Aku menurunkan gelas itu perlahan.
Airnya hangat. Tidak pahit.
Tentu saja.
Sekarang dia tidak berani lagi.
Caleb duduk di belakangku, tangannya bertumpu di sandaran kursi. Tatapannya menelusuri wajahku di cermin, seolah ingin memastikan aku masih “Hanna yang patuh”.
“Kamu tidak marah?” tanyanya pelan.
Aku menatap bayangannya di cermin.
“Marah untuk apa? Besok kan hari besar kita.”
Ia tersenyum lega.
Ia tidak tahu, ketenanganku bukan tanda pengampunan.
Melainkan keputusan.
“Aku sudah siapkan gaun cadangan. Desainer dari Milan. Harganya hampir 2 miliar rupiah. Kamu pasti akan jadi pengantin paling sempurna.”
Dua miliar.
Angka yang dulu mungkin akan membuatku terharu.
Sekarang terdengar seperti harga untuk membeli harga diriku.
Aku berdiri, menatapnya langsung.
“Caleb, kalau besok aku tidak jadi datang… apa yang akan kamu lakukan?”
Wajahnya mengeras sepersekian detik.
“Kamu tidak akan melakukan itu.”
“Kenapa begitu yakin?”
Ia mendekat, memegang bahuku.
“Karena kamu mencintaiku.”
Aku tersenyum tipis.
Cinta.
Kata yang begitu mudah ia ucapkan setelah membiarkan orang lain merobek impianku.
“Aku capek. Aku mau tidur,” kataku datar.
Ia mencium keningku, lalu keluar kamar.
Begitu pintu terkunci, aku langsung mengambil ponselku.
Satu pesan masuk.
Dari Enzo.
Nomor yang dulu kusematkan sebagai “Lorenzo Villa”.
Hanya dua kata:
“Aku di Jakarta.”
Jantungku berdetak sekali.
Tenang.
Tidak panik.
Tidak gemetar.
Aku membalas:
“Besok jam 10. Ballroom utama Hotel Arunika. Datang.”
Ia membalas hampir seketika.
“Untuk menghentikan atau menjemput?”
Aku menatap layar lama.
Lalu mengetik:
“Menjemput.”
Hari pernikahan tiba.
Ballroom Hotel Arunika dihias seperti istana. Bunga impor dari Belanda, lampu kristal dari Italia, dan tamu-tamu elit Jakarta memenuhi ruangan.
Nilai kontrak proyek keluarga Santos yang akan diumumkan hari itu mencapai hampir 800 miliar rupiah. Pernikahan ini bukan hanya soal cinta.
Ini tentang bisnis.
Tentang citra.
Tentang warisan.
Aku berjalan memasuki ruangan dengan gaun cadangan.
Putih. Megah. Sempurna.
Semua orang terpana.
Caleb berdiri di altar, tampak bangga.
Liza duduk di barisan depan, wajahnya pucat melihat aku tetap tampil sempurna.
Musik mulai dimainkan.
Aku melangkah perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Lalu aku berhenti tepat di tengah lorong.
Seluruh ruangan hening.
Aku mengangkat mikrofon.
“Sebelum upacara dimulai, saya ingin memutar sebuah video.”
Layar LED raksasa di belakang altar menyala.
Dan muncul—
Rekaman livestream Liza malam itu.
Suara tawanya.
Ucapan “baboy na katay”.
Pengakuan tentang sleeping pill.
Dan…
Wajah Caleb yang tersenyum membiarkan semuanya.
Suara napas tamu-tamu terdengar jelas di seluruh ruangan.
Seseorang menjatuhkan gelas.
Caleb memucat.
“Hanna, matikan ini sekarang.”
Aku menatapnya.
“Kenapa? Bukankah kamu selalu ingin semuanya transparan?”
Direktur-direktur perusahaan keluarga Santos saling berbisik.
Para wartawan yang diundang untuk meliput acara mulai mengangkat kamera.
Liza gemetar.
“Itu cuma bercanda…”
Aku tertawa kecil.
“Merusak gaun senilai 3 miliar rupiah dan membius calon pengantin itu bercanda?”
Aku menatap Caleb untuk terakhir kalinya.
“Kamu bilang posisi Mrs. Santos tidak akan pernah direbut siapa pun.”
“Tenang saja.”
“Aku sendiri yang melepaskannya.”
Aku membuka veil-ku.
Dan saat itu pintu ballroom terbuka.
Seorang pria masuk dengan setelan hitam sederhana.
Lorenzo Villa.
Bukan sebagai pria yang memohon.
Bukan sebagai bayangan masa lalu.
Melainkan sebagai CEO Villa Group, perusahaan investasi yang baru saja mengakuisisi 30% saham kompetitor terbesar Santos Group.
Ruangan semakin gempar.
Ia berjalan tenang mendekatiku.
Tidak menyentuhku.
Hanya berdiri di sampingku.
“Apa kamu yakin?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk.
Lalu aku menoleh ke arah para tamu.
“Hari ini seharusnya saya menjadi istri seorang pria kaya.”
“Tapi saya memilih menjadi perempuan yang tidak bisa dibeli.”
Aku melepas cincin pertunangan bernilai hampir 10 miliar rupiah itu.
Dan meletakkannya di meja altar.
Suara logamnya terdengar begitu jelas.
Caleb mencoba meraih tanganku.
“Kalau kamu pergi sekarang, semuanya hancur!”
Aku menatapnya tanpa emosi.
“Tidak.”
“Yang hancur adalah ilusi bahwa kamu bisa memperlakukanku sesuka hati dan aku tetap tinggal.”
Aku berbalik.
Dan berjalan keluar ballroom.
Di belakangku, kekacauan meledak.
Saham Santos Group anjlok siang itu.
Video livestream menyebar ke seluruh media sosial dalam hitungan jam.
Reputasi keluarga itu retak.
Di luar hotel, matahari Jakarta bersinar terik.
Aku menghirup udara dalam-dalam.
“Ke mana sekarang?” tanya Enzo.
Aku menatapnya.
“Ke tempat yang tidak perlu sleeping pill untuk membuatku diam.”
Ia tersenyum.
Bukan senyum menang.
Bukan senyum sombong.
Hanya senyum seseorang yang menunggu dengan sabar.
Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun—
Aku tidak merasa ditinggalkan.
Aku merasa memilih.
Gaun bisa dihancurkan.
Uang bisa diganti.
Reputasi bisa dibangun ulang.
Tapi harga diri—
Sekali diinjak, hanya bisa dipulihkan dengan keberanian untuk pergi.
Dan hari itu,
Aku tidak gagal menikah.
Aku berhasil menyelamatkan diriku sendiri.

Tiga bulan setelah hari itu, namaku masih sering muncul di media.
Sebagian orang menyebutku wanita ambisius.
Sebagian lagi bilang aku wanita pintar.
Ada juga yang menuduhku sudah lama berselingkuh dengan Lorenzo.
Aku tidak pernah mengklarifikasi apa pun.
Karena kebenaran tidak selalu perlu dibela.
Ia hanya perlu dijalani.
Sementara itu, kabar tentang keluarga Santos semakin suram.
Investor menarik diri.
Proyek 800 miliar rupiah yang mereka banggakan dibekukan karena krisis kepercayaan.
Dan yang paling menyakitkan bagi Caleb—
Villa Group resmi mengakuisisi 18% saham minoritas Santos Group, cukup untuk duduk dalam rapat dewan.
Pada rapat pertama itu, aku ikut hadir.
Bukan sebagai istri siapa pun.
Bukan sebagai calon menantu keluarga kaya.
Melainkan sebagai Direktur Strategi baru Villa Group.
Ruangan hening saat aku masuk.
Beberapa direktur yang dulu berdiri di pesta pertunanganku kini menunduk canggung.
Caleb duduk di ujung meja.
Wajahnya lebih kurus.
Matanya tidak lagi setajam dulu.
Untuk pertama kalinya, aku melihatnya bukan sebagai cinta sepuluh tahunku—
melainkan sebagai seorang pria yang terlalu yakin aku tidak akan pernah pergi.
Rapat dimulai.
Aku mempresentasikan proposal restrukturisasi.
Suaraku stabil.
Tenang.
Tidak ada getar.
Saat sesi tanya jawab, Caleb akhirnya berbicara.
“Apakah ini bentuk balas dendam?”
Semua mata beralih padaku.
Aku menatapnya langsung.
“Kalau ini balas dendam, saya akan memastikan perusahaan Anda bangkrut.”
“Tapi saya di sini untuk investasi.”
“Saya tidak menghancurkan. Saya memilih membangun—hanya saja bukan lagi dengan Anda.”
Tidak ada amarah di wajahku.
Dan justru itu yang paling menyakitkan baginya.
Karena kebencian berarti masih ada rasa.
Ketidakpedulian berarti sudah selesai.
Malam itu, aku berdiri di balkon apartemenku di SCBD.
Lampu-lampu Jakarta berkilau seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Enzo keluar membawa dua gelas wine.
“Kamu menyesal?” tanyanya pelan.
Aku memandang langit.
Menyesal karena kehilangan pria kaya?
Atau menyesal karena tidak memilih kenyamanan?
Aku menggeleng.
“Aku menyesal satu hal.”
“Apa?”
“Aku tidak pergi lebih cepat.”
Angin malam meniup rambutku.
Sepuluh tahun hubungan tidak hancur dalam satu malam.
Ia hancur oleh toleransi yang terlalu panjang.
Oleh kompromi yang terlalu sering.
Oleh kalimat, “Tidak apa-apa, dia tidak sengaja.”
Hari itu aku tidak kehilangan calon suami.
Aku melepaskan versi diriku yang rela diinjak demi tetap dicintai.
Enzo berdiri di sampingku.
Tidak memegang tanganku.
Tidak menuntut apa pun.
Dan aku sadar—
cinta yang dewasa tidak membiusmu agar diam.
Ia berdiri di sampingmu saat kamu memilih berbicara.
Beberapa bulan kemudian, aku kembali ke Paris.
Bukan untuk memesan gaun pengantin.
Tapi untuk memesan gaun untuk diriku sendiri.
Gaun merah.
Bukan putih.
Karena aku tidak lagi ingin terlihat suci.
Aku ingin terlihat berani.
Saat aku berdiri di depan cermin butik itu, aku tersenyum pada bayanganku sendiri.
Bukan sebagai calon Mrs. Santos.
Bukan sebagai wanita yang ditinggalkan.
Bukan sebagai wanita yang membalas.
Melainkan sebagai Hanna Reyes.
Perempuan yang pernah dihancurkan dalam satu malam—
dan memilih bangkit dalam satu keputusan.
Dan jika suatu hari nanti aku menikah lagi,
itu bukan karena aku takut sendirian.
Bukan karena tekanan.
Bukan karena status.
Tapi karena aku memilih.
Karena pada akhirnya,
pesta bisa batal.
Gaun bisa robek.
Reputasi bisa runtuh.
Namun seorang perempuan yang sudah sadar nilainya—
tidak akan pernah bisa direndahkan lagi.
Dan kali ini,
aku tidak berjalan menuju altar.
Aku berjalan menuju hidup yang kupilih sendiri.
Dan langkahku tidak pernah lagi ragu.