Aku pulang diam-diam saat jam makan siang untuk melihat keadaan suamiku yang katanya sedang sakit parah. Aku berusaha tidak menimbulkan suara, tapi suaranya justru terdengar jelas dari lorong—pelan, tegas, dan sama sekali tidak seperti nada lemah yang selalu ia gunakan di depanku. Lalu aku mendengar kata-kata yang tidak seharusnya ada dalam pernikahan kami, dan perutku langsung terasa berat. Lututku hampir lemas ketika kebenaran yang kejam dan tak terbantahkan itu menyatu di dalam rumahku sendiri.

Aku pulang diam-diam saat jam makan siang untuk melihat keadaan suamiku yang katanya sedang sakit parah. Aku berusaha tidak menimbulkan suara, tapi suaranya justru terdengar jelas dari lorong—pelan, tegas, dan sama sekali tidak seperti nada lemah yang selalu ia gunakan di depanku. Lalu aku mendengar kata-kata yang tidak seharusnya ada dalam pernikahan kami, dan perutku langsung terasa berat. Lututku hampir lemas ketika kebenaran yang kejam dan tak terbantahkan itu menyatu di dalam rumahku sendiri.

Aku kembali karena rasa bersalah tak henti menghantuiku.

Sudah tiga hari Arga Pratama “sakit parah” dan tidak masuk kerja. Wajahnya pucat. Batuk-batuk. Mengaku lemas. Aku menyiapkan air di sampingnya, mengingatkannya minum obat lewat pesan, lalu berangkat ke kantor dengan perasaan bersalah karena meninggalkannya sendirian. Setiap pagi ia memberiku senyum lemah penuh terima kasih dari sofa. Dan setiap kali pintu tertutup di belakangku, diam-diam aku merasa hari menjadi lebih ringan—dan aku membenci diriku sendiri karena itu.

Jadi aku memutuskan untuk memberinya kejutan. Sup ayam dari deli favoritnya. Minuman jahe kesukaannya. Ciuman singkat sebelum kembali bekerja. Bukti bahwa aku tetap merawatnya.

Aku memarkir mobil beberapa rumah dari rumah kami di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, agar suara garasi tidak membangunkannya. Lingkungan tampak biasa saja: pepohonan meranggas karena musim hujan yang dingin, anak-anak pulang sekolah menyeret tas, seekor anjing menggonggong di balik pagar. Rumah kami tampak tenang dengan tirai tertutup—jenis rumah yang orang sebut damai.

Aku masuk sambil menjinjit, sepatu di tangan. Lalu aku membeku ketika mendengar suaranya.

Ia tidak batuk. Tidak terdengar lemah. Ia mondar-mandir di ruang tamu, suaranya rendah dan terkontrol, ada nada mendesak yang sama sekali tidak cocok dengan peran sakit yang ia mainkan sepanjang minggu.

Aku bersembunyi di lorong, jantung berdegup keras, mendengarkan seolah aku tidak seharusnya berada di sana.

— Tidak, kamu tidak mendengarkan —kata Arga—. Jadwalnya sudah aku kirim. Dia tidak boleh curiga sebelum hari Jumat.

Jumat.

Perutku mual. “Dia”?

Suara seorang perempuan terdengar dari speaker ponselnya. Pelan, tapi tajam.

— Berhenti menunda. Kamu sudah berjanji.

Mulutku terasa kering.

— Aku sedang mengaturnya —bisik Arga—. Dia pintar. Kalau aku memaksa, dia akan mulai menyelidik. Dan kalau dia menyelidik…

— Lalu apa? —potong perempuan itu—. Kamu akan mundur? Aku tidak akan menunggu selamanya. Aku mau apa yang kamu janjikan.

Kantong sup di tanganku hampir terlepas karena keringat. Aku bersandar ke dinding. Lorong terasa memanjang. Lututku gemetar.

Melalui celah sempit, aku melihatnya. Ponsel di telinga. Berdiri tegak. Sehat. Waspada. Kesal. Sama sekali tidak terlihat sakit.

— Uangnya sudah aku transfer —katanya—. Bagian itu sudah selesai. Biarkan aku menyelesaikan sisanya.

Uang.

Seharusnya kami tidak punya uang lebih. Dua malam lalu ia memarahiku karena katanya kami kekurangan sampai bonusku cair. Bahkan ia tampak kecewa ketika aku berkata kami masih aman dengan tabungan Rp5.000.000 yang tersisa.

Perempuan itu tertawa pelan—dingin.

— Ditransfer ke mana? Aku mau bukti.

Arga berhenti berjalan.

— Akan kamu dapatkan. Setelah Jumat. Aku kirimkan dokumennya. Sertifikat rumah. Rekeningnya. Semuanya.

Sertifikat. Rekening. Dokumen.

Pandangan mataku menyempit. Ini bukan salah paham. Ini rencana. Ada jadwal. Ada dokumen. Tidak ada orang yang memindahkan sertifikat dan rekening tanpa sedang membangun kehidupan lain.

Tiba-tiba ia menoleh, seolah merasakan sesuatu. Aku mundur lebih dalam ke bayangan sebelum tatapannya menyapu lorong. Ia tidak melihatku, tapi sempat terdiam.

Lalu dengan suara tenang ia berkata ke telepon:

— Dia sudah di rumah. Aku harus tutup sekarang.

Telepon itu terputus.

Sunyi.

Aku berdiri terpaku beberapa detik, lalu perlahan melangkah masuk ke ruang tamu seolah baru saja pulang dari kantor. Aku menjatuhkan tas dengan sengaja agar terdengar.

Arga menoleh. Wajahnya berubah sepersekian detik—kaget, lalu kembali menjadi topeng lemah yang sudah kuhafal.

“Kamu… pulang?” suaranya tiba-tiba serak. “Kenapa tidak bilang?”

Aku tersenyum kecil, mengangkat kantong sup.
“Mau kasih kejutan. Kupikir kamu butuh sesuatu yang hangat.”

Ia menatapku, mencoba membaca wajahku. Mungkin mencari tanda bahwa aku sudah mendengar semuanya. Tapi aku hanya mendekat, meletakkan sup di meja, dan menyentuh dahinya.

“Sudah lebih baik?” tanyaku lembut.

Ia mengangguk cepat. Terlalu cepat.

Aku duduk di seberangnya. “Arga… boleh aku tanya sesuatu?”

“Hmm?”

“Kita benar-benar kekurangan uang?”

Ia terdiam satu detik. “Ya. Kenapa?”

Aku menatap matanya. Tenang. “Aneh saja. Karena notifikasi dari bank masuk ke emailku tadi pagi.”

Wajahnya menegang.

“Ada transfer Rp350.000.000 keluar dari rekening bersama kita.”

Hening.

Jam dinding berdetak keras, seperti memukul ruang itu.

“Aku… itu investasi,” katanya akhirnya. “Teman bisnis.”

“Dengan sertifikat rumah dan seluruh rekening?” suaraku masih lembut, tapi setiap kata terasa seperti pisau yang rapi dan presisi.

Ia berdiri. “Kamu menguping?”

“Aku pulang untuk merawat suamiku yang sakit,” jawabku pelan. “Tapi yang kutemukan adalah pria sehat yang sedang memindahkan masa depan kami ke perempuan lain.”

Ia tidak menyangkalnya.

Dan justru itu yang paling menyakitkan.

Air mataku tidak jatuh. Anehnya, aku merasa sangat tenang. Seolah tiga hari rasa bersalah, khawatir, dan cinta yang kupaksakan akhirnya runtuh sekaligus.

“Aku sudah bicara dengan pengacara tadi pagi,” lanjutku. “Sebelum aku pulang.”

Sekarang ia benar-benar pucat.

“Apa maksudmu?”

“Bonusku bukan kecil, Arga. Aku belum pernah cerita detailnya. Aku baru saja diangkat jadi direktur keuangan. Semua aset atas namaku sudah diamankan. Dan sejak tadi pagi, rekening bersama kita dibekukan sementara atas permintaanku.”

Ia menatapku tak percaya.

“Kamu tidak mungkin—”

“Aku mungkin.” Aku berdiri. “Dan perempuan itu? Dia tidak akan menerima apa pun lagi. Karena setelah perceraian ini, kamu akan membayar utang yang kamu buat sendiri.”

Suasana menjadi berat. Topengnya retak. Untuk pertama kalinya, ia terlihat takut.

“Aku bisa jelaskan—”

“Tidak,” potongku. “Yang kamu rencanakan bukan kesalahan sesaat. Itu pengkhianatan yang terjadwal.”

Aku mengambil kembali tas dan ponselku.

“Sertifikat rumah? Tetap atas namaku. Rekening? Sudah tidak bisa kamu sentuh. Dan hari Jumat?”

Aku menatapnya terakhir kali.

“Hari Jumat aku akan datang ke kantor notaris. Bukan untuk mengirimkan dokumen padanya.”

“Tapi untuk mengakhiri semuanya.”

Aku berjalan keluar rumah itu tanpa menoleh lagi. Udara siang terasa berbeda—lebih dingin, lebih jujur.

Aku datang ke rumah itu dengan rasa bersalah.

Aku pergi dengan harga diriku kembali utuh.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, langkahku terasa ringan.