AKU PULANG LEBIH AWAL—DAN WANITA YANG REBAHAN DI SOFAKU MALAH MENYURUHKU MEMBERSIHKAN KAMAR MANDI… JADI AKU MEMANG “MEMBERSIHKAN”, TAPI YANG KUBERSIHKAN ADALAH BARANG-BARANG MEREKA KELUAR DARI RUMAH

Namaku Clarissa Mahendra. Aku adalah CEO dari perusahaan yang kubangun sendiri dari nol. Dengan kerja keras bertahun-tahun, aku berhasil membangun rumah mewah impian untukku dan suamiku, Mike Prasetyo.

Mike adalah house husband—dia tinggal di rumah sementara aku bekerja siang malam.

Aku pikir kami bahagia.

Aku pikir dia mengurus rumah dengan baik.

Suatu siang, rapat dewan direksiku tiba-tiba dibatalkan. Aku memutuskan pulang lebih awal sekitar jam dua siang. Aku tidak menelepon Mike karena ingin memberinya kejutan.

Saat masuk ke rumah, suasananya sangat sunyi.

AC ruang tamu menyala dingin sekali.

Lalu saat aku menoleh ke arah sofa…

mataku langsung membelalak.

Ada seorang wanita muda—mungkin masih umur dua puluhan—memakai crop top dan celana pendek santai, sedang rebahan di sofa Italian leather mahal milikku. Kakinya diangkat ke atas meja tengah sambil santai mengecat kuku.

Dia melihatku.

Tatapannya naik turun menilai penampilanku. Karena baru pulang dari inspeksi proyek, aku hanya memakai jeans dan kaus sederhana. Rambutku pun agak berantakan.

Aku sama sekali tidak terlihat seperti seorang CEO saat itu.

“Kamu siapa?” tanyanya ketus tanpa menurunkan kaki dari meja.

“A-aku?” jawabku bingung.

“Oh! Aku tahu!” katanya sambil memutar mata. “Kamu pasti ART pengganti yang dipanggil Mike? Lama banget sih datangnya. Aku dari tadi nunggu.”

Darahku langsung mendidih.

ART?

Di rumahku sendiri?

Dan siapa wanita ini sampai memanggil suamiku hanya dengan namanya?

Tapi bukannya marah, aku justru menarik napas panjang dan tersenyum tipis.

Senyum manis… yang penuh racun.

“Oh iya?” kataku pelan sambil menutup pintu rumah. “Terus… kamu mau aku bersihin apa?”

Wanita itu menunjuk asal ke arah lantai dua.

“Kamar mandi utama kotor banget. Mike bilang pembantu lama berhenti mendadak, jadi kamu harus bersihin semuanya hari ini.”

Aku mengangguk kecil.

“Baik.”

Lalu aku naik ke lantai atas.

Tapi bukannya mengambil alat pel, aku malah membuka pintu walk-in closet utama.

Dan di situlah…

aku melihat semuanya.

Gaun-gaun mahal yang bukan milikku.

Tas branded dengan label baru.

Sepatu wanita berserakan.

Bahkan koper pink besar berdiri di sudut ruangan seperti seseorang sudah tinggal lama di sana.

Tanganku langsung dingin.

Mike… membawa wanita lain tinggal di rumah yang kubeli dengan uangku sendiri.

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Tapi karena terlalu marah sampai rasanya hampir gila.

Aku turun lagi ke bawah dengan tenang.

Wanita itu masih santai bermain ponsel.

“Eh, cepat ya bersihinnya,” katanya tanpa melihatku. “Nanti malam aku sama Mike mau dinner.”

Aku tersenyum lebih lebar.

“Oh, tenang saja,” jawabku lembut. “Hari ini memang akan ada banyak yang dibersihkan.” ☘️🌝🥳

Aku berjalan ke ruang penyimpanan belakang dan mengambil beberapa kardus besar.

Lalu satu per satu…

aku mulai memasukkan semua barang wanita itu ke dalam kardus.

Tas branded.

Sepatu hak tinggi.

Makeup mahal.

Bahkan foto-foto mesra dia dengan Mike yang tergantung di kamar tamu.

Aku membungkus semuanya dengan tenang.

Sangat tenang.

Wanita itu akhirnya sadar ada yang aneh.

“Hei! Ngapain kamu?” tanyanya sambil berdiri.

Aku tetap melipat gaunnya dengan rapi sebelum memasukkannya ke kardus berikutnya.

“Membersihkan,” jawabku santai.

Dia mulai marah.

“Itu barang-barangku!”

Aku mengangguk kecil.

“Iya. Makanya aku pindahkan keluar.”

Tepat saat itu, suara pintu garasi terbuka terdengar dari luar.

Mike pulang.

Dia masuk sambil tersenyum santai, membawa kantong makanan mahal.

“Sayang, aku bawain—”

Kalimatnya langsung terputus.

Wajahnya berubah pucat saat melihatku berdiri di tengah ruang tamu… dikelilingi kardus.

“Clarissa…”

Aku tersenyum manis.

“Surprise.”

Wanita itu langsung berjalan cepat menghampiri Mike.

“Sayang, pembantu ini gila! Dia buang semua barangku!”

Mike menatapku panik.

Sementara aku hanya menatapnya tenang.

Lalu perlahan aku membuka ponselku dan memutar rekaman CCTV rumah.

Suara mereka memenuhi ruang tamu.

Tawa.

Pelukan.

Ciuman.

Dan suara Mike berkata jelas:

“Tenang aja, rumah ini practically rumah kita. Clarissa terlalu sibuk kerja sampai nggak sadar apa-apa.”

Wajah Mike langsung hancur.

Wanita itu mundur perlahan dengan mata melebar.

“Aku…” Mike terbata-bata. “Clarissa, aku bisa jelasin—”

“Kamu benar,” potongku dingin. “Aku memang terlalu sibuk.”

Aku melangkah mendekatinya.

“Sibuk membangun perusahaan.”

“Sibuk membayar rumah ini.”

“Sibuk memastikan kamu hidup nyaman sementara kamu tidur dengan wanita lain di atas sofa yang kubeli.”

Mike langsung mencoba memegang tanganku.

“Please… jangan kayak gini…”

Aku menepis tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

Ruangan langsung sunyi.

Lalu aku mengeluarkan satu map hitam dari tas kerjaku.

“Aku CEO, Mike,” kataku pelan. “Aku tidak pernah menaruh aset atas nama orang lain.”

Dia langsung membeku.

“Rumah ini atas namaku.”

“Mobil itu atas namaku.”

“Kartu kredit yang kamu pakai? Atas namaku.”

Aku menatap wanita di sebelahnya yang kini mulai panik.

“Dan kalian punya waktu lima belas menit untuk keluar sebelum security datang.”

Wanita itu langsung berteriak pada Mike.

“Kamu bilang rumah ini punya kamu!”

Mike tak mampu menjawab.

Karena memang tidak ada yang benar-benar miliknya.

Semua yang dia nikmati berasal dariku.

Mike akhirnya berlutut di depanku.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku melihat ketakutan nyata di wajahnya.

“Aku salah…” suaranya pecah. “Aku khilaf…”

Aku menatap pria yang dulu sangat kucintai itu lama sekali.

Lalu aku tersenyum kecil.

Sedih.

Tapi juga lega.

“Kamu bukan khilaf, Mike,” bisikku pelan. “Kamu cuma merasa aman menyakitiku karena berpikir aku akan selalu memaafkanmu.”

Air mata langsung jatuh dari mata Mike.

Namun kali ini…

aku tidak ikut menangis.

Bel pintu berbunyi.

Empat petugas keamanan masuk ke dalam rumah.

Aku mundur satu langkah dan berkata singkat:

“Bersihkan rumah saya.”

Dan akhirnya…

aku benar-benar membersihkan semuanya.

Termasuk suamiku sendiri.

Malam itu, setelah rumah kembali sunyi, aku duduk sendirian di sofa Italian leather itu sambil menatap lampu kota dari jendela besar.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada kebohongan.

Tidak ada pria yang memanfaatkan kerja kerasku lagi.

Hanya aku.

Dan ketenangan yang sudah lama hilang.

Lalu perlahan, aku mengambil napas panjang… dan tersenyum.

Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

rumah itu akhirnya benar-benar terasa milikku lagi.