Aku Tidak Sengaja Menelepon Profesor Paling Galak di Kampusku—Dan Detik Berikutnya, Ponselnya Berbunyi dengan Voice Ringtone yang Aku Rekam Sendiri untuk Pacar Online-ku.Satu kelas langsung membeku saat kenyataannya terbongkar…

Aku langsung terdiam di tengah kelas saat mendengar suara profesor baru kami.

Karena suaranya…
persis sekali dengan suara pacar online-ku yang sudah delapan bulan menemaniku teleponan setiap malam.

Awalnya aku cuma ingin diam-diam merekam suaranya untuk dikirim ke sahabatku.

Tapi sebelum sempat kusimpan—

aku sudah ketahuan.

“Baru hari pertama kuliah sudah main ponsel?”

Suara pria itu terdengar dingin dari depan kelas.

“Kamu pikir ini pasar?”

Seluruh ruangan langsung sunyi.

Di depanku berdiri pria tinggi memakai kemeja gelap, kacamata silver tipis, dan aura dingin yang bikin siapa pun tegang.

Dia profesor termuda di jurusan.

Sekaligus yang paling ditakuti.

Kata senior-senior, tidak ada mahasiswa yang lulus dari kelasnya karena belas kasihan.

Namanya Adrian Wijaya.

Karena terlalu panik, jariku malah terpeleset di layar.

Dan tanpa sengaja menekan voice call.

Satu detik kemudian—

ponsel Adrian berbunyi dari saku jasnya.

“♪ Baby kamu nelepon nih~ Cepetan diangkat, suamiku~ ♪”

Suara manja seorang perempuan menggema keras di seluruh kelas.

Keras sekali sampai mahasiswa di barisan belakang ikut melongo.

Semua orang langsung menoleh.

Sementara aku…

nyaris pingsan.

Karena ringtone itu—

adalah rekaman suaraku sendiri yang kubuat bulan lalu untuk pacar online-ku.

Aku membeku.

Begitu juga Adrian.

Wajah seriusnya langsung kaku beberapa detik sebelum telinganya perlahan memerah.

Ia buru-buru mematikan panggilan.

Lalu cepat-cepat mengetik sesuatu di ponselnya.

Di saat yang sama—

HP-ku bergetar.

[Baby, aku lagi kerja.]

[Tunggu bentar ya?]

Otakku seperti meledak.

Avatar itu.
Cara dia chat.
Timing dia memutus telepon.

Dan yang paling penting…

suara itu.

Pria yang setiap malam memanggilku “baby”—

adalah profesor yang sedang berdiri di depanku sekarang.

Aku bahkan belum sempat memproses semuanya ketika Adrian kembali bicara.

“Nama.”

Aku berkedip bingung.

“Hah…?”

“NIM.”

Suaranya dingin sekali.

“Kehadiran kamu hari ini saya kosongkan.”

Satu kelas langsung heboh.

Aku hampir menangis.

“Pak, tunggu dulu… saya bisa jelasin—”

“Mau jelaskan apa?”

“Kalau kamu tidak menghargai kelas saya?”

“Atau kalau menelepon saat kuliah itu hal biasa buat kamu?”

Tatapannya tajam dan dingin.

Sama sekali tidak seperti pria yang tiap malam menemaniku tidur di telepon.

“Tidak ada perlakuan khusus di kelas saya.”

Ia melihat buku absensiku.

“Marina Hartono.”

“Ingat baik-baik. Saya tidak suka mahasiswa yang tidak serius.”

Setelah itu, ia langsung berbalik dan melanjutkan kuliah.

Dan aku?

Rasanya seperti ditimpa langit.

Begitu kelas selesai, Adrian langsung pergi.

Tapi ponselku malah dibombardir notifikasi.

[Baby…]

[Maaf ya.]

[Jangan marah dong.]

[Aku nggak sengaja bikin kamu malu.]

[Transfer Rp35.000.000]

[Buat beli boba.]

[Transfer Rp35.000.000]

[Aku sampai mau sujud online nih…]

Aku cuma bisa melotot menatap layar.

Di online dia manis banget.

Di dunia nyata?

Dingin seperti kulkas berjalan.

Pria ini benar-benar gila.

Teman sekamarku memaksaku minta maaf kalau tidak ingin gagal di mata kuliahnya.

Aku berdiri hampir dua puluh menit di depan ruang dosen sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu.

“Masuk.”

Adrian sendirian di dalam.

Dasi di lehernya sudah longgar.

Dan ponselnya masih ada di tangan.

Saat melihatku, ekspresi dinginnya sedikit berubah.

“Oh, kamu.”

Aku memaksakan senyum.

“Pak, saya datang buat—”

“Kehadiran tidak bisa dibahas.”

Ia langsung memotongku.

Nada suaranya masih dingin.

Dadaku langsung sesak.

Semua rasa kesal dan malu tiba-tiba meledak.

“Memang kamu selalu begini?”

Begitu kalimat itu keluar—

seluruh ruangan mendadak sunyi.

Adrian perlahan mengangkat kepala.

Dan baru saat itu aku sadar.

Mati aku.

Aku memanggilnya “kamu” bukannya “Pak”.

Tatapannya perlahan menggelap.

Ia berdiri.

Lalu berjalan mendekatiku sedikit demi sedikit.

Sampai aku refleks mundur dan punggungku menempel ke pintu.

Dia terlalu dekat.

Aku bahkan bisa mendengar napasnya.

Kemudian Adrian menunduk ke dekat telingaku.

Suaranya rendah dan serak.

“Jadi… akhirnya kamu tahu juga siapa aku.”

Dan tepat saat itu—

terdengar suara perempuan dari lorong.

“Kak Adrian?”

“Kenapa HP kakak sibuk terus?”

Tubuhku langsung dingin.

Karena aku mengenali suara itu.

Itu suara perempuan dari akun yang pernah dikenalkan pacar online-ku sebagai…

“Cuma adik angkat.”

Kelanjutan ceritanya ada di kolom komentar…
Pilih LIHAT SEMUA KOMENTAR untuk membaca ending lengkapnya 👇

Aku menatap pintu dengan napas tertahan.

Lalu seorang gadis masuk sambil mengerucutkan bibir.

Rambutnya panjang, wajahnya cantik, dan usianya mungkin tidak jauh dariku.

Begitu melihatku berdiri sangat dekat dengan Adrian, matanya langsung membesar.

“Oh…”

Suasana mendadak aneh.

Aku langsung mundur beberapa langkah.

Sedangkan Adrian malah memijat pelipisnya seperti orang yang sedang sakit kepala.

“Kenapa kamu datang ke kampus?” tanyanya dingin.

Gadis itu langsung cemberut.

“Mama suruh aku antar makan siang buat kakak.”

Lalu matanya beralih ke arahku.

Dan senyum kecil muncul di bibirnya.

“Kakak ini Marina?”

Tubuhku langsung membeku.

Dia tahu namaku.

Gadis itu tiba-tiba tertawa kecil.

“Ya ampun… jadi ini cewek yang tiap malam bikin kak Adrian senyum-senyum sendiri sambil video call?”

“Dulu aku sampai mikir kakakku kerasukan.”

“Shania.”

Suara Adrian langsung menajam.

Tapi gadis bernama Shania itu malah makin semangat.

Ia berjalan mendekat lalu berbisik pelan padaku:

“Kak Adrian itu dingin banget sama semua orang.”

“Tapi tiap habis telepon sama kakak, dia bisa senyum sendiri kayak orang bodoh.”

Mukaku langsung panas.

Sedangkan Adrian terlihat benar-benar ingin menghilang dari dunia.

Aku menatap mereka berdua bergantian.

“Jadi… kalian bukan—”

“Bukan!” potong Shania cepat.
“Aku memang anak angkat keluarga mereka, tapi aku anggap dia kakak sendiri.”

Ia lalu melirik Adrian jahil.

“Walaupun dia posesif banget.”

“Shania.”

“Oke oke, aku pergi.”

Sebelum keluar, gadis itu sempat menoleh lagi ke arahku sambil tersenyum lebar.

“Oh iya, Kak Marina.”

“Hati-hati ya.”

“Kak Adrian itu kelihatannya dingin…”

“Tapi kalau cemburu, serem banget.”

BRAK.

Pintu langsung ditutup Adrian sebelum Shania selesai bicara.

Ruangan mendadak sunyi.

Aku masih belum bisa memproses semuanya.

Delapan bulan.

DELAPAN BULAN aku pacaran online dengan profesor sendiri tanpa tahu identitas aslinya.

Dan lebih parahnya lagi—

aku sekarang adalah mahasiswa di kelasnya.

Aku langsung menatap Adrian.

“Kamu sengaja?”

Ia diam beberapa detik.

Lalu menghela napas panjang.

“Awalnya tidak.”

“Waktu kita pertama kenal di game, aku tidak tahu kamu mahasiswa kampus ini.”

“Aku juga pakai nama samaran.”

Aku langsung teringat nama akun pacar online-ku.

NightRaven.

Pantas saja terdengar sangat sok misterius.

“Tapi kamu tahu lebih dulu daripada aku, kan?” tanyaku pelan.

Kali ini Adrian tidak langsung menjawab.

Dan diamnya itu…

sudah cukup menjadi jawaban.

Dadaku langsung sesak.

“Kapan kamu tahu?”

“…Dua minggu sebelum semester mulai.”

Aku langsung melotot.

“DUA MINGGU?!”

“Aku mau bilang.”

“Tapi setiap kali mau jujur…”

Ia menatapku dalam-dalam.

“…aku takut kamu akan pergi.”

Kalimat itu membuatku mendadak diam.

Karena untuk pertama kalinya—

aku melihat sisi rapuh dari Adrian Wijaya.

Bukan profesor paling ditakuti.

Bukan pria dingin yang membuat satu kelas gemetar.

Tapi laki-laki yang takut kehilangan seseorang.

Ia perlahan mendekat.

“Kamu tahu kenapa aku begitu keras di kelas tadi?”

Aku menggigit bibir.

“Karena malu?”

Sedikit senyum muncul di sudut bibirnya.

“Karena kalau aku lembut sama kamu di depan kelas…”

“Semua orang akan langsung tahu aku menyukaimu.”

Jantungku langsung kacau.

Pria ini benar-benar tidak memberi kesempatan aku bernapas normal.

“Tapi aku masih marah,” gumamku pelan.

“Aku tahu.”

“Aku malu banget tadi.”

“Aku juga.”

Aku langsung mendongak.

“HAH?”

Untuk pertama kalinya sejak bertemu di dunia nyata—

Adrian tertawa kecil.

Rendah.
Pelan.

Dan sangat berbeda dari sosok dinginnya di kelas.

“Kamu pikir mudah mendengar ringtone ‘hubby-kuuu~’ berbunyi di depan satu kelas?”

Mukaku langsung merah total.

Aku refleks menutup wajah.

“Jangan diingat lagi!”

Tapi tiba-tiba—

tanganku ditarik perlahan.

Aku membeku saat Adrian menggenggam jemariku pelan.

Hangat.

Bertolak belakang dengan kesan dinginnya.

“Aku serius sama kamu, Marina.”

Tatapannya lurus ke mataku.

“Bukan cuma di online.”

“Bukan juga cuma karena kita kebetulan bertemu di kampus.”

“Delapan bulan terakhir…”

“adalah pertama kalinya aku benar-benar menunggu notifikasi seseorang setiap malam.”

Dadaku langsung terasa penuh.

Dan entah kenapa…

aku tiba-tiba ingin menangis.

Karena sekarang aku sadar—

lelaki yang selalu menemaniku tidur,
mendengarkan semua cerita recehku,
bahkan rela begadang hanya untuk mendengar suaraku…

ternyata selalu ada lebih dekat daripada yang kubayangkan.

Beberapa minggu kemudian, seluruh kampus mulai curiga.

Karena profesor paling galak di fakultas itu tiba-tiba berubah.

Tidak lagi mudah marah.
Jarang memberi tatapan dingin.
Bahkan pernah terlihat tersenyum saat membaca ponsel di tengah rapat dosen.

Dan yang paling mengejutkan—

nilai kuis pertamaku dapat A+.

Teman-temanku langsung heboh.

“Kamu pakai ilmu apa sih?!”

Aku hanya batuk kecil sambil menghindari tatapan mereka.

Sementara di depan kelas, Adrian menatapku sebentar.

Lalu diam-diam mengirim chat.

[Baby.]

[Jangan lupa malam ini video call.]

Aku menahan senyum.

Lalu membalas cepat.

[Siap, Pak Dosen ❤️]