Sudah tiga tahun aku menikah dengan Arga Pratama.
Di mata semua orang, aku hanyalah seorang wanita biasa yang berasal dari kota kecil di Jawa Tengah.
Tak seorang pun tahu bahwa keluargaku adalah pemilik salah satu konglomerat pelayaran dan logistik terbesar di Indonesia, dengan pengaruh yang menjangkau seluruh negeri.
Aku tidak pernah mengungkapkan identitasku.
Aku ingin dicintai karena diriku sendiri.
Aku ingin pernikahan kami dibangun atas cinta, bukan kekuasaan dan kekayaan.
Selama tiga tahun, aku diam-diam mendukung Arga membangun perusahaannya.
Dari masa ketika ia harus meminjam uang untuk membayar gaji karyawan…
Hingga akhirnya mendapatkan kontrak besar pertamanya.
Aku pikir aku telah memilih pria yang tepat.
Sampai Nadine Saputra muncul.
Nadine adalah teman kuliah Arga.
Cantik, pandai berbicara, dan yang terpenting…
Sangat ahli berpura-pura menjadi korban.
Hanya dalam beberapa bulan setelah kembali ke Jakarta, ia berhasil membuat semua orang percaya bahwa dirinya adalah orang yang paling malang di dunia.
Dan aku…
Menjadi tokoh jahatnya.
Semuanya bermula pada suatu sore yang hujan.
Nadine tiba-tiba berlari masuk ke kantor Arga sambil menangis tersedu-sedu.
Ia menjatuhkan tas tangannya ke lantai.
Katanya, uang tunai sebesar Rp500 juta yang ada di dalam tas itu telah hilang.
Menurutnya, uang itu disiapkan untuk biaya pengobatan seseorang yang sangat penting baginya.
“Aku tahu siapa yang mengambilnya…”
Katanya sambil menangis dan menatap lurus ke arahku.
Seluruh kantor mendadak sunyi.
Aku terpaku.
“Apa maksudmu?”
Dengan tangan gemetar, ia menunjuk ke arahku.
“Kamu tidak pernah menyukaiku.”
“Dulu kamu bilang aku seharusnya tidak terlalu dekat dengan Arga.”
“Aku tahu kamu membenciku, tapi aku tidak pernah menyangka kamu akan melakukan hal seperti ini…”
Seakan pendengaranku hilang.
Bahkan Arga memandangku seperti orang asing.
Aku menjelaskan.
Aku menyangkal semuanya.
Tetapi tak seorang pun mau mendengar.
Kebetulan CCTV sedang rusak.
Tidak ada saksi.
Tidak ada bukti.
Hanya air mata Nadine.
Dan itu sudah cukup untuk membuat semua orang mempercayainya.
Malam itu, Arga membawaku ke sebuah resort eksklusif di luar kota.
Katanya aku perlu waktu untuk merenung.
Aku percaya bahwa ia masih mempercayaiku.
Tetapi ketika mobil berhenti…
Barulah aku mengetahui kebenarannya.
Itu bukan resort.
Melainkan klub pribadi yang hanya didatangi orang-orang kaya.
Aku dipaksa turun dari mobil.
Dua petugas keamanan memegangku dengan kuat.
Dengan panik aku menatap Arga.
“Apa yang kamu lakukan?”
Wajahnya dingin.
“Nadine sedang dirawat di rumah sakit.”
“Dia membutuhkan uang itu.”
Duniaku seakan runtuh.
“Aku tidak mencurinya.”
“Aku bersumpah.”
Ia tersenyum sinis.
“Sampai sekarang kamu masih berpura-pura?”
Hatiku terasa seperti disayat.
Pria yang pernah berjanji akan melindungiku seumur hidup…
Kini justru menjadi orang pertama yang menghancurkanku.
Di dalam klub.
Musik berdentum keras.
Lampu warna-warni berkilauan.
Aku dibawa ke sebuah ruangan besar.
Banyak mata memandangiku.
Seorang pria berjas mendekat.
“Jadi kamu yang mencuri uang itu?”
Aku menggeleng.
Namun ia tidak tertarik pada jawabanku.
Ia hanya menoleh kepada Arga.
“Bagaimana kamu ingin menyelesaikan masalah ini?”
Arga duduk di sofa.
Bahkan tidak memandangku.
“Terserah.”
“Aku hanya ingin dia mendapat pelajaran.”
Ia mengatakannya dengan sangat ringan.
Tetapi kata-kata itu membuat seluruh tubuhku gemetar.
Aku tak percaya itu keluar dari mulutnya.
Pria yang pernah berkata akan mencintaiku selamanya…
Kini menjadi orang pertama yang menghancurkan hidupku.
Pria berjas itu tertawa.
“Baik.”
“Aku mengerti.”
Aku dibawa ke ruangan lain.
Ponselku disita.
Tasku diambil.
Semua cara untuk meminta bantuan diputus.
Selama berjam-jam, mereka memaksaku menandatangani surat pengakuan.
Aku menolak.
Setiap kali aku menolak, tekanan yang mereka berikan semakin besar.
Namun aku tetap tidak mau menandatangani.
Karena aku tidak bersalah.
Menjelang tengah malam.
Aku duduk sendirian di sudut ruangan.
Hujan turun deras di luar.
Diam-diam aku mengeluarkan ponsel lama yang selama ini kusembunyikan.
Baterainya hanya tersisa dua persen.
Itu adalah ponsel cadangan yang selalu kubawa.
Dengan tangan gemetar, aku menekan sebuah nomor.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Akhirnya seseorang menjawab.
Suara berat seorang pria terdengar.
“Hello.”
Begitu mendengar suara itu…
Air mataku langsung jatuh.
“Paman…”
“Saya Isabella Wijaya…”
Mendadak, orang di seberang telepon terdiam.
Beberapa detik kemudian.
Nada suaranya berubah serius.
“Nona Isabella?”
Aku menangis.
“Saya membutuhkan bantuan.”
Tepat pada saat itu—
BRAKK!
Pintu terbuka dengan keras.
Ponselku terjatuh ke lantai.
Di luar berdiri Arga dan Nadine.
Nadine tersenyum.
Tetapi senyuman itu tampak mengerikan.
“Jadi kamu masih sempat meminta pertolongan?”
Arga masuk ke dalam.
Ia mengambil ponsel yang jatuh di lantai.
Dan dalam sekejap…
Wajahnya berubah drastis.
Karena panggilan itu belum terputus.
Dan nama yang tertera di layar…
Cukup untuk membuat wajahnya pucat.
Seseorang yang dikenal di seluruh dunia bisnis Indonesia.
Seseorang yang hampir tidak pernah menjawab telepon siapa pun secara pribadi.
Namun beberapa detik yang lalu…
Pria itu memanggilku dengan sebutan—
“Nona Isabella.”
Bagian selanjutnya ada di kolom komentar.
Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca kisah lengkapnya…
Semoga harimu menyenangkan! 👇

BAB TERAKHIR: HARGA DARI SEBUAH PENGKHIANATAN
Wajah Gabriel Pratama seketika memucat.
Tangannya yang memegang ponsel bergetar.
Di layar itu masih tertera nama yang membuat hampir seluruh pelaku bisnis di Indonesia tidak berani bersikap sembarangan.
Pak Arman Wijaya.
Pendiri Wijaya Global Logistics Group.
Salah satu konglomerat terbesar di Asia Tenggara.
Dan beberapa detik yang lalu…
Pria itu memanggilku dengan hormat.
“Nona Isabella Wijaya.”
Bianca Putri yang berdiri di samping Gabriel masih tersenyum sinis.
Namun perlahan senyumnya mulai menghilang.
“Ada apa?”
“Tunjukkan padaku.”
Gabriel tidak menjawab.
Tatapannya tertuju padaku dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
“Isabella…”
“Kamu sebenarnya siapa?”
Aku tidak menjawab.
Karena pada saat yang sama, suara berat Pak Arman terdengar dari ponsel yang masih tersambung.
“Nona Isabella?”
“Apakah Anda baik-baik saja?”
“Kenapa tidak ada yang menjawab?”
Aku memungut ponsel itu.
Air mata masih membasahi wajahku.
“Paman Arman…”
“Saya di Klub Imperial.”
“Saya butuh bantuan.”
Hening.
Lalu suara di seberang berubah dingin.
“Saya mengerti.”
“Tunggu sepuluh menit.”
Telepon terputus.
Bianca tertawa.
“Sepuluh menit?”
“Kau pikir kau sedang bermain drama?”
“Jangan bilang kau mau menakut-nakuti kami dengan nama orang besar?”
Namun entah mengapa, wajah Gabriel semakin pucat.
Karena dia tahu.
Pak Arman Wijaya bukan orang yang namanya bisa dipakai sembarangan.
Dan sepuluh menit kemudian…
Suara rem mobil terdengar berturut-turut dari luar gedung.
Puluhan mobil hitam berhenti di depan Klub Imperial.
Lebih dari tiga puluh pengawal berpakaian hitam turun secara bersamaan.
Seluruh klub mendadak kacau.
Pemilik klub yang tadi begitu arogan langsung berlari keluar.
Tetapi sebelum sempat berbicara, seorang pria tua berjas abu-abu telah melangkah masuk.
Pak Arman Wijaya.
Pemilik sesungguhnya dari klub tersebut.
Semua orang membeku.
Termasuk Gabriel.
Karena tidak ada yang menyangka orang setingkat Pak Arman datang sendiri.
Namun hal yang lebih mengejutkan terjadi.
Begitu melihatku duduk di sudut ruangan dengan wajah pucat, Pak Arman langsung berjalan cepat.
Kemudian…
Di depan semua orang.
Pria yang biasanya disegani seluruh dunia bisnis itu sedikit membungkukkan badan.
“Nona Isabella.”
“Saya terlambat.”
“Saya mohon maaf.”
Seluruh ruangan membisu.
Bianca hampir terjatuh.
Dan Gabriel…
Tubuhnya gemetar.
“Ayah angkatku pernah menyelamatkan nyawaku.”
“Keluarga Wijaya adalah keluarga yang paling kuhormati.”
kata Pak Arman dengan suara dingin.
“Lalu kalian berani memperlakukan pewaris tunggal keluarga itu seperti penjahat?”
Tatapan tajamnya beralih kepada Gabriel.
“Gabriel Pratama.”
“Mulai malam ini, semua kerja sama antara perusahaanmu dan Wijaya Global Logistics Group dihentikan.”
“Selamanya.”
Seolah dunia runtuh di atas kepala Gabriel.
Dia langsung berlutut.
“Pak Arman!”
“Ada kesalahpahaman!”
“Saya tidak tahu siapa Isabella sebenarnya!”
Pak Arman tertawa dingin.
“Lalu kalau dia bukan pewaris keluarga Wijaya…”
“Apakah berarti dia pantas dihancurkan?”
Gabriel terdiam.
Tak mampu menjawab.
Sementara Bianca mulai menangis.
“Itu bukan salah saya!”
“Saya benar-benar kehilangan uang!”
Aku akhirnya berdiri.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku menatapnya.
“Bianca.”
“Kau ingin tahu ke mana uangmu pergi?”
Wajahnya berubah.
Aku mengeluarkan sebuah rekaman dari ponsel cadangan.
Suara di dalamnya sangat jelas.
Suara Bianca sendiri.
“Aku hanya perlu menangis sedikit.”
“Gabriel pasti akan mempercayai aku.”
“Kalau perempuan desa itu hancur, tidak akan ada lagi yang menghalangi kita.”
Semua orang terdiam.
Bianca langsung jatuh terduduk.
Gabriel memandangnya dengan mata merah.
Dan untuk pertama kalinya, dia menyadari…
Dia telah menghancurkan wanita yang paling mencintainya demi seorang pembohong.
Beberapa bulan kemudian.
Perusahaan Gabriel bangkrut.
Bianca menghilang.
Dan aku kembali ke kantor pusat Wijaya Global.
Suatu sore.
Saat matahari mulai tenggelam di Jakarta.
Sekretarisku masuk ke ruangan.
“Nona Isabella.”
“Pak Gabriel datang lagi.”
“Ini sudah hari keempat puluh.”
Aku hanya tersenyum.
“Seperti biasa.”
“Katakan aku tidak menerima tamu.”
Sekretaris itu mengangguk.
Namun sebelum keluar, dia ragu-ragu.
“Dia bilang…”
“Dia tidak meminta kesempatan kedua.”
“Dia hanya ingin mengatakan sesuatu.”
Aku akhirnya berjalan menuju jendela.
Di bawah sana.
Gabriel berdiri sendirian di tengah hujan.
Tanpa payung.
Tanpa mobil mewah.
Tanpa kesombongan yang dulu dia miliki.
Dan melalui interkom, suara seraknya terdengar.
“Isabella…”
“Aku kehilangan segalanya.”
“Tapi yang paling membuatku menyesal…”
“Bukan perusahaanku.”
“Bukan uangku.”
“Melainkan wanita yang dulu rela menemaniku dari nol…”
“…dan justru orang itulah yang paling aku sakiti.”
Aku memejamkan mata.
Lalu perlahan tersenyum.
Karena akhirnya aku mengerti.
Ada beberapa penyesalan di dunia ini…
Yang datang terlalu terlambat.
Dan ada beberapa orang…
Yang ketika mereka memutuskan pergi,
Mereka tidak akan pernah kembali lagi.
Sementara di luar jendela,
hujan Jakarta masih turun dengan tenang.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
aku merasa benar-benar bebas.