Aku menyamar sebagai pramusaji hotel untuk diam-diam mengantarkan hadiah ulang tahun kepada tunanganku yang miliarder di Bonifacio Global City, Taguig… tetapi ketika dari luar ruang VIP aku mendengar rencananya bersama selingkuhannya, saat itulah aku tahu bahwa aku hanyalah bidak dalam rencana mereka untuk merebut perusahaan keluargaku… dan malam itu menjadi awal dari nerakanya.

Aku menyamar sebagai pramusaji hotel untuk diam-diam mengantarkan hadiah ulang tahun kepada tunanganku yang miliarder di Bonifacio Global City, Taguig… tetapi ketika dari luar ruang VIP aku mendengar rencananya bersama selingkuhannya, saat itulah aku tahu bahwa aku hanyalah bidak dalam rencana mereka untuk merebut perusahaan keluargaku… dan malam itu menjadi awal dari nerakanya.

Namaku Isabella Reyes, 27 tahun, putri tunggal mendiang pendiri Reyes Holdings — salah satu keluarga paling berpengaruh di bisnis properti di Bonifacio Global City.

Tiga tahun lalu, ayahku meninggal mendadak karena serangan jantung di kantornya di Reyes Financial Tower.

Sebelum wafat, beliau mewariskan seluruh saham perusahaan kepadaku.

Namun saat itu aku masih muda dan hancur karena kehilangan. Rapat dewan direksi yang tanpa henti, perebutan kekuasaan, dan ratusan pasang mata yang menunggu aku melakukan kesalahan hampir membuatku tenggelam.

Lalu datanglah Gabriel Navarro.

CEO muda dari sebuah perusahaan teknologi terkenal di Makati.

Elegan.
Cerdas.
Nyaris sempurna di mata banyak wanita.

Ia selalu hadir di saat aku paling lemah.

Saat aku menangis merindukan ayahku…
Ia memelukku.

Saat media menyerangku karena keputusan bisnis yang kontroversial…
Ia membelaku.

Saat aku tak bisa tidur karena tekanan…
Ia menemaniku hingga pagi.

Aku percaya ia mencintaiku.

Enam bulan lalu, di sebuah pantai privat di Boracay, ia berlutut dan melamarku. Dengan air mata, aku menjawab ya.

Malam ini adalah ulang tahun Gabriel yang ke-35.

Pestanya digelar di salah satu hotel termewah di Bonifacio Global City. Ia berkata ingin menyiapkan kejutan khusus untuk para tamu sehingga memintaku datang lebih lambat.

Tapi aku juga ingin memberinya kejutan.

Aku menyamar sebagai pramusaji hotel.
Memakai seragam sederhana.
Topi.
Masker.

Di tanganku ada sebuah jam tangan Patek Philippe milik almarhum ayahku.

Aku berniat memberikannya kepada pria yang sebentar lagi menjadi suamiku.

Aku masuk ke area VIP di lantai tertinggi hotel.

Saat hendak mengetuk pintu suite pribadinya…

Aku mendengar tawa dari dalam.

Suara Gabriel.

Dan suara seorang wanita.

Aku terdiam.

Pintu sedikit terbuka.

Aku mengintip melalui celah kecil.

Dan kulihat Gabriel duduk santai di sofa.

Wanita yang duduk di pangkuannya adalah Monica Salazar.

Wakil presiden perusahaan pesaing terbesar keluarga kami di kawasan Ortigas.

Wanita yang pernah secara terbuka menghinaku di media.

Jantungku berdetak cepat.

Monica tertawa sambil mengelus leher Gabriel.

— Aku lelah menunggu. Kapan kamu akan mendapatkan Reyes Holdings?

Gabriel tersenyum miring.

— Setelah malam ini.

Tubuhku membeku.

Monica mengernyit.
— Maksudmu?

Gabriel mengambil sebuah map dari laci.

— Isabella lebih bodoh dari yang kamu kira. Minggu lalu dia menandatangani surat kuasa sementara untuk mengendalikan international investment fund perusahaan tanpa membacanya.

Darahku seolah berhenti mengalir.

Itu dokumen yang katanya hanya formalitas sebelum pernikahan.

Monica tertawa keras.

— Jadi sudah selesai?

Gabriel menggeleng.

Suaranya merendah.

— Nanti malam, setelah dia tampil di depan media sebagai tunangan sempurnaku… pada saat yang sama akan muncul skandal keuangan.

— Polisi keuangan akan menemukan bukti palsu bahwa dia mencuri Rp2.000.000.000.000 dari dana investasi.

Mataku membelalak.

— Dia akan ditangkap langsung di pesta ini.

Monica terdiam sejenak.
— Dan kamu?

Gabriel tersenyum dingin.

— Aku akan berpura-pura jadi pria patah hati yang dikhianati…

— Lalu dewan direksi akan memilihku sebagai pemimpin baru Reyes Holdings untuk “menyelamatkan” perusahaan.

Monica mencium lehernya.

— Lalu apa yang terjadi pada wanita itu?

Gabriel menyeringai.

— Saat dia di penjara…

— Uangnya hilang.

— Namanya hancur.

— Perusahaannya jatuh.

— Semuanya akan menjadi milikku.

Tanganku gemetar hingga kotak jam hampir terjatuh.

Namun mimpi buruk itu belum selesai.

Monica terkikik.

— Bagaimana kalau dia tahu bahwa ayahnya sebenarnya tidak meninggal karena serangan jantung?

Seluruh tubuhku membeku.

Gabriel terdiam beberapa detik…

Lalu ia tertawa.

Tawa yang membuat tulang punggungku merinding.

— Lebih baik satu orang mati daripada dua, bukan?

Kotak hadiah itu terlepas dari tanganku.

BRAK!

Terjatuh keras di lantai marmer.

Tawa di dalam langsung berhenti.

Dan perlahan…

Pintu terbuka.

Pintu terbuka perlahan.

Gabriel berdiri di ambang pintu, wajahnya masih menyisakan ekspresi terkejut. Monica di belakangnya membeku saat melihatku—seragam pramusaji, topi, masker… dan kotak jam yang tergeletak terbuka di lantai.

Topengku kulepas perlahan.

Ruangan itu langsung terasa lebih dingin.

“Isabella…” suara Gabriel melembut seketika. Terlalu cepat. Terlalu terlatih. “Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku menatapnya tanpa air mata.

“Aku harap memang tidak,” jawabku pelan. “Karena kalau benar seperti yang kudengar… maka malam ini akan menjadi sangat memalukan bagimu.”

Monica berdiri. “Kamu menguping?”

“Aku datang membawa hadiah,” kataku sambil mengangkat jam Patek Philippe itu. “Tapi ternyata aku yang diberi hadiah. Kebenaran.”

Gabriel mencoba mendekat, tapi aku mengangkat tangan menghentikannya.

“Kamu benar,” kataku tenang. “Aku memang menandatangani surat kuasa itu.”

Senyumnya muncul kembali. Licik.

“Tapi ada satu hal yang tidak kamu tahu.”

Ia terdiam.

“Ayahku tidak pernah mengajariku menandatangani dokumen tanpa perlindungan. Semua otorisasi besar di Reyes Holdings memerlukan verifikasi biometrik ganda dan persetujuan hukum terpisah.”

Wajah Monica mulai berubah.

Aku melanjutkan, “Surat yang kutandatangani minggu lalu hanyalah draft tidak aktif. Versi asli tidak pernah dilepaskan.”

Gabriel memucat.

“Dan soal skandal?” Aku tersenyum tipis. “Tim audit internal kami sudah melacak upaya manipulasi data sejak dua bulan lalu. IP address-nya mengarah ke kantor perusahaanmu di Makati.”

Sunyi.

“Kamu…” bisik Monica.

Aku menatap mereka berdua.

“Dan yang paling penting,” suaraku kini lebih rendah, “aku tidak datang sendirian malam ini.”

Tepat saat itu, pintu lift VIP terbuka di ujung lorong.

Beberapa pria dan wanita berjas masuk.

Di belakang mereka—dua petugas dari unit kejahatan finansial.

Wajah Gabriel benar-benar kehilangan warna.

“Terima kasih sudah mengakui semuanya barusan,” kataku pelan. “Suite ini sudah direkam sejak aku menjatuhkan kotak itu.”

Monica mundur satu langkah.

Gabriel mencoba tersenyum. “Isabella, kita bisa bicara—”

“Tidak,” potongku. “Kita sudah bicara. Kamu hanya tidak sadar aku yang mendengarkan.”

Petugas melangkah maju.

“Tuan Gabriel Navarro?”

Ia tidak menjawab.

“Kami memiliki surat perintah untuk penyelidikan atas dugaan konspirasi manipulasi pasar, pemalsuan dokumen, dan keterlibatan dalam kematian mencurigakan tiga tahun lalu.”

Kata-kata terakhir itu membuatnya gemetar.

Aku menatapnya lama.

“Kamu salah satu hal, Gabriel,” ucapku pelan. “Aku memang pernah lemah.”

Ia mencoba meraih tanganku.

“Tapi aku bukan pion.”

Petugas menggiringnya keluar suite.

Di bawah, pesta masih berlangsung. Lampu kristal berkilau. Musik tetap mengalun. Para tamu belum tahu bahwa ulang tahun sang CEO berubah menjadi awal kejatuhannya.

Monica berdiri sendirian, wajahnya pucat.

“Permainanmu salah papan,” kataku padanya sebelum berbalik pergi.

Aku berjalan menuju lift pribadi.

Jam tangan ayahku masih di tanganku.

Di dalam lift, untuk pertama kalinya malam itu, napasku bergetar.

Bukan karena takut.

Tapi karena lega.

Ayah…

Aku hampir jatuh.

Tapi aku ingat apa yang selalu kau katakan:

“Dalam bisnis, yang paling berbahaya bukan musuh yang menyerang dari depan—melainkan yang berpura-pura melindungimu.”

Pintu lift terbuka di lobi.

Media mulai gaduh. Berita penangkapan menyebar lebih cepat dari champagne yang mengalir.

Aku melangkah keluar dengan kepala tegak.

Malam itu bukan awal kehancuranku.

Itu adalah malam ketika pewaris Reyes Holdings akhirnya benar-benar lahir.

Dan bagi Gabriel Navarro…

Itulah malam pertama dari nerakanya.