AKU TERBANGUN DARI KOMA DAN MENDENGAR ANAKKU BERBISIK: “JANGAN BUKA MATA, MA…” — SUAMIKU DAN KAKAKKU SENDIRI MENUNGGU AKU MATI AGAR BISA MEREBUT SEMUANYA
BAGIAN 1
“Ayah menunggu Mama mati… tolong jangan buka mata dulu.”
Itu suara pertama yang kudengar setelah dua belas hari tenggelam dalam kegelapan yang terasa seperti dikubur hidup-hidup.
Aku tidak bisa menggerakkan tubuh.
Tidak bisa bicara.
Bahkan menarik napas terasa seperti kepalaku dibelah menjadi dua.
Tetapi aku langsung mengenali suara itu.
Mateo.
Anakku yang baru sembilan tahun sedang duduk di samping tempat tidur rumah sakit sambil menangis pelan dan menggenggam tanganku erat.
“Mama… kalau Mama dengar aku… tolong gerakkan tangan sedikit aja…”
Aku ingin melakukannya.
Demi Tuhan, aku ingin.
Tetapi tubuhku tidak bergerak.
Seorang perawat masuk dan bicara soal tekanan darah, infus, dan keajaiban karena aku masih hidup setelah mobilku jatuh ke jurang saat perjalanan menuju kawasan pegunungan di Bandung.
Semua orang bilang hal yang sama:
“Kecelakaan biasa. Mariana kehilangan kendali.”
Tetapi aku tidak ingat kehilangan kendali.
Hal terakhir yang kuingat adalah Julian—suamiku—duduk di dapur rumah kami di Jakarta Selatan sambil mendorong beberapa dokumen ke arahku.
“Tandatangani aja, Sayang,” katanya sambil tersenyum tipis. “Ini buat melindungi aset perusahaan sebelum diperiksa pajak.”
Aku menolak.
Dan malam itu…
rem mobilku tidak berfungsi.
Pintu kamar rumah sakit terbuka.
Mateo langsung melepaskan tanganku.
“Kamu di sini lagi?” suara Julian rendah tetapi penuh racun. “Sudah kubilang, Mama kamu nggak bisa dengar.”
“Aku cuma mau lihat Mama…”
“Pergi sama Tante Claudia.”
Claudia.
Kakakku sendiri.
Orang yang dulu mengepang rambutku saat kecil.
Yang menangis paling keras di rumah sakit.
Yang bilang rela mati demi aku.
Aku mendengar suara hak tinggi mendekat.
Lalu parfum mahal favoritnya.
“Biarkan anak itu pamit,” katanya pelan. “Sebentar lagi notaris datang.”
“Dokter sudah jelas bilang,” jawab Julian dingin. “Aku nggak akan terus bayar untuk mempertahankan tubuh kosong.”
Tubuh kosong.
Aku begitu marah sampai rasanya ingin bangun dan menjerit.
“Mama pasti kembali…” suara Mateo pecah karena menangis.
Julian tertawa kecil.
“Mama kamu sudah nggak ada, jagoan.”
Claudia mendekat dan merapikan rambutku.
“Bahkan saat koma pun dia masih suka cari perhatian.”
Lalu suaranya berubah pelan.
“Begitu Mariana mati, kita bawa anak itu ke luar negeri. Dokumen palsunya sudah siap.”
Tubuh kecil Mateo langsung mundur.
“Kalian mau bawa aku ke mana?”
“Ke tempat di mana kamu nggak banyak tanya,” jawab Julian.
“Aku nggak mau! Aku mau sama Mama!”
“Mama kamu sudah nggak punya hak menentukan apa pun.”
Mateo menangis semakin keras.
“Tapi Mama bilang kalau ada apa-apa aku harus telepon Tante Valeria!”
Ruangan langsung sunyi.
Valeria.
Pengacaraku.
Satu-satunya orang yang tahu bahwa dua minggu sebelum kecelakaan…
aku mengubah surat wasiatku.
Julian langsung mengunci pintu kamar.
“Pengacara apa maksudmu?”
Claudia berhenti menyentuh rambutku.
“Anak itu terlalu banyak dengar.”
Dan saat itulah…
jariku bergerak.
Sedikit sekali.
Tetapi Mateo melihatnya.
Matanya langsung membesar, namun ia tidak mengatakan apa pun.
Ia mendekat ke telingaku dan berbisik cepat.
“Mama jangan gerak dulu. Aku sudah minta bantuan.”
“Apa yang kamu bilang?” tanya Julian curiga.
“Aku bilang aku sayang Mama.”
Claudia mengeluarkan map dari tasnya.
“Notaris sudah di bawah.”
Julian menggenggam tanganku kuat.
“Kamu akan tanda tangan, Mariana. Hidup atau mati.”
Tetapi mereka tidak tahu…
aku sudah mulai sadar.
Aku hanya menunggu waktu yang tepat.
Lima menit kemudian…
seseorang mengetuk pintu.
“Itu pasti notaris,” kata Claudia.
Pintu terbuka.
Tetapi suara yang masuk bukan suara notaris.
“Selamat sore, Julian.”
Suara perempuan dingin dan tegas.
“Sebelum kamu menyentuh Mariana lagi… mungkin kamu bisa jelaskan dulu kenapa rem mobilnya dipotong.”
Tidak ada yang bernapas.
Aku mengenali suara itu.
Valeria.
Pengacaraku.
Dan dari nada suaranya…
aku langsung tahu:
mimpi buruk ini baru saja dimulai.
BAGIAN 2
Ruangan langsung kacau.
“Apa maksud Anda?!” bentak Julian.
Valeria masuk dengan dua polisi di belakangnya.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menuduh percobaan pembunuhan.
“Kami menemukan bukti sabotase pada kendaraan Mariana,” katanya sambil membuka map hitam. “Dan anehnya, beberapa jam sebelum kecelakaan, suaminya mencoba memindahkan seluruh aset perusahaan ke rekening pribadi.”
Claudia langsung pucat.
“Itu fitnah!”
Valeria menatapnya dingin.
“Termasuk transfer Rp48 miliar yang dikirim ke rekening atas nama Anda kemarin malam?”
Tubuh Claudia langsung membeku.
Mateo memegang tanganku lebih erat.
Dan untuk pertama kalinya…
aku merasa anakku tidak lagi ketakutan.
Karena akhirnya ada seseorang yang datang menyelamatkan kami.
Julian mencoba mendekat ke arah Valeria.
Tetapi polisi langsung menahannya.
“Pak Julian Prasetyo, Anda diminta ikut untuk pemeriksaan.”
“Ini gila! Mariana itu istri saya!”
Valeria tersenyum tipis.
“Dan Mariana juga pemilik tunggal seluruh aset yang selama ini Anda coba curi.”
Aku mendengar suara benda jatuh.
Mungkin map.
Mungkin harapan mereka.
Claudia mulai menangis.
“Mariana pasti salah paham… kami cuma mau bantu…”
Saat itu…
aku akhirnya berhasil membuka mata sedikit.
Kabur.
Silau.
Tetapi cukup untuk melihat wajah mereka.
Dan ekspresi ketakutan yang muncul di mata suamiku sendiri.
Mateo langsung menangis bahagia.
“Mama…”
Tanganku akhirnya bisa menggenggam tangannya kembali.
Kecil.
Hangat.
Gemetar.
Tetapi nyata.
Aku hidup.
Dan semua orang di ruangan itu sadar:
perempuan yang mereka tunggu mati…
baru saja kembali.
Tiga bulan kemudian, kasus kami menjadi berita besar.
Julian didakwa atas percobaan pembunuhan dan penipuan finansial.
Claudia kehilangan semua akses uang dan ikut diselidiki karena membantu pemalsuan dokumen.
Dan aku?
Aku belajar berjalan lagi perlahan.
Mateo selalu menemaniku terapi.
Setiap kali aku hampir menyerah karena sakit…
dia akan memegang tanganku dan berkata:
“Mama sudah pernah lawan kematian. Masa jalan aja kalah?”
Suatu sore setelah terapi terakhirku, kami duduk di taman rumah baru kami di Bandung.
Udara dingin.
Langit oranye.
Dan untuk pertama kalinya setelah semuanya…
aku merasa damai.
Mateo bersandar di bahuku.
“Mama…”
“Hm?”
“Waktu itu aku takut banget.”
Aku memeluknya erat.
“Aku juga.”
“Tapi aku tahu Mama nggak bakal ninggalin aku.”
Air mataku langsung jatuh.
Karena ternyata…
yang membuatku bertahan hidup bukan uang,
bukan perusahaan,
bukan harta.
Tetapi suara anak kecil yang terus memohon agar aku kembali.
Dan sejak hari itu…
aku berjanji pada diriku sendiri:
tidak akan pernah lagi kubiarkan siapa pun menyentuh hidup kami hanya karena mereka haus akan kekayaan.
Karena seorang ibu yang hampir kehilangan segalanya…
akan berubah menjadi orang paling berbahaya bagi siapa pun yang mencoba menyakiti anaknya lagi.

Malam sebelum sidang terakhir…
aku tidak bisa tidur.
Hujan turun pelan di luar jendela apartemen kami di Bandung.
Mateo sudah tertidur di sofa sambil memeluk boneka dinosaurus kesayangannya.
Sedangkan aku…
masih duduk sendiri di ruang kerja, memandangi foto keluarga lama yang belum sempat kubuang.
Di foto itu ada aku.
Julian.
Mateo yang masih kecil.
Dan Claudia… berdiri di belakangku sambil tersenyum seperti kakak paling baik di dunia.
Dadaku terasa sesak.
Bukan karena aku masih mencintai mereka.
Tetapi karena aku akhirnya sadar:
pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari musuh.
Melainkan dari orang yang dulu kau anggap rumah.
Keesokan paginya…
ruang sidang penuh wartawan.
Kasus “Mariana Prasetyo” sudah menjadi berita nasional.
CEO perempuan yang hampir dibunuh suaminya sendiri demi warisan miliaran rupiah.
Saat aku masuk ke ruang sidang bersama Valeria…
semua kamera langsung mengarah kepadaku.
Tetapi mataku hanya melihat satu orang.
Julian.
Duduk di kursi terdakwa dengan wajah jauh lebih tua.
Matanya cekung.
Rambutnya mulai beruban.
Untuk pertama kalinya…
ia terlihat takut.
Sidang berlangsung hampir tiga jam.
Bukti demi bukti dibuka:
rekaman CCTV bengkel,
transfer uang,
pesan rahasia antara Julian dan Claudia,
bahkan rekaman suara mereka di rumah sakit.
Dan ketika rekaman itu diputar—
“Begitu Mariana mati, kita bawa anak itu keluar negeri.”
seluruh ruang sidang langsung sunyi.
Aku menoleh ke arah Mateo yang duduk di samping Valeria.
Anakku menggenggam tangan pengacaraku erat-erat.
Tetapi ia tidak menangis.
Karena anak kecil itu…
sudah dipaksa tumbuh terlalu cepat.
Saat hakim akhirnya membacakan putusan…
Julian dijatuhi hukuman penjara dua puluh tahun.
Claudia menangis histeris ketika polisi memborgol tangannya.
Dan anehnya…
aku tidak merasakan kemenangan.
Tidak ada rasa puas.
Tidak ada rasa balas dendam.
Hanya lelah.
Sangat lelah.
Saat polisi menggiring Julian keluar, ia tiba-tiba berhenti dan menoleh kepadaku.
“Mariana…”
Itu pertama kalinya dia memanggil namaku tanpa pura-pura lembut.
“Aku pernah benar-benar mencintaimu.”
Aku menatapnya lama.
Lalu tersenyum kecil sambil menahan air mata.
“Kalau itu cinta…”
suaraku pelan tetapi jelas,
“maka aku bersyukur akhirnya berhasil selamat darinya.”
Ia menunduk.
Dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah…
aku melihatnya kalah.
Bukan kalah karena penjara.
Tetapi karena ia akhirnya sadar:
ia menghancurkan satu-satunya keluarga yang pernah benar-benar mencintainya.
Malam itu, setelah semuanya selesai…
aku membawa Mateo ke pantai kecil di Batam.
Tempat yang dulu selalu ingin kami kunjungi tetapi tidak pernah sempat.
Kami duduk di pasir sambil melihat ombak.
“Mama…”
“Hm?”
“Sekarang kita aman?”
Aku memeluk bahunya kecil.
“Iya.”
“Benar-benar aman?”
Aku menatap langit malam lama sekali sebelum menjawab.
“Aman bukan berarti hidup kita nggak akan sakit lagi.”
Mateo menatapku bingung.
Aku tersenyum pelan lalu menyentuh dadanya.
“Tapi selama kita masih punya keberanian di sini… kita akan selalu bisa bertahan.”
Ia diam beberapa detik.
Lalu perlahan menyandarkan kepalanya ke pundakku.
Angin laut terasa dingin.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan…
aku bisa bernapas tanpa rasa takut.
Dan di tengah suara ombak malam itu…
aku akhirnya memahami sesuatu:
Kadang Tuhan tidak menyelamatkan kita dengan menghilangkan badai.
Kadang…
Dia membiarkan badai itu datang…
agar kita melihat siapa yang tetap menggenggam tangan kita saat dunia runtuh.
Dan bagiku…
orang itu adalah anak kecil bernama Mateo.