Aku sebenarnya sama sekali tidak berniat ikut reality show ini — sebuah livestream 24 jam penuh drama dan sensasi.

Aku sebenarnya sama sekali tidak berniat ikut reality show ini — sebuah livestream 24 jam penuh drama dan sensasi.

Tapi Kakakku, Lemuel Santoro, terlalu banyak berjasa dalam hidupku. Dan yang paling parah, dia mengancam: kalau selama liburan aku hanya mengurung diri di kamar main game, tas Hermès seharga Rp280.000.000 milikku akan dia jadikan kayu bakar untuk pesta barbeque.

Aku dibesarkan di kampung halaman di Makassar, tinggal bersama kakek dan nenek.
Di mata Lemuel, aku ini tipe gadis pendiam, penurut, jarang bicara dengan laki-laki.

Setidaknya… itulah yang dia kira.

“Lihat apa kalian? Jangan mimpi! Dia adikku!”

Seperti induk ayam menjaga anaknya, Lemuel menarikku ke belakangnya dan menatap tajam para tamu pria di dalam vila mewah di Puncak, Bogor. Kamera besar dari segala arah mengarah ke kami.

“Ini peringatan terakhir! Adikku baru semester satu kuliah. Dia masih polos. Jangan macam-macam!”

Aku hanya bisa bengong.

Saat itu aku mengenakan seragam JK warna pink, sepatu boneka, dan memeluk boneka beruang stroberi raksasa.
Persis seperti “gadis manis” yang bahkan mungkin tak bisa membuka tutup botol air mineral sendiri.

Belum sempat menjelaskan apa-apa, koper pink besarku sudah ditarik masuk oleh Lemuel.

Dan aku… menabrak tembok manusia.

Secara harfiah.

Seorang pria tinggi dengan polo hitam mahal. Bahu lebar, pinggang ramping, tubuh atletis yang jelas terlatih.

Tatapannya berhenti beberapa detik pada rok pink-ku. Alisnya mengernyit.

“…Lihat jalan.”

Suaranya dingin. Tajam. Penuh ketidaksabaran.

Dia adalah Beau Ardiansyah, aktor papan atas Jakarta, peraih penghargaan Best Actor Festival Film Indonesia. Terkenal karena sifatnya yang dingin, galak, dan tak pernah bersikap manis pada perempuan.

Sekaligus musuh bebuyutan kakakku di dunia hiburan.

“Apa maksudmu? Beau! Muka masam itu buat siapa?!”
Lemuel langsung naik darah.

Beau bahkan tak meliriknya.

“Rapikan barang bawaanmu. Aku tidak suka pengganggu. Jangan biarkan dia muncul di depanku.”

Lalu dia berjalan ke lantai dua.

Ruang tamu membeku dalam keheningan.
Aku tak perlu melihat layar untuk tahu komentar livestream pasti sudah meledak.


Rahasia di Kamar Mandi

Saat Lemuel sibuk berbicara dengan produser, aku menyelinap ke kamar mandi lantai satu — satu-satunya tempat tanpa kamera.

Begitu pintu tertutup, ponselku bergetar tanpa henti.

Kecepatan mengetiknya bisa 800 kata per menit — itu ciri khas pacar online-ku.

[CokeLover – Baby Girl]

Baby, belum duo rank hari ini?
Baby, kamu sudah makan?
Baby, kamu tidak jalan dengan cowok lain kan?

Notifikasi transfer masuk bertubi-tubi.

Transfer Dana: Rp10.000.000
Transfer Dana: Rp10.000.000
Transfer Dana: Rp10.000.000

Apa dia lebih baik dariku?
Dia beliin kamu semua skin?
Dia tahu siklus kamu?
Dia punya six-pack nggak?!

Aku memijat pelipis.

Pacar online-ku… tampan (di foto), kaya, jago main game.
Satu-satunya masalah: posesif dan cemburuan luar biasa.

Aku membalas singkat:

Tidak ada laki-laki lain. Kakakku paksa aku kerja di acara ini.

Dia membalas seketika:

Aku tidak bisa tidur kalau kamu jauh.
Boleh minta peluk waktu ketemu nanti?

Dalam game, dia selalu merasa harus melindungiku.
Padahal di dunia game…

Aku bukan “gadis manis.”

Aku adalah Queen of the Jungle.

Rank Mythic Glory.
Julukan server nasional: Jungle King.
Aku bisa menghancurkan tim lawan sendirian sambil memaki tiga kali dalam satu kalimat.

Aku hanya pura-pura lemah… supaya dunia tenang.

Sampai aku mendengar suara di luar.

“Pak Beau, sore ini ada aktivitas couple interaction—”

“Batalkan.”

Suara Beau menembus pintu.

“Katakan pada mereka aku tidak mau dipasangkan dengan perempuan yang suka pakai rok. Tipe yang menangis karena hal kecil. Pick-me girl seperti itu bisa patah kalau kusentuh.”

“Tapi dia adik Lemuel…”

“Yang pakai kain pink itu?” Beau tertawa pelan.
“Aku benci perempuan yang sok imut. Suruh dia menjauh dariku.”


Tanganku mengepal.

Aku menatap cermin.

Seragam pink. Boneka stroberi.

Lalu perlahan… aku tersenyum.

Kalau dia ingin melihat gadis manis menangis?

Baik.

Aku akan bermain sesuai skripnya.

Tapi malam ini…

Saat sesi game challenge dimulai dan semua peserta harus bermain bersama di layar besar…

Aku akan memperlihatkan padanya siapa sebenarnya “pengganggu” itu.

Dan kalau Beau Ardiansyah berani meremehkanku lagi…

Aku akan mengalahkannya di depan jutaan penonton.

Tanpa rok pink.
Tanpa boneka.

Hanya aku.

Dan skill yang tidak bisa dia injak dengan tatapan dinginnya.

Malam itu, panggung livestream berubah menjadi medan perang yang sebenarnya.

Ratusan kamera, ribuan komentar, jutaan penonton.

Aku berdiri di tengah arena game dengan seragam pink yang sama—yang kini terasa seperti lelucon dari masa lalu.

Beau Ardiansyah duduk di sisi berlawanan.

Tatapannya masih dingin seperti biasa.

“Aku tidak perlu menganggapmu serius,” katanya pelan. “Kamu hanya karakter tambahan.”

Aku tersenyum.

“Kalau begitu… jangan berkedip.”


Game dimulai.

Awalnya semua orang mengira ini hanya sesi hiburan biasa.

Sampai aku masuk ke mode jungle.

Satu kill.

Dua kill.

Tiga kill.

Komentar livestream mulai kacau.

“Siapa dia?!”
“Itu bukan gameplay normal!”
“Dia bukan ‘gadis manis’!!”

Beau mulai berubah ekspresi.

Untuk pertama kalinya, dia tidak berbicara.

Dia mulai serius.

Terlambat.

Aku sudah membaca semua gerakannya.

Semua kesombongannya.

Semua celah kecil yang dia anggap tidak penting.

Dan di menit ke-12…

Aku mengeliminasi dia.

Triple kill.

Shutdown.

Seluruh studio hening.


Beau menatap layar hitamnya.

Untuk pertama kalinya… tidak ada kata-kata keluar dari mulutnya.

Aku mendekatinya.

“Masih mau bilang aku pengganggu?”

Dia tidak menjawab.

Bukan karena marah.

Tapi karena… dia kalah.


Di luar arena, Lemuel hampir jatuh dari kursinya.

“ITU ADIKKU?!” teriaknya.

Produser panik.

Komentar livestream meledak.


Dan aku?

Aku hanya berdiri tenang, melepas boneka stroberi dari tanganku.

Gadis pink itu… sudah selesai.

Yang tersisa sekarang adalah diriku yang sebenarnya.


Beau akhirnya bicara pelan:

“Siapa kamu sebenarnya?”

Aku menatapnya.

“Aku bukan karakter tambahan.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku adalah orang yang kamu remehkan.”


Lalu aku berbalik dan berjalan keluar dari arena.

Lampu kamera mengikuti setiap langkahku.

Dan malam itu…

Dunia gaming Jakarta mengenal satu nama baru:

Queen Jungle King.


Dan Beau Ardiansyah?

Dia akhirnya mengerti satu hal paling penting:

Di dunia ini, bukan siapa yang terlihat paling kuat…

Tapi siapa yang tetap tenang sampai akhir.