AKU MENGIRA BARU SEKARANG AKU MENGETAHUI PERSLINGKUHAN SUAMIKU…

Sampai seorang pria mengirimkan hasil tes DNA kepadaku…

Dan mengungkap rahasia mengejutkan yang telah disembunyikan selama empat tahun…

BAGIAN 1: AYAH YANG SELALU TIDAK ADA

Pada hari aku mengetahui bahwa suamiku memiliki keluarga kedua, aku tidak menangis.

Aku juga tidak membuat keributan.

Aku tidak mencakar atau memukul siapa pun.

Sebaliknya, aku hanya tersenyum dan melanjutkan memasak makan malam seperti biasanya.

Setelah itu, diam-diam aku menghubungkan semua notifikasi rekening bank suamiku ke ponsel orang lain.

Orang itu adalah istri sah dari selingkuhannya.

Aku menamai grup notifikasi bersama itu:

“Dana Untuk Keluarga Rahasia.”


Hujan turun deras sore itu.

Butiran air menghantam atap seperti hitungan mundur menuju sebuah ledakan.

Aku sedang menggoreng ikan ketika mendengar pintu rumah terbuka.

Masuklah suamiku, Adrian Pratama.

Ia menepuk-nepuk bahu kemejanya yang basah dan tersenyum.

“Wah, harum sekali masakannya.”

Aku menoleh.

Pria di hadapanku adalah suami yang telah menemaniku selama delapan tahun.

Dan sudah tiga tahun pula ia mengkhianatiku.

“Cuci tangan dulu. Makan malam sudah siap.”

kataku tenang.

Ia meletakkan tas kerjanya.

“Minggu depan aku ada perjalanan dinas dua hari.”

“Baik.”

“Besok malam juga ada rapat.”

“Tidak masalah.”

Ia memandangku.

Seolah menunggu pertanyaan.

Dulu, setiap kali ia pergi, aku yang menyiapkan pakaiannya.

Aku yang mengingatkannya.

Aku yang mengkhawatirkannya.

Tetapi sekarang, aku tidak lagi bertanya.

Karena aku tahu ke mana sebenarnya ia pergi.

Bukan ke kantor.

Bukan ke rapat.

Bukan ke perjalanan bisnis.

Melainkan ke sebuah apartemen kecil sekitar tiga puluh menit dari rumah kami.


Tiga bulan sebelumnya, aku menemukan sebuah tagihan elektronik di emailnya.

Biaya sewa apartemen.

Biaya taman kanak-kanak.

Biaya asuransi anak.

Awalnya aku mengira itu hanya kesalahan.

Sampai akhirnya aku mengikutinya.

Dan melihatnya turun dari mobil.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun berlari keluar sambil berteriak:

“Papa!”

Adrian langsung mengangkat anak itu dengan wajah penuh kebahagiaan.

Dan pada saat itu…

Duniaku seperti berhenti berputar.

Karena aku tidak pernah melihat senyum seperti itu ditujukan kepada putri kami sendiri.

Tidak pernah.


Malam itu, saat ia mandi, aku membuka tabletnya.

Kata sandinya masih sama.

Tanggal pernikahan kami.

Ironi yang sangat menyakitkan.

Di penyimpanan cloud miliknya terdapat ratusan foto.

Ulang tahun.

Liburan.

Natal.

Tahun Baru.

Di setiap foto…

Selalu ada seorang wanita di sampingnya.

Namanya Bianca Wijaya.

Dan seorang anak laki-laki kecil.

Mereka tampak seperti keluarga yang sempurna.

Keluarga yang bahkan tidak pernah aku ketahui keberadaannya.

Aku melihat semuanya satu per satu.

Sampai pada foto terakhir.

Dan di situlah aku menyadari sesuatu.

Suami sah Bianca…

Adalah seorang insinyur bernama Daniel Santoso yang bekerja di luar negeri.

Ia hanya pulang setahun sekali.

Aku tersenyum pahit.

Ternyata…

Aku bukan satu-satunya korban.


Butuh hampir dua minggu bagiku untuk menemukannya.

Namanya Daniel.

Pesan pertamaku sangat singkat.

“Halo.”

“Kurasa kita sama-sama korban.”

Ia tidak membalas.

Aku mengirimkan sebuah foto.

Foto Adrian yang sedang menggendong anak kecil itu di taman.

Sepuluh menit kemudian, teleponku berdering.

Suara pria itu terdengar serak.

“Apakah ini benar?”

“Aku berharap tidak.”

jawabku pelan.

Kami terdiam cukup lama.

Hanya suara kipas angin yang terdengar dari ruang tamuku.

Lalu ia bertanya,

“Apa yang akan kamu lakukan?”

Aku memandang ke arah kamar.

Adrian sedang berbaring sambil tersenyum melihat ponselnya.

Sedang mengobrol dengan seseorang.

Dan sudah lama orang itu bukan aku.

“Aku belum tahu.”

jawabku.

“Tapi ada satu hal yang pasti.”

“Mereka tidak boleh hidup bahagia setelah memperlakukan kita seperti orang bodoh.”


Seminggu kemudian.

Sekolah putriku mengadakan Family Day.

Ia mempersiapkannya selama hampir satu bulan.

Bahkan membuat kartu bertuliskan:

“Untuk Papa.”

Aku tahu Adrian tidak akan datang.

Selalu ada alasan.

Selalu sibuk.

Selalu ada pekerjaan.

Tetapi kali ini, ia sendiri yang berkata:

“Aku pasti datang.”

Putriku begitu bahagia sampai hampir tidak bisa tidur.

Aku hanya tersenyum.

Karena pada hari yang sama…

Daniel mengirim pesan.

Ia baru saja kembali ke Indonesia.

Dan ingin bertemu denganku.


Acara sekolah dimulai pagi-pagi sekali.

Halaman sekolah dipenuhi para orang tua.

Anak-anak tertawa riang.

Putriku terus melihat ke arah gerbang.

Menunggu.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Adrian tidak datang.

Aku tidak terkejut.

Tetapi putriku mulai terlihat sedih.

Tepat saat itu, sebuah mobil hitam berhenti di depan sekolah.

Namun yang turun bukan Adrian.

Melainkan Daniel.

Ia masih mengenakan pakaian dari perjalanan panjangnya.

Wajahnya terlihat lelah.

Tetapi matanya sangat tajam.

“Aku sudah melihat mereka.”

katanya.

Aku terdiam.

“Apa?”

Ia menyerahkan ponselnya.

Sebuah video.

Baru direkam beberapa menit sebelumnya.

Di dalam video itu…

Adrian sedang bersama Bianca dan anak laki-laki tersebut.

Mereka sedang menghadiri sebuah acara keluarga.

Dan yang paling menyakitkan…

Lokasinya hanya di sebuah pusat perbelanjaan yang berjarak kurang dari sepuluh menit dari sekolah.

Artinya…

Ia tidak sibuk.

Ia tidak sedang rapat.

Ia tidak sedang bekerja.

Ia hanya memilih keluarga yang lain.

Daripada putrinya sendiri.


Aku bahkan belum sempat mencerna semuanya ketika mendengar suara dari belakang.

“Mama!”

Aku menoleh.

Putriku berdiri di sana.

Matanya memerah.

Tubuhnya gemetar.

Karena di layar LED besar di tengah sekolah…

Entah bagaimana…

Siaran langsung dari acara di pusat perbelanjaan itu tiba-tiba muncul.

Dan pria yang sedang tersenyum sambil menggendong seorang anak di pundaknya…

Adalah Adrian.

Putriku menarik lengan bajuku dengan tangan gemetar.

“Mama…”

“Bukankah itu Papa?”

Seketika seluruh halaman sekolah menjadi sunyi.

Semua orang tua menoleh ke arah kami.

Dan tepat pada saat itu…

Ponselku bergetar.

Pesan baru dari Daniel.

Hanya berisi satu kalimat:

“Aku sudah mendapatkan hasil tes DNA.”

“Kurasa kamu harus bersiap.”

Seluruh tubuhku bergetar.

Karena…

Ayah kandung anak laki-laki itu…

Bukan Daniel.

Dan ketika aku membaca nama yang tercetak pada laporan DNA tersebut…

Gelas yang kupegang terlepas dari tanganku.

Pecah berkeping-keping di lantai.

Karena nama yang tertulis sebagai ayah biologis…

Adalah seseorang yang tidak pernah kami duga.

Seseorang yang seharusnya sudah meninggal…

Empat tahun yang lalu.

Kelanjutan kisah ini ada di bagian komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca cerita lengkapnya… Semoga harimu menyenangkan! 👇

Daniel menatapku lama.

Aku menatapnya kembali.

Kami sama-sama tidak bisa berkata apa-apa.

Karena nama yang tertera di hasil tes DNA itu…

Bukan Adrian.

Bukan Daniel.

Melainkan satu nama yang sama sekali asing bagi kami:

Kevin Hartono.

“Apa… maksud semua ini?” bisikku.

Daniel menghela napas panjang.

“Aku sudah curiga sejak lama.”

“Empat tahun lalu, Bianca pernah bilang dia butuh transfusi darah darurat.”

“Dan saat itu… dia mulai dekat dengan pria itu.”

Dunia seolah runtuh di kepalaku.

Jadi…

Adrian mengkhianatiku.

Bianca mengkhianati Daniel.

Tapi pada akhirnya…

Bianca juga mengkhianati Adrian.

Orang yang ia pilih pun ternyata bukan miliknya.


Tiba-tiba ponsel Daniel berdering.

Nama yang muncul di layar membuat kami sama-sama tegang.

Adrian.

Daniel mengaktifkan speaker.

Suara di seberang terdengar panik.

“Daniel!”

“Aku tidak bisa menemukan Bianca!”

“Anak itu juga hilang!”

“Aku baru saja menerima hasil DNA!”

“Kenapa… dia bukan anakku?!”

Aku merasakan dingin menjalar ke seluruh tubuh.

Daniel terdiam beberapa detik.

Lalu berkata pelan:

“Akhirnya kau tahu.”

Adrian terdengar semakin hancur.

“Aku meninggalkan keluargaku…”

“Aku mengorbankan Lia…”

“Tapi sekarang aku tidak punya apa-apa…”

Daniel tersenyum pahit.

“Kau masih punya sesuatu.”

“Apa?”

“Akibatnya.”

Lalu ia menutup telepon.


Tiga hari kemudian, Bianca ditemukan di bandara.

Dia mencoba kabur bersama Kevin Hartono.

Namun Kevin sudah menghilang lebih dulu.

Uang yang dikirim Adrian secara diam-diam selama empat tahun…

Lebih dari Rp5,8 miliar rupiah

Habis tanpa jejak.

Bianca menangis di ruang pemeriksaan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya alasan untuk berbohong lagi.


Seminggu kemudian.

Adrian datang ke rumahku saat hujan deras.

Ia berlutut di depan pintu.

“Lia…”

“Berikan aku kesempatan sekali lagi.”

“Aku tahu aku salah.”

“Aku rindu keluarga kita.”

Putri kami berdiri di belakangku.

Ia menatap ayahnya lama.

Lalu bertanya pelan:

“Papa…”

“Kali ini Papa juga akan pergi lagi?”

Satu kalimat sederhana itu membuat Adrian menangis.

Ia jatuh ke tanah, menutup wajahnya.

Seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.

Tapi aku tahu…

Ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan air mata.

Aku menatapnya dengan tenang.

“Adrian.”

“Yang disakiti bukan hanya kamu.”

“Tapi orang yang kamu tinggalkan juga punya hak untuk bahagia.”

Aku menutup pintu.

Pelan.

Tanpa amarah.

Tanpa kebencian.


Satu tahun kemudian.

Aku dan Daniel masih berteman baik.

Anak-anak kami saling akrab.

Hidup kami perlahan kembali tenang.

Adrian pindah ke kota lain.

Hidup sendirian.

Katanya dia bekerja serabutan sekarang.

Setiap ulang tahun putri kami…

Dia tetap mengirim hadiah.

Tapi tidak pernah lagi memaksa dirinya disebut “Papa”.


Seseorang pernah bertanya padaku:

“Apakah kamu masih membencinya?”

Aku tersenyum kecil.

Lalu menggeleng.

“Membenci seseorang terlalu lama itu melelahkan.”

“Aku hanya merasa satu hal.”

“Berkat dia mengkhianatiku…”

“Aku akhirnya belajar sesuatu.”

“Bahwa orang paling penting dalam hidupku…”

“Selalu diriku sendiri.”

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Aku benar-benar tersenyum.