ANAK 7 TAHUN MENGHABISKAN ISI CELENGANNYA UNTUK MEMBELI OBAT AYAHNYA, DAN APOTEKER ITU MENANGIS SAAT MELIHAT SEMUA PEMBAYARANNYA HANYA BERUPA KOIN
Subuh baru saja tiba ketika Bimo sudah terbangun. Usianya baru tujuh tahun, tetapi ia sudah mengenal kerasnya hidup. Di gubuk kecil mereka, ia bisa mendengar jelas batuk ayahnya, Pak Rudi, yang tak kunjung berhenti.
Sudah seminggu sang ayah sakit. Mereka tidak punya uang untuk membeli obat karena penghasilan Pak Rudi sebagai tukang becak hanya cukup untuk makan sehari-hari. Ibu Bimo sudah lama meninggal, jadi kini mereka hanya berdua saling menguatkan.
“Ayah, minum air dulu,” kata Bimo pelan.
“Terima kasih, Nak. Nanti juga sembuh sendiri,” jawab Pak Rudi sambil menggigil karena demam.
Namun Bimo tahu penyakit itu tidak akan sembuh tanpa obat. Ia melihat resep dari puskesmas yang tergeletak di atas meja. Kertas itu tidak ada gunanya jika mereka tidak punya uang.
Bimo lalu menunduk ke bawah ranjangnya. Ia menarik sebuah kaleng biskuit tua yang dijadikannya celengan.
Itu adalah tabungannya sejak Lebaran tahun lalu. Setiap kali mendapat uang receh dari paman atau sisa kembalian saat membeli kecap di warung, ia selalu memasukkannya ke dalam kaleng itu. Sebenarnya ia bermimpi membeli mobil remote control.
Namun saat melihat ayahnya yang kesulitan bernapas, Bimo tidak ragu sedikit pun.
Ia mengambil sebuah batu.
BRAK! BRAK!
Kaleng itu penyok sebelum akhirnya terbuka. Tumpukan koin berserakan—seratus rupiah, lima ratus, seribu, bercampur menjadi satu.
Bimo memasukkan semua koin itu ke dalam kausnya, membawa resep dokter, lalu berlari menuju apotek di pusat kota.
Sesampainya di Apotek Sehat Sentosa, antreannya panjang. Ruangan ber-AC itu terasa dingin, tetapi tubuh Bimo penuh keringat. Pakaiannya lusuh, ia tak memakai sandal, dan kulitnya gelap terbakar matahari.
Ketika gilirannya tiba, seorang apoteker bernama Bu Lestari menyambutnya. Wajah wanita itu terlihat lelah setelah melayani banyak pelanggan yang cerewet.
“Berikutnya! Mau beli apa, Dek?” tanyanya cepat.
Bimo menyerahkan resep yang sudah kusut.
“Saya mau beli obat untuk Ayah saya.”
Bu Lestari membaca resep itu.
“Ini antibiotik dan obat batuk. Totalnya Rp350.000.”
Bimo mengangguk pelan.
Lalu ia meletakkan kaus yang dipakainya sebagai kantong di atas meja kaca.
KLANG!
Ratusan koin langsung bergulir di atas meja kasir. Ada yang sudah kusam, ada yang kotor, dan semuanya bercampur nominal kecil.
Orang-orang di belakang mulai mengeluh.
“Aduh, lama banget kalau dihitung satu-satu!” gerutu seorang ibu.
Bu Lestari sempat menghela napas.
“Dek, harusnya ditukar dulu di warung. Banyak sekali ini.”
“Maaf, Bu,” jawab Bimo sambil menunduk. “Kami sudah tidak punya waktu.”
Bu Lestari mulai menghitung uang itu.
Sepuluh ribu… dua puluh ribu… lima puluh ribu…
Butuh hampir lima menit untuk menghitung semuanya.
Totalnya hanya Rp145.000.
Bu Lestari berhenti menghitung. Ia memandang Bimo.
“Dek… uangnya kurang. Total obatnya Rp350.000. Ini baru Rp145.000. Kurang lebih dari dua ratus ribu. Saya tidak bisa memberikan obatnya.”
Wajah Bimo langsung pucat. Air matanya mulai jatuh.
“Tolong, Bu…” suara Bimo bergetar. “Ayah saya butuh obat itu. Beliau batuk terus… kami sudah tidak punya uang lagi.”
“Saya tidak bisa, Nak. Nanti saya dimarahi pemilik apotek,” jawab Bu Lestari sambil mendorong kembali koin-koin itu.
Namun tiba-tiba Bimo memegang tangan Bu Lestari.
Tangannya dingin dan gemetar.
“Tolong, Bu…” tangis Bimo pecah. “Semua uang itu saya tabung sendiri. Saya tidak jajan di sekolah. Saya tidak beli mainan. Saya sudah menghabiskan seluruh celengan saya. Tidak apa-apa kalau obat demamnya tidak dibeli… yang penting Ayah saya sembuh…”
Bu Lestari terdiam.
Semua orang yang tadi mengeluh ikut membisu.
Matanya mulai memerah saat melihat bocah kecil itu berusaha kuat demi ayahnya.
Tanpa berkata apa-apa, Bu Lestari mengambil semua resep itu, lalu berjalan ke rak obat.
Ia memasukkan seluruh obat ke dalam kantong plastik.
“Ini obatnya,” katanya pelan.
Bimo terkejut. “Tapi uang saya kurang, Bu…”
Bu Lestari tersenyum sambil mengusap kepala Bimo.
“Sudah lunas. Ada malaikat kecil yang membayarnya.”
“Siapa, Bu?”
Bu Lestari menahan air matanya.
“Kamu sendiri, Nak.”

Malam itu, Bimo berlari pulang sambil memeluk erat kantong obat di dadanya, seolah takut obat itu akan hilang. Hujan mulai turun membasahi jalanan kecil kampung mereka, tetapi langkah bocah kecil itu tidak berhenti sedikit pun.
Saat tiba di rumah, ia langsung masuk dengan napas terengah-engah.
“Ayah! Obatnya sudah dapat!” serunya dengan wajah penuh harapan.
Pak Rudi yang masih terbaring lemah perlahan membuka mata. Ketika melihat anaknya basah kuyup sambil membawa kantong obat, dadanya terasa sesak bukan karena sakit… tetapi karena haru.
“Kamu dapat uang dari mana, Nak?” tanyanya lirih.
Bimo tersenyum kecil.
“Aku pakai tabunganku.”
Pak Rudi langsung terdiam. Tangannya gemetar saat memegang kepala anaknya yang masih dipenuhi air hujan.
“Itu kan uang untuk beli mainan yang kamu inginkan…”
Bimo menggeleng pelan.
“Mainan bisa dibeli nanti, Yah… tapi aku takut kehilangan Ayah.”
Kalimat sederhana itu menghancurkan pertahanan Pak Rudi. Untuk pertama kalinya sejak istrinya meninggal, pria itu menangis tersedu-sedu.
Ia memeluk Bimo erat-erat.
Malam itu, setelah meminum obat, demam Pak Rudi perlahan turun. Beberapa hari kemudian, kondisinya mulai membaik. Ia kembali bisa menarik becaknya walau belum sepenuhnya kuat.
Namun kisah Bimo ternyata tidak berhenti di sana.
Tanpa sepengetahuan mereka, Bu Lestari menceritakan kejadian itu di media sosial. Ia mengunggah foto tangan kecil Bimo yang penuh noda koin sambil menulis:
“Anak sekecil ini rela mengorbankan seluruh mimpinya demi menyelamatkan ayahnya. Hari ini saya belajar bahwa cinta terbesar tidak datang dari orang kaya… tetapi dari hati yang tulus.”
Postingan itu viral.
Banyak orang tersentuh. Ada yang datang membawa sembako, ada yang memberi pakaian, bahkan seorang pengusaha di kota menawarkan biaya sekolah Bimo sampai kuliah.
Suatu sore, ketika Bimo sedang membantu ayahnya membersihkan becak, sebuah mobil berhenti di depan rumah mereka.
Bu Lestari turun sambil membawa sebuah kotak besar.
“Ada hadiah untuk anak hebat,” katanya tersenyum.
Mata Bimo membesar saat membuka kotak itu.
Di dalamnya ada sebuah mobil remote control—persis seperti yang selama ini ia impikan.
Bimo terpaku. Bibirnya gemetar.
“Aku… boleh punya ini?”
Bu Lestari mengangguk sambil menahan air mata.
“Kamu pantas mendapatkannya.”
Bimo langsung memeluk mobil itu erat-erat, tetapi beberapa detik kemudian ia malah mendekap ayahnya lebih dulu.
Karena bagi Bimo, mainan itu memang membuatnya bahagia…
Tetapi melihat ayahnya sehat kembali adalah hadiah terbesar dalam hidupnya.