“Aku pikir suamiku tidak mencintaiku… sampai ibu mertuaku mengaku:

— Akulah alasan mengapa dia menjadi seperti ini.

Dan saat itulah aku menyadari bahwa mereka hanya menjadikanku sebagai istri untuk menutupi hubungan yang telah lama rusak dan diam-diam menghancurkan hidup kami semua.

Aku berdiri di ujung koridor ketika hujan deras menghantam jendela kaca patri rumah tua itu. Dadaku terasa sesak, seolah ada simpul besar yang membuatku sulit bernapas.

Lalu aku mendengar suara Ratna.

— Pelankan suaramu. Nanti dia bangun.

— Mungkin sudah waktunya dia tahu semuanya, jawab Arga.

Tubuhku langsung menegang.

Pintu kamar sedikit terbuka. Aku mengintip melalui celah kecil.

Aku melihat Arga duduk di sisi tempat tidur ibunya. Ratna mengenakan jubah berwarna merah anggur. Dengan lembut ia mengusap wajah putranya dengan cara yang tidak terlihat seperti kasih sayang seorang ibu biasa.

Jarinya menyusuri rahang Arga seolah sudah menghafal setiap lekuk wajahnya.

Arga memejamkan mata.

Perutku langsung terasa mual.

— Aku sudah memperingatkanmu sebelum pernikahan itu, bisik Ratna. — Perempuan itu tidak akan pernah mengerti dirimu.

— Jangan bicara seperti itu tentang Camila.

— Kalau begitu berhentilah menatapku seolah semua ini salahku.

Keheningan yang berat memenuhi ruangan.

Aku tidak benar-benar memahami apa yang sedang kulihat.

Namun tubuhku tahu.

Ada sesuatu yang salah.

Sangat salah.

Aku mundur perlahan.

Lantai kayu berderit.

Seketika semuanya menjadi sunyi.

— Siapa di sana? tanya Ratna.

Tanpa berpikir panjang aku berlari kembali ke kamar yang kutempati bersama Arga, lalu pura-pura tidur.

Beberapa detik kemudian aku mendengar langkah kaki.

Pintu terbuka perlahan.

Aku bisa merasakan Arga berdiri di samping tempat tidur.

Aku memejamkan mata sekuat mungkin.

Dia berdiri cukup lama.

Lalu pergi.

Hampir satu jam kemudian ia kembali dan berbaring di sisi lain tempat tidur, meninggalkan jarak dingin yang selama bertahun-tahun selalu ada di antara kami.

Dan saat itu sebuah kenyataan mengerikan menghantamku.

Bukan karena suamiku tidak tahu cara mencintai.

Melainkan karena dia telah belajar memberikan cintanya kepada orang yang salah.

Aku tidak tidur semalaman.

Keesokan paginya langit Jakarta tampak kelabu. Aroma tanah basah memenuhi udara.

Ratna sudah berada di dapur, menyajikan kopi seolah tidak terjadi apa-apa.

Arga duduk diam sambil menatap ponselnya.

Mereka terlihat normal.

Sedangkan aku merasa sedang hidup bersama orang asing.

— Kau tampak tidak tidur semalam, kata Ratna tanpa menatapku.

Cara dia mengatakannya membuatku yakin dia tahu aku melihat semuanya.

— Aku mendengar suara semalam, jawabku.

Arga langsung mengangkat kepala.

Tatapan kami bertemu.

Dan itu sudah cukup.

Ada ketakutan di matanya.

Bukan kemarahan.

Bukan rasa malu.

Melainkan ketakutan.

— Ibu cemas karena badai, katanya cepat. — Aku hanya menemaninya.

— Tentu saja.

Aku tidak berkata apa-apa lagi.

Karena ada kebenaran yang terlalu berat untuk langsung diucapkan.

Hari itu juga aku pergi ke rumah ibuku di Bandung dengan alasan mengantar beberapa dokumen.

Begitu melihatku, beliau langsung tahu ada sesuatu yang salah.

— Apa yang terjadi, Nak?

Selama bertahun-tahun aku selalu menjawab “tidak apa-apa” ketika ditanya tentang pernikahanku.

Namun hari itu aku menangis seperti anak kecil yang tersesat.

Aku menceritakan semuanya.

Hubungan kami yang dingin.

Alasan-alasan Arga.

Malam itu.

Cara Ratna menyentuhnya.

Dan kalimat yang terus menghantuiku.

— Aku tidak sanggup lagi.

Ibuku mendengarkan dalam diam.

Wajahnya semakin pucat.

Setelah aku selesai bicara, ia menunduk lama.

— Katakan bahwa aku salah paham, bisikku.

Ia memejamkan mata.

— Ada banyak kemungkinan yang kupikirkan. Dan tidak satu pun terdengar baik.

— Menurut Ibu… apakah mereka memiliki hubungan yang tidak semestinya?

Aku bahkan tidak sanggup menyelesaikan pertanyaanku.

Ibuku menggenggam tanganku.

— Aku tidak tahu hubungan seperti apa yang mereka miliki. Tapi aku tahu itu tidak normal. Dan aku tahu kau tidak boleh terus hidup tanpa jawaban.

Malam itu aku pulang dengan sebuah keputusan.

Aku tidak akan berteriak.

Aku tidak akan menuduh tanpa bukti.

Aku akan bertanya.

Namun ketika aku tiba di rumah, hanya Ratna yang ada di ruang tamu.

Dia sedang menyulam dengan tenang.

— Arga masih di kantor, katanya. — Dia pulang agak malam.

Aku berdiri di depannya.

— Bagus.

Ratna menatapku.

Dia tidak tampak terkejut.

Seolah sudah lama menunggu hari ini.

— Apa yang kau lihat semalam?

Aku menggigil mendengar nada suaranya.

— Cukup banyak.

Dia meletakkan kain sulamannya.

— Tidak. Belum cukup.

— Kalau begitu jelaskan, kataku dengan suara bergetar. — Hubungan seperti apa yang sebenarnya kalian miliki?

Hujan masih turun di luar.

Aku menunggu penjelasan yang masuk akal.

Sesuatu yang bisa menghapus mimpi buruk dalam pikiranku.

Namun Ratna hanya menarik napas panjang.

— Arga adalah milikku lebih dulu sebelum menjadi milik perempuan mana pun.

Darahku terasa membeku.

— Apa maksud Ibu?

Ratna tersenyum tipis.

Bukan senyum hangat.

Melainkan senyum lelah dan penuh luka.

— Kau tidak akan mengerti karena kau masih normal…

Air mata terus mengalir di wajah Arga.

Namun untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku tidak lagi merasa ingin menyelamatkannya.

Karena aku akhirnya mengerti satu hal.

Tidak semua orang yang terluka bisa kita sembuhkan.

Dan tidak semua orang yang menderita berhak menghancurkan hidup orang lain.

Aku menatap mereka berdua.

Ratna yang duduk dengan wajah pucat dan kosong.

Arga yang berdiri di tengah ruang tamu, hancur oleh bertahun-tahun rasa bersalah, ketakutan, dan ketergantungan yang tidak pernah benar-benar ia lawan.

Mereka sama-sama terluka.

Tetapi luka mereka telah menjadi rantai yang mengikat orang lain.

Termasuk aku.

Aku menarik napas panjang.

Lalu meletakkan cincin pernikahanku di atas meja.

Suara logam kecil itu terdengar begitu jelas di tengah keheningan.

Arga mengangkat kepalanya.

Matanya langsung membesar.

— Camila… jangan.

Aku menggeleng pelan.

— Selama tiga tahun aku berpikir ada yang salah denganku.

— Aku pikir aku kurang cantik.

— Kurang sabar.

— Kurang baik.

Suaraku mulai bergetar.

— Aku terus menyalahkan diriku sendiri karena tidak bisa mendapatkan cinta suamiku.

Air mata memenuhi mataku.

— Padahal kenyataannya, aku memasuki sebuah perang yang sudah dimulai jauh sebelum aku datang.

Tidak ada yang menjawab.

Karena tidak ada yang bisa membantahnya.

Aku mengambil tas yang sudah kusiapkan sejak sore.

Arga langsung melangkah mendekat.

— Tolong… beri aku kesempatan memperbaiki semuanya.

Aku menatapnya lama.

Lalu tersenyum sedih.

— Kesempatan itu sudah kuberikan setiap hari selama tiga tahun.

Tubuhnya seakan kehilangan tenaga.

Aku berbalik menuju pintu.

Di belakangku, suara Ratna terdengar pelan.

— Maafkan aku.

Aku berhenti.

Namun tidak menoleh.

Karena ada beberapa luka yang tidak membutuhkan permintaan maaf.

Ada beberapa pengkhianatan yang hanya bisa dijawab dengan pergi.

Malam itu aku meninggalkan rumah itu.

Meninggalkan kebohongan.

Meninggalkan rasa bersalah yang bukan milikku.

Dan meninggalkan kehidupan yang selama ini membuatku percaya bahwa aku tidak cukup berharga untuk dicintai.


Enam bulan kemudian.

Aku pindah ke kota lain.

Memulai hidup baru.

Aku kembali bekerja.

Kembali tertawa.

Kembali tidur tanpa menangis.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa damai.

Suatu pagi, saat menikmati secangkir kopi di balkon apartemen kecilku, sebuah pesan masuk ke ponselku.

Dari Arga.

Hanya satu kalimat.

“Aku akhirnya menjalani terapi. Untuk pertama kalinya aku benar-benar menghadapi hidupku sendiri. Terima kasih karena pernah mencoba menyelamatkanku. Maaf karena aku tidak pernah tahu cara mencintaimu dengan benar.”

Aku membaca pesan itu lama.

Lalu tersenyum pelan.

Tidak ada amarah.

Tidak ada kebencian.

Hanya sebuah akhir.

Aku menutup layar ponsel.

Memandang matahari yang perlahan terbit di ufuk timur.

Dan saat cahaya hangat menyentuh wajahku, aku menyadari sesuatu.

Kadang-kadang, akhir yang bahagia bukanlah ketika seseorang kembali kepada kita.

Melainkan ketika kita akhirnya kembali kepada diri kita sendiri.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

Aku benar-benar bebas.