Dan ketika aku kembali tiga tahun kemudian, aku terkejut mengetahui bahwa dia akan menikah dengan sahabatku sendiri…
Tiga tahun yang lalu.
Aku terpaksa meninggalkan Indonesia hanya dalam semalam.
Dan orang yang mendorongku pergi tidak lain adalah Angela, sahabat sekamarku selama empat tahun di universitas.
Saat itu, dia menyerahkan sebuah akun media sosial kepadaku.
“Bisa tolong bantu aku mengobrol dengannya?”
Aku mengira itu hanya candaan biasa.
Aku tidak tahu bahwa satu keputusan itu akan mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu.
Aku menerima undangan pertunangan yang sangat mewah.
Dia yang mengirimkannya.
Sebuah undangan emas eksklusif dikirim langsung ke kantorku.
Di bagian bawahnya hanya ada satu kalimat pendek:
“Kamu harus datang.”
Sebenarnya aku tidak ingin hadir.
Namun tak lama kemudian, Angela menelepon.
Suaranya masih sama lembut seperti dulu.
“Kita kan sahabat.”
“Sudah tiga tahun kita tidak bertemu. Apa kamu tidak ingin melihatku bahagia?”
Aku terdiam cukup lama.
Dan akhirnya aku setuju.
Acara itu diadakan di sebuah resor terkenal di tepi pantai Bali.
Dipenuhi tokoh terkenal dan keluarga-keluarga konglomerat.
Begitu memasuki aula megah itu.
Aku langsung melihat Angela.
Dia mengenakan gaun putih berkilauan.
Wajahnya dipenuhi kebahagiaan.
Namun pria yang berdiri di sampingnya…
Saat aku melihat wajahnya.
Duniaku seolah berhenti.
Gelas di tanganku hampir terjatuh.
Dia.
Pria itu.
Pria yang menemaniku mengobrol setiap malam selama dua tahun.
Pria yang kupikir tidak akan pernah kutemui di dunia nyata.
Namun sekarang.
Dia adalah tunangan sahabatku.
Dan dia juga pemimpin perusahaan terbesar di Asia Tenggara.
Seorang pria yang dijuluki media sebagai “Raja Es”.
Tidak dekat dengan wanita.
Pendiam.
Sulit didekati.
Dan tidak pernah terseret skandal cinta.
Namun sekarang.
Dia berdiri di samping Angela.
Siap menjadi suaminya.
“Bagaimana menurutmu dia?”
Angela dengan manja memeluk lengan pria itu.
Senyumnya penuh kebanggaan.
“Dia sempurna, bukan?”
Aku memaksakan senyum.
“Selamat.”
Tiba-tiba pria itu menoleh kepadaku.
Tatapannya tajam.
Dalam.
Dan menakutkan.
Aku segera mengalihkan pandangan.
Entah mengapa.
Jantungku berdegup sangat kencang.
Seolah rahasia yang kusimpan selama tiga tahun akan terbongkar kapan saja.
Sepanjang malam.
Aku berusaha menghindarinya.
Namun setiap kali aku menoleh.
Aku selalu mendapati matanya sedang memandangiku.
Hal itu membuatku gelisah.
Karena hanya aku yang tahu.
Tiga tahun lalu.
Wanita yang berbicara dengannya setiap hari bukanlah Angela.
Melainkan aku.
Saat itu.
Aku hanyalah mahasiswi miskin.
Kuliah di pagi hari.
Bekerja di malam hari.
Sedangkan Angela adalah putri keluarga kaya yang terkenal.
Selalu menjadi pusat perhatian.
Dan selalu dikelilingi banyak orang.
Semua orang mengira kami adalah sahabat sejati.
Namun hanya aku yang tahu.
Diam-diam dia selalu iri padaku.
Terutama ketika aku terpilih sebagai mahasiswi paling populer di universitas.
Dan sejak saat itulah semuanya dimulai.
Suatu hari.
Dia memberiku akun seorang pria.
Katanya dia ingin mendekati pria itu.
Namun dia tidak tahu caranya.
“Tolong bantu aku.”
“Kamu lebih pandai berbicara daripada aku.”
Aku merasa kasihan.
Dan aku pun setuju.
Namun seiring berjalannya waktu.
Aku perlahan tenggelam dalam dunia yang kami bangun bersama.
Setiap hari kami berbicara.
Tentang mimpi.
Pekerjaan.
Kuliah.
Dan bahkan rahasia-rahasia yang tidak bisa kami ceritakan kepada siapa pun.
Ada malam-malam ketika kami mengobrol sampai fajar.
Aku belum pernah melihat wajahnya.
Dan dia pun belum pernah mendengar suara asliku.
Namun rasanya kami sudah saling mengenal sejak lama.
Sampai Angela menyadari.
Bahwa pria itu semakin tertarik kepada orang yang mengobrol dengannya.
Bukan kepada wanita yang dia pikir sedang berbicara dengannya.
Dan sejak saat itu.
Semuanya berubah.
Pada suatu malam hujan.
Angela melemparkan sebuah map ke hadapanku.
Isinya adalah dokumen-dokumen yang dapat menghancurkan masa depanku.
“Pergi.”
“Atau aku akan memastikan kamu kehilangan segalanya.”
Aku tidak punya pilihan.
Tiga hari kemudian.
Aku naik pesawat.
Dan menghilang dari kehidupan mereka selamanya.
Tiga tahun berlalu.
Kupikir semuanya telah berakhir.
Sampai malam ini.
“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.”
Suara rendah tiba-tiba terdengar dari belakangku.
Aku menoleh.
Dia.
Entah sejak kapan Gabriel sudah berdiri sangat dekat denganku.
Begitu dekat hingga aku hampir bisa mendengar napasnya.
“Aku merasa kita pernah bertemu.”
Katanya pelan.
Aku berusaha tenang.
“Anda salah orang.”
“Benarkah?”
Dia menatap langsung ke mataku.
“Kalau begitu, kenapa kamu takut setiap kali melihatku?”
Aku terdiam.
Tidak mampu menjawab.
Tiba-tiba suara pecahan kaca terdengar dari tengah aula.
Semua orang menoleh.
Angela berdiri di tengah para tamu.
Wajahnya pucat.
Di tangannya ada sebuah buku catatan lama.
Buku yang seharusnya tidak pernah dilihat siapa pun.
Karena di dalamnya tertulis semuanya.
Semua percakapan kami.
Setiap kata.
Setiap rahasia.
Setiap perasaan.
Tanpa ada satu pun yang hilang.
Dengan tubuh gemetar, dia menatapku.
Lalu menoleh kepada pria itu.
“Gabriel…”
Suaranya bergetar.
“Kenapa ada foto dia di laci pribadimu?”
Seluruh aula langsung sunyi.
Bahkan aku pun terpaku.
Gabriel perlahan menoleh.
Tatapannya dingin.
Lebih dingin dari sebelumnya.
Lalu dia mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh ruangan terguncang.
“Akhirnya…”
“Kamu mengeluarkan buku itu juga.”
Pada saat itu.
Aku tahu.
Semua rahasia yang tersembunyi selama tiga tahun akan terbongkar.
Dan hal yang paling menakutkan adalah…
Mungkin Gabriel sudah lama mengetahui siapa wanita yang benar-benar dia cintai dahulu.
BERSAMBUNG…
Bagian selanjutnya dari kisah ini ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca keseluruhan cerita…
Semoga harimu menyenangkan! 👇

Seluruh aula menjadi sunyi.
Angela berdiri gemetar sambil memegang buku catatan itu.
Sedangkan Gabriel hanya memandangnya dengan tatapan dingin.
“Akhirnya…”
“Kamu mengeluarkan buku itu juga.”
Suara Gabriel tenang.
Namun justru ketenangannya membuat semua orang merinding.
Angela memucat.
“Gabriel… aku bisa menjelaskan…”
Namun Gabriel tersenyum tipis.
Senyum yang tidak pernah mencapai matanya.
“Tiga tahun.”
“Aku sudah menunggu selama tiga tahun.”
Seluruh tamu saling memandang dengan bingung.
Termasuk aku.
Gabriel perlahan berjalan ke arah Angela.
Lalu mengambil buku catatan itu dari tangannya.
Dengan hati-hati.
Seolah benda itu adalah harta paling berharga di dunia.
Kemudian…
Dia membukanya.
Dan memperlihatkan salah satu halaman kepada semua orang.
Di sana terdapat tulisan tangan yang sangat kukenal.
Tulisan tanganku.
Tulisan yang kupakai saat menyalin percakapan kami setiap malam.
Air mataku langsung jatuh.
Karena aku ingat.
Dua tahun percakapan itu adalah dua tahun terindah dalam hidupku.
Dan ternyata…
Gabriel menyimpan semuanya.
“Tiga tahun lalu.”
“Aku sudah tahu.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan gempar.
Angela membeku.
Sedangkan aku merasa dunia berhenti berputar.
Gabriel menatapku.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai…
Mata dinginnya berubah menjadi merah.
“Aku tahu orang yang berbicara denganku bukan Angela.”
“Aku tahu sejak tahun kedua.”
Suara napas semua orang seolah terhenti.
Angela berteriak panik.
“Itu bohong!”
“Tidak mungkin!”
Namun Gabriel tertawa kecil.
“Tidak mungkin?”
“Angela bahkan tidak tahu aku alergi udang.”
“Dia tidak tahu nama anjingku.”
“Dia tidak tahu impianku.”
“Tetapi wanita yang sebenarnya…”
Dia memandangku.
“…bahkan tahu aku selalu minum kopi tanpa gula ketika sedang tidak bisa tidur.”
Tubuhku bergetar.
Gabriel melanjutkan.
“Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku salah.”
“Tetapi semakin lama…”
“Aku semakin yakin.”
“Karena tidak mungkin dua hati yang saling mengenal sedalam itu berasal dari orang yang berbeda.”
Angela menangis.
“Lalu kenapa?!”
“Kenapa kamu masih bersamaku?!”
Semua orang menahan napas.
Gabriel menutup buku itu perlahan.
“Karena aku mencarinya.”
“Aku mencari wanita yang sebenarnya.”
“Tetapi dia menghilang.”
“Aku tidak bisa menemukannya.”
“Lalu suatu hari…”
Dia mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya.
Foto kelulusanku di universitas.
Foto yang bahkan aku sendiri sudah lupa keberadaannya.
“Aku menemukannya.”
“Tetapi saat itu dia sudah pergi ke luar negeri.”
“Tiga tahun.”
“Aku mencarinya selama tiga tahun.”
Air mataku tak berhenti mengalir.
Sedangkan Angela jatuh terduduk.
“Tidak…”
“Ini tidak mungkin…”
Tiba-tiba Gabriel membuka kotak cincin pertunangan di depan semua orang.
Dan meletakkannya di atas meja.
“Aku tidak pernah melamar Angela.”
Seluruh aula langsung heboh.
“Apa?”
Gabriel melanjutkan dengan tenang.
“Undangan ini.”
“Pesta ini.”
“Semuanya disiapkan atas permintaan Angela.”
“Dan aku setuju.”
“Bukan untuk bertunangan.”
“Tetapi untuk mengakhiri kebohongan ini.”
Wajah Angela langsung kehilangan warna.
“Kamu memanfaatkanku?”
Gabriel menggeleng.
“Tidak.”
“Kamu sendiri yang memilih jalan ini.”
“Tiga tahun lalu, kamu menghancurkan hidup sahabatmu.”
“Dan selama tiga tahun, kamu terus hidup dengan kebohongan.”
“Sudah waktunya semuanya berakhir.”
Angela menangis histeris.
Namun tak seorang pun membelanya.
Karena semua orang telah mendengar kebenaran.
Malam itu.
Pertemanan kami selama tujuh tahun berakhir.
Dan aku tidak pernah bertemu Angela lagi.
…
Sebulan kemudian.
Aku memutuskan kembali ke Jakarta.
Dan pada hari pertama bekerja.
Seseorang muncul di kantorku membawa sebuket bunga matahari.
Gabriel.
Direktur termuda yang ditakuti banyak orang.
Kini berdiri dengan gugup di depanku.
“Aku tidak tahu bagaimana cara memulai lagi.”
“Tapi…”
Dia tersenyum canggung.
“Bisakah kita mulai dari perkenalan yang seharusnya terjadi tiga tahun lalu?”
Aku tertawa sambil menangis.
“Lalu siapa namamu?”
Dia tersenyum.
“Gabriel Wijaya.”
“Dan aku sangat menyukai wanita yang dulu selalu menyuruhku tidur sebelum jam dua pagi.”
Aku tertawa.
Karena itu memang kalimat yang selalu kukatakan kepadanya dulu.
Enam bulan kemudian.
Kami resmi berpacaran.
Dua tahun kemudian.
Kami menikah.
Dan pada malam pernikahan kami.
Gabriel menyerahkan sebuah kotak kayu kecil.
Di dalamnya terdapat buku catatan lama itu.
Masih utuh.
Masih tersimpan rapi.
Di halaman terakhir.
Ada tulisan baru yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku.”
“Aku mungkin kehilanganmu selama tiga tahun.”
“Tetapi aku tidak akan kehilanganmu lagi untuk seumur hidup.”
Aku menangis sambil memeluknya.
Dan Gabriel berbisik lembut di telingaku.
“Kali ini…”
“Aku akhirnya menikahi wanita yang benar.”
TAMAT.