluk wanita yang baru saja datang ke pesta.

Tanggal di sudut foto menunjukkan bahwa gambar itu diambil dua tahun lalu.

Jauh sebelum aku mengenalnya.

Namun sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, pesan kedua masuk.

“Apa kamu masih percaya bahwa kamu adalah wanita yang dipilihnya?”

Air mata mulai memenuhi mataku.

Aku tersenyum pahit.

Jadi selama ini…

Aku hanyalah pengganti?

Wanita itu adalah cinta pertamanya.

Dan sekarang dia sudah kembali.

Bukankah sudah jelas siapa yang akan dipilih Marco?

Aku meletakkan gelasku.

Bersiap pergi diam-diam.

Namun saat aku berbalik, seseorang tiba-tiba memegang pergelangan tanganku.

Marco.

Dia tampak panik.

“Ke mana kamu mau pergi?”

Aku memaksakan senyum.

“Selamat ulang tahun.”

“Sepertinya aku tidak seharusnya berada di sini.”

Tatapan Marco berubah.

Dia melihat ponsel di tanganku.

Dan wajahnya langsung pucat.

“Siapa yang mengirim ini?”

Aku tertawa pelan.

“Tidak penting.”

“Kalian memang sangat serasi.”

Namun sebelum aku selesai berbicara, Marco menarikku menuju tengah taman.

Semua tamu terkejut.

Wanita cantik itu juga berdiri terpaku.

Marco mengambil mikrofon.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…

Pria yang selalu tenang itu terlihat gugup.

Sangat gugup.

Dia menarik napas panjang.

Lalu berkata:

“Aku minta maaf.”

“Aku sudah membuat seseorang yang paling penting dalam hidupku merasa sedih.”

Seluruh taman menjadi sunyi.

Kemudian dia mengangkat kotak beludru hitam yang tadi diberikan wanita itu.

Dan membukanya.

Di dalamnya…

Bukan cincin.

Melainkan sebuah jam tangan tua.

Dia tersenyum kecil.

“Semua orang sepertinya salah paham.”

“Dan aku sendiri yang menyebabkan kesalahpahaman ini.”

Dia menunjuk wanita cantik di sampingnya.

“Perkenalkan.”

“Ini Clara.”

“Sepupuku.”

Suasana langsung menjadi gempar.

Clara tertawa.

“Lihat? Aku sudah bilang jangan membuat kejutan seperti ini.”

“Aku baru pulang dari London dan hanya membawa kembali jam tangan peninggalan kakek.”

Semua orang terdiam.

Sedangkan aku hampir tidak bisa bernapas.

Sepupunya?

Lalu foto itu?

Marco mengeluarkan ponselnya.

Dia memperlihatkan foto yang sama.

Dan tersenyum tak berdaya.

“Itu foto ulang tahun Clara dua tahun lalu.”

“Dia memelukku karena menangis setelah putus dengan pacarnya.”

“Dan seseorang sengaja memotong bagian lain dari foto.”

Kemudian Marco memandang ke arah seorang wanita yang wajahnya sudah pucat.

Bibi Bella.

Wanita yang selama ini paling menentang hubungan kami.

“Dan orang yang mengirim foto itu…”

“…adalah dia.”

Semua orang terkejut.

Bibi Bella langsung gemetar.

“Aku… aku hanya takut dia tidak cocok untukmu…”

Namun Marco memotongnya.

“Dari awal sampai sekarang, orang yang terus merendahkannya adalah kalian.”

“Sedangkan orang yang selalu berusaha keras mempertahankan hubungan ini… adalah dia.”

Aku tertegun.

Karena untuk pertama kalinya…

Marco membelaku.

Di depan semua orang.

Dan saat itu juga, aku teringat percakapan teleponnya beberapa hari lalu.

“Lanjutkan saja rencananya.”

Ternyata…

Itu adalah pembicaraan dengan kakakku dan Bella.

Mereka sedang mempersiapkan pesta ulang tahun dan acara lamaran kejutan.

Karena Marco ingin memberiku sesuatu setelah dipromosikan.

Dia ingin memastikan bahwa dia cukup layak untuk masa depanku.

Dan alasan dia tidak pernah mengatakan kapan ulang tahunnya…

Karena sejak kecil, hari ulang tahun selalu mengingatkannya pada hari kematian ibunya.

Dia tidak pernah merayakannya.

Sampai tahun ini.

Karena dia ingin menghabiskan hari itu bersamaku.

Dengan mata yang memerah, Marco berjalan mendekat.

“Sebenarnya…”

“Aku tidak pernah menjadi pria yang pandai bicara.”

“Aku tidak romantis seperti adikmu.”

“Aku juga tidak tahu bagaimana cara menunjukkan perasaanku.”

“Tapi selama empat bulan ini…”

“Setiap hari aku belajar.”

“Karena aku ingin menjadi pria yang pantas untukmu.”

Air mataku jatuh.

Dan air mata Marco juga ikut jatuh.

Kemudian dia berlutut.

Mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya.

Dan berkata dengan suara bergetar:

“Aku tahu empat bulan mungkin terlalu singkat.”

“Tapi kalau kamu tidak keberatan…”

“Maukah kamu memberiku waktu seumur hidup untuk terus belajar mencintaimu dengan lebih baik?”

Seluruh taman langsung dipenuhi tepuk tangan.

Sambil menangis dan tertawa, aku mengangguk.

Dan untuk pertama kalinya sejak kami bersama…

Marco memelukku erat di depan semua orang.

Lalu berbisik pelan di telingaku:

“Maaf membuatmu menunggu begitu lama.”

“Tapi sejak awal…”

“Aku tidak pernah punya rencana untuk kehilanganmu.”

Dua tahun kemudian.

Aku dan Marco menikah di tempat yang sama.

Dan saat para tamu meminta kami menceritakan kisah cinta kami, Marco hanya tersenyum dan berkata:

“Empat bulan baginya mungkin terasa sangat lama.”

“Tapi bagiku…”

“Itu adalah awal dari kebahagiaan seumur hidup.”

TAMAT.