Ayahku adalah Kepala Divisi Reserse Kriminal termuda di seluruh Jakarta.

Ayahku adalah Kepala Divisi Reserse Kriminal termuda di seluruh Jakarta.

Hal pertama yang dia ajarkan kepadaku adalah:
“Bukti adalah raja, dan prosedur adalah keadilan.”

Tahun ketika aku hendak mengikuti ujian masuk universitas, aku diterima di salah satu kampus paling bergengsi di Indonesia.

Di tengah pesta perayaan, di depan keluarga dan para tamu, dia sendiri yang memasangkan borgol di tanganku.

“Kamu tersangka penganiayaan terhadap anak di bawah umur. Ikut saya ke kantor polisi.”

Aku membeku.
“Yah… aku tidak melakukan apa-apa…”

“Kalau saya bilang kamu melakukan, berarti kamu melakukan.”
Suaranya sedingin baja.

Tidak ada berita acara resmi. Tidak ada pengacara. Bahkan pemeriksaan dilewati.
Di surat dakwaan, tanda tangannya terukir tegas.

Sepuluh tahun kemudian, di depan gerbang Lapas Cipinang, ia menangis seperti anak kecil.

“Maafkan Ayah… Ayah salah…”

Aku menatap pria yang dulu menyebut dirinya penegak “prosedur keadilan”.
Lalu aku berbalik dan pergi.


01

Sepuluh tahun.

Pintu besi penjara menutup di belakangku dengan suara berat dan kelam.

Sinar matahari terasa menyilaukan.

Aku menyipitkan mata dan melihat seorang pria berdiri tak jauh dariku.

Ricardo Pratama.
Ayahku.
Mantan Direktur Reserse Kriminal Polda Metro Jaya.

Ia mengenakan pakaian sipil. Tidak lagi seragam rapi yang dulu kubanggakan.

Sepuluh tahun berlalu. Ia tampak menua sekaligus rapuh. Matanya merah, bibirnya gemetar saat mendekat.

“Rico…”

Suaranya serak. Ia membuka kedua tangannya, seolah ingin memeluk waktu yang hilang sepuluh tahun.

Aku mundur satu langkah.

Tangannya membeku di udara.

Ingatan malam itu kembali menghantamku.

Pesta kelulusanku di rumah kami di Kebayoran.
Kue besar di tengah meja.
Surat penerimaan universitas dipajang dengan bangga.

Matanya saat itu penuh kebanggaan.

Sampai ia mengeluarkan borgol.

Logam dingin itu mengunci pergelangan tanganku.

“Kamu tersangka percobaan pemerkosaan dan penganiayaan berat terhadap anak di bawah umur.”

Tanpa ragu.

Tanpa penyelidikan.

Tanpa pembelaan.

Ia menggunakan jabatannya untuk mempercepat semuanya.

Korban?
Aku bahkan tak pernah melihat wajahnya.
Katanya gadis itu lumpuh permanen.

Dan aku menjadi narapidana.

Sepuluh tahun. Tanpa potongan.

“Rico… Ayah salah…”

Ia terisak di hadapanku.

Dulu, di ruang sidang, ia berkata:
“Anak saya memiliki cacat moral. Saya meminta hukuman seberat-beratnya.”

Sekarang ia memohon maaf.

Aku tersenyum tipis tanpa suara.
Lalu berbalik pergi.

“Rico! Dengarkan Ayah! Ada alasannya!”

Aku tidak menoleh.


02

Aku menyewa kamar murah di daerah Tanjung Priok.
Dindingnya lembap, kasurnya bau apek.

Uangku hanya Rp200.000 sisa dari dalam penjara.

Sepuluh tahun membuatku asing pada dunia luar. Aku bahkan tidak punya ponsel pintar.

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.

Tok. Tok. Tok.

Ritme khas penyidik.

Aku diam.

“Anak… Ayah tahu kamu di dalam. Buka pintunya. Kamu tidak bisa tinggal di sini. Pulanglah.”

Pulang?

Ibuku menceraikannya setelah aku dipenjara. Ia pindah ke luar negeri.
Rumah itu bukan lagi rumahku.

Beberapa saat kemudian, pintu dibuka oleh pemilik kos dengan kunci cadangan.

Ayah berdiri di sana, membawa koper dan kantong kertas.

“Ayah belikan pakaian dan ponsel baru.”

Ia menaruhnya di meja.

“Pulanglah.”

Aku menghindar ketika ia hendak menyentuh tanganku.

“Keluar.”

Dengan suara tenang.

Ia mulai menangis lagi. Mengatakan ia tidak pernah tidur nyenyak. Mengatakan ia hanya menjalankan tugas sebagai polisi.

Lalu ia mengeluarkan uang tunai.
Rp50.000.000 dalam pecahan merah.

“Gunakan ini dulu. PIN ATM masih tanggal lahirmu.”

Aku tidak menyentuhnya.

“Besok kita makan siang bersama. Di tempat lama.”

Aku menjawab pelan,
“Baik.”

Ia terlihat begitu bahagia.

“Ayah tunggu besok jam dua belas.”

Setelah ia pergi, aku mengambil uang itu dan melemparkannya satu per satu keluar jendela.
Uang merah beterbangan di gang sempit seperti kupu-kupu berdarah.


03

Keesokan harinya, aku datang ke restoran privat di Menteng.

Meja sudut favorit kami masih sama.

Ayah sudah datang lebih dulu.
Semua makanan favoritku sudah tersaji.

Ia menuangkan teh melati untukku.

“Rico… kamu kurus sekali.”

Aku hanya minum.

“Apa yang kamu alami di dalam?” tanyanya pelan.

Aku menatapnya.
Ia mengalihkan pandangan.

“Apa menurut Ayah?”

Ia pucat.

Hidangan datang.
Ikan bakar, udang saus padang, ayam asam manis.

Lalu ia mengeluarkan sebotol arak tradisional.

Ia menuangkan untukku dan untuk dirinya.

“Untuk permintaan maaf Ayah.”

Ia menenggak habis.

“Ayah tidak berharap kamu memaafkan. Ayah hanya ingin hidupmu baik. Lupakan masa lalu.”

Aku memutar gelas di tanganku.

“Tidak ada yang perlu Ayah tebus.”

Kataku dingin.

“Ayah hanya menjalankan kewajiban sebagai polisi. Demi keadilan, bahkan darah sendiri bisa dikorbankan. Benar?”

Tubuhnya gemetar.

“Bukan begitu… dengarkan dulu…”

“Sudah.”

Aku mengangkat gelas dan meminumnya.

Rasanya tajam.
Namun ada manis aneh di akhir.

Aku mulai merasa pusing.

Ruangan berputar.

Wajah Ayah menjadi kabur.

Ada sesuatu di minuman ini.

Aku mencoba berdiri. Lututku lemas.

“Yah… kamu…”

Dengan sisa kesadaranku, aku menatapnya.

Ia menangis.
Namun kali ini, air matanya berbeda.

“Ayah sudah mengajukan peninjauan kembali,” katanya dengan suara pecah.
“Bukti baru ditemukan. Kamu tidak bersalah.”

Kepalaku semakin berat.

“Kasus itu… bukan kecelakaan,” lanjutnya.
“Itu kesalahan prosedur. Atasan Ayah memaksa. Kalau Ayah melawan, kita semua hancur.”

Ia tersedak.

“Gadis itu adalah anak pejabat besar. Pelakunya anak pengusaha. Ayah… Ayah memilih karier. Ayah memilih diam.”

Darahku terasa membeku.

“Ayah tahu kamu tidak bersalah.”

Air mataku jatuh.

“Lalu kenapa…?”

Ia menutup wajahnya.

“Karena kalau Ayah buka kebenaran waktu itu, kamu akan mati di luar sana. Mereka tidak akan membiarkan saksi hidup.”

Nafasku melemah.

“Ayah…?”

“Minuman itu bukan racun,” katanya cepat.
“Itu obat penenang ringan. Kamu kelelahan dan tekanan darahmu drop. Ambulans sudah Ayah panggil.”

Samar-samar kudengar sirene.

Kesadaranku perlahan menghilang.


04

Tiga bulan kemudian.

Mahkamah Agung mengabulkan peninjauan kembali.

Aku dinyatakan tidak bersalah.

Kasus lama dibuka kembali.

Beberapa pejabat ditangkap.

Ayah mengundurkan diri dari kepolisian.

Di konferensi pers, ia berkata:

“Saya gagal sebagai aparat hukum dan sebagai ayah. Bukti adalah raja. Tapi keberanian adalah jiwa dari keadilan.”

Aku menontonnya dari jauh.

Ia kehilangan karier, reputasi, dan segalanya.

Tapi untuk pertama kalinya, ia memilih kebenaran.


Suatu sore, di tepi laut Ancol, ia berdiri di sampingku.

“Rico… Ayah tidak meminta dimaafkan.”

Aku memandang ombak.

Butuh sepuluh tahun bagiku untuk kehilangan masa muda.
Dan satu keputusan baginya untuk menghancurkan hidupku.

“Yah,” kataku pelan.

Ia menegang.

“Prosedur memang keadilan. Tapi hati nurani… itu lebih tinggi.”

Ia menunduk.

Aku tidak memeluknya.

Aku tidak juga pergi.

Kami hanya berdiri berdampingan.

Seperti dua orang asing
yang sedang belajar kembali arti keluarga.


TAMAT

Lucas berdiri diam di tengah ruang tamu.

Surat-surat lama itu sudah tidak lagi berada di atas meja.

Jantungku serasa jatuh ke perut.

“Apa kau mencarinya?”

Suaranya terdengar dari belakangku.

Aku membeku.

Di tangannya—seikat amplop kusam, sudutnya sudah menguning dimakan waktu. Tulisan tanganku yang ceroboh di masa SMA masih jelas terlihat.

Untuk Lucas.
Untuk pria yang bahkan tak pernah menoleh ke arahku.

“Aku tidak tahu,” katanya pelan, “bahwa selama ini ada seseorang yang menyukaiku selama tujuh tahun.”

Wajahku panas.

“Kontrak kita tinggal lima bulan lagi,” kataku cepat, mencoba mempertahankan harga diri yang tersisa. “Tolong jangan salah paham. Itu cuma masa lalu.”

Ia melangkah mendekat.

Tidak lagi dengan senyum mengejek seperti dulu.

Tidak lagi dengan nada dingin seorang pria kaya yang bisa membeli pernikahan seharga 10 miliar rupiah.

“Aku memang berniat bercerai setelah satu tahun,” ucapnya jujur. “Karena kupikir kau menikahiku demi uang.”

Tanganku mengepal.

“Aku memang butuh uang waktu itu,” jawabku lirih. “Tapi bukan itu alasannya.”

Ia terdiam.

Udara di antara kami terasa berat.

“Alasannya… adalah kau.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Setelah tujuh tahun kupendam. Setelah satu tahun pura-pura tidak peduli.

Lucas menatapku lama sekali.

Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berkata,

“Kalau begitu… kita impas.”

Aku mengernyit.

Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Sebuah surat tua. Lebih kusut dari milikku.

Tulisan tangannya.

Tanggalnya… delapan tahun lalu.

“Aku tidak pernah memberikannya,” katanya pelan. “Karena aku takut kau akan menolakku.”

Dunia seakan berhenti.

Lucas Ybañez—pria yang selalu terlihat sempurna, arogan, tak tersentuh—ternyata juga pernah takut.

“Aku pergi ke luar negeri bukan hanya untuk bisnis,” lanjutnya. “Aku butuh waktu untuk memastikan satu hal.”

“Apa?”

“Bahwa aku tidak ingin menceraikanmu.”

Jantungku berdetak keras.

“Kontrak itu…” Ia tersenyum tipis. “Boleh kita sobek saja?”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Tujuh tahun mencintai diam-diam.

Satu tahun berpura-pura sebagai istri kontrak.

Dan ternyata—

Kami berdua sama-sama pengecut.

Aku mengambil dokumen annulment dari laci.

Kami berdiri berhadapan.

Tanpa hitung mundur.

Tanpa drama.

Kertas itu robek di antara kami.

Pelan.

Pasti.

Tidak ada lagi perjanjian satu tahun.

Tidak ada lagi pembayaran 10 miliar rupiah.

Yang ada hanya dua orang dewasa yang akhirnya memilih satu sama lain—bukan karena kontrak, bukan karena harga, tapi karena cinta yang tertunda terlalu lama.

Lucas menatapku lembut.

“Kali ini,” bisiknya, “boleh aku menginap di kamar istriku?”

Aku tersenyum melalui air mata.

“Mr. Ybañez… apakah Anda ingin menyiratkan sesuatu?”

Ia tertawa kecil.

Dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah—

Aku merasa benar-benar menjadi istrinya.