Bagian 1: Apartemen Senilai Rp5,4 Miliar dan Kata-Kata yang Lebih Dingin dari Ruang Dialisis

Pada perayaan ulang tahun ke-10 perusahaan di Jakarta Selatan, aku mengenakan gaun lamaku yang sudah tiga kali diperbaiki, berdiri diam di ujung aula.

Suamiku, Arman Wijaya, duduk di kursi roda di tengah panggung.

Ia memegang mikrofon. Tubuhnya memang lemah, tetapi nada suaranya masih dipenuhi kebanggaan.

“Hari ini, saya ingin mengumumkan sebuah keputusan penting.”

Seluruh ruangan langsung bertepuk tangan.

Di sampingnya berdiri Clara Santoso, asisten eksekutifnya. Ia mengenakan gaun berwarna krem, rambutnya tertata rapi, dan matanya memerah seolah akan menerima penghargaan terbesar dalam hidupnya.

Arman menoleh kepadanya lalu berkata,

“Saya akan mengalihkan apartemen di kawasan BSD City kepada Clara, beserta lima belas persen bagian keuntungan dari bisnis cold storage yang baru. Total nilainya sekitar lima koma empat miliar rupiah.”

Aula langsung dipenuhi tepuk tangan.

Sedangkan aku membeku di tempatku berdiri.

Selama tujuh tahun terakhir, akulah yang mengantarnya menjalani dialisis sebelum matahari terbit.

Akulah yang mengatur obat-obatannya ke dalam kotak plastik kecil setiap minggu.

Aku menjual perhiasan pernikahanku, menggadaikan rumah warisan ibuku, bahkan meminjam uang dari kakakku yang bekerja di Dubai, hanya agar ia tetap hidup.

Namun ucapan terima kasih terbesar yang ia miliki justru diberikan kepada wanita lain di depan semua orang.

Aku berjalan naik ke atas panggung.

“Coba ulangi lagi. Apa yang akan kamu berikan kepadanya?”

Arman mengerutkan kening.

“Ana, jangan mempermalukanku di depan para karyawan.”

“Aku bertanya, apa yang akan kamu berikan kepadanya?”

Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada tegas,

“Clara sudah mendampingiku membangun perusahaan selama tujuh tahun. Saat aku sakit, dialah yang menangani klien, gudang, dan armada distribusi. Berkat kontribusinya, perusahaan ini masih bisa berdiri sampai sekarang.”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu, bagaimana denganku?”

Beberapa detik ia terdiam sebelum mengucapkan kalimat yang membuat darahku terasa dingin.

“Kamu istriku. Bukankah sudah sewajarnya kamu merawatku?”

Seluruh aula menjadi sunyi.

Clara buru-buru mengusap air matanya.

“Kak Ana, jangan salah paham. Saya tidak pernah berniat merebut apa pun dari Kakak. Pak Arman hanya kasihan melihat betapa beratnya perjuangan saya.”

Ia menunduk, suaranya selembut kopi hangat.

“Saya ini hanya seorang pegawai. Mana mungkin saya bisa dibandingkan dengan istri sah beliau?”

Aku tertawa kecil.

“Baiklah. Kalau kamu hanya pegawai, berarti aku juga akan menyerahkan sisa pekerjaan yang belum selesai kepadamu.”

Clara mengangkat kepalanya.

Aku mengambil ponselku dan membuka jadwal perawatan Arman.

“Senin, Rabu, Jumat, pukul lima pagi, dialisis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.”

“Setelah dialisis, tekanan darahnya harus diperiksa setiap tiga jam.”

“Dia tidak boleh makan makanan asin. Air minumnya tidak boleh lebih dari satu liter sehari.”

“Setiap malam dia sering kram, kadang demam. Tubuhnya harus dikompres, dokter harus dihubungi, dan semua hasil pemeriksaan harus dicatat.”

Aku menyodorkan ponsel itu kepada Clara.

“Mulai hari ini, kamu yang merawatnya.”

Wajah Clara langsung pucat.

“Kak Ana, saya… saya masih harus menjalankan perusahaan.”

“Bukankah kamu tidak terlalu sibuk saat menerima apartemen senilai lima koma empat miliar rupiah?”

Aku menoleh kepada Arman.

“Katamu dia yang menyelamatkan perusahaanmu. Kalau begitu, biarkan dia juga yang menyelamatkan hidupmu.”

Arman memukul sandaran kursi rodanya.

“Ana Wijaya, jangan membuat keributan!”

“Aku tidak membuat keributan.”

Aku melepaskan cincin pernikahanku yang sudah menipis dimakan waktu dan meletakkannya di atas meja.

“Aku hanya akhirnya sadar.”

Rahangnya mengeras.

“Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan keputusan ini.”

“Kalau begitu, mari kita urus perceraian secara hukum.”

Aku mengatakannya dengan tenang.

“Apartemen itu miliknya. Bagian keuntungan itu miliknya. Dan pria yang lebih tahu berterima kasih kepada wanita lain daripada istrinya sendiri, biarlah menjadi miliknya juga.”

Clara mulai menangis.

“Kak Ana, jangan bicara seperti itu. Tahun depan anak saya akan masuk sekolah swasta di Tangerang. Saya benar-benar membutuhkan tempat tinggal yang stabil.”

Aku menatapnya.

“Aku mengerti. Kamu membutuhkan rumah untuk anakmu.”

Lalu aku memandang Arman.

“Tapi aku? Apa yang kubutuhkan? Pernahkah sekali saja kamu bertanya?”

Arman mengalihkan pandangannya.

Pada saat itulah ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari mantan akuntan perusahaan, Pak Thomas.

“Jangan tanda tangani apa pun. Apartemen itu tidak bersih. Dan bukan hanya apartemen yang sudah didapat Clara.”

(Bagian selanjutnya aku tinggalkan di kolom komentar. Jika ingin membacanya, tekan “Lihat semua komentar”.)

Malam itu, aku tidak pulang ke rumah.

Aku duduk sendirian di sebuah kedai kopi 24 jam sambil membaca ulang pesan dari Pak Thomas.

Tanganku gemetar ketika membuka file yang ia kirim.

Ternyata, selama tiga tahun terakhir, Clara bukan hanya menerima bonus dan tunjangan dari perusahaan.

Arman diam-diam telah membelikan sebuah mobil mewah atas namanya.

Ia juga membayar cicilan rumah orang tua Clara di Surabaya.

Bahkan biaya sekolah internasional anak Clara selama dua tahun terakhir dibayarkan melalui rekening perusahaan.

Yang paling membuatku terpaku adalah sebuah dokumen lama.

Sebuah surat wasiat.

Tanggalnya enam bulan sebelumnya.

Di sana tertulis bahwa jika Arman meninggal dunia, sebagian besar saham perusahaan akan dialihkan kepada Clara Santoso sebagai “orang yang paling berjasa mendampingi dan merawatnya.”

Sedangkan aku…

Istri sahnya selama lima belas tahun…

Hanya mendapat sejumlah uang yang bahkan tidak cukup untuk melunasi utang yang kupinjam demi biaya pengobatannya.

Air mataku jatuh.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena akhirnya aku sadar.

Selama bertahun-tahun, aku telah mengorbankan segalanya untuk seseorang yang bahkan sudah lama berhenti menganggapku sebagai keluarga.

Keesokan harinya, aku menemui pengacara.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

Aku memilih diriku sendiri.


Tiga bulan kemudian.

Arman masuk rumah sakit dalam kondisi kritis.

Ginjalnya kembali bermasalah.

Dokter mengatakan ia membutuhkan perawatan intensif.

Namun kali ini, bukan aku yang menemaninya.

Melainkan Clara.

Dan baru pada minggu kedua, Clara mulai menghilang.

Alasannya selalu sama.

“Saya harus rapat dengan klien.”

“Saya harus mengurus sekolah anak.”

“Saya sedang kurang sehat.”

Hingga akhirnya, semua tanggung jawab itu jatuh kembali kepada keluarga Arman.

Ibunya yang sudah tua menangis.

Adiknya mulai mengeluh.

Mereka baru menyadari sesuatu yang selama ini mereka anggap biasa.

Bahwa selama tujuh tahun, orang yang bangun pukul empat pagi, menyiapkan obat, mencuci muntah, memijat kaki yang kram, dan menahan rasa takut setiap kali alarm mesin berbunyi…

Selalu aku.

Bukan Clara.

Suatu sore, ibu mertua yang dulu sering menyalahkanku datang menemuiku.

Matanya merah.

“Ana… Ibu baru mengerti sekarang. Selama ini kami salah.”

Aku tersenyum pelan.

Namun tidak ada lagi luka di hatiku.

Dan tidak ada lagi keinginan untuk kembali.

Beberapa minggu kemudian, Clara menjual mobil mewah yang diberikan Arman.

Ia juga mengundurkan diri dari perusahaan.

Tak lama kemudian, ia pindah ke kota lain.

Meninggalkan Arman yang kini kehilangan kesehatan, harta, dan orang yang selama ini ia anggap lebih berharga daripada istrinya sendiri.


Setahun berlalu.

Perceraianku resmi selesai.

Pengadilan memutuskan bahwa sebagian aset yang selama ini disembunyikan harus dibagi secara adil.

Aku melunasi semua utangku.

Aku membeli sebuah rumah kecil di Bandung.

Dan dengan sisa uang yang ada, aku membuka sebuah kafe sederhana yang diberi nama:

“Jam Lima Pagi.”

Karena selama tujuh tahun, pukul lima pagi adalah waktu ketika aku selalu berjuang demi kehidupan orang lain.

Namun sekarang…

Jam lima pagi menjadi waktu ketika aku membuka pintu kafe, menyeduh kopi pertama, dan menikmati hidupku sendiri.

Suatu hari, seorang pelanggan tetap bertanya sambil tersenyum,

“Bu Ana, kenapa nama kafe ini unik sekali?”

Aku hanya tersenyum.

“Karena jam lima pagi pernah menjadi waktu paling menyakitkan dalam hidup saya.”

Aku berhenti sejenak lalu melanjutkan,

“Dan sekarang, itu menjadi awal dari kebahagiaan saya.”

Pada malam perayaan ulang tahun kedua kafe itu, teleponku berdering.

Nomornya tidak dikenal.

Ketika kuangkat, suara yang sangat kukenal terdengar dari seberang sana.

“Ana…”

Suara Arman terdengar lemah.

“Aku menyesal…”

Aku memandang hujan di luar jendela.

Dua tahun lalu, mungkin aku akan menangis mendengar kata-kata itu.

Namun sekarang…

Hatiku sudah tenang.

“Terima kasih karena akhirnya mengucapkannya, Arman.”

“Bisakah kita mulai lagi?”

Aku tersenyum pelan.

Lalu menjawab dengan suara yang paling damai yang pernah kumiliki.

“Tidak.”

“Karena orang yang dulu rela memberikan seluruh hidupnya untukmu…”

“…sudah meninggal pada hari kau memberikan apartemen itu kepada wanita lain.”

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lamanya…

Aku menutup telepon tanpa air mata.

Di luar, hujan perlahan berhenti.

Dan untuk pertama kalinya juga…

Aku menyadari bahwa akhir dari sebuah pengkhianatan…

bukanlah balas dendam.

Melainkan saat kita tidak lagi membutuhkan permintaan maaf dari orang yang pernah menghancurkan kita.

Karena kebahagiaan terbesar…

adalah ketika kita akhirnya memilih diri sendiri.