BAGIAN 1: AKU TIDAK ADA DALAM SURAT WASIAT, TAPI AKULAH PEMILIK SELURUH PUSAT PERTOKOAN

Ketika pengacara selesai membacakan surat wasiat ibu angkatku, seluruh ruang tamu mendadak sunyi.

Rumah besar tempat kami tinggal.

Tiga toko yang menjadi sumber penghasilan keluarga.

Seluruh tabungan.

Semua aset.

Semuanya akan diwariskan kepada Amanda Wijaya.

Dan aku?

Tidak mendapatkan satu rupiah pun.

Semua mata tertuju padaku.

Ada yang menunggu aku mengamuk.

Ada yang berharap aku menangis.

Ada yang ingin melihat pertengkaran soal warisan.

Namun aku hanya menyeruput teh dengan tenang sebelum berkata,

“Kalau begitu…”

“Siapa yang akan membayar sewa pusat pertokoan mulai bulan depan?”

Senyum di wajah Amanda langsung membeku.

Suasana di seluruh ruangan seketika berubah.

“Sabrina, apa kamu tidak mendengar apa yang dikatakan pengacara?”

Ibu angkatku menepukkan map di atas meja dengan keras.

“Aku sudah memutuskan.”

“Semuanya akan menjadi milik Amanda.”

Aku mengangguk.

“Aku mendengarnya.”

“Kamu tidak mau mengatakan apa-apa?”

“Tidak.”

Salah seorang bibiku tak bisa menahan diri untuk bertanya,

“Benarkah kamu tidak sedih?”

Aku tersenyum.

“Itu adalah harta milik Mama.”

“Beliau berhak memberikannya kepada siapa pun yang beliau inginkan.”

Mata Amanda langsung memerah.

“Sabrina, aku tahu kamu terluka…”

“Tidak.”

Aku memotong perkataannya.

“Aku hanya ingin mengetahui satu hal.”

“Apa itu?”

Aku meletakkan cangkir teh perlahan.

“Apakah kalian yakin bisa membayar sewa pusat pertokoan tepat waktu mulai bulan depan?”

Ibu angkatku mengerutkan dahi.

“Sewa apa?”

Aku menatapnya.

“Sewa pusat pertokoan.”

Amanda tertawa.

“Sabrina, apa yang sedang kamu bicarakan?”

“Toko-toko itu milik Mama.”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Toko-toko itu memang milik Mama.”

Aku berdiri.

“Tapi pusat pertokoannya bukan.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, aku langsung berbalik dan berjalan keluar.

Seketika seluruh rumah menjadi gaduh.

“Sabrina! Tunggu!”

Amanda memanggilku keras.

Namun aku tidak menoleh.

Begitu keluar dari gerbang, sebuah SUV hitam sudah menungguku.

Di dalamnya duduk Daniel Pratama, sahabat terbaikku selama bertahun-tahun.

Begitu melihatku, ia segera menurunkan kaca mobil.

“Sudah selesai?”

“Ya.”

“Mereka benar-benar menyerahkan semuanya kepada Amanda?”

“Ya.”

Daniel melongo.

“Dan kamu setenang ini?”

Aku memasang sabuk pengaman.

“Kenapa aku harus marah?”

“Bukankah ini sangat tidak adil?”

Aku tersenyum tipis.

“Bukan aku yang seharusnya khawatir.”

Ia menatapku cukup lama sebelum tertawa.

“Ah…”

“Sekarang aku mengerti.”

Mobil perlahan melaju.

Melalui kaca spion, aku melihat rumah besar itu semakin jauh.

Dulu…

Itu adalah rumahku.

Namun sudah lama tempat itu berhenti menjadi rumah.


Dua hari kemudian.

Amanda resmi mengambil alih bisnis keluarga.

Ia datang ke toko terbesar dengan mengenakan pakaian mewah yang baru dibelinya.

Para karyawan berbaris menyambutnya.

Senyumnya begitu lebar.

Seolah seluruh dunia kini berada dalam genggamannya.

Namun pada sore hari yang sama.

Aku menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.

Begitu menjawab, aku langsung mengenali suara ibu angkatku.

“Sabrina!”

“Iya, Ma?”

“Kamu sudah tahu soal ini sejak awal?”

“Soal apa?”

“Manajemen properti mengirim pemberitahuan baru!”

“Mereka menaikkan harga sewa!”

Aku menyalakan pengeras suara sambil tetap membaca dokumen di mejaku.

“Berapa kenaikannya?”

“Mereka mengembalikannya ke harga normal!”

“Kalau begitu, itu wajar.”

“Bagaimana bisa wajar?!”

Ia hampir berteriak.

“Dengan harga sewa sebesar itu, setengah keuntungan toko akan habis!”

Aku tersenyum.

“Kalau begitu, bicaralah dengan pemiliknya.”

Di ujung telepon mendadak sunyi.

Beberapa detik kemudian, ia bertanya dengan hati-hati.

“Sabrina…”

“Kamu tahu siapa pemiliknya?”

Aku memandang pemandangan kota dari balik jendela.

Lampu gedung-gedung mulai menyala.

“Aku tidak tahu.”

Jawabku tenang.

“Tapi mungkin…”

“Dia tidak menyukai orang-orang yang memperlakukannya seolah tidak berharga.”

Lalu aku mengakhiri panggilan itu.


Malam harinya.

Daniel datang ke kantorku sambil membawa map tebal.

Ia meletakkannya di depanku.

“Lihat ini.”

Aku membuka map itu.

Di dalamnya terdapat laporan keuangan seluruh pusat pertokoan.

Bukan hanya tiga toko milik keluarga kami.

Tetapi juga lebih dari dua puluh unit usaha lainnya.

Semua berdiri di atas lahan yang sama.

Dan hanya ada satu nama pemilik.

Namaku.

Sabrina Hartono.

Daniel duduk di depanku.

“Sampai kapan kamu ingin menyembunyikan semuanya?”

Aku membalik halaman demi halaman.

“Sampai mereka menemukannya sendiri.”

“Dan kalau mereka tahu?”

Aku tersenyum.

“Baru saat itulah semuanya akan menjadi menarik.”

Daniel hendak mengatakan sesuatu.

Namun tiba-tiba ponselku bergetar berkali-kali.

Satu panggilan.

Dua panggilan.

Tiga panggilan.

Semuanya berasal dari Amanda.

Aku tidak mengangkatnya.

Namun beberapa detik kemudian, ia mengirimkan sebuah foto.

Foto itu memperlihatkan dokumen kepemilikan properti.

Sekali melihat, aku langsung mengenalinya.

Sertifikat pusat pertokoan.

Dan sebuah nama yang dilingkari tinta merah.

Namaku.

Daniel juga melihatnya.

Ia perlahan menatapku.

“Sepertinya…”

“Mereka sudah tahu.”

Ponselku kembali berdering.

Namun kali ini bukan Amanda.

Melainkan pengacara ibu angkatku.

Begitu aku menjawab, aku langsung mendengar ketegangan dalam suaranya.

“Nona Sabrina…”

“Kita punya masalah.”

Aku mengangkat alis.

“Masalah apa?”

Ia menarik napas panjang.

“Nona Amanda membawa semua dokumen bisnis warisan ke bank…”

“Untuk dijadikan jaminan pinjaman dalam jumlah besar…”

Ia berhenti sejenak.

“Namun pihak bank menemukan sesuatu.”

Aku perlahan meletakkan pena di tanganku.

“Apa itu?”

Suaranya sedikit bergetar.

“Aset yang selama ini mereka kira milik mereka…”

“Ternyata sama sekali tidak terdaftar atas nama mereka.”

Pada saat yang sama.

Sebuah pesan baru dari Amanda masuk.

Hanya ada satu kalimat.

“Sabrina… sudah berapa lama kamu membohongi kami?”

Aku menatap pesan itu dengan tenang.

Perlahan sudut bibirku terangkat.

Karena permainan yang sesungguhnya…

Baru saja dimulai.

Bagian selanjutnya dari cerita ini ada di kolom komentar. Pilih “SEMUA KOMENTAR” untuk membaca kisah lengkapnya…

Semoga harimu menyenangkan! 👇

BAGIAN AKHIR: AKU TIDAK ADA DALAM SURAT WASIAT, TAPI AKULAH PEMILIK SELURUH PUSAT PERTOKOAN

Aku membaca pesan dari Amanda beberapa detik.

Lalu meletakkan ponselku.

Daniel tertawa kecil.

“Kamu tidak akan membalas?”

Aku tersenyum.

“Untuk apa?”

“Bukankah mereka selalu berpikir bahwa akulah yang menginginkan harta keluarga?”

“Kalau begitu, biarkan mereka merasakan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang mereka kira sudah pasti menjadi milik mereka.”

Namun kurang dari sepuluh menit kemudian.

Pintu kantorku dibuka dengan kasar.

Amanda masuk dengan napas memburu.

Wajahnya pucat.

Dan untuk pertama kalinya sejak pembacaan surat wasiat…

Tidak ada lagi kesombongan di matanya.

“Sabrina!”

Dia langsung berlari menghampiriku.

“Kamu sudah tahu semua ini?”

Aku mengangkat kepala dari dokumen yang sedang kubaca.

“Tahu apa?”

“Jangan berpura-pura!”

“Pusat pertokoan itu!”

“Semua tanah itu!”

“Kenapa namamu ada di sana?”

Aku memandangnya dengan tenang.

“Karena memang milikku.”

Amanda terdiam.

Seolah tidak percaya dengan jawabanku.

“Tidak mungkin…”

“Mana mungkin…”

“Sejak kapan?”

Aku tersenyum tipis.

“Sejak sepuluh tahun yang lalu.”

Dia membeku.

Sepuluh tahun lalu.

Saat itu aku baru berusia delapan belas tahun.

Bahkan ibu angkatku belum membuka toko pertamanya.

“Tidak mungkin…”

Amanda terus menggeleng.

“Kalau itu milikmu…”

“Kenapa kamu tinggal bersama kami?”

“Kenapa kamu tidak pernah mengatakan apa pun?”

Aku menatapnya cukup lama.

Lalu berkata pelan,

“Karena aku menganggap kalian keluarga.”

“Karena Mama pernah menyelamatkanku.”

“Dan karena aku percaya…”

“Suatu hari nanti, kalian akan menganggapku sebagai anak yang sama seperti dirimu.”

Mata Amanda mulai memerah.

Namun sebelum dia sempat bicara, ibu angkatku masuk.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku…

Wanita yang selalu keras itu tampak begitu tua.

“Sabrina…”

Suara beliau bergetar.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Aku tersenyum.

“Kalau saya bilang…”

“Apakah Mama masih akan memperlakukan saya seperti selama ini?”

Beliau terdiam.

Dan kesunyian itu…

Sudah menjadi jawaban terbaik.

Air mata perlahan jatuh dari wajahnya.

“Aku…”

“Aku hanya…”

“Takut…”

“Takut kalau semua orang tahu bahwa kamu lebih hebat daripada Amanda…”

“Aku takut Amanda akan kehilangan segalanya…”

Aku tertawa pelan.

“Dan karena itulah…”

Mama memilih membuat saya kehilangan segalanya terlebih dahulu?”

Seluruh tubuh beliau gemetar.

Tidak ada satu pun kata yang keluar.

Karena beliau tahu.

Beliau salah.

Selama bertahun-tahun.

Beliau selalu berpikir bahwa aku akan memperebutkan warisan.

Padahal…

Aku tidak pernah menginginkan rumah itu.

Aku tidak pernah menginginkan toko-toko itu.

Yang kuinginkan…

Hanya sebuah tempat yang bisa kusebut rumah.

Sayangnya…

Aku tidak pernah benar-benar mendapatkannya.


Dua minggu kemudian.

Bank resmi menolak pinjaman Amanda.

Karena seluruh bisnis mereka tidak memiliki hak atas tanah tempat mereka berdiri.

Beberapa pemasok mulai menarik kerja sama.

Dan toko-toko itu perlahan mengalami kesulitan.

Amanda datang mencariku berkali-kali.

Bahkan menangis.

“Sabrina…”

“Aku akan mengembalikan semuanya.”

“Rumah…”

“Toko…”

“Tabungan…”

“Semuanya untukmu…”

Aku hanya tersenyum.

“Aku tidak membutuhkannya.”

“Mama sudah memberikannya kepadamu.”

“Jagalah baik-baik.”

“Tapi…”

Amanda menangis semakin keras.

“Kami tidak bisa bertahan…”

“Tanpa pusat pertokoan itu, semuanya akan bangkrut…”

Aku terdiam.

Lalu memandang foto lama yang berada di atas mejaku.

Foto saat pertama kali aku datang ke rumah mereka.

Ibu angkatku memegang tanganku.

Amanda tersenyum kepadaku.

Saat itu…

Kami benar-benar terlihat seperti keluarga.

Aku menghela napas panjang.

“Daniel.”

“Ya?”

“Turunkan harga sewanya.”

Daniel terkejut.

“Kamu serius?”

“Mereka memperlakukanmu seperti itu.”

Aku tersenyum.

“Ya.”

“Tapi Mama pernah menyelamatkan hidupku.”

“Dan satu kebaikan…”

Layak dibalas dengan satu kebaikan.”

“Tapi hanya sekali.”


Sebulan kemudian.

Aku mengunjungi rumah lama itu untuk terakhir kalinya.

Di depan gerbang.

Ibu angkatku sudah menunggu.

Rambut beliau tampak jauh lebih putih.

Begitu melihatku.

Beliau langsung menangis.

“Sabrina…”

“Maafkan Mama…”

“Maafkan Mama…”

Aku berdiri diam.

Lalu perlahan memeluk beliau.

Karena pada akhirnya…

Aku tidak membenci beliau.

Aku hanya kecewa.

Dan kekecewaan…

Tidak selalu berarti tidak ada cinta.

Saat aku hendak pergi.

Beliau tiba-tiba memanggilku.

“Sabrina…”

“Kalau ada kehidupan berikutnya…”

“Maukah kamu tetap menjadi putriku?”

Air mataku hampir jatuh.

Aku tersenyum.

Lalu menjawab pelan.

“Kalau ada kehidupan berikutnya…”

“Jangan lagi pilih kasih, ya, Ma.”

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Beliau menangis seperti seorang ibu yang kehilangan anaknya.

Sedangkan aku…

Akhirnya tersenyum.

Karena aku mengerti satu hal.

Warisan terbesar yang ditinggalkan seseorang…

Bukanlah rumah.

Bukan uang.

Dan bukan pula kekuasaan.

Melainkan…

Cara mereka memperlakukan hati orang-orang yang pernah mencintai mereka.

Dan sebagian penyesalan…

Datang terlalu terlambat untuk diperbaiki.

Namun tidak pernah terlambat…

Untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik.