Setiap kali dia datang ke minimarket di Makati untuk membeli air mineral, aku selalu tersenyum dan diam-diam memasukkan satu paket tisu ke dalam tas belanjanya. Aku juga menggambar wajah smiley di tutup botolnya, lalu bertanya dalam hati berapa “misi” yang akan dia jalankan hari ini.
Dia hampir tidak pernah berbicara lebih dari satu kata.
Hingga suatu hari, sebuah novel muncul di layar ponselku.
Di kolom komentar tertulis:
【Tokoh sampingan ini mengira male lead sengaja beli air tiap hari hanya untuk bertemu dia. Padahal dia cuma lewat.】
【Male lead suka perempuan yang pendiam dan lembut. Tokoh ini terlalu cerewet dan mengganggu. Cocok untuk diabaikan.】
【Nanti dia akan dipermalukan, kehilangan pekerjaan, lalu pergi dengan sendirinya.】
【Lucu sekali, tiap hari kasih tisu ke tas orang, tapi bahkan tidak pernah diperhatikan.】
Tanganku langsung gemetar.
Paket tisu yang tadinya ingin kuselipkan ke tasnya kini remuk di genggamanku.
Botol airnya tersangkut di mesin kasir.
Dia berdiri di depan meja pembayaran—Javier—pemadam kebakaran dari stasiun dekat sini.
Diam.
Seperti tembok.
Tidak pernah bertanya.
Tidak pernah sekalipun.
Aku mendorong botol itu ke kasir.
“Rp3.000.”
Dia melirik tas belanjaannya.
Biasanya, pada saat ini sudah ada tisu dan catatan kecil di dalamnya: “Hati-hati tugas hari ini ya.”
Sekarang, tidak ada.
Dia tidak berkata apa-apa.
Mengambil tasnya lalu pergi.
Punggungnya tegak, langkahnya stabil, seperti selalu.
Seolah apapun yang kulakukan tidak pernah berarti.
Joy, rekan kasirku, mendekat.
“Dara, kamu nggak masukin apa-apa lagi ke tas pemadam itu hari ini?”
“Dia cuma beli air,” jawabku pelan sambil mematikan layar ponsel.
Joy tertawa kecil.
“Akhirnya kamu sadar juga ya. Orang itu dingin banget. Kamu ngelakuin semua itu tiap hari, tapi dia nggak pernah lihat kamu.”
Aku tidak menjawab.
Novel itu masih terbuka di ponselku.
Komentar terbaru muncul:
【Lucu. Setiap hari dia gambar smiley di tutup botol, tapi dibuang tanpa dibaca.】
Aku langsung membuang tisu di tanganku ke tempat sampah.
Novel itu muncul pagi ini di ponselku.
Tanpa aku unduh.
Tanpa aku cari.
Tiba-tiba saja ada.
Judulnya: “Dia Hanya Lewat Saja.”
Tidak ada nama penulis.
Awalnya aku tidak peduli, sampai muncul notifikasi:
“Cerita Anda telah diperbarui hingga Chapter 4.”
Aku membacanya.
Dan di halaman pertama, tubuhku langsung membeku.
Tokoh sampingan bernama Dara, kasir minimarket di Makati, yang diam-diam menyukai seorang pemadam kebakaran yang setiap hari membeli air mineral.
Pemadam kebakaran itu bernama Javier.
Tinggi.
Dingin.
Hampir tidak pernah berbicara.
Dan Dara—melakukan semua hal yang sama seperti aku.
Tisu.
Smiley di botol.
Catatan kecil.
Semua sama persis.
Tidak ada satu pun yang berbeda.
Di dalam novel itu juga ada tokoh perempuan utama.
Namanya Celeste, relawan di sekitar stasiun pemadam.
Lembut.
Ramah.
Dan pada pertemuan pertama, dia berbicara dengan Javier tentang kucing peliharaannya.
Aku menatap layar ponselku lama sekali.
Lalu tanpa sadar, aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tapi karena tiba-tiba aku sadar sesuatu yang jauh lebih dingin daripada sikap Javier.
Mungkin…
Aku tidak sedang “berusaha didekati.”
Aku hanya sedang mengulang adegan yang sudah ditulis orang lain.
Dan di dunia itu—
aku bukan tokoh utama.
Hanya catatan kaki yang bisa dihapus kapan saja.

Aku berdiri lama di balik meja kasir, menatap pintu kaca minimarket yang baru saja ditutup oleh Javier.
Angin malam dari Makati masuk setiap kali pintu itu terbuka, lalu hilang lagi, seolah tidak pernah benar-benar ada.
Di ponselku, novel itu masih terbuka.
Halaman berikutnya baru saja ter-refresh sendiri.
Chapter 5: “Perubahan yang Tidak Seharusnya Terjadi”
Aku menelan ludah.
Tanganku ragu, lalu menekan layar.
Di dalam novel, cerita mulai bergeser.
【Dara berhenti memberi tisu. Tidak ada lagi catatan kecil di botol air. Javier merasa… ada yang hilang, tapi dia tidak tahu apa.】
Aku terdiam.
Di dunia nyata, aku menutup laci kasir.
Joy menatapku heran.
“Udah mau tutup? Biasanya kamu masih nunggu dia balik beli air lagi.”
Aku mengangguk pelan.
“Iya. Sudah selesai.”
Hari-hari setelah itu berubah aneh.
Javier tetap datang setiap hari.
Tetap membeli air mineral.
Tetap satu kalimat, kalaupun ada: “Air.”
Tapi ada yang berbeda.
Matanya tidak lagi langsung pergi setelah membayar.
Kadang, hanya kadang… dia berhenti satu detik lebih lama di depan meja kasir.
Seperti mencari sesuatu yang hilang.
Sementara aku, tidak lagi menulis smiley di botol.
Tidak lagi memasukkan tisu.
Tidak lagi menunggu “misi hari ini”.
Dan novel itu terus menulis sendiri di ponselku.
【Javier mulai memperhatikan bahwa rak tisu di minimarket tidak lagi diisi ulang oleh tangan yang sama.】
【Ia mulai datang sedikit lebih awal. Kadang berdiri terlalu lama di depan kasir tanpa alasan.】
【Tapi Dara sudah tidak lagi menatapnya seperti dulu.】
Aku menutup ponselku.
Untuk pertama kalinya, aku tertawa kecil.
“Jadi begitu…”
Bukan aku yang hilang.
Tapi kebiasaan yang selama ini kupikir adalah “aku”.
Malam itu, Joy bertanya saat kami menutup toko.
“Kamu beneran nggak bakal kasih dia apa-apa lagi?”
Aku mengikat apronku sambil menjawab pelan.
“Kalau sesuatu hanya dianggap ‘gangguan’, kenapa harus terus diberikan?”
Joy terdiam.
Beberapa hari kemudian, Javier datang lagi.
Seperti biasa: seragam biru navy, rambut rapi, wajah datar.
“Air.”
Aku scan botolnya.
“Rp3.000.”
Tidak ada tisu.
Tidak ada catatan.
Tidak ada smiley.
Dia mengambil tasnya.
Tapi kali ini… dia tidak langsung pergi.
Dia berdiri.
Lama.
Aku tetap menatap layar kasir.
Sampai akhirnya dia berkata pelan, hampir seperti suara yang tidak pernah digunakan sebelumnya.
“…yang biasanya di sini, ke mana?”
Tanganku berhenti.
Untuk pertama kalinya, bukan aku yang mengejarnya.
Aku menatapnya, tenang.
“Sudah tidak ada.”
Hening.
Di antara suara pendingin ruangan dan pintu otomatis, dunia seperti berhenti sebentar.
Dia mengangguk pelan.
Lalu berbalik.
Malam itu, novel di ponselku tidak lagi menampilkan komentar.
Tidak ada Chapter 6.
Hanya satu kalimat baru yang muncul di halaman terakhir:
【Tokoh sampingan yang berhenti mengejar cerita orang lain akhirnya mulai memiliki hidupnya sendiri.】
Aku menatap kalimat itu lama sekali.
Lalu mematikan layar ponsel.
Dan untuk pertama kalinya—
aku tidak bertanya lagi apakah aku disukai.
Karena aku akhirnya sadar:
Kalau sebuah cerita hanya berjalan saat aku mengorbankan diriku sendiri…
maka aku tidak sedang dicintai.
Aku hanya sedang dipakai untuk mengisi halaman kosong.