Aku menjalani hubungan online selama tiga tahun dengan seorang pria yang kukira hanya mekanik biasa dari desa kecil.

Aku menjalani hubungan online selama tiga tahun dengan seorang pria yang kukira hanya mekanik biasa dari desa kecil.

Yang tidak dia tahu… semua foto yang kukirim padanya sebenarnya adalah foto sepupuku yang sudah punya empat anak dan selalu memakai daster di rumah.

Aku adalah Mara Villanueva, perempuan 25 tahun, pemilik warung makan kecil dekat pelabuhan di Iloilo.

Hidupku terbiasa dengan kekacauan: teriakan buruh pelabuhan, bau laut, dan suara kapal di pagi buta.

Setiap hari aku menjual bakso ikan dan cumi goreng untuk bertahan hidup.


Tiga tahun lalu, aku bertemu seorang pria di grup online tentang motor tua.

Username-nya: “TambaySaPier”

Awalnya kami hanya membahas mesin dan motor.

Lalu berubah menjadi cerita hidup.

Tentang mimpi.

Kesedihan.

Dan malam-malam tanpa tidur.


Dia bilang dia mekanik di sebuah pulau kecil di Palawan.

Sinyalnya lemah.

Kadang hilang dua minggu penuh.

Aku percaya dia hanya pria sederhana.


Lalu dia mulai meminta fotoku.

Aku insecure.

Bukan karena aku jelek.

Tapi karena aku takut dia kecewa.

Jadi semua foto yang kukirim adalah foto sepupuku, Celia—perempuan berisi, rambut keriting, selalu memakai daster.


Setiap kali aku kirim foto, jawabannya selalu sama:

“Cantik seperti biasanya.”

Aku pikir dia hanya bersikap manis.

Tapi aku mulai jatuh cinta.

Bukan karena wajahnya yang bahkan jarang terlihat jelas di foto.

Tapi karena caranya memperhatikanku.


Saat aku demam, dia menelponku tiga malam tanpa tidur.

Saat warung sebelah terbakar, dia langsung mengirim uang—meski aku menolak.

Setiap pagi dia selalu bertanya:

“Sudah makan?”


Aku mulai berpikir… mungkin cinta memang bisa ada meski belum pernah bertemu.


Sampai suatu malam dia mengirim pesan:

“Ada pekerjaan—eh, aku akan ke Iloilo bulan depan. Aku ingin bertemu.”

Aku terdiam.

“Pekerjaan?”

Tapi yang lebih menakutkan adalah kata “bertemu”.

Karena aku bukan perempuan di foto itu.


Tiga malam aku tidak tidur.

Akhirnya aku memutuskan… aku akan jujur saat kami bertemu.


Hari pertemuan tiba.

Jam lima pagi aku sudah bangun.

Aku merias diri dengan sangat hati-hati.

Pertama kali ke salon setelah dua tahun.

Aku memakai gaun krem dan anting peninggalan ibuku yang sudah meninggal.


Di Iloilo River Esplanade, jantungku hampir meledak.

Jam sepuluh tepat, sebuah SUV hitam berhenti di depanku.

Pintunya terbuka.

Seorang pria turun.

Tinggi.

Berotot.

Sorot matanya tajam, dengan bekas luka panjang di lehernya.


Dia berjalan mendekat.

“Mara?”

“I-iya…”

Dia menatapku lama, lalu tersenyum tipis.

“Lebih cantik dari yang kubayangkan.”


“Tidak marah?” tanyaku.

“Kenapa harus marah?”

“Aku bukan orang di foto.”

“Aku sudah tahu.”


Duniaku seakan runtuh.

“Apa maksudmu?”

“Refleksi rice cooker di belakang sepupumu… aku melihatmu.”

Mataku melebar.

“Dan saat video call… aku merekamnya dan memperbesar gambarnya.”


“Seram sekali kamu!” kataku.

Dia tertawa.

Tawa pertama yang kudengar darinya.

Dalam.

Hangat.


Tiba-tiba tiga mobil polisi berhenti di seberang jalan.

Polisi bersenjata turun cepat.

Aku mundur ketakutan.


“Pak!” seorang polisi memberi hormat.

Aku menatap pria itu.

Dia tetap tenang.

“Tim sudah siap, Pak.”


Aku gemetar.

“Apa yang terjadi?”

Dia tidak langsung menjawab.

Lalu mengeluarkan ID dari sakunya.


CAPTAIN LEON DELA CRUZ
PNP SPECIAL ACTION FORCE


Dunianya berubah.

“Saya cuma mekanik…” kataku lemah.

“Aku memang bisa memperbaiki mesin.”

“Kenapa kamu bohong?”

Dia memegang tanganku.

“Kamu juga tidak jujur tentang dirimu.”


Belum sempat aku menjawab—

“Pak! Target sudah ditemukan!” teriak polisi lain.


Wajah Leon berubah dingin.

“Di mana?”

“Gudang tua dekat pelabuhan.”


Dia menatapku.

“Mara… ada hal yang belum kukatakan.”

“Apa?”

“Pertemuan kita bukan kebetulan.”

Aku membeku.

“Dan ayahmu…”

Tangannya menguat menggenggamku.

“…adalah alasan aku mencarimu selama tiga tahun.”


Bersambung di kolom komentar 👇👇

Tiga tahun pencarian itu akhirnya jatuh ke dalam satu kalimat yang membuatku tidak bisa bernapas.

“Ayahmu… adalah alasan aku mencarimu selama tiga tahun.”

Aku menatap Leon, mencoba mencari tanda bahwa ini hanya salah paham. Tapi tidak ada. Yang ada hanya tatapan tenang seorang pria yang sudah lama hidup di antara bahaya dan rahasia.

“Jangan… bawa ayahku ke sini,” suaraku bergetar. “Dia sudah meninggal.”

Leon menggeleng pelan.

“Tidak semua orang mati benar-benar pergi, Mara.”


Sebelum aku sempat bertanya lagi, radio di bahunya berbunyi.

“Captain, target mulai bergerak. Senjata dipastikan ada di dalam.”

Leon langsung berubah. Sosok pria yang tadi hangat di depanku menghilang, digantikan oleh seseorang yang sangat dingin dan terlatih.

Dia melepas genggamannya perlahan.

“Tunggu di sini,” katanya tegas. “Apa pun yang terjadi, jangan mendekat.”

“Tapi aku—”

“Ini bukan tempatmu.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras dari apa pun.


Dia berjalan pergi tanpa menoleh.

Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari… aku tidak tahu apakah pria itu menyelamatkan orang, atau menghancurkan mereka.


Tiba-tiba suara tembakan pecah dari arah gudang.

Orang-orang di sekitar mulai berteriak dan berlarian.

Hatiku jatuh.

Aku tidak tahu kenapa… tapi aku lari.

Bukan menjauh.

Tapi ke arah suara itu.


Gudang tua itu gelap, berbau karat dan laut.

Aku melihat Leon di dalam, berdiri di balik tiang, pistol terangkat.

Di depannya, seorang pria lain berlutut—diikat.

Dan di sampingnya… sebuah dokumen berserakan di lantai.

Aku melihat nama di atas kertas itu.

Nama ayahku.


Dunia berhenti.

“APA INI?!” suaraku pecah.

Leon menoleh cepat. Wajahnya langsung berubah panik untuk pertama kali.

“Aku bilang tunggu di luar!”

“JAWAB AKU!” aku berteriak. “Apa hubungan ayahku dengan semua ini?!”


Leon menarik napas panjang.

“Dia bukan orang biasa, Mara.”

Dia melirik ke tahanan itu.

“Dia dulu bagian dari jaringan yang kami bongkar. Jaringan perdagangan ilegal. Tapi sebelum kasusnya selesai… dia menghilang.”

Tanganku gemetar.

“Itu bohong…”

“Aku tidak bohong.”

Suaranya lebih pelan sekarang.

“Dan sebelum dia hilang… dia meninggalkan sesuatu.”

Leon mengeluarkan sebuah amplop kecil dari sakunya.

“Namamu.”


Aku tidak mau menerimanya.

Tapi tanganku sendiri yang mengambilnya.

Di dalamnya ada surat lama.

Tulisan tangan ayahku.


Mara… jika kamu membaca ini, berarti aku sudah tidak bisa pulang.

Lari dari mereka bukan berarti aku meninggalkanmu. Aku hanya ingin kamu hidup.

Jika suatu hari seseorang bernama Leon mencarimu… percayalah padanya.


Air mataku jatuh tanpa izin.

“Jadi semua ini…” suaraku pecah, “semua hubungan ini… direncanakan?”

Leon menggeleng cepat.

“Tidak. Yang kita jalani… itu nyata.”

Dia mendekat satu langkah.

“Tapi aku memang dikirim untuk memastikan kamu aman.”


Aku tertawa pahit di antara air mata.

“Aman? Dengan cara membohongiku selama ini?”

Leon terdiam.

Untuk pertama kalinya, dia tidak punya jawaban.


Di belakang kami, polisi berhasil mengamankan target.

Suara sirene mulai memenuhi udara malam.

Tapi aku tidak peduli.

Duniamu bisa berisik… tapi hatiku kosong.


Leon menatapku lama.

“Aku tidak pernah bermaksud jatuh cinta padamu.”

Kalimat itu justru membuat dadaku sakit.

“Tapi kamu jatuh,” jawabku pelan.

Dia tidak membantah.


Aku mundur selangkah.

“Kalau begitu… selesai.”

“Mara—”

“Jangan cari aku.”


Aku berbalik.

Dan berjalan keluar dari gudang itu tanpa menoleh lagi.


Tiga bulan kemudian.

Warung kecilku di pelabuhan kembali buka.

Hidup kembali seperti biasa: suara laut, pelanggan, uang receh di meja kayu.

Rp1.000, Rp5.000, Rp20.000—hidupku kembali sederhana.


Tapi kadang malam, saat lampu sudah redup, aku masih menerima pesan dari nomor tak dikenal.

Tidak pernah panjang.

Hanya satu kalimat:

“Aku masih di sini.”


Aku tidak pernah membalas.

Tapi juga tidak pernah memblokirnya.


Karena ada cinta yang tidak selesai.

Bukan karena tidak nyata.

Tapi karena terlalu rumit untuk kembali ke tempat ia dimulai.


Dan di pelabuhan itu, setiap pagi… aku tetap menjual makanan.

Sambil belajar satu hal:

Tidak semua kebenaran datang untuk menyelamatkan kita.

Kadang… ia datang untuk mengubah kita selamanya.