Aku pikir suamiku bekerja jauh demi keluarga kami…

Aku pikir suamiku bekerja jauh demi keluarga kami…

Sampai aku melihatnya di dalam mobil bersama wanita lain. Dan keputusan yang kuambil setelah itu… akan membuatnya membayar semuanya.


Di sebuah jalan dekat pantai di Davao City, saat hari libur, aku duduk di pinggir jalan. Satu tangan memegang kotak makanan styrofoam, tangan lainnya menggendong bayi perempuanku yang baru delapan bulan dan tertidur di bahuku.

Orang lain sedang berlibur.

Aku… sedang bekerja.

Motor dan mobil lewat, penuh tawa dan kebahagiaan. Bau parfum dan makanan bakar memenuhi udara. Aku menunduk, terus menawarkan dagangan.

— Kak, ada ayam, ada ikan… masih hangat…

Tidak ada yang berhenti.

Sampai sore, aku menjual semuanya. Perutku lapar, dadaku sakit karena ASI penuh. Aku berencana mencari tempat di belakang pom bensin untuk menyusui anakku.

Lalu—

Sebuah SUV hitam berhenti perlahan.

Dunia seperti berhenti.

Aku mengenali platnya.

Kaca mobil turun.

Seorang gadis muda menatapku dari dalam—pakaian mahal, kacamata hitam, senyum sombong.

— Kak, masih ada makanan? Dua porsi.

Aku mengeratkan pelukan pada anakku.

— Sudah habis… tinggal satu…

Dia tersenyum.

— Kasihan sekali. Punya suami tapi masih jualan di jalan.

Dia tertawa kecil.

— Kamu tidak tahu ya… perempuan harus pandai menikmati uang laki-laki. Aku saja baru melahirkan, langsung diajak suamiku liburan.

Dadaku terasa diremas.

Pintu kursi pengemudi terbuka.

Seorang pria turun.

Adrian Santos.

Suamiku.

Pria yang bilang dia bekerja di Cagayan de Oro.

Pria yang menangis di depanku, bilang bisnisnya bangkrut.

Pria yang mengambil semua tabunganku saat aku hamil.

Tapi sekarang—

Dia berdiri di sana, rapi, memakai jam mahal, seolah tidak pernah menderita.

Dia memberi minuman pada wanita itu. Wanita itu meminumnya lalu mengembalikan.

Tanpa ragu, Adrian menghabiskan sisanya.

— Tidak jijik pakai barang orang lain?

Wanita itu tersenyum.

Adrian mendekat… dan menciumnya.

— Tergantung orangnya.

Dia tersenyum sinis.

— Istriku di rumah? Bahkan melihatnya saja sudah membuatku muak.

— Kamu… aku ingin memelukmu sepanjang hari.

Tubuhku membeku.

Aku tidak bisa bernapas.

Pintu belakang mobil terbuka.

Seorang wanita tua turun.

Mertuaku.

Doña Teresa.

Dia menggendong bayi laki-laki.

— Untung kita liburan.

— Kalau aku di rumah dan melihat perempuan tidak berguna yang melahirkan anak perempuan itu… aku bisa gila.

Dia menatapku penuh hina.

— Penjual jalanan… menjijikkan.

Adrian mengambil makananku… lalu membuangnya ke tempat sampah.

Mereka masuk ke mobil, tertawa.

Aku tidak bergerak.

Enam bulan terakhir…

Aku memakai semua uang tabunganku untuk mereka.

Merawat “mertua sakitku”.

Bekerja setiap hari di jalan.

Ternyata…

Aku hanya dimanfaatkan.

Bayi di pelukanku bergerak.

Aku menarik napas dalam.

Mengambil ponsel lamaku.

Membuka aplikasi pelacak.

Titik merah bergerak.

Mobil itu.

Mobil yang dibeli orang tuaku sebagai mahar pernikahanku.

Aku menatapnya saat menjauh di jalan pantai yang sepi.

Angin semakin kencang.

Tanganku gemetar… tapi aku menahannya.

Aku menelepon.

— Halo… mobil saya dicuri.

— Arah jalan pantai utara Davao.

— Kunci mesin sekarang.

Hening.

— Nona… jika ada orang di dalam—

Aku melihat ke arah mobil itu.

Melihat Adrian tersenyum.

Melihat wanita itu bersandar padanya.

Melihat mertuaku menggendong bayi laki-laki.

Aku mengepalkan tangan.

— Jangan pikirkan itu.

— Lakukan saja.

Telepon ditutup.

Titik merah berhenti.

Notifikasi muncul:

“Engine locked. System disabled.”

Di tengah jalan sepi—

Mobil itu berhenti.

Ponselku bergetar.

Adrian menelepon.

Aku menjawab.

— Kamu! Apa yang kamu lakukan?!

Suaranya panik.

— Mobilnya tidak bisa jalan! Tidak ada sinyal!

Seorang wanita berteriak di belakang.

— Adrian! Aku takut!

— Bayinya menangis!

Aku menutup mata sebentar.

Lalu berkata dingin:

— Sayang…

— Doamu itu untuk siapa sebenarnya?

Hening.

Lalu napas berat.

Aku tersenyum.

— Tenang saja.

— Towing akan datang.

Aku berhenti.

Menatap langit yang mulai gelap.

— Aku hanya tidak yakin…

— mereka sempat datang sebelum semuanya benar-benar gelap.

Tiba-tiba suara keras terdengar di telepon.

Seperti benturan.

Pintu terbuka.

Dan sebuah suara asing berkata—

— “Akhirnya… kami menemukan kalian.”

Suara di telepon itu terdengar berat, dingin, dan asing.

— “Akhirnya… kami menemukan kalian.”

Panggilan langsung terputus.

Aku berdiri membeku di tepi jalan pantai.

Angin malam makin kencang.

Lampu mobil di kejauhan berkedip-kedip, lalu mati total.

Sunyi.

Tidak ada lagi suara tawa.

Tidak ada musik.

Hanya suara ombak jauh di bawah tebing.


Di dalam mobil itu, aku bisa membayangkan kepanikan mereka mulai pecah.

Adrian berteriak.

— “Ini pasti kamu yang lakukan! Apa yang kamu inginkan?!”

Wanita itu menangis.

— “Adrian, aku takut… ini siapa?!”

Mertuaku memeluk bayi itu erat-erat.

— “Ini pasti jebakan! Ini ulah perempuan itu!”


Aku menatap layar ponselku.

Titik merah masih diam.

Terjebak.

Di tengah jalan sepi tanpa sinyal.

Aku menghela napas pelan.

Bukan karena kasihan.

Tapi karena akhirnya… semuanya berjalan sesuai rencana.


Tiga tahun lalu, mobil itu dibeli atas namaku.

Tanah, rekening, bahkan perusahaan kecil yang dulu mereka banggakan—semuanya pernah tercatat atas namaku.

Dan selama enam bulan terakhir…

Aku bukan hanya “istri yang ditinggalkan”.

Aku adalah orang yang diam-diam mengaktifkan kembali semua aset yang mereka kira sudah mereka kuasai.


Aku menekan satu tombol lagi di ponselku.

“Asset freeze: active.”


Di kejauhan, suara mesin mobil mulai terdengar—tapi bukan suara jalan.

Lebih seperti sistem yang mati satu per satu.

Lampu mobil itu benar-benar padam.


Aku berbisik pelan.

— “Kalian bilang aku tidak berguna…”

Aku tersenyum tipis.

— “Sekarang, coba hidup tanpa apa pun yang kalian ambil dariku.”


Beberapa menit kemudian.

Lampu senter terlihat dari kejauhan.

Tim penarik datang.

Dan suara panik Adrian terdengar terakhir kali di telepon yang kembali tersambung otomatis.

— “Tolong! Kita di sini! Kita tidak bisa keluar!”

Aku menatap laut.

Tenang.

Dingin.

Tidak menjawab.

Lalu aku menutup panggilan.


Saat aku berbalik, bayi di pelukanku bergerak kecil.

Aku mengusap punggungnya perlahan.

Untuk pertama kalinya malam itu… aku tidak menangis.


Karena aku sadar satu hal:

Mereka tidak mengkhianati wanita lemah.

Mereka mengkhianati seseorang yang diam…
sambil menghitung waktu.


Dan permainan ini…

baru saja dimulai.